Lihat semua daftar posting »»

Sabtu, 17 Desember 2011

KISAH RIO 03

Selesai makan di kantin, aku bertiga dengan arya dan arthur kembali ke kelas.
Aku merasa senang telah melalui hari ini dengan lancar, meskipun baru tapi telah mendapat teman.
Pelajaran selanjutnya diajar oleh guru yang masih muda, cukup cantik, aku langsung suka. Bu marissa namanya.
Suaranya lembut dan mendayu dayu, cukup untuk membuai telinga hingga mataku menjadi berat. Berkali kali arya menyenggolku yang nyaris tertidur. Hingga aku terkesiap berkali kali juga. Setelah mata pelajaran antropologi selesai, bu marissa keluar dan digantikan dengan pak wisnu yang mengajar kimia.
Mataku yang sempat redup jadi lebar kembali karena suara pak wisnu yang berat berkumandang keseluruh ruangan kelas.
Belum lagi unsur unsur zat serta kode kode membuat otakku tak ada kesempatan untuk santai. Untung saja cuma satu jam sesi pelajarannya yang juga pamungkas kegiatan belajar hari ini.
Bell pulang telah berbunyi. Aku membereskan semua buku dan peralatan tulis lalu memasukkan kedalam tas.
Setelah kami memberi hormat terakhir, pak wisnu meninggalkan kelas.
Bagaikan semut keluar dari sarang, teman teman saling berebutan keluar seolah olah ada kebakaran dalam kelas.
Baru saja aku keluar e, kak faisal sudah menungguku berdiri didepan pintu.
“ayo dek pulang..”
Kak faisal mengajakku.Aku mengangguk dan mengikuti kak faisal hingga ke tempat parkiran.
“gimana tadi belajarnya dek?”
Tanya kak faisal saat kami berdua sudah diatas motor dijalan raya.
“lumayan asik kak, guru gurunya pada enak ngajarnya..”
“baguslah kalau memang begitu… Gimana dengan teman teman barunya?”
“tak ada masalah kak, rio udah dapat teman dikelas..”
Aku menjawab singkat.
Setelah itu kami berdua cuma diam hingga tiba dirumah.
Aku langsung turun dari motor dan masuk kedalam rumah, sementara kak faisal memasukkan motor kedalam garasi.
Didalam kamar aku mengganti seragam sekolahku dengan baju kaus oblong dan celana jeans selutut.
Rumah masih sepi, mama dan papa jam segini masih kerja. Jadi hanya ada bik tin saja sedang menonton tayangan televisi.
“makan dulu bang, bibik udah masakin sup telur puyuh sama tumis kangkung kesukaan abang…”
Ujar bik tin begitu melihatku masuk ke dapur.
“makasih bik, rio makan dulu, oh ya… Bibik juga udah makan kan?”
“udah bang, kalau bibik nggak usah ditanya lagi, udah dari tadi makan..”
Bik tin tersenyum geli kemudian ia berdiri dan mengikutiku ke dapur.
Bik tin mengambil sebuah piring kemudian memberikan padaku.
“makasih bik..”
Aku duduk dikursi makan dan mengambil nasi.
Kak faisal muncul di pintu lalu menghampiriku dan ikut makan siang bersamaku.
Habis makan, kami berdua main sega dikamar kak faisal. Hingga tak terasa telah sore.
“dek tolong kunci pintunya..”
Kak faisal mematikan sega player. Aku berdiri kemudian mengunci pintu, walaupun sedikit heran, aku tak bertanya.
Sementara kak faisal membuka lemarinya dan berjongkok mencari cari sesuatu di bagian dasar lemari.
“cari apa kak?”
Aku jadi penasaran.
“ada aja..!”
Jawab kak faisal penuh teka teki.
“aduh dimana ya…perasaan kemarin aku taruh disini deh”
Kak faisal terus mencari cari.
Aku menghampiri kak faisal ikut berjongkok disampingnya.
“apa sih… Buku ya?”
“bukan dek..”
“lalu apa…?”
“kaset video..”
“wah film baru ya?”
“iya dek, kakak baru pinjam sama rizal, aduh gawat dimana ya?”
Kak faisal mulai panik.
“mungkin bik tin yang mindahin..”
Ujarku sambil membantunya mencari.
“masya allah.. Jangan sampai deh..”
Wajah kak faisal nampak panik.
“loh emangnya kenapa?”
Aku jadi makin heran.
“bisa gawat dek”
Kak faisal berdiri dan mengacak tumpukan bajunya yang terlipat rapi secara serampangan hinga berantakan.
Aku cuma menggelengkan kepala melihat tingkah kak faisal.
“astaga… Untung saja ketemu..”
Kak faisal menepuk keningnya dengan lega, tangan kirinya memegang sebuah karet video berwarna hitam. Tanpa sampul dan gambar.
“film apa sih kak?”
“sabar.. Hehehe adek pasti suka..”
Seringai kak faisal.
Kemudian ia menyalakan video player lalu memasukkan kaset itu ke dalamnya.
Aku duduk didepan televisi menunggu dengan penasaran.
Kak faisal menutup tirai jendela kamarnya.
Aku menyipitkan mata melihat kelakuan kak faisal yang ganjil.
Kamar menjadi agak gelap, kak faisal duduk disampingku memegang remote.
Di layar terpampang gambar seorang perempuan berambut pirang yang sedang berada di dapur, memakai baju cukup sexy untuk ukuran memasak.
Seorang pria tampan dengan badan tegap bagai binaragawan memakai baju montir masuk dan menghampiri perempuan itu, mereka berbincang bincang, namun aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Soalnya tak ada teks nya sama sekali.
“kak filmnya jelek, nggak tau maksud ceritanya..”
Aku memprotes.
Kak faisal tak menjawab, hanya mengibaskan tangan ke depan mukaku dengan tak sabar.
“aku mau keluar dulu ya…”
Belum sempat aku berdiri, mataku menjadi nanar melihat perempuan itu tiba tiba berlutut didepan lelaki bertubuh tegap itu. Membuka resleting celana ketat yang membalut paha kekar lelaki itu.
Tenggorokanku langsung tercekat begitu benda panjang berwarna kemerahan mencuat dari balik resleting celana yang terbuka. Selanjutnya adegan demi adegan sukses membuat mataku melotot, suatu yang seumur hidup tak pernah aku lihat, membuat sekujur tubuhku menggigil gemetaran. Kepalaku menjadi betul betul pusing hingga rasanya mau muntah saja. Namun kak faisal bagai tak menyadari reaksiku. Ia begitu serius menyaksikan adegan mesum yang semakin lama semakin tak karuan.
Aku memalingkan pandangan ke lain, muka ku rasanya mekar karena malu.
+++
Adegan tak pantas itu membuat aku canggung.
Sesekali kak faisal menoleh padaku dan tersenyum puas.
“kenapa dek?”
Seringai kak faisal padaku.
“kepalaku pusing kak.. Aku mau keluar saja..”
Aku masih mencoba memalingkan wajah dari televisi.
“ahhh adek kayak perempuan aja.. Biasa kale cowok nonton beginian..”
Kak faisal tak sabar.
Aku tak menjawab, pipiku terasa panas.
“tuh dek coba lihat..”
Tunjuknya ke televisi. Mau tak mau aku menoleh untuk melihat.
Aku mendesah begitu melihat perempuan berambut pirang itu memasukkan alat vital lelaki bertubu kekar itu ke dalam mulutnya. Seolah olah sedang menikmati es loli. Ukurannya yang besar membuat perempuan itu agak kerepotan. Tapi perempuan itu bagai tak perduli, tanpa jijik melakukannya. Perutku makin mual.
“jangan sok kayak perawan deh dek.. Nikmati saja, kalau nggak nonton ini ya nggak belajar, gimana kalau nanti adek kawin kalau tak tau caranya.!”
Tegur kak faisal.
Mendengar kata kata kak faisal, aku jadi tersipu, kak faisal bisa saja membuat aku bingung, lagipula aku gengsi juga, kak faisal biasa biasa saja menontonnya sedangkan aku bersikap seolah olah pak kyai yang kolot. Akhirnya aku menonton juga walaupun kepalaku pusing dan tubuhku gemetaran.
Aku nyaris tak percaya sesuatu yang begitu tabu dan terlarang bisa dipertontonkan dengan begini vulgar. Seolah olah hal yang lazim dan biasa untuk ditunjukkan.
Limabelas menit adegan bergulir demi adegan, aku merasakan sesuatu yang lain sekarang, entah kenapa tubuhku terasa agak panas, keringat mengalir dari pelipisku. Jantungku berdebar debar keras dan yang paling parah, tubuhku bagian bawah terasa tegang hingga rasanya ingin kencing.
Kak faisal sangat menikmati menonton film tak senonoh itu. Bahkan kulihat tangannya meremas remas celana pendeknya. Aku memperbaiki posisi duduk, malu kalau kak faisal melihat bagian dicelanaku yang sekarang menonjol.
Mataku terpaku begitu melihat lelaki itu memain mainkan alat vitalnya dengan gerakan teratur hingga menyembur air kental berwarna seputih susu.
“gila banyak betul..”
Desis kak faisal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
“kok kencingnya lain ya kak..?”
Komentarku sambil bertanya.
“itu bukan kencing dek, itu namanya sperma.. Masa sih adek nggak tau?”
Kak faisal menatapku keheranan.
Aku menggelengkan kepala karena betul betul tak tau.
“jadi adek belum pernah keluar sperma?”
Tanya kak faisal lagi. Kembali aku mengangguk.
Kak faisal menatapku tajam seolah olah aku baru saja membuat pengakuan dosa.
“ck..ck…ck… Parah…..!”
Kak faisal berdecak beberapa kali seolah prihatin mendengar kata kataku.
“memangnya kenapa kak.. Apa kakak juga pernah keluar kencing susu?”
Aku bertanya dengan bodohnya.
“stop bilang kencing susu, itu sperma.. Jadi Adek nggak pernah onani selama ini?”
Suara kak faisal terdengar kurang yakin.
“onani itu apa kak?”
Aku balik bertanya.
“duh gusti… Ternyata masih ada didunia ini orang yang tak mengerti onani…”
Pandang kak faisal kasihan.
“kakak betul betul bikin bingung…”
Aku jadi sebal melihat kak faisal yang bersikap seolah olah aku orang yang patut untuk di kasihani.
“ntar, kita nonton dulu, habis ini kakak ajarin kamu onani…!”
Tandas kak faisal mengalihkan lagi pandangannya ke televisi.
Aku ikut melihat ke televisi. Perempuan dan lelaki yang tadi sudah digantikan dengan orang lain, perempuan yang lebih cantik dengan tiga orang lelaki yang semuanya bertubuh kekar.
Mataku melotot begitu melihat perempuan itu dengan sangat liar mencelomoti alat vital masing masing lelaki dengan rakusnya.
Entah kenapa aku merasa lebih tertarik melihat tubuh telanjang lelaki lelaki itu ketimbang tubuh perempuan yang juga telanjang berjongkok di tengah tengahnya. Alat vital yang belum pernah aku bayangkan bisa sebesar itu bisa dimiliki oleh seseorang, aku perkirakan seukuran lengan bayi.
“dek…”
Aku menoleh begitu mendengar kak faisal memanggil.
Namun nafasku langsung berhenti saat melihat celana pendek kak faisal sudah melorot sebatas paha beserta celana dalamnya.
“buka celana adek.. Kakak ajari adek sekarang..”
+++
“kakak mau mengajari aku ngapain???”
Aku beringsut sedikit dari tempat aku duduk, tercengang melihat kak faisal yang dengan tenang memain mainkan kemaluannya. Aku nyaris tak bisa berkedip lagi. Agak aneh rasanya dengan reaksiku. Seharusnya aku tak deg degan melihat punya kak faisal, entah kenapa wajahku jadi memerah bahkan lebih parah daripada melihat adegan yang aku tonton ditelevisi. Tangan kak faisal yang turun naik sambil menggenggam punya dia dengan ritme yang teratur matanya tetap terpaku pada televisi, kemudian ia menoleh melihatku.
“dek tunggu apa lagi… Adek harus meniru kakak jadilah laki laki sejati.. Turunkan celana adek dan ikuti kakak, enak dek.. Ntar pasti ketagihan.”
Kak faisal setengah memaksa.
Aku ragu ragu, antara penasaran ingin mencoba dan malu menunjukkan punyaku yang mini tak seperti punya kak faisal.
“kenapa dek?”
“nggak kak.. Nggak kenapa napa..”
Jawabku gugup.
“jangan jangan adek….”
“apa kak?”
“adek malu kan punya adek belum ada bulunya kayak punya kakak..”
Dengan bangga kak faisal melebarkan pahanya yang putih hingga aku bisa melihat kemaluannya yang dipenuhi bulu ikal dibagian pangkalnya, kak faisal nyengir lebar.
“punya adek pasti lebih pendek dari ini kan?”
Tuduh kak faisal.
Aku cengengesan karena tebakan kak faisal tak meleset.
“tak apa apa dek, kalau kecil nanti masih bisa tumbuh lagi kok, nanti kakak kasih resepnya. Cukup di pukul pukul dengan ikan gabus yang masih hidup.. Kakak sama teman teman juga melakukan hal itu, nggak tau manjur apa nggak, tapi yakin aja…”
Jelas kak faisal tanpa ditanya.
“ntar aku coba kak..”
“ya udah… Kamu mau onani nggak, kalau keburu filmnya habis.. Nggak enak onaninya dek, kurang rangsangan..”
Aku menurunkan karet celana dengan ragu, kemudian berhenti sebatas lutut.
“celana dalamnya juga diturunin dek”
Kak faisal bergeser kesampingku hingga kemaluanya bergoyang goyang mengacung.
Aku menurunkan celana dalam perlahan lahan, kak faisal berhenti untuk melihatku dengan serius.
Aku menutupi punyaku yang tegang, aku tau pasti saat ini mukaku merah sekali.
“kenapa ditutup… Udah langsung kocok aja kayak gini..!”
Kak faisal memberikan contoh.
Aku mencoba mengikuti arahan kak faisal, melakukan gerakan mengocok searah turun naik.
Sensasi rasa yang unik tapi menyenangkan langsung terasa. Hangat telapak tanganku yang beradu dengan kulit alat vitalku membuat tensi tegangnya makin bertambah.
“bagus dek.. Gitu.. Adek cepat belajar ya…”
Kak faisal memompa semangatku.
“he eh… Kakak bisa aja..”
“tuh dek sambil lihat film aja lebih asik..”
“iya kak..”
Aku langsung melihat ke televisi, adegan mesum itu sekarang membuat aku merasa lebih nyaman. Malahan ada semacam rasa unik tapi enak sekali yang aku alami. Suara nafas kak faisal terdengar memburu, ia makin mempercepat kocokan pada alat vitalnya itu.
Mulutnya tak berhenti mengeluarkan suara mendesah. Aku menghentikan sejenak untuk melihat kak faisal.. Aku nyaris tertawa meliht ekspresi wajah kak faisal yang aneh. Sepertinya ia sangat menikmati hingga mulutnya membentuk bulat seperti sedang meniup lilin hingga terdengar desisan. Bagian puncak alat vitalnya memerah dan mengkilap
Tiba tiba aku merasakan satu bagian didalam perutku agak mengejang, membuat seluruh uratku seperti merengang. Aliran darah seolah lebih cepat mengalir diiringi oleh denyut jantungku yang juga berdetak lebih kencang…dan.. Puncak dari itu alat vitalku yang tegang menjadi berdenyut denyut menimbulkan sensasi baru yang seumur hidup baru sekarang aku rasakan. Tubuhku yang gemetaran seolah tak ingin berhenti dari rasa nikmat ganjil ini. Demikian juga kak faisal sambil sekali sekali melihatku, kemudian melihat ke televisi, terkadang serius sendiri. Tapi kak faisal terlihat sudah terbiasa. Ia mengulurkan tangan mengambil kotak tissue disampingnya. Kemudian memindahkan ke sampingku Setelah mengambil beberapa lembar isinya.
Aku berhenti sejenak karena tanganku mulai pegal. Dengan rasa ingin tau aku mengamati kak faisal. Ia tersenyum kecil dan mempercepat kocokannya. Tak sampai setengah menit kemudian dari saluran kencingnya keluarlah cairan putih kental hampir mirip dengan yang aku lihat tadi di film. Tak begitu banyak namun begitu kental. Aku beringsut mendekati kak faisal, kemudian menunduk ke arah kak faisal mengamati cairan itu dengan ingin tau.
“ih adek ngapain sih..!”
Ujar kak faisal jengah.
Lalu mengambil beberapa lembar tissue dilantai. Dan menyeka cairan yang membanjiri perut dan pahanya itu. Tercium bau mirip mirip santan kelapa. Agak mual perutku dengan baunya. Kak faisal berangkat sambil memakai kembali celana dalamnya dan celana pendek lalu berjalan ke arah tempat sampah kecil dalam kamarnya lalu membuang tissue itu. Aku tak melanjutkan lagi onani, hingga kak faisal bertanya tanya.
“loh adek kok curang, kenapa berhenti, ayo lanjut dek.. Tanggung pasti sebentar lagi juga udah keluar kok… Ntar adek nyesel loh… Beneran enak dek kalo keluar, coba deh adek rasakan…”
Aku menggeleng.
“nggak kak, capek…”
“dulu waktu pertama kali diajarin sama teman, kakak juga begitu dek.. Karena belum tau gimana rasanya, tapi lihat aja sekarang kakak udah bisa menikmatinya kok.. Apa perlu kakak bantu?”
Aku cuma diam saja. Kak faisal menghela nafas seperti mengeluh. Kemudian mendekatiku.
“duduk dek.. Jangan pake dulu celananya.
Aku mengikuti semua instruksi kak faisal.
“coba pejamkan mata dan bayangkan perempuan cantik di film tadi dek..!”
Aku memejamkan mata seperti yang diajarkan kak faisal, dan mencoba membayangkan sosok perempuan dalam film tadi, namun susah sekali malah yang terbayangkan olehku hanyalah bagaimana tadi punya kak faisal yang berdenyut mengeluarkan cairan kental. Di dalam pikiranku hanyalah terbayangkan bentuk punya kak faisal saja…, kak faisal terus menceritakan tentang kemolekan tubuh wanita itu, mencoba untuk membuat aku bergairah tapi percuma. Aku cuma membayangkan kak faisal, wajahnya, senyumnya. Tubuhnya dan yang paling parah. Aku membayangkan alat vitalnya itu.
Setelah bersusah payah akhirnya aku berhasil juga. Kak faisal tertawa saat cairan kental walau tak banyak keluar dari saluran kencingku.
Nafasku tersengal sengal seolah habis berkerja keras. Kak faisal mengulurkan tissu, segera aku bersihkan cairan itu dengan sedikit jijik. Setelah merapikan lagi celanaku. Aku buang tissu itu ke dalam tempat sampai kecil di sudut tempat tidur kak faisal.
“bagaimana rasanya dek?”
Tanya kak faisal ingin tau sambil mengeluarkan kaset video dari dalam video player.
Aku meringis malu, jujur saja aku nyaris tak merasa enak, justru terasa kacau, pikiranku telah membuat aku stress sendiri hingga aku tak bisa menikmati seperti yang kak faisal rasakan tadi. Tapi karena tak malu ketahuan kak faisal tentang apa yang aku fikirkan, aku berpura pura menikmatinya. Aku bilang kalau rasanya enak sekali. Kak faisal menyeringai puas.
Jam empat aku keluar dari kamar kak faisal, sebelumnya ia sudah memperingatkan aku untuk tak menceritakan apa yang kami lakukan tadi pada siapapun penghuni dalam rumah ini. Kak faisal menyimpan kembali kaset video itu di bagian paling bawah lemari bajunya.
Malamnya aku mengulangi lagi yang diajarkan kak faisal tadi. Tentu saja tanpa sepengetahuan kak faisal. Setelah aku mengunci pintu kamarku, aku mencoba kembali onani . Tetap saja yang terbayangkan olehku hanyalah kak faisal. Akhirnya aku bisa menikmati bagaimana rasanya onani. Ternyata memang menyenangkan waktu cairan kental itu keluar, seluruh tubuhku mengejang dan terasa nikmat. Itulah awal hari dimana aku sering mengulangi lagi onani hingga akhirnya aku menjadi terbiasa.
Hari hari yang aku lalui di sekolah juga lumayan menyenangkan, aku telah mengenal beberapa teman yang menjadi teman akrabku di sekolah.
Arya teman sebangkuku yang berwajah oriental, arthur yang suka melucu dan biang ketawa. Ronal anak kelas 1 lima berwajah keturunan arab, suka bercerita yang jorok jorok, banyak pacar dan narsis. Anto si kutu buku yang hobi main gitar, suara bagus sekali, tapi mudah tersinggung. Totok anak jawa dengan logat yang kental, sama seperti arthur juga ia suka melucu. Tapi totok mengidap asma, kalau kambuh ia harus menyemprotkan obat dalam tabung kecil ke dalam mulutnya. Satu lagi cewek tomboi namanya anggita, suaranya mirip cowok, kurus tinggi, lumayan cantik, tapi suka merokok juga. Kadang kami berkumpul di belakang kelas dan merokok. Arthur yang mengawasi kalau kami merokok. Ia memberitahukan kalau ada guru yang mendekat, lalu kami segera memadamkan rokok dan mengobrol seolah tak terjadi apa apa.

Kak faisal terkadang mengajak aku berkumpul dengan teman temannya lagi.
Aku sudah mulai terbiasa dengan gaya pergaulan disini.
SATU MASALAH
Tanpa terasa sudah sebulan aku bersekolah, dengan teman teman baruku yang asik, aku menjadi lebih cepat membaur, guru guru juga hampir semua sudah mengenaliku. Dalam setiap mata pelajaran hampir tak pernah aku mendapatkan nilai kurang dari delapan. Dalam sekejab saja banyak yang ingin berteman denganku. Ditambah lagi kak faisal cukup populer disekolah ini.
sebagai adiknya, teman teman kak faisal lumayan mengenaliku. Termasuk pacarnya si amalia itu.
Awalnya aku selalu menghindar setiap kali amalia hampir berpapasan denganku baik itu di depan kelas, dilapangan maupun di koridor sekolah.
Aku tak tau apa sebabnya hingga aku kurang menyukainya. Padahal amalia tak satu kalipun pernah membuat kesalahan padaku.
Seperti menyadari kalau aku menhindarinya, amalia malah semakin menjadi jadi, ia semakin sering mencoba untuk mendekatiku. Hingga pada satu hari aku sudah tak mungkin lagi untuk menghindar karena ada kak faisal bersamanya dan kak faisal sudah keburu melihatku kemudian langsung memanggilku. Dengan terpaksa aku menghampiri mereka.
Amalia tersenyum padaku. Aku tak membalasnya. Ia pasti mau cari muka sama kak faisal dengan cara pura pura ingin mendekatiku dan ramah padaku. Kemudian mereka mengajak aku ke kantin, aku sudah berusaha menolak tapi kak faisal terus memaksa ditambah lagi dengan si rese amalia yang ikut ikutan sok baik juga memaksa. Akhirnya dengan terpaksa aku mengikuti mereka.
Kak faisal dan amalia mengajakku ngobrol namun aku hanya sesekali saja menjawab. Hingga akhirnya amalia mengatakan kalau ia mengundangku pada acara ulang tahunnya yang akan diadakan pada malam minggu ini. Dengan antusias amalia mengatakan kalau cuma akulah satu satunya anak kelas satu yang diundang ke ultahnya seolah olah dengan mengatakan itu ia merasa aku mendapat kehormatan. Buat apa aku datang kalau tak ada yang ku kenal di pesta nanti. Tentu saja aku tak mengatakannya langsung. Tapi aku sudah berniat untuk tak akan datang. Setelah menghabiskan mie rebusku, aku cepat cepat mencari alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Aku merasa tak ikhlas kalau perhatian kak faisal yang seharusnya untukku jadi terbagi karena keberadaan amalia.
Semula amalia masih berusaha untuk menahanku agar lebih lama bersama mereka. Namun aku bilang kalau aku harus mengisi beberapa soal pekerjaan rumah yang belum sempat aku jawab. Dan harus segera di kumpulkan setelah istirahat.
Beberapa hari ini, saat dirumah aku sudah beberapa kali menunggu kak faisal pulang untuk mengajaknya main sega dan nonton sama sama lagi, namun kak faisal selalu pulang sore, kemudian langsung keluyuran. Aku bisa menebak kalau kak faisal pasti jalan bersama amalia. Padahal aku ingin sekali mengajak kak faisal onani sama sama seperti waktu ia mengajariku. Tapi sepertinya waktu untukku tak begitu penting dibandingkan dengan waktu bersama amalia. Aku betul betul sebal dengan keadaan ini. Untung saja totok, arthur dan arya sering main kerumahku. Terkadang mereka mengajak aku jalan jalan kerumah teman teman yang lain. Atau sekadar Ngumpul di IP, melihat pemandangan di jembatan ampera. Makan di pinggir sungai musi sore hari.
Hari ini sabtu, kami sedang di IP, aku, arya, arthur, totok, ronal, anto dan si tomboi anggita. Menyusuri konter konter baju. Tak berniat belanja sih, cuma sekedar ngeceng.
Anto mengajak kami melihat toko alat musik, katanya ia mau melihat gitar elektrik, sedangkan si arthur mau ke toko buku untuk membeli komik tapak sakti dan tiger wong. Akhirnya kami berpencar dua grup.
Aku, totok dan arya menemani arthur ke toko buku, sedangkan ronal dan anggita menemani anto ke toko alat musik.
Aku langsung menyesali keputsanku ikut menemani arthur ke toko buku, didalam toko buku aku melihat ada kak faisal bersama amalia. Saat melihatku amalia langsung menarik kak faisal untuk menghampiri kami.
“hai rio… Kebetulan sekali kita ketemu disini..”
sapa amalia sambil tersenyum senang.
Aku tak menjawab, cuma melirik kak faisal dengan tatapan sebal.
“kalian sudah lama kesini?”
timpal kak faisal yang sedang memegang beberapa buah buku bacaan. Diantaranya aku lihat adalah novel picisan. Sejak kapan kak faisal hobi membaca, setahuku dirumah, kak faisal paling jarang menyentuh buku apalagi itu novel yang tebalnya udah kayak bantal. Pastilah kak faisal mau membelikan si amalia itu buku novel. Dasar cewek matre, ia pasti suka menguras uang kak faisal. Aku makin antipati pada amalia.
“nggak kak, kami baru aja tiba, ini si arthur mau cari komik tiger wong.”
jelasku pada kak faisal sambil sesekali melirik amalia dengan tatapan kurang senang. Amalia sepertinya tak paham arti tatapanku itu. Ia malah cengengesan tak jelas.
“wah kebetulan sekali aku juga suka banget baca komik itu..”
ujar amalia sok akrab.
“masa sih.. Biasanya kan cewek nggak suka baca komik silat kayak gitu?”
arthur nampak antusias.
“siapa bilang, komik itu bagus banget, ceritanya sangat menyentuh..gambarnya juga bagus. Kasihan banget sama samsun ya, cintanya pada dewi bulan banyak rintangan.”
tambah amalia.
Aku cuma mencibir sedangkan kak faisal tersenyum lebar mendengar kata kata amalia.
“kok jadi pada ngobrol sih.. Katanya mau beli buku, kalau mau ngobrol mendingan di kafe aja, bukan di toko buku..”
ujarku ketus.
Seperti tersadar, amalia langsung diam.
Kak faisal memandangku tajam. Aku tak perduli dengan tatapannya itu. Langsung menarik tangan arthur menuju ke rak komik.
Totok dan arya buru buru mengikuti kami.
“kelihatannya kamu nggak suka sama amalia ya?”
selidik arya sambil menjajariku.
+++
“siapa yang bilang??.. Biasa aja kok…!”
sentakku terkejut.
“kelihatan loh dari sikap kamu tadi.. Kayaknya kamu nggak suka sama amalia..”
totok ikut ikutan.
“ini lagi sok tau…!udah lah!… Kok jadi bahas yang gak penting gitu..!”
sungutku sebal.
“ya udah.. Kita kan kesini mau cari komik..mendingan cari raknya”
arthur menengahi.
Aku mengangguk kemudian mengikuti arthur menuju ke rak tempat komik.
Sambil memilih milih komik, aku berpikir, apakah aku terlalu menunjukkan rasa tak sukaku itu hingga teman temanku tahu, padahal aku rasa sikapku tadi wajar wajar saja. Ah masa bodohlah, aku memang tak menyukai amalia. Jadi mau diapain lagi. Hampir satu jam kami memilih komik, setelah mendapatkan komik yang diinginkan arthur dan membayarnya, kami langsung keluar dari toko buku, dekat counter baju kami berkumpul lagi dengan rombongan anggita. Perutku terasa agak lapar, jadi aku mengajak teman teman cari restoran untuk makan.
Selesai makan, Jam lima sore kami pulang.
Aku diantar arthur sampai depan pagar, aku mengajak ia mampir, namun dengan alasan sudah sore, arthur lebih memilih untuk pulang.
Aku melihat Mama dan papa sedang duduk di serambi.
“dari mana rio?”
tanya mama begitu melihatku.
“jalan jalan bareng teman, kak faisal udah pulang ma?”
“udah, baru aja ia masuk..”
“rio kedalam dulu ya ma, pa..”
mama dan papa mengangguk dan kembali mengobrol.
Aku mencari kak faisal ke kamarnya.
Kulihat ia sedang membuka sesuatu dari dalam bungkusan plastik. Aku masuk dan menghampirinya. Kak faisal menoleh kearahku.
“udah pulang dik?”
aku mengangguk.
“ntar malam ikut kakak ya.. Ke ulang tahun amalia..”
ia mengingatkanku.
“malas kak, lagian rio udah janjian sama teman..”
aku menolak.
“adek ini gimana sih, bukannya udah dari kemarin kemarin dibilangin, kok malah bikin janji sama teman lain..”
protes kak faisal.
“buat apa aku datang, yang penting kan kakak yang datang, lagian amalia kan bukan pacar aku..!”
jawabku sekenanya.
“iya dek, kakak juga tau.. Tapi amalia kan udah mengundang adek, masa adek nggak mau datang..”
“terus aku disana jadi kambing congek yang hanya melihat kalian suap suapan kue gitu?… Sementara aku tak ada teman..”
aku mencari alasan.
“nggak gitu dek, mana mungkin kakak nyuekin adek, lagian acara suapan kue kan diujung pesta.. Ikut ya dek.. Kalo adek nggak datang, kakak nggak enak sama amalia..”
kak faisal coba merayu.
“sok dekat amat sih.. Kenal juga baru, lagian apa pengaruhnya kalo aku nggak datang.. Malas ah kak.. Udah rio mau mandi dulu..”
aku berbalik hendak keluar dari kamar kak faisal.
“kenapa adek membenci amalia?”
ucapan kak faisal membuat aku menghentikan langkah.
Aku berbalik menatap kak faisal dengan heran.
“maksud kakak apa?”
kak faisal mendekatiku.
“kakak tau kalo adek nggak suka sama amalia, bahkan amalia juga tau dek, ia bilang sama kakak kalo adek kurang ramah padanya.. Apa salah dia dek?”
desak kak faisal ingin tau.
Aku terdiam, tak menyangka sama sekali kalau kak faisal tau ketaksukaanku pada pacarnya itu.
Aku memang tak suka sama dia kak.. Karena ia merebut perhatian kakak dariku…
Tentu saja cuma aku ucapkan dalam hati.
“rio tak benci amalia.. Mungkin dianya aja yang terlalu sensitif..”
aku mengelak.
“tuh kan… Udah kakak duga.. Adek gak bakalan ngaku.. Padahal diajak ke pestanya aja adek ogah..”
“siapa juga yang ogah, kan udah dibilangin tadi, kalo rio udah ada janji ntar malam….”
jawabku sewot.
“iiih adek judes amat.. atut…”
ledek kak faisal sambil pura pura menggigil.
“habis kakak itu pake acara nuduh tak berdasar tanpa ada bukti..”
aku memasang mimik terluka.
“yang penting nuduh, bukti bisa belakangan..udah deh dek, nggak perlu masang muka sedih gitu”
ledek kak faisal terkekeh sambil menggelitik pinggangku.
“terserah dong..muka muka aku..!”
sungutku manja.
“ternyata punya adek nggak gampang juga ya.. Apalagi yang judes kayak gini..”
kak faisal tersenyum geli dan mengacak acak rambutku dengan sayang.
“ih… Apaan sih…!.. Rusak nih rambutku..”
aku pura pura cemberut, namun dalam hatiku sebetulnya sukaaaa sekali.
“jadi gimana dek.. Mau kan ikut kakak ntar malam..?”
desak kak faisal.
Aku melirik ke atas pura pura berpikir.
“hmmm..gimana ya?.. Soalnya nggak enak juga sama arthur, aku udah janji sama dia.. Aku sih mau aja batalin janji, Cuma…”
aku sengaja menggantung kalimat biar kak faisal penasaran.
“cuma kenapa dek?”
tanya kak faisal tak sabar.
“cuma.. Harus ada ganti ruginya soalnya aku kan nggak enak sama arthur, jadi terserah kakak bagaimana biar aku punya alasan untuk membatalkan janji…”
“maksudnya apa sih.. Kakak nggak ngerti…!”
“aku minta ganti rugi..”
“apa..!!?”
kak faisal mendelik kaget.
“nggak segitunya kak… Biasa aja lagi.. Kan wajar aku minta ganti rugi, soalnya aku kan udah berkorban nggak ikut bersenang senang dengan teman teman ntar malam, malah ikut ke pesta yang ngebosenin bareng kakak..”
jelasku tak perduli dengan ekspresi melongo kak faisal.
“kok adek yakin kalo pesta itu ngebosenin?”
ucap kak faisal ragu.
“iya bagi aku, kalo kakak sih nggak, kan yang datang semua teman kakak..”
“kalau cuma itu sih kakak janji nggak bakalan nyuekin adek.. Suerr!”
aku nyaris tertawa melihat wajah kak faisal yang terlihat lucu, antara kesal dan memelas, sebetulnya aku heran, kok kak faisal ngotot banget memaksa aku ikut ke pesta ulang tahun pacarnya itu. Padahal kan biasanya, seorang kakak itu paling malas mengajak ajak adeknya.
“oke aku ikut kakak ntar, tapi janji temani aku main sega selama satu minggu, Kalo nggak mau juga nggak apa apa kok paling aku nggak ikut.
“hahaha adek lucu, kirain mau minta ganti rugi apaan, kalo cuma itu sih gampang dek, oke deal.. Kakak janji mau temani adek main sega..”
kak faisal tertawa dan kembali mengacak acak rambutku.
“janji kak.. Awas kalo mungkir..”
ancamku tak serius.
“iya adek.. Kakak janji.. Sekarang adek mandi sana! Siap siap ntar kita berangkat bareng..”
“oke kak.. Tunggu ya..”
aku senyum senyum dan meninggalkan kamar kak faisal dengan hati senang.
“eee anak mama kenapa senyum senyum sendiri?”
tanya mama yang sedang berjalan menuju ke dapur.
“nggak kok ma, rio mau mandi dulu..”
elakku buru buru masuk ke kamarku.
Ku ambil handuk bersih dari dalam lemari, kemudian mandi. Sekitar setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi. Saat berpakaian, suara adzan berkumandang dari corong speaker masjid, aku mengambil kopiah diatas lemari kemudian sholat maghrib.
Selesai sholat aku membuka lemari, memilih baju yang akan aku pakai ke pesta nanti.
Aku memilih baju kaus warna oranye, dengan aplikasi warna hijau dibagian kerah serta lengan. Untuk celana, aku memakai jeans warna hitam. Serta sepatu kets hitam dengan aksen putih.
Sudah jam tujuh kurang 15 menit saat aku selesai berpakaian.
Kak faisal masuk ke kamarku, tampan sekali kak faisal dengan baju kemeja garis garis warna hitam. Celana jeans model bootcuts biru tua membuat ia terlihat begitu jangkung. Aku betul betul bangga punya kakak yang seganteng kak faisal.
“kita berangkat jam setengah 8 aja ya dek, soalnya kalo sekarang pasti masih sepi..”
kata kak faisal sambil mengambil remote dan menyalakan tipi.
“kakak atur aja..yang penting disana nanti aku jangan ditinggal sendirian..”
kembali aku mengingatkan kak faisal.
Ia tak menjawab sibuk memencet remote mencari chanel.
Aku duduk disamping kak faisal menonton film sledge hammer di TVRI, namun tak sampai lima menit film itu sudah selesai dan diganti dengan berita nasional. Kak faisal mengganti chanel ke RCTI. Acara sesame street. Tak menarik jadi kak faisal mematikan televisi.
“ke teras aja dek..!”
ajak kak faisal sambil berdiri. Aku mengikutinya ke teras.
“tunggu sebentar dek, mau ngambil sesuatu dulu dalam kamar.”
setengah berlari kak faisal masuk ke kamarnya. Kemudian keluar dengan membawa bungkusan kado sebesar kotak televisi 14 inchi.
“apa isinya kak?”
aku ingin tau.
“boneka dek..ke depan yuk..”
“bungkus sendiri ya?”
aku mengikuti kak faisal ke teras.
“nggak lah… Mana bisa kakak bungkus kayak ginian.. Tadi sekalian kakak minta dibungkusin sama mbak penjaga toko..”
jelas kak faisal.
Aku duduk di kursi teras. Langit telah gelap, bulan bersinar terang, namun belum penuh.
Suara kecipak air mancur buatan di kolam samping rumah bagaikan alunan mengusik pikiranku yang agak bingung dengan perasaan aneh yang melandaku saat ini. Perasaan yang aku sendiripun tak tau mengartikannya. Aku merasa begitu senang bila bersama kak faisal, aku betah berlama lama dengan kak faisal, dan perasaan yang paling membuat aku bingung, aku gelisah membayangkan kak faisal akan menjadi tamu spesial diacara ulang tahun nanti. Entah kenapa aku tak rela kak faisal dimiliki oleh orang lain. Apakah perasaan ini wajar, semua adik punya perasaan cemburu bila kakaknya mempunyai pacar? Aku sendiri belum tau karena selama ini kakakku adalah perempuan, yuk yanti dan yuk tina, dan selama ini mereka juga belum pernah berpacaran, emak tak mengizinkan mereka pacaran sebelum lulus sma.
“dek, udah setengah delapan, berangkat yuk..”
suara kak faisal menyadarkan aku dari lamunan.
“eh.. Iya.. Masa udah jam setengah delapan?”
aku melirik arloji ditangan kiriku.
“nggak, baru jam lima sore..”
kak faisal sedikit kesal.
Aku tertawa
“tolong bawa kado itu, kakak mau ngambil motor dulu..”
kak faisal berlari kecil menuju garasi. Aku berdiri membawa kado kak faisal dan menunggu didepan pagar.
“ayo dek naik..”
perintah kak faisal sambil menghentikan motor didepanku.
Jalan menuju ke rumah amalia memasuki gang sempit, aku kira tadinya rumah amalia terletak di pinggir jalan. Ternyata aku salah. Saat tiba di rumahnya aku nyaris nyaris tak percaya dan hampir tak yakin itu rumahnya. Kalau saja kak faisal tak mengajak aku masuk.
Aku terdiam memandangi rumah kecil terbuat dari papan yang lebih pas disebut gubuk itu, hampir tak beda dengan keadaan rumahku waktu di bangka dulu. Tak ada keramaian seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Malahan tak ada sedikitpun kesan adanya pesta ulang tahun.
“kak… Beneran nggak sih amalia ulang tahun?”
tanyaku tak yakin.
“iya dek.. Acaranya cuma makan malam bersama aja kok sama keluarganya dan sahabat dekat aja..”
jawab kak faisal tersenyum.
Aku terdiam, semua ini betul betul diluar dugaanku sama sekali.
“kenapa dek? Adek pikir amalia anak orang kaya kan.. Pestanya besar dan mengundang banyak teman..?”
aku tergagap hampir bingung harus menjawab apa.
“nggak.. Nggak kok…cuma… Ah.. Nggak kok kak..”
“ya udah, jangan gugup gitu.. Ayo masuk dek..”
kami berjalan ke arah pintu. Kak faisal mengetuk pintu yang terbuka dan mengucapkan salam. Terdengar suara menjawab dari dalam, amalia keluar langsung tersenyum lebar melihat kedatangan kami.
“e… Faisal.. Rio.. Ayo masuk.. Udah ditunggu tunggu dari tadi..”
aku ragu ragu tapi kak faisal langsung menarik tanganku mengajak masuk.
Didalam rumah ada beberapa orang yang aku kenal adalah kakak kelasku, tak banyak cuma empat orang. Satu cowok dan tiga orang cewek. Seorang ibu seumuran emak sedang menata makanan diatas meja.
“oh nak faisal sudah datang ya..silahkan duduk.. Itu siapa? Kok ibu nggak pernah lihat?”
“ini adikku yang aku ceritakan itu bu..”
kak faisal menjawab.
“oh..ini rio yang dari bangka?.. Wah gantengnya.. Mirip cina ya…!”
aku menelan ludah, rasanya dua kali lebih canggung, karena bukan hal ini yang kubayangkan sebelumnya.
“ayo duduk dek..”
kak faisal berbisik.
Aku mengikuti kak faisal duduk diantara teman teman lain, diatas kursi sofa kusam tapi bersih.
“udah lama ko?”
kak faisal bicara sama temannya yang cowok.
“barusan, paling 10 menit sebelum kamu..”
“kenalin ini adek aku,…”
kak faisal bergeser dan menoleh padaku.
“adek, kenalan dulu sama teman teman kakak..”
dengan malu aku berdiri menyalami mereka satu persatu.
“koko..!”
yang cowok menerima jabatan tanganku.
“rio..”
jawabku pelan.
Setelah dekat baru aku bisa melihat wajah koko dengan jelas, tubuhnya jangkung kekar. Rambutnya tebal namun rapi, betul betul tampan, alisnya yang tebal bagai memayungi matanya yang tajam. Bibirnya bagus dan warnanya kemerahan. Pasti ia tak merokok. Giginya betul betul rapi berbaris putih seperti mutiara. Hidungnya mancung seperti artis hongkong. Betul betul wajah paling tampan yang pernah aku lihat seumur hidupku. Ia selalu menyunggingkan senyum. Senyum termanis dalam sejarah hidupku.
“eh kok adek malah bengong.. Lepasin tangan koko dek..”
kak faisal mencubit pinggangku diam diam.
Aku langsung tersentak buru buru melepaskan tangan koko.
“ma..maaf..”
aku terbata bata. Rasa hangat menjalari wajahku. Untung saja cahaya fluorcent lamp 10 watt di ruangan ini agak redup, jadi wajahku yang memerah tak terlalu kentara.
Cewek disamping koko mengulurkan tangannya juga, langsung aku sambut.
“ratna..”
aku melepaskan jabatan tanganku kemudian menyalami teman kak faisal yang lain. Dua cewek yang bernama meri dan aprilia.
Yang bernama ratna lumayan manis, rambutnya panjang sepunggung, kulit kuning langsat.
Meri sedikit gemuk dan agak pendek, namun wajahnya sangat ramah, aku yakin siapapun dengan mudah langsung menyukainya.
Aprilia sedikit pendiam. Rambut ikal spiral kulit putih, agak modis namun dari kesan wajahnya sedikit angkuh.
Setelah berkenalan dengan mereka, aku kembali duduk disamping kak faisal.
Sementara kak faisal sibuk ngobrol dengan teman temannya. Aku memandangi seisi ruangan yang kecil ini. Nyaris tak ada ornamen. Hanya satu set kursi makan dari kayu, yang aku curigai pasti bikinan sendiri. Soalnya buatannya agak kasar. Sebuah pesawat televisi 14 inchi, model keluaran tahun liz taylor beranjak gadis. Satu set kursi tamu lusuh yang kami duduki sekarang. Sedangkan di dinding cuma ada satu jam dinding pesta kalender dari sebuah merek rokok yang cukup terkenal dengan gambar model yana zein sedang memegang rokok dari pipa hitam yang panjang sambil tersenyum. Selebihnya tak ada apa apa. Aku meringis karena keadaannya 180 derajat diluar dugaanku semula.
Sementara itu ibunya amalia dari tadi mondar mandir keluar masuk dapur sambil membawa piring dibantu amalia.
Seorang bocah lelaki usia sekitar 6 tahun sedang duduk didepan televisi menonton sinetron jembatan pelangi. Entah ia mengerti atau tidak dengan alurnya, yang jelas ia begitu serius. Seolah olah tak ada kami disini.
“tunggu sebentar ya… Lagi goreng empek empek, dan manasin kuah tekwan..”
ujar amalia sambil menyusun sendok.
“ada yang bisa kami bantu nggak?”
meri yang menjawab.
“nggak usah.. Sebentar lagi kelar kok..”
tolak amalia halus.
Aku menunduk menatap lantai yang di beberapa bagian berlubang dan di tambal dengan pasir. Beberapa semut hitam berjalan sambil mengangkut sesuatu yang putih, aku perkirakan itu butiran nasi. 0suara canda kak faisal dengan teman temannya memenuhi ruangan ini. Dari tadi aprilia tertawa cekikikan setiap mendengar lelucon yang dilontarkan oleh kak faisal dan koko. Tertawa yang aneh seperti dibuat buat, lebih mirip bunyi tertawanya ratu zelda di operet bobo. bikin kupingku gatal.
Untunglah tak lama kemudian amalia segera keluar dari dapur dan bergabung bersama kami.
Semua langsung berdiri.
Mereka mengucapkan selamat ulang tahun, masing masing memberikan kado. Cuma aku yang nggak.
“ayo kita langsung menyantap makanan yang aku siapkan.. Maaf kalo rasanya kurang enak..”
ujar amalia setengah meringis.
“mana mungkin nggak enak.. Kamu kan jago masak mel..”
ujar ratna sambil tertawa.
“iya nih amalia, merendah diri tapi meninggikan mutu..”
timpal koko ikut tertawa.
“kalau aku yang masak, baru kacau..”
aprilia nimbrung.
“huuu… Semua juga tau.. Kamu ngerebus air juga hangus..!”
ejek kak faisal seperti serius.
Aprilia pura pura cemberut.
Semua kelihatan sangat akrab. Aku diam saja karena tak tau apa yang harus diomongkan. Takutnya malah jadi garing kalau ikut ikutan memaksa bercanda.
“makasih banyak ya kalian semua mau datang… Maaf kalau nggak bisa menyajikan yang lebih pantas..”
amalia menarik kursi dan menyuruh kami duduk.
“no.. No.. No.. Nggak boleh ngomong kayak gitu.. Yang penting kita masih bisa berkumpul sama sama… Semua sehat, dan persahabatan kita selalu terjaga..”
meri memegang bahu amalia.
Entah kenapa perasaan benci yang selama ini aku rasakan pada amalia bagaikan menguap begitu saja melalui ubun ubunku.
Yang ada sekarang hanyalah perasaan simpati.
Tak kusangka. Kak faisal yang populer di sekolah, yang aib mendapatkan cewek lebih segala galanya dari amalia. Memilih amalia sebagai pacarnya. Perasaan kagumku terhadap kak faisal jadi bertambah.
Ibu amalia menyuruh kami makan, ia mengingatkan kami agar makan banyak dan tak usah malu. Tapi tanpa dikasih tau pun keliatan kalau semua pada gak tau malu.
Aku mengambil tekwan semangkuk. Dan mencicipi rasanya. Betul kata teman kak faisal, benar benar enak. Bola ikan yang kenyal terasa betul betul gurih. Aroma kaldu udang pada kuahnya yang hangat terasa pas di lidah. Aku memuji dalam hati kelezatan masakan amalia. Tak ku sangka seorang gadis seumuran amalia bisa membuat masakan yang begini lezatnya. Tak heran kak faisal tergila gila padanya. Selain cantik, lembut, pintar memasak. Aku melirik amalia dengan agak iri. Semua makan dengan lahap. Amalia tampak begitu puas melihat teman temannya begitu menikmati masakannya. Bahkan kak faisal sampai tambah sepiring lagi.
“ambil lagi rio.. Empek empeknya masih hangat..”
amalia mengulurkan saus asam pedas yang disini dinamakan cuko. Aku menerima piring berisi cuko dari amalia dan mengatakan terimakasih. Kak faisal melirikku dan tersenyum. Sepertinya ia senang melihat aku jinak malam ini.
“wah.. Amalia, kalo begini terus tiap hari, bisa bisa badanku makin melar..”
seloroh meri sambil mencocol empek empek goreng ke dalam cuko, lalu menggigitnya dengan gaya mirip iklan biskuit mayora.
“kalau tiap hari enak di kamu nggak enak di amalia..”
timpal aprilia yang memegang sendok dan menyuap dengan gaya seorang supermodel.
“nggak masalah kok… Mak aku jualan empek empek tiap hari.. Kalian bisa jadi langganan loyalnya..”
amalia bercanda.
“adik kamu pendiam ya sal?”
tanya koko pada kak faisal membuat aku kaget setengah mati. Hampir saja aku tersedak oleh empek empek, untung saja buru buru aku telan.
“pendiam..?.. Hahaha.. Belum tau kelakuannya dirumah.. Suka rusuhin aku.. Dia jaim karena didepan kalian..”
tanpa berdosa kak faisal membeberkan aib ku. Ingin rasanya aku mencocol matanya dengan telunjukku yang berlumuran cuko ini.
belum lagi habis empek empek di piringku, ibu amalia keluar dari dapur dengan membawa kue ulang tahun tak terlalu besar, berwarna krim merah muda dengan hiasan bunga mawar merah terbuat dari kembang gula. Sungguh bagus sekali. Sepasang Lilin warna merah berbentuk angka 17, menandakan usia amalia sekarang.
“wah… Bagus sekali kuenya.. Betul itu kamu bikin sendiri..?”
meri terbelalak takjub.
Amalia mengangguk tersipu. Kulihat kak faisal tak dapat menyembunyikan senyum bangganya.
“ayo buruan makannya…bagian paling penting tiup lilin..”
ujar aprilia.
Ibu amalia meletakkan kue itu diatas meja tamu. Adik amalia yang sedari tadi asik sendiri makan tekwan didepan televisi langsung berlari menuju ke meja tamu dan mengabaikan begitu saja tekwannya yang masih bersisa separuh.
Ia memandangi kue itu dengan terpesona seolah olah memandangi mainan yang sangat menarik.
“adek jangan di ganggu kuenya..!”
amalia menegur adeknya yang mau menyentuh kue itu.
“andri ayo jangan nakal, dihabisin dulu makannya..!”
ibu amalia menghampiri adek amalia yang ternyata bernama andri itu, kemudian mengajaknya kembali duduk di depan tipi. Tapi adek amalia sepertinya sudah tak ada minat lagi dengan tekwannya.
“waduh perutku kenyang banget..”
keluh koko sambil memegang perutnya.
Amalia tertawa.
“yuk kita nyalain kuenya sekarang!”
ajak aprilia.
Kami semua berdiri kemudian berkumpul di kursi tamu.
Dari tadi aku tak melihat ayahnya amalia. Apakah ayahnya sudah tiada aku belum sempat menanyakan pada kak faisal.
Amalia menyalakan sebatang korek api kemudian membakar kedua lilin diatas kue ulang tahun.
Kami semua berdiri mengelilingi kue.
Ibu amalia berdiri disamping amalia sambil memegang andri.
“tiup lilinnya sekarang mel..!”
“iya tiup lilinnya..”
teman teman amalia menyemangatinya.
Amalia tersenyum sumringah, lalu menunduk dekat ke kue.
Entah siapa yang mengomando duluan lagu selamat ulang tahun langsung memenuhi ruangan kecil itu. Kak faisal juga bernyanyi sambil tepuk tangan. Dengan penuh keharuan amalia memotong meniup lilin hingga padam. Kami semua bertepuk tangan dengan gembira. Satu persatu teman ceweknya memeluk amalia. Kak faisal, koko dan aku tentu saja cuma menyalami saja.
Terasa sekali kegembiraan disini meskipun cuma sebuah acara sederhana.
Mata amalia berkaca kaca saat menerima ucapan selamat pesta doa dari teman temannya.
“potong dong kuenya..!”
meri mengompori.
“iya mel, potong kuenya.!”
sorak yang lain.
Amalia langsung memotong kue itu, satu potongan ia berikan pada ibunya.
Terlihat sekali wajah haru ibunya saat menerima kue di piring kecil dari tangan amalia.
Ia mencium pipi ibunya. Adeknya kelihatan gelisah melihat kue yang di pegang ibu amalia.
Kemudian amalia memotong lagi kue itu dengan potongan sedikit lebih besar dari yang pertama.
“siapa nih yang dapat suapan pertama?”
olok koko sambil melirik kak faisal.
Amalia tersipu malu Menghampiri kak faisal kemudian memberikan suapan pertama pada kak faisal.
“cieeee… Hati hati tersedak sal..!”
ejek meri bercanda. Kak faisal mengunyah kue itu sambil tersenyum malu. Aku jadi geli sendiri melihat kak faisal. Kemudian amalia menuju ke arahku dan memberikan suapan kedua padaku. Aku sama sekali tak menduga, ku pikir mulanya ia memberikan giliran terakhir menyuapiku.
Setelah selesai menyuapi kami semua. Dan memberikan adeknya potongan kue yang lumayan besar, Amalia kembali duduk.
“makasih semuanya, tanpa bantuan kalian mungkin tak akan ada perayaan ini…”
sela amalia diantara isakan tertahan.
“itulah fungsi teman mel.. Jangan terlalu di pikirkan.. Kita semua ingin merayakan ini..”
hibur aprilia sambil duduk disamping amalia.
“iya mel, kita berteman sejak smp, susah senang kita rasakan bersama..”
timpal meri.
“sedikitpun aku tak pernah menyangka akan merayakan ulang tahun yang ke 17 ini..”
“loh kok jadi pada sedih sedih gini..?”
kak faisal terlihat bingung.
“iya tuh, cewek emang aneh.. Ultah malah bawaannya sentimentil..”
koko menggelengkan kepala dengan heran.
“huuu.. Dasar cowok nggak ngerti kalo cewek emang gitu.!”
dengus ratna agak sebal.
Aku diam tak menimpali mereka. Soalnya aku masih bingung mau mengatakan apa.
“ada acara apa ini..”
terdengar suara berat dari pintu.
Serempak kami menoleh. Seorang bapak bapak masuk kerumah, wajahnya agak aneh, matanya merah dan mukanya kusut sekali.
“ayah..”
desis amalia ganjil.
Semua langsung terdiam.
ibu amalia bergegas menghampiri suaminya yang berjalan terhuyung huyung, kemudian mengambil ransel yang ia pegang.
“kenapa berisik sekali, apa lagi ini?”
ayah amalia terdengar tak suka.
“amalia ulang tahun kak..”
ibu amalia coba menjelaskan.
“ulang tahun.. Amalia ulang tahun.. Hebat ya amalia.. Kayak orang kaya saja..!”
aku sedikit terkejut mendengar kata kata ayah amalia. Dari sikapnya terlihat sekali kalau ayahnya sedang mabuk, ditambah lagi bau minuman keras yang menguar dalam ruangan ini.
“ini semua partisipasi teman temannya amalia kak..”
“aku lapar.. Siapkan makanan.. Cepat.!”
perintah ayah amalia tak perduli.
“ayo bubar semua.. Apa apaan ini.. Pesta tak jelas.. Ayo bubar..!”
bentak ayah amalia dengan marah.
Kami beringsut dari duduk. Aku memandangi kak faisal. Sementara amalia tertunduk malu seperti tak berani melihat teman temannya. Kak faisal memberikan isyarat mengajak pulang padaku, sementara aprilia, meri, ratna dan koko kelihatan bingung.
“mel, kami pulang dulu ya..”
kak faisal pamit pada amalia.
Amalia mengangguk tak melihat kak faisal.
“ayo dek..”
kak faisal menarik tanganku buru buru. Begitu juga yang lain, cepat cepat berpamitan pada amalia.
Walau tak mengucapkan sepatah kata pun, dari wajahnya terlihat sekali amalia sangat meminta maaf karena kejadian ini.
Sementara ibunya amalia masih sibuk menenangkan ayah amalia. Tak ku sangka sama sekali kalau bakalan begini akhirnya.
Ternyata ayah amalia seorang pemabuk. Kasihan sekali amalia, ia pasti sangat malu dengan kejadian ini. Aku bisa bayangkan perasaannya. Bagaimana amalia harus menahan malu atas sikap ayahnya terhadap teman temannya. Dengan berjalan cepat kami keluar dari rumah amalia, sebelum ayahnya mengusir kami lagi. Setelah kami semua berada di luar, seperti terdengar sesuatu yang di banting dari dalam rumah. Kami langsung menoleh ke pintu, namun amalia yang sedang berada di pintu, dengan pandangan meminta maaf segera menutup pintu rumahnya.
“kak.. Kasihan amalia..”
bisikku pada kak faisal.
“iya dek.. Banyak yang kakak mau ceritakan ke adek.. Kita pulang dulu sekarang..”
kak faisal menghampiri teman temannya. Aku mengikuti kak faisal dari belakang.
“ko, kami pulang dulu ya..”
“iya sal, aku juga mau pulang..ini mau nganterin aprilia dulu, habis ini kamu kemana?”
tanya koko.
“kayaknya langsung pulang aja lah.. Besok kita ketemu di sekolah..”
jawab kak faisal.
“oke.. Hati hati ya bro..”
kak faisal mengangguk.
“yuk mer, april, ratna..kami duluan”
teman teman kak faisal mengangguk.
Aku naik ke boncengan, dan menganggukan kepala ke teman teman kak faisal.
Kemudian bersama kak faisal meninggalkan mereka.
“kak jangan ngebut dong..”
aku memperingatkan kak faisal.
“pegangan yang kuat dek..!”
kak faisal tak mengindahkan peringatanku. Tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun.
Aku tau kak faisal pasti sedang kesal sekarang, entah apa yang ia pikirkan. Mungkin ia kuatir memikirkan amalia.
“kak udah jangan terlalu dipikirkan..”
aku coba menghibur kak faisal.
Namun kak faisal tak menjawab.
Sampai dirumah aku mengikuti kak faisal ke kamarnya.
“kak, kasian ya amalia..”
kataku sambil duduk ditempat tidur kak faisal.
Kak faisal yang langsung berbaring cuma menatap langit langit kamar tapi wajahnya kusut.
“itu ayah tirinya dek, memang sudah biasa begitu..”
jawab kak faisal tanpa semangat.
“ayah kandung amalia mana kak?”
“sudah lama cerai sama emaknya, sejak amalia kelas enam..”
kak faisal berbalik menghadapku.
“dek tidur dikamar kakak aja ya..”
aku mengangguk.
“aku ganti baju dulu kak, ntar kesini lagi..”
“iya dek, jangan lama lama, kakak butuh teman bicara..”
aku beranjak dari tempat tidur, meninggalkan kak faisal.
Setelah ganti baju, aku mencuci muka dan gosok gigi. Kemudian aku kembali ke kamar kak faisal.
Ia masih berbaring dengan mengenakan baju kemejanya tadi. Sepertinya kak faisal sudah kehilangan semangat. Tak seperti tadi sore ia begitu bergairah.
Kejadian dirumah amalia tadi pasti membuat kak faisal gelisah. Aku juga kasihan sama amalia apalagi kak faisal yang pacarnya amalia.
“kakak nggak ganti baju kak?”
tanyaku pelan sambil naik ke tempat tidur.
“ntar lagi lah dek, masih capek..”
suara kak faisal terdengar lesu.
Melihat wajah kak faisal yang kusut, aku jadi kasihan. Ingin rasanya aku menghiburnya biar ia tersenyum, tapi aku bingung bagaimana caranya.
“maaf ya dek karena kejadian tadi..”
kak faisal terdengar menyesal.
Aku tersenyum pada kak faisal, memberikan tanda kalau aku tak masalah dengan kejadian tadi.
“sudahlah kak, nggak apa apa kok, justru aku kasihan sama amalia kak, pasti ia kehilangan muka didepan teman teman, apalagi ini kan hari ulang tahunnya, pasti amalia sedih sekarang..”
kak faisal mengangguk lemah.
“iya dek, sedihnya lagi, kakak nggak bisa melakukan apa apa, kalau saja itu bukan ayahnya mungkin sudah kakak hajar habis habisan.. Tapi kakak juga serba salah.. Kejadian ini bukan baru satu kali dek, tapi sudah sering.. Amalia hampir stress dibuatnya..”
jelas kak faisal.
“kenapa ibunya amalia mau saja bertahan, kasihan amalia kak ia bisa tertekan..”
“entahlah dek, itu urusan ibunya.. Mungkin ia punya pertimbangan lain yang kita tak mengerti..”
“betul juga sih.. Cuma kalau berlarut larut seperti itu, amalia bisa tertekan kak..”
kak faisal terdiam, meninju ninju bantal guling seolah olah ingin melampiaskan emosinya pada bantal itu.
“kakak sendiri tak menyangka kalau ayam bakalan pulang lebih cepat, biasanya kata amalia, ayahnya pulang subuh, mabuk mabukan dengan teman temannya yang preman..”
“ayahnya kerja dimana kak?”
aku jadi penasaran.
“menganggur dek, dulunya ayahnya itu penjaga terminal, tapi kena pecat karena ketahuan mencuri..”
“amalia itu cantik kak, ayah tirinya pemabuk, aku takut terjadi apa apa sama amalia..”
“kakak juga sering berpikir begitu, makanya kakak selalu mengingatkan amalia agar tak lupa mengunci pintu kamarnya kalau tidur..”
kak faisal beranjak dari tempat tidur, kemudian membuka celana panjangnya. Setelah menggantinya dengan hawai, kak faisal kembali ke tempat tidur dengan bertelanjang dada.
“bagaimana penilaian adek sekarang terhadap amalia.. Adek tak benci lagi sama dia kan?”
kak faisal menatapku tajam.
Aku jadi tersipu. Malu mengenangkan sikapku kemarin kemarin, tanpa alasan membenci orang yang tak bersalah.
“nggak kok kak, aku jadi simpati sama amalia sekarang.. Tapi dia beruntung dapat pacar seperti kakak..”
ujarku apa adanya.
Kak faisal bergeser lebih dekat ke aku, menatapku dengan tertarik.
“maksud adek?”
kak faisal mengangkat alis.
“semua orang beruntung di cintai oleh kak faisal, amalia pasti bahagia berpacaran sama kakak..”
“adek bisa aja…”
kak faisal tersenyum.
“kakak juga beruntung dapat adek, yang sekalian jadi teman.. Untung kita bukan saudara kandung ya dek, jadi kita bisa lebih akrab.. Dan bisa bercerita apa saja tanpa segan..”
kata kata kak faisal menyejukkan hatiku.
“justru aku merasa beruntung punya kakak seperti kak faisal.. Aku bangga sama kakak..”
ucapku tulus dari hati.
“pasti dulu adek sebal banget sama kakak ya, maaf ya dek dulu kakak bikin adek nggak nyaman..”
“udahlah kak nggak usah diingat lagi yang dulu dulu.. Semua orang pasti pernah khilaf kan.. Makanya tak kenal maka tak sayang..”
kak faisal mengangguk mendengar apa yang aku katakan.
Tanpa aku duga tiba tiba kak faisal memelukku, jantungku berdegup, aku berdoa dalam hati semoga kak faisal tak menyadari itu.
“punya adek enak juga ya, jadi ada teman dirumah..terus bisa dipeluk peluk kayak gini”
kata kak faisal sambil tetap memelukku.
Aku tersenyum senang, kak faisal bisa saja membuat aku jadi berbunga bunga.
“dek, besok kita kerumah agus lagi, kita hepi lagi kayak dulu, tapi adek nggak usah minum terlalu banyak kalau nggak sanggup, jangan sampai adek parah kayak waktu itu..”
aku meringis mengingat kejadian itu, sebetulnya aku tak begitu suka, tapi aku tak mau menolak ajakan kak faisal, lagipula aku merasa senang kalau ikut kak faisal. Artinya aku tak perlu sendirian dirumah dan aku bisa punya waktu lebih banyak bersamanya.
“iya kak..”
“kalau udah ngantuk tidur aja dek, mata kakak juga udah mulai berat..”
kak faisal melepaskan pelukannya lalu turun dari tempat tidur. Kak faisal menyalakan ac, kemudian memadamkan lampu, setelah itu naik lagi ketempat tidur.
Aku menarik selimut tebal hingga sebatas dada. Kak faisal tidur menghadapku. Sebelah tangannya diletakkan diatas dadaku. Aku memejamkan mata, berusaha tidur, namun sulit sekali, hingga berlalu setengah jam, suara dengkur halus kak faisal sudah terdengar. Pertanda kak faisal telah terlelap. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Satu jam setelah itu baru aku bisa tertidur
Bangun tidur aku sendiri, tak ada kak faisal disampingku. Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam. Tumben sekali jam segini kak faisal sudah bangun, padahal biasanya ia bangun jam setengah tujuh. Aku turun dan merapikan tempat tidur kak faisal. Setelah itu aku keluar dari kamarnya. Ternyata kak faisal sedang diruang televisi, duduk sambil ngopi.
“ngopi dek..”
tawar kak faisal begitu melihatku.
“mau cuci muka dulu kak..”
“nyenyak banget adek tidur semalam..”
“masa sih kak..”
“iya dek, subuh subuh kakak terbangun, soalnya tangan adek megang burung kakak..”
ujar kak faisal blak blakan.
Aku terperanjat.
“masa sih kak? Bohong ya.. Mana mungkin aku pegang burung kakak, wong aku aja tidur..”
wajahku rasanya mekar karena malu.
“adek pasti mimpi ya.. Sama siapa dek, lagi naksir cewek di sekolah ya?”
tanya kak faisal dengan lugu.
Aku diam tak menjawab. Sibuk memikirkan ucapan kak faisal tadi. Benarkah aku tidur sambil meraba raba kak faisal. Astaga… Pasti kak faisal kaget sekali tadi pagi. Rasanya aku jadi nggak enak hati sama kak faisal.
“dek, kakak mau pinjam kaset lagi sama teman.. Ntar adek pasti kakak ajak nonton lagi. Katanya film jepang dek, pemainnya cantik cantik..”
tambah kak faisal sambil menyeruput kopinya.
“wah mau kak.. Kapan? Hari ini ya kak..!”
“kakak usahakan.. Udah sekarang adek cuci muka dulu.. Kita ngopi bareng.. Mumpung minggu dek, banyak waktu kita bersantai..”
“mama sama papa mana kak?”
aku mengitari pandang ke seluruh ruangan.
“tadi pagi pagi sekali ke baturaja.. Katanya mau kerumah tante laras..”
“ooooo… Nginap nggak?”
“malam juga udah pulang dek..”
aku tersenyum kemudian meninggalkan kak faisal untuk mencuci muka.
Wah bakalan jadi hari yang asik. Rumah sepi, kak faisal mau mengajak aku nonton film itu lagi, mana nanti sore ia menyuruh ikut dia kerumah temannya.
Setelah mencuci muka aku menuang kopi dalam cangkir, kemudian menghampiri kak faisal, duduk disampingnya sambil menonton televisi.
Suara ulekan terdengar dari arah dapur, pertanda bik tin sedang memasak.
Selesai menonton aku ke kamar dan mandi.
Aku sarapan bersama kak faisal, bik tin memasak ikan goreng sambal dan sup ayam.
Setelah sarapan, kak faisal mengajakku ke tempat temannya untuk mengambil kaset film biru yang semalam ia janjikan.rumah temannya itu tak terlalu jauh dari rumahku, paling cuma lima menit naik motor.
Setelah mendapatkan kaset yang ia inginkan, kak faisal pamit sama temannya, sebetulnya teman kak faisal mengajak kami nonton bareng, tapi kak faisal menolak dengan alasan rumah lagi sepi.
Sampai dirumah, kak faisal langsung mengajak aku masuk ke kamarnya. Namun belum sempat kami masuk, terdengar suara bell berbunyi. Aku bergegas ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.
Ternyata koko, teman kak faisal semalam.
“faisal ada?”
“ada… Silahkan masuk. Sebentar ya aku panggilin dulu, silahkan duduk ko..”
aku berbalik meninggalkan koko, kemudian menyusul kak faisal yang lagi menyalakan televisi di kamarnya.
“kak ada koko…”
kak faisal berbalik.
“koko dek? Tumben kesini nggak telpon dulu..”
“buruan kak, dia nunggu kakak diruang tamu.”
“iya.. Adek panggil aja dia suruh kesini.”
kak faisal kenali sibuk mengatur televisi untuk memutar video.
Aku kembali keruang tamu untuk memanggil koko.
“ko, kak faisal nyuruh ke kamarnya langsung.”
koko berdiri dan mengikutiku ke kamar kak faisal.
“lagi ngapain sal?”
“udah diam aja.. Ada film baru nih..”
“wah kebetulan sekali.. Kalau rejeki memang tak lari kemana…”
koko cengengesan kesenangan.
“udah jangan berisik ntar ketahuan sama bik tin jadi berabe..”
ujar kak faisal yang sedang memasukan kaset kedalam video player.
Tanpa pembukaan, langsung terpampang gambar tiga orang cowok jepang bermata sipit sedang menggerayangi seorang wanita yang sangat cantik, tubuhnya yang hanya tertutup bikini itu sangat putih dan mulus bagai singkong baru di kupas. Kak faisal berdecak dan matanya melotot. Ia nonton begitu serius. Sementara aku duduk agak dibelakang menyender pada tempat tidur.
Koko sibuk membolak balik sampul kaset video dan membaca entah apa di sampul kaset itu.
Durasi film itu tak begitu lama.
Mungkin karena ada koko jadi kak faisal tak mengajak aku onani. Koko beberapa kali masuk ke kamar mandi untuk kencing. Aku sendiri kurang konsentrasi menonton, walaupun nafsu melihatnya ada, tapi aku sedikit ada ganjalan karena tidak plong, aku agak malu sama koko.
Kak faisal mengeluarkan kaset video lalu mematikan player kemudian mengganti saluran televisi ke siaran nasional.
Aku berdiri, agak sulit karena tegang bagian bawahku.
“huuu.. Kirain bakalan heboh filmnya, gak jelas gitu, ceweknya jerit jerit, padahal barang cowok cowok itu kecil kecil, doakan nonton bule, barangnya gede gede..!”
protes koko tak puas.
“kamu juga aneh, apa pentingnya barang gede atau nggak, yang penting kan ceweknya itu, cantik.. Tubuhnya mulus dan molek..”
bantah kak faisal tak mau kalah.
Sebetulnya aku sih lebih setuju dengan pendapat koko, aku lebih suka menonton film bule yang tempo hari itu, lebih bagus dan nggak berisik cewek yang mainnya.
Yang film jepang ini, ceweknya sok sok malu, pura pura mengapit pahanya dan nggak mau diapa apain. Padahal mau diajak main film gituan. Aneh!
“jadi laper nih.. Ada makanan apa dirumah lo sal?”
tanya koko sambil mengelus perutnya.
“nggak tau bik tin masak apa.. Ke dapur yuk.. Aku juga lapar nih..”
kak faisal berdiri ikut memegang perutnya. Padahal belum ada tiga jam tadi kami berdua sarapan.
Aku mengikuti kak faisal ke dapur, demikian juga koko.
Berjalan disamping koko membuat aku terlihat agak pendek, soalnya tinggiku cuma sebatas kupingnya saja. Padahal aku termasuk jangkung. Koko betul betul perfek, pasti banyak yang naksir sama dia di sekolah. Aku memang tak pernah melihat dia sebelumnya. Sebulan sekolah aku jarang keluar kelas kecuali ke kantin atau ikut teman merokok di belakang lab.
Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yang lain pada koko, saat ia memandangku tadi.
“jadi kamu asal bangka?”
koko menanyakan itu padaku waktu kami sedang makan siang.
“iya.. Aku baru tiga bulan lebih disini..”
“betah nggak?”
“lumayan..”
jawabku sekedarnya. Setiap kali mengenang bangka, pasti yang ada di pikiranku hanyalah emak dan ayuk ayukku disana. Entah bagaimana kabar mereka. Aku ingin menulis surat, seharusnya itu sudah aku lakukan dari kemarin kemarin. Aku akan beritahukan pada emak kalau disini aku sudah sekolah, dapat teman baru, serta kakak tiri yang baik.. Emak pasti senang mendengarnya.
Andaikan emak ada bersamaku sekarang, pasti aku senang sekali, walaupun aku sudah mulai terbiasa di palembang, namun tetap saja aku masih memikirkan emak yang susah di bangka. Aku jadi bertanya tanya apa emak saat ini masih menjual kue, yuk yanti sudah lulus, tentu saja tak ada biaya untuk kuliah. Mungkin yuk yanti lebih banyak dirumah membantu emak membuat kue dan jualan.
Padahal ayuk ku satu itu betul betul cantik. Andai keadaan dibalik, yuk yanti yang tinggal disini. Aku yakin yuk yanti bisa menyaingi si ketua osis sma ku, utari..
Aku hanya bisa berdoa mereka selalu dilindungi allah dan tak kekurangan apa apa disana.
“dek, mulai deh.. Melamun terus..”
kak faisal melemparkan sebutir kacang telor ke keningku. Kacang itu memantul dari keningku langsung masuk ke dalam mangkok kobokan. Alhasil airnya menciprat ke meja.
“tuh kan.. Gara gara adek, meja jadi basah..”
gerutu kak faisal asal saja.
Aku mencibir.
“enak aja.. Yang lemparin tadi siapa?”
“tuh ada garpu kalo mau berantem..”
koko mengulurkan dua buah garpu padaku dan kak faisal yang langsung dibalas kak faisal dengan tatapan mendelik.
“maksud lo..?”
sungut kak faisal cemberut.
“tanggung kalo cuma perang mulut.. Mending berantem beneran, secara jantan..”
koko nyengir.
“nggak lucu tau..!”
kak faisal makin sewot.
“udah.. Udah jangan berantem..!”
aku menengahi mereka berdua.
Kak faisal dan koko berpandangan heran kemudian dengan serempak menoleh kepadaku.
“loh.. Kok.. Emangnya yang berantem tadi siapa.. Kalian berdua kan?”
“hahaha.. Anjrit.. Dasar adek.. Malah Jadi sok bijak, padahal kan tadi adek yang mancing duluan..”
“siapa juga yang mancing, kakak aja usil, orang lagi serius makan malah di ganggu..”
“makanya rio, wajah kamu itu, dalam diam aja udah bikin kakakmu panas, apalagi kalo lagi nyolot..”
canda koko.
Aku cuma tersenyum menimpali lelucon koko, ternyata teman kak faisal yang satu ini ramah dan mudah akrab.
Aku jadi merasa cocok berteman dengannya.
Aku menoleh pada koko.
Lagi lagi ia menatapku dengan aneh tapi cuma sekilas.
selesai makan, aku beranjak dari kursi, kak faisal mengajak koko duduk di teras. Aku ke dapur membuat kopi, saat aku membawa kopi ke teras, kak faisal dengan koko sedang main basket, ku taruh kopi diatas meja teras lalu bergabung dengan kak faisal dan koko bermain basket sampai keringatan.
Karena lelah aku berhenti kemudian berteduh dibawah pohon cemara hias. Kak faisal menyusulku. Suasana yang panas membuat keringat mengucur bagai banjir. Kak faisal membuka bajunya.
“sal, udah jam 2 aku mau pulang dulu..”
koko menghampiri kami sambil meletakan bola di depan kak faisal.
“cepet banget ko, ntar aja lah.. Lagian ini kan minggu..”
“aku ada urusan dikit, ntar kesini lagi.”
“terserah kamu lah, tapi balik lagi kan?”
“iya.. Tapi agak sore ya..”
kak faisal mengangguk, kemudian mengantar koko hingga ke pagar. Koko menoleh padaku tersenyum kecil.
Aku membalas tersenyum.
“kak, koko agak aneh ya..”
aku mengungkapkan perasaanku pada kak faisal.
“maksud adek?”
kak faisal mengerenyitkan kening.
“tadi ia melihatku dengan aneh.. Seperti gimanaaa.. Gitu.”
“iya dek, kakak juga tau..”
“kenapa ya kak?”
“entah lah.. Koko memang rada gitu dek, ia agak tertutup dan seperti menyimpan rahasia. Temannya pun tak begitu banyak, kakak satu kelas dengannya waktu di kelas satu dulu.”
kak faisal bercerita.
“terus kak?”
aku jadi penasaran.
“dulu dia betul betul pendiam. Temannya hampir tak ada, kakak juga lupa gimana awalnya kami jadi akrab. Tak ke semua orang ia bisa seperti tadi dek, kalau ia tak cocok maka jangan harap ia mau ngomong..”
“jadi sebetulnya ia pendiam ya kak?”
“tak selalu… Adek lihat sendiri tadi, kalau ia merasa cocok, maka ia akan jadi teman yang betul betul asik.”
tandas kak faisal.
“oh gitu..”
aku mengangguk, heran juga sih.. Kok ada orang yang sifatnya begitu.
“ke dalam yo dek.. Gerah banget disini.”
kak faisal mengipas ngipas tubuhnya yang keringatan dengan bajunya.
Aku masuk ke dalam rumah, menyalakan kipas angin kemudian duduk di depan tipi. Kak faisal langsung masuk ke kamarnya.
Terdengar telpon berbunyi. Aku berdiri kemudian mengangkat telpon.
“halo..”
“ya halo ini faisal ya?”
terdengar suara di seberang.
“bukan, ini rio, kak faisal lagi dikamar, ini siapa?”
“oh rio.. Ini rizal yo…”
“iya zal kenapa, mau di panggilin kak faisal nggak?”
“nggak usah, bilang aja sama faisal, hari ini batal acaranya, bokap pulang dari jakarta..”
“oh gitu.. Oke ntar aku sampaikan..”
“udah ya… Jangan lupa bilang faisal..”
“oke..”
terdengar nada tut pertanda telpon telah terputus. Ku taruh gagang telpon ditempatnya.
Bertepatan aku meletakan telpon, kak faisal keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
“siapa dek?”
“rizal kak.. Dia bilang bokapnya pulang dari jakarta jadi acara batal..”
kak rizal mengangguk.
“ya udah aku juga lagi capek..”
ujar kak faisal sambil melempar handuk serampangan ke atas sofa.
“jadi nggak kemana mana dong ntar sore.
Aku sedikit kecewa.
“kita kerumah koko aja dek..”
tawar kak faisal”
“ngapain kesitu kak..”
“ya nggak ngapa ngapain.. Emangnya mau apa?”
“nggak tau, kan kakak yang tau..”
“main aja dek..”
jawab kak faisal sambil berbalik masuk ke kamarnya.
Aku pergi ke kamarku bersiap siap. Mandi dan ganti baju yang sudah keringatan. Jam empat bersama kak faisal aku kerumah koko.
Aku senang dengan suasana di rumah koko, walaupun rumahnya tak terlalu mewah, tapi sangat bersih. Pekarangannya cukup luas di tumbuhi rumput manila yang terpangkas rapi. Beberapa pohon yang tak terlalu besar tumbuh di halaman rumahnya.
Kak faisal menaruh motor di bawah pohon.
Koko agak kaget melihat kedatangan kami.
Ia menyuruh aku dan kak faisal masuk.
Kembali aku lihat raut wajah koko yang agak aneh menatapku.
“tunggu sebentar ya aku ke dalam dulu, silahkan duduk”
koko mempersilahkan kami kemudian meninggalkan aku dan kak faisal ke dalam.
Tak lama berselang koko keluar bersama seorang yang aku duga adalah ibunya.
Saat melihat aku ibunya koko juga menampakkan pandangan yang ganjil nyaris mirip seperti yang koko tunjukan.
Aku menjadi semakin merasa tak nyaman.
“betul apa yang dikatakan koko, adikmu betul betul mirip dengan johan anak tante yang meninggal delapan tahun yang lalu…”
ujar ibu koko tanpa aku sangka sangka, kak faisal memandang ibu koko dengan tercengang.
mama koko langsung duduk bersama kami.
Aku menjadi jengah karena mama koko tak henti henti memandangku.
“rio, saat melihatmu semalam, aku betul betul kaget, kamu sangat mirip dengan kakakku yang sudah meninggal..”
koko menjelaskan duduk persoalannya.
“kakak kamu?”
desis kak faisal nyaris seperti bisikan.
“iya nak faisal, koko cerita sama tante kalau adik tiri kamu mirip dengan kakaknya..tante tak menyangka bisa melihatnya secepat ini..ternyata betul betul mirip…”
“oh begitu ya tante, kebetulan sekali, memang sih kalau dilihat, rio memang mirip mirip koko..”
tambah kak faisal mendukung kata kata mama koko. Aku tak tahu harus mengatakan apa.
Kemudian mama koko bercerita bagaimana anak sulungnya itu yang katanya mirip denganku itu sampai meninggal, dulu mereka tinggal di muara bungo, jambi, delapan tahun yang lalu saat koko berumur 9 tahun dan kakaknya 15 tahun, kakaknya ikut teman temannya piknik ke hutan. Saat rombongan sedang mandi di sungai, kakak koko hanyut dan ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Aku bergidik mendengar cerita itu, betul betul malang nasibnya. Mama koko sampai berlinangan air mata menceritakan hal itu. Aku sangat bersimpati terhadap mereka. Kak faisal sendiri sudah mendengar lama dari koko tentang kakaknya yang meninggal itu, namun ia tak menyangka kalau ternyata mirip aku.
Mama koko meminta izin untuk memelukku, aku tentu saja tak mungkin menolaknya. Kemudian mama koko menyuruh koko mengambil album foto keluarganya. Aku melihat lihat foto koko waktu masih anak anak, wajahnya tak terlalu beda dengan saat ini, saat aku perhatikan foto kakaknya, aku terkesiap karena betul betul mirip denganku. Saat itu usianya baru 15, aku sekarang 16 tahun. Tentu saja tak terlalu banyak perbedaan umur kami. Aku jadi membayangkan seandainya saat ini kakak koko masih hidup pastilah sudah kuliah.
Hari sudah beranjak petang, kak faisal mengajakku pulang, kami berpamitan pada mama koko. Beliau bahkan mengantar kami hingga ke pintu pagar. Beliau juga sempat berpesan agar aku sering sering main ke rumahnya. Aku terharu saat mama koko mencium keningku. Matanya yang berkaca kaca menahan tangisan ikut membuat dadaku terasa sesak.
Sampai dirumah ternyata papa dan mama sudah pulang, namun aku melihat ada mobil tante laras, semangatku tiba tiba langsung jatuh lagi.
“dek, kayaknya ada tante laras tuh..”
ujar kak faisal sambil mencabut kunci motor.
“iya kak, bakalan nggak asik suasana dirumah..”
aku mengerang.
“jangan terlalu dipikirkan dek, cobalah untuk mendekati tante laras, mungkin karena kalian tak terlalu mengenal makanya kalian berdua dingin..”
saran kak faisal.
“aku takut sama tante, dia sepertinya dari awal memang kurang suka padaku.”
“kakak tau.. Tapi tante memang begitu kok, belum tentu juga ia tak suka sama adek.. Ayo masuk dek..”
ajak kak faisal.
Berdua kami masuk ke dalam rumah.
“assalamualaikum..”
aku memberi salam.
“waalaikum salam”
terdengar suara mama yang menjawab.
Ruang keluarga ramai sekali, ada papa, mama, tante laras, dan juga lelaki yang duduk disamping tante laras mungkin suaminya. Duanya lagi remaja yang sepantaran aku. Yang lelaki mungkin seusia kak faisal.
“nah itu mereka udah datang.. Dari mana kalian?”
mama menunjuk kami dan bertanya.
“dari rumah teman ma..”
jawab kak faisal sambil menghampiri tante laras lalu menyalami dan mencium tangannya. Kak faisal juga mencium tangan lelaki disamping tante laras.
Aku mengikuti apa yang dilakukan kak faisal dengan berat hati. Kalau bisa dalam jarak sepuluh meter pun aku segan dekat dekat tante laras.
“oh jadi ini yang namanya rio..”
ujar lelaki itu saat aku mencium tangannya.
“iya om..”
aku menjawab singkat lalu beranjak dari mereka.
“ma, rio ke dalam dulu, mau mandi..”
aku mencari alasan. Karena merasa tak nyaman dengan tatapan tante laras.
Mama mengangguk.
Kak faisal malah ikut duduk bergabung dengan mereka.
Aku bahkan lupa menyalami kedua sepupu tiriku itu, entah siapa namanya pun aku tak tau. Aku tak mau terlalu memikirkannya, tak begitu penting juga. Semua hal yang menyangkut tante laras sudah tak menarik bagiku.
Setelah mandi, aku malas keluar kamar, aku pura pura sibuk belajar. Jadi aku ada alasan tak harus selalu melihat tante laras.
Kak faisal masuk kamarku sekitar jam setengah delapan.
“dek, kakak mau kerumah amalia dulu, mau tau keadaannya, kakak masih cemas gara gara masalah semalam..”
kak faisal menghampiriku.
Aku berbalik melihat kak faisal.
“pergi aja kak..”
“adek belum makan ya.. Makan dulu dek, ntar kena maag loh..”
peringat kak faisal perhatian.
“belum pengen kak, tanggung nih lagi nyelesain tugas, ntar juga kalo laper rio ke dapur..”
“ya udah.. Kakak pergi dulu ya.. Cuma sebentar kok dek..”
“iya.. Iya.. Lama juga nggak masalah kak..udah buruan pergi”
aku mengusir kak faisal secara halus.
Sebetulnya dalam hatiku masih merasa kurang suka kak faisal terlalu sering keluar meninggalkan aku dirumah tanpa teman. Apalagi hari ini ada tante laras dan keluarganya itu, aku tak bebas mau kemana mana takut bertemu tante laras. semoga aja mereka nggak berlama lama disini. Setelah kak faisal pergi, terdengar pintu kamarku di ketuk.
“rio.. Udah tidur ya?”
suara mama terdengar dari luar.
Dengan malas aku beranjak dari duduk kemudian membuka pintu kamar.
“ada apa ma?”
aku menggaruk kepala.
“kok dikamar terus sih, nggak enak sama tantemu.. Tuh ada sepupumu, ditemeni dulu..”
“malas ah.. Kenal juga nggak..”
aku menolak.
“sayang nggak boleh gitu.. Kasihan kan odie udah datang jauh jauh, katanya ia mau kenal dengan sepupu barunya sayang.”
“nggak boleh begitu sayang, ayo keluar… Kasian odie, dari tadi cuma duduk sendirian, mana faisal keluar lagi..”
keluh mama.
Dengan terpaksa aku keluar kamar menemui odie diruang menonton.
Ia tersenyum melihatku.
“odie…!”
katanya sambil mengulurkan tangan.
“rio..” balasku malas.
“lagi sibuk ya, kalo masih ada tugas nggak apa apa kok..”
kata odie sambil senyum.
Aku baru baru berniat balik ke kamar tapi aku urungkan setelah melihat mama mendelik padaku.
Dengan enggan aku duduk dekat odie.
“jadi kamu satu sekolah sama faisal..?”
tanya odie.
“tuh kamu udah tau..”
jawabku nyinyir.
Odie sedikit terperangah, namun ia kembali senyum.
“betah nggak di palembang?”
“lumayan!.”
jawabku singkat.
“film bagus loh.. Mac gyver.. Suka nggak nonton film ini?”
ujar odie antusias.
“nggak pernah nonton.. Malas, mendingan melakukan kegiatan yang berguna ketimbang bermalas malasan depan televisi..”
jawabku datar. Odie langsung terdiam dengan wajah memerah.
Entah kenapa aku jadi tak suka pada odie padahal ia tak bersalah sedikitpun padaku. Apa karena ia anak tante laras?.
Aku pura pura melihat serius pada televisi, walaupun saat ini sedang menayangkan iklan. Aku tahu odie sebentar sebentar menoleh padaku seperti hendak mengajak ngobrol tapi aku pura pura tak menyadarinya.
Terdengar dengusan nafasnya berkali kali.
“eh odie, udah kenalan sama rio ya?”
seru tante laras yang baru keluar kamar bersama suaminya. Aku melirik tante laras tanpa ekspresi kemudian kembali melihat ke televisi.
“rio, kamu sama odie dirumah ya.. Mama dan papa mau mengajak om beno sama tante laras jalan..”
mama menghampiriku sambil memasang tali sepatu tingginya.
“mau kemana sih ma?”
tanyaku sebal.
“mama mau ke tempat bibik mu, kamu jangan kemana mana, temani odie..”
perintah mama tak terbantah.
Aku menuruti juga walaupun berat hati.
Setelah mereka pergi, aku ke berdiri, odie mendongak melihatku.
“mau kemana rio?”
“bikin kopi..”
jawabku tanpa menoleh, aku berjalan menuju dapur.
Aku melintasi kamar bik tin yang masih terbuka, bik tin sedang melipat pakaian.
Waktu aku mengaduk kopi dalam cangkir. Odie menyusul.
“kamu bikin dua ya, aku jarang ngopi..”
odie melihat dua cangkir di depanku.
“iyalah… Masa cuma bikin satu,..”
jawabku sambil terus mengaduk.
“iya deh nggak apa apa.. Ngomong ngomong kamu kok nggak keluar?”
tanya odie lagi.
Aku nyaris mendengus keras keras, cerewet amat sih anak tante laras ini, sama kayak ibunya.
“mama nggak ngasih… Disuruh temani kamu..!”
aku menjawab apa adanya.
“nggak apa apa kok kalau memang mau pergi, aku tak apa apa disini sendiri, lagian kan ada bik tin yang menemani.
Kata odie sambil menatap kopi dalam cangkir. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Apakah ia tak merasa kalau aku begitu dingin padanya.
“tolong bantu aku bawa kopi ini ke depan..!”
aku membuka kithchen set dinding, mencari cemilan yang biasanya ditaruh disitu.
Odie mengangkat dua cangkir berisi kopi tanpa mengatakan apa apa. Kemudian meninggalkan aku.
Sebetulnya odie terlihat baik, ia juga ramah, tapi aku sendiri heran kenapa aku tak bisa ramah padanya. Mungkin sisa kesalku pada tante laras membuat egoku tak menerima segala yang berhubungan dengan tante laras.
Baru saja aku mau kembali ke ruang nonton, terdengar suara odie tertawa, sepertinya dia sedang bersama seseorang. Buru buru aku menghampiri odie. Ternyata ada om sebastian. Ia sudah pulang dari baturaja.
“hei.. Rio.. Apa kabar?”
sapa om sebastian begitu melihatku.
“baru nyampe ya om, kabar rio sehat om..”
jawabku senang sambil meletakkan stoples berisi kerupuk udang diatas meja kemudian duduk disamping om sebastian.
“rumah kok sepi, dimana mama kamu?”
“lagi jalan om..”
aku dan odie menjawab serempak.
Om sebastian tertawa renyah. Dasar odie, yang ditanya aku, malah ia ikut menjawab.
Perasaan om sebastian makin hitam dan kurus, sebulan tak melihatnya.
“om ke kamar dulu ya, mau mandi.. Gerah dari perjalanan jauh.”
kata om sebastian sambil berdiri.
“iya om..”
jawab odie.
Aku ikut berdiri kemudian mengikuti om sebastian ke kamarnya. Odie menoleh melihatku berjalan menuju kamar om sebastian tapi ia tak mengatakan apa apa.
Om sebastian membuka tas travel yang tadi ia bawa. Kemudian mengeluarkan seluruh isi dalamnya.
“capek ya om, mau rio pijitin?”
tawarku karena kasihan melihat om sebastian yang sepertinya benar benar capek.
“wah boleh tuh.. Om memang lagi pegel banget, ntar om bersihkan badan dulu ya..”
om sebastian membuka kemejanya.
Tubuh om sebastian makin kekar, walaupun seperti habis terbakar matahari. Aku mau punya badan seperti om sebastian. Pastilah sebagai brimob, om sebastian rutin melakukan latihan fisik yang tak ringan, makanya tubuhnya terbentuk begitu maskulin dan sesuai porsinya tanpa kesan seperti binaragawan.
Aku menunggu om sebastian yang masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar kecipak air dilantai, om sebastian mandi sambil bernyanyi. Suaranya yang agak serak, membuat lagu pop yang ia senandungkan, terdengar seperti lagu rock. Tak sampai sepuluh menit, om sebastian keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk dibawah pusar. Tercium aroma sabun mandi yang harum. Rambutnya yang cepak itu berdiri dan berkilau tertimpa cahaya lampu karena basah.
Om sebastian membuka lemari dan mengambil kaus dalam kemudian memakainya. Tanpa malu malu om sebastian melepaskan handuk yang melilit pinggangnya. Hingga aku dapat melihat perkakasnya yang terkulai lemas di tengah hamparan bulu ikal tebal hitam pekat. Om sebastian memakai celana dalamnya sambil melirik aku.
selesai berpakaian om sebastian langsung merebahkan diri diatas kasur.
“faisal mana?”
tanya om sebastian menumpukan kedua lengan dibelakang kepala. Hingga terpapar bulu ketiaknya yang lebat.
“kerumah ceweknya..”
jawabku pendek.
Om sebastian agak terkejut, kemudian beringsut ke arahku.
“faisal punya cewek, sejak kapan?”
om sebastian jadi tertarik.
“aku juga nggak tau om, kak faisal nggak pernah bawa ceweknya kerumah.. Tapi ceweknya itu satu sekolah sama kami.”
aku menjelaskan.
“oke oke.. Sambil bercerita, tolong kamu pijat pundak om, soalnya pegal nih..”
om sebastian langsung duduk memunggungiku, mau tak mau aku langsung memijat pundaknya.
“ya.. Begitu, lebih keras dikit..”
instruksi om sebastian. Aku memperkeras pijatanku.
“cantik nggak ceweknya itu?”
om sebastian masih penasaran.
“lumayan sih om.. Cuma…”
aku sengaja menggantung kalimatku agar om sebastian makin penasaran.
“cuma apa?”
om bastian memutar badannya menoleh padaku.
Aku nyengir karena melihat reaksi om sebastian tepat seperti dugaanku.
“nggak jadi ah.. Takut ntar kak faisal marah sama aku..”
aku pura pura tak mau cerita.
“eh.. Om bisa jaga rahasia kok, janji nggak bakalan cerita sama siapa siapa..”
om sebastian menyilangkan jarinya.
“om tanya sama kak faisal aja lah..”
kataku santai.
Wajah om sebastian terlihat gemas, ia mengerutkan keningnya.
“faisal mana mau cerita soal gituan.. Dasar faisal, udah bisa pacaran sekarang.. Mama kamu udah tau masalah ini?”
tanya om sebastian lagi.
“sepertinya belum om, sama aku aja nggak cerita apalagi sama mama, kalau bukan rizal yang keceplosan cerita mengenai pacarnya itu, mana mungkin kak faisal mau cerita cerita..”
“eh, odie kamu tinggalin ya.. Udah sana temani odie, kasian ia sudah datang jauh jauh kamu cuekin..”
ujar om sebastian baru ingat kalau ada odie.
“udahlah om, biarin aja, dia juga lagi asik nonton kok..”
jawabku enggan.
“kalian itu sepantaran loh.. Kamu kan belum banyak teman disini, odie bisa jadi teman yang baik loh…”
“teman baik gimana, rumahnya aja jauh..”
aku berkilah.
Om sebastian langsung berdiri, melihatku dengan heran.
“kamu masih marah sama tante laras ya?”
selidik om sebastian mengamatiku.
Aku diam tak menjawab.
Om sebastian mengelus rambutku.
“walaupun tante laras itu judes, tapi odie anak yang baik kok… Kamu belum mengenalnya.. Om yakin kalau kamu lebih mengenal kepribadiannya, kamu bisa akrab sama odie..”
jelas om sebastian.
“iya deh.. Rio temani odie sekarang..”
aku beranjak dari tempat tidur dengan malas, sebetulnya aku masih ingin melepaskan kangen sama om sebastian, tapi aku nggak enak kalau terus menolak menemani odie, takutnya nanti penilaian om sebastian padaku jadi lain.
Aku keluar dari kamar om sebastian kemudian menghampiri odie.
“eh rio..”
odie tersenyum lebar melihatku.
“udah habis filmnya?”
tanyaku tanpa minat.
“udah tuh, kirain kamu udah tidur..”
“aku jarang tidur jam segini.”
“faisal biasa pulang jam berapa?”
odie kembali bertanya.
“nggak pasti, kadang cepat kadang sampai subuh..”
aku menjawab apa adanya.
“om sebastian mana?”
“lagi istirahat di kamar.”
“eh.. Kopi kamu tuh udah hampir dingin… Lupa ya?”
odie mengingatkanku sambil menunjuk ke arah kopi. Aku lihat isi cangkirnya sudah bersisa seperempat.
Aku ambil cangkir kopi kemudian meminumnya langsung habis.
“besok pagi pagi sekali aku udah pulang..”
kata odie tanpa ku tanya.
“loh kok cepat amat..”
tanyaku berbasa basi.
“besok senin, aku mau sekolah, lagipula papa mau kerja..”
“tanggung banget datang kesininya, kenapa nggak malam kemarin aja?”
tanyaku penasaran.
“mama mau sekalian belanja, lagipula aku mau kenalan sama kamu..”
ujar odie blak blakan.
Aku terkesiap mendengar jawabannya itu, jadi odie betul betul datang jauh jauh ikut orangtuanya kesini hanya ingin tahu tentang aku. Ada perasaan tak enak dalam hatiku.
“nginap aja sehari.. Nggak sekolah besok kan nggak masalah…”
aku menawarkan odie karena merasa agak bersalah.
Odie tersenyum lebar padaku.
“kapan kapan aku nginap, kalau lagi liburan, kalau nggak sekolah besok, bisa bisa aku diomeli mama sampai seminggu.”
jawab odie terus terang.
“ke kamarku aja yuk.. Ada sega, kamu doyan main sega nggak?”
aku mulai menawarkan persahabatan.
“aku kurang doyan main gituan.. Bisa bikin bodoh kata mama..”
jawab odie polos.
Aku tertegun melihat odie, baru ku sadari kalau odie agak mirip dengan kak faisal, wajar aja mirip, mamanya kan adik papa. cuma badan odie sedikit lebih gempal, dan rambut odie tebal ikal. Namun wajahnya selalu senyum.
Aku mengangguk angguk walau tak mengerti, jarang ada anak yang tak hobi main games. Pasti tante laras mendidik odie dengan ketat. Aku pura pura melihat tayangan televisi dengan serius.
“oh ya rio, aku sebetulnya ada bawa sesuatu untuk kamu loh..”
ujar odie seperti baru teringat.
Aku mengalihkan tatapan dari televisi dan melihat odie dengan penasaran.
“kamu bawa sesuatu untukku? Apa itu die?”
odie tersenyum sumringah, lalu berangkat dari kursi.
“tunggu sebentar ya aku ambilin dulu..”
odie meninggalkan aku, kemudian masuk ke kamar tamu.
Sekitar dua menit ia kembali dengan membawa kotak besar bekas mie instan.
“apa itu die?”
aku jadi makin penasaran dan berdiri menghampiri odie.
Odie tersenyum penuh rahasia, kemudian meletakkan kotak itu diatas lantai.
“itu lihat aja sendiri, semoga kamu suka..” odie menyeringai lebar, kelihatannya ia senang sekali melihat reaksiku.
Dengan penasaran aku membuka kotak itu, agak berat, entah apa isinya.
Isolasi yang menempel agak sulit untuk di lepaskan. Aku ke dapur mengambil gunting.
saat tutup kotak itu terbuka mataku langsung terbelalak melihat begitu banyak komik bergambar di dalamnya. Mungkin jumlahnya ada puluhan.
“ini semua untuk aku?”
tanyaku pelan nyaris tak percaya dengan apa yang aku lihat ini.
“tentu saja itu semua untuk kamu, kalau bukan, untuk apa aku bawa jauh jauh kemari..”
jawab odie tersenyum lebar.
“apa kamu nggak sayang, sebanyak ini kamu kasih untuk aku semua, ini kan masih bagus bagus.?”
aku mengeluarkan isinya satu persatu, buku yang bagus bagus, yang selama ini aku idam idamkan sejak aku masih di bangka.
“iya.. Itu semua sudah selesai aku baca, mama rutin membelikan aku buku, aku udah kebanyakan buku buku seperti itu, daripada bertumpuk di gudang, kan sayang.. Mendingan aku kasih ke kamu.
Odie tersenyum lebar.
Aku pandangi odie, wajahnya yang lucu itu menyurutkan semua ke tak perdulianku tadi, kalau bukan karena gengsi pastilah ia sudah aku seluk sambil melonjak kesenangan.
“odie.. Kamu baik banget.. Makasih banyak ya die.. Aku jadi nggak tau harus bagaimana berterimakasih padamu..”
ucapku tersendat sendat.
Odie nyengir lebar melihat tingkahku.
“santai aja rio, cuma buku aja kok nggak usah terlalu dibesar besarin.. Lagian kita kan sepupu, jadi nggak usah sungkan sungkan..”
“makasih banyak ya die…”
ucapku tulus.
“sama sama rio..”
balas odie.
“kamu udah makan die?”
aku baru teringat kalau aku belum makan malam, perutku udah terasa lapar.
“Udah tadi, makan bareng mama papamu.. Kamu kemana tadi nggak ikut makan bareng?”
odie malah balik bertanya.
“makan lagi yuk..”
tawarku serius.
Odie tertawa sembil merangkul bahuku.
“boleh.. Laper lagi nih..”
aku mengajak odie ke dapur, kami makan bersama sambil bercanda.
“eh makan kok nggak ngajak ngajak..”
ujar om sebastian yang baru saja masuk ke dapur.
“kirain tadi om udah tidur, ayo makan bareng om, ada ayam goreng nih..”
om bastian menepuk perutnya pelan dan menghampiri kami.
Om sebastian duduk di sampingku mengambil nasi ke dalam piringnya.
Banyak yang diceritakan oleh om sebastian selama kami makan.
Tentang pengalamannya selama bertugas di baturaja, selain itu dia juga menanyakan bagaimana aku di sekolah, aku cerita kalau aku sudah bisa menyesuaikan diri. Aku juga baru tau kalau ternyata odie dan om sebastian begitu akrab, dulu sebelum tinggal disini, om sebastian pernah tinggal di rumah tante laras, om bastian cerita tentang masa kanak kanak odie yang sangat bandel. Waktu itu om sebastian masih bersekolah. Odie tertawa mengenang kejadian itu.
Setelah makan aku dan odie ikut ke kamar om sebastian. Kami saling bercerita tentang pengalaman. Odie ingin mendengar kisahku sewaktu di bangka. Aku ceritakan apa adanya mengenai kehidupanku yang begitu bersahaja. Bagaimana setiap hari aku berjualan kue keliling kampung sebelum sekolah. Rahasia tentang aku yang selalu di tutupi emak, kesedihan emak ketika menjelang kepergianku. Bagian yang kurang enak masalah pertengkaran mama dan emak dulu tak aku ceritakan, aku tak ingin mereka sampai tau. Odie tertegun mendengar ceritaku. Sementara om sebastian hanya bengong memandangiku.
“kasihan emakmu.. Aku bisa bayangkan pasti beliau sedih sekali harus berpisah dari kamu, karena bagaimanapun, emakmu yang merawat kamu dari bayi hingga smp..”
komentar odie prihatin.
“iya die, aku juga merasa sedih, sampai sekarang aku selalu kepikiran sama emak, aku takut sekali terjadi apa apa sama emak sedangkan aku tak tau karena aku jauh..”
aku mengungkapkan keresahan hatiku.
Selama aku berada dirumah ini, baru sekali ini aku betul betul bercerita tentang masa laluku. Aku tak tau kenapa aku langsung menumpahkan unek unek ku pada odie padahal kami baru mengenal dalam hitungan jam saja.
“kenapa tak tulis surat saja sama emak dan ayukmu?”
tanya om sebastian yang berbaring di sampingku.
“maksudnya sih gitu om, kadang rio suka lupa, padahal udah niat, insya allah besok rio tulis surat untuk emak..”
“eh udah jam setengah sebelas, kok mama sama tante mega belum pulang ya?”
ujar odie.
“udah ngantuk ya die?”
“ya sedikit… Kemana sih mama?”
“katanya kan kerumah bibik, tapi nggak tau bibik yang mana..”
jawabku tak yakin. Saudara mama atau papa yang aku kenal disini cuma keluarga tante laras.
“om, tau nggak mama kerumah bibik yang mana?”
aku menoleh ke om sebastian. Tak ada jawabn. Terdengar dengkuran halus dari mulut om sebastian yang sedikit terbuka. Rupanya om sebastian sudah terlelap. Aku turun pelan pelan takut membangunkan om sebastian. Ia pasti betul betul capek hingga ketiduran seperti ini. Aku selimuti tubuhnya yang hanya di tutupi celana pendek itu. Kemudian aku ajak odie keluar dari kamar om sebastian.
“ke kamarku aja ya..”
kataku sambil menutup pintu kamar om sebastian.
“boleh…”
odie menyetujui.
“kamu tidur sama aku aja..”
tawarku lagi.
“apa nggak sempit nantinya?”
odie ragu ragu.
“nggak kok, muat lah kalau untuk dua orang asalkan kamu tidurnya jangan keracak..”
odie terkekeh mendengar yang barusan ku bilang.
“tenang aja, kalau tidur aku nggak pernah nakal, posisi aku tidur dan bangun pasti selalu sama, paling ya cuma bantal guling aja yang bergeser sedikit.”
jelas odie panjang lebar.
“nggak kok die aku cuma bercanda… Hehehe..”
aku membuka pintu kamarku dan mengajak odie masuk.
“wah…. Kamarmu bagus banget..”
odie terperangah melihat isi kamarku.
Aku cuma mengangkat bahu. Kamar ini di persiapkan mama untuk aku agar betah, soalnya aku kan masih terbiasa tidur di tempat tidurku dulu, selama 15 tahun hanya tinggal di kamar yang sempit, jadi tidur dimana aja tak masalah bagiku.
“santai aja die, anggap di kamar sendiri, kamu mau nonton, atau berbaring.. Aku mau cuci muka dulu, kalau mau ganti baju, pilih aja di lemari..”
aku membuka pintu kamar mandi. Odie mengangguk dan duduk dikarpet depan televisi.
Aku mencuci muka dan gosok gigi. Keluar dari kamar mandi aku lihat odie sedang berbaring diatas karpet.
“eh ngapain tidur disitu.. Mendingan diatas die, dingin tidur dibawah.!”
odie bangun dan duduk lagi.
“kamu udah mau ngantuk?”
tanya odie.
“biasanya jam segini aku udah tidur sih, tapi malam ini nggak terlalu ngantuk.. Kenapa die… Kamu udah ngantuk?”
aku menggantung handuk kecil bekas aku mengeringkan muka.
“belum sih… Biasanya juga kalau dirumah jam segini aku udah tidur..”
odie berdiri dan menghampiri lemari kaca tempat miniatur mobil mini pemberian erwan yang aku susun berjajar.
“kamu hobi miniatur ya?”
tanya odie sambil memegang miniatur mobil berwarna merah.
Aku menghampiri odie dan mengambil miniatur mobil sedan berwarna kuning.
“ini pemberian teman di bangka, dia sahabatku yang terbaik yang pernah kupunya..”
aku menerawang sambil menaruh miniatur di telapak tanganku.
“kamu beruntung punya sahabat yang baik.. Ceritakan dong tentang teman teman kamu di bangka dulu, aku jadi penasaran dengan tempat tinggal kamu dulu..”
ujar odie sambil menaruh kembali miniatur itu ke dalam rak kaca.
“sambil tiduran aja ya, lebih santai..”
ajakku sambil berjalan ke tempat tidur lalu naik ke atasnya. Odie mengikutiku.
“die kalau mau cuci muka dan sikat gigi, dalam kamar mandi ada sikat gigi baru..”
“aku belum ngantuk..”
jawab odie naik ke tempat tidur.
“sebetulnya aku masih betah, tapi sayang besok harus sekolah..”
ujar odie seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.
“kapan kapan kalau ada waktu, menginap disini die, agak lama.. Jadi kita bisa mengenal lebih dekat..”
aku berbalik menghadap odie, ia berbaring sambil melihat langit langit kamar.
“iya yo, pasti.. Aku sering diajak mama kesini, tapi biasanya nggak pernah betah, soalnya nggak ada teman, si faisal jarang dirumah..sekarang ada kamu jadi ada alasan aku untuk main kesini.”
ujar odie dengan mata berbinar.
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya itu.
“kalau di bangka biasanya kalian nongkrong diamana..?”
“aku jarang nongkrong die, paling kalau main kerumah teman ya betah dirumah aja..”
“sama yo, aku juga jarang nongkrong, kalau dirumah, aku lebih suka membaca atau nonton..”
“aku dulu jualan kue, kalau pulang sekolah ya aku keliling ke toko mengambil titipan kue, paling juga temanku yang sering ke rumah ku hanya angga dan erwan.. Satunya lagi rian, tapi kami baru akrab di hari hari menjelang keberangkatanku kesini..”
aku menerawang mengenang masa masa aku dibangka.
“oh ya.. Terus..?”
odie mengubah posisi menghadapku, menyimak ceritaku dengan tertarik.
Aku bercerita tentang bangka. Odie serius mendengarkan. Sesekali ia bertanya kalau kurang mengerti maksudku. Odie juga banyak bercerita tentang pengalaman dia, kisahnya waktu masih kecil dulu sempat tinggal dipadang. Dari kisahnya, odie termasuk agak sulit bergaul, tapi aku tak melihatnya demikian. Odie sangat baik, bertolak belakang dengan mamanya. Ia juga cepat tadinya mengakrabkan diri denganku. Malah aku yang merasa agak sulit bergaul, karena dulunya aku sedikit agak minder untuk bergaul. Tapi untungnya aku punya teman seperti erwan yang membuat aku menyadari tak ada gunanya merasa malu untuk berteman.
Karena asiknya mengobrol tak terasa sudah jam setengah duabelas. Odie meminjam celana pendekku, kemudian mencuci mukanya. Aku mematikan lampu, odie keluar dari kamar mandi kemudian berbaring disampingku dan menarik selimut.
Aku memejamkan mata, namun sulit sekali rasanya tidur, rasa kantukku sudah hilang, aku menoleh melihat odie, ia sudah terpejam. Entah kenapa malam ini, karena banyak bercerita tentang bangka, membuat perasaan kangen dengan emak dan ayukku kembali datang. Aku sedih memikirkan emak. Aku takut kalau emak sakit atau kesulitan, mana dirumah semua perempuan. Aku teringat, kadang jam begini emak belum tidur, malah sibuk menyiapkan lidi dan daun pisang untuk kue ketan. Aku tak pernah bangun siang, biasanya jam empat subuh aku bangun. Tapi sekarang aku bangun setengah enam karena bingung mau ngapain. Dirumah ini hampir tak ada yang dapat aku lakukan. Semua sudah diborong oleh bik tin. Pernah aku mengambil sapu untuk menyapu lantai, tapi bik tin langsung melarang, apalagi mama waktu melihat aku mau mencuci piring bekas aku makan, reaksinya seolah olah aku sedang mencuri permen di toko..
Aku kangen sekali dengan bangka, dengan rutinitas yang biasanya aku kerjakan.
“belum bisa tidur ya?”
suara odie mengagetkanku.
“kamu juga kok belum tidur..?”
aku menoleh.
“nggak tau, kenapa mataku nggak ngantuk ngantuk..”
jawab odie.
“mama pasti udah pulang..”
“mungkin udah tidur… Sekarang udah jam satu..”
“kamu pulang jam berapa besok?”
“jam tiga yo, soalnya tiga jam perjalanan dari sini..aku bisanya tidur di mobil”
“tidur sekarang aja.. Masih ada waktu dua jam, lumayan lah die…”
odie mengangguk dan memejamkan matanya lagi.
“kamu tau yo, aku senang sekali punya sepupu baru.. Kamu ternyata asik juga ya… Aku janji akan kesini lagi nanti..”
“aku juga die, senang kenal sama kamu.. Nanti kapan kapan kita jalan sama sama kalau kamu kesini lagi..”
jawabku sambil dengan mata terpejam.
Setelah itu kami hanya diam. Hingga terdengar nafas odie yang mulai teratur pertanda ia telah tertidur.
Aku bangun sedikit kesiangan, sudah terang, jam setengah tujuh, tak ada lagi odie disampingku.
aku mandi terburu buru, kemudian berangkat ke sekolah tanpa sempat sarapan lagi, aku ke sekolah bersama kak faisal.
Jam istirahat aku dikagetkan dengan kedatangan koko ke kelasku. Ia mengajak aku ke kantin dan mentraktirku.
Koko mengajak aku kerumahnya sore ini, dia janji akan menjemputku. Kata koko mamanya ingin bertemu denganku lagi.
Saat bertemu dengan kak faisal dan teman temannya, mereka menghampiri aku dan koko. Aku mengenal semua teman yang bersama kak faisal faisal.
“tumben ko kamu jalan sama anak kelas satu..” agus mengolok koko
“eh tapi kalau dilihat, kalian berdua itu mirip kakak adik loh.
.. Bener deh, sepintas kalo diliat orang pasti nyangka kalo rio itu adikmu…”
tambah rizal sambil tertawa.
“oh ya.. Masa sih?”
koko tersenyum lebar.
“hei… Apa apaan ini, rio itu adek aku tau.”
protes kak faisal cemberut.
“iya sal, ia adik kamu, tapi coba aja kalian jalan bertiga, pasti semua nyangka rio sama koko itu saudara, kamu nggak ada mirip miripnya sama sekali dengan rio…”
agus bersikeras
“wajar aja nggak mirip, dodol..! Kami kan saudara tiri..”
kak faisal tak mau kalah. Aku tak berkomentar apa apa, cuma kulihat sepertinya koko senang senang aja dibilang mirip sama aku.
Untung saja bell berbunyi, jadi kami tak perlu berlama lama meneruskan perdebatan yang tak bermanfaat ini.
Aku berpamitan sama koko dan teman teman kak faisal kemudian kembali ke kelas.
****
.
“Mau kemana dek?”
tanya kak faisal ketika melihat aku duduk di teras.
“nunggu koko kak, katanya mau jemput aku kerumahnya..”
kak faisal menatapku dengan heran.
“kamu kok akrab sekali sama koko sekarang?”
“nggak tau kak, tadi koko yang ngajak aku kok, dia juga menemui aku dikelas… Ya mungkin karena aku mirip sama kakaknya itu, makanya ia cepat akrab sama aku.”
aku menduga duga.
Kak faisal tak menjawab. Ia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“tuh koko udah datang kak, aku pergi dulu ya..”
ujarku sambil berdiri dan menghampiri koko yang menungguku diatas motornya depan halaman.
“jangan pulang terlalu sore dek..!”
seru kak faisal dari teras.
“iya kak..!”
jawabku sambil naik ke boncengan.
“udah makan yo?”
tanya koko saat kami berada di jalan.
“udah, tadi bareng kak faisal.”
“mama bikin soto daging dan kue, dari tadi mama nanyain kamu terus.”
koko memberitahuku.
Aku tertawa, ada ada saja mamanya koko, hanya karena menurutnya aku mirip sama kakaknya koko, ia sampai segitunya.
Sampai dirumahnya, koko mengajak aku masuk. Mama koko sedang didapur, ia senang sekali melihat aku datang.
“eh nak rio, udah makan nak? Ibu lagi bikin soto.. Kamu doyan makan soto?”
ia menghampiriku dengan senyum terkembang.
“wah, doyan banget tante..!”
jawabku untuk menyenangkan mama koko.
“sudah tante duga, johan juga dulunya paling doyan makan soto.”
bagaikan kedatangan seorang tamu istimewa mama koko menyambutku, menyiapkan makanan dan kue, aku jadi tak enak hati, melihat kegembiraan terpapar diwajahnya itu, aku mengerti pasti mama koko sangat menyayangi anaknya yang telah meninggal itu.
Berkali kali ia memaksaku untuk makan ini, makan itu. Bahkan ia juga banyak bertanya tentang aku. Kalau saja tak dihentikan oleh koko, mungkin mamanya akan terus nyerocos tak henti henti, ia begitu ingin tahu tentang aku. Mamanya juga bercerita tentang mereka, sebetulnya mereka berasal dari medan, mama koko dibuang oleh keluarganya karena memilih menikah dengan papa koko, dan menjadi mualaf. Aku terharu mendengar betapa sulitnya kehidupan mamanya diawal menikah dengan papa koko.
Keluarganya mama koko tak terima dan menganggap ia bukan lagi bagian dari keluarga mereka.
Tapi karena keyakinan dan kerja keras, akhirnya mereka bisa menata kehidupan yang lebih baik ditempat yang baru jauh dari keluarga.
Jadi saudara mereka hanyalah dari pihak papanya koko. Satu satunya keluarga mama koko yang masih menjalin hubungan dengan mereka hanyalah adik bungsunya yang bernama alvin, tapi om nya koko itu tinggal di jambi. Aku mendengarkan cerita mama koko dengan simpati, aku merasa langsung dekat dengan mereka. Seperti mempunyai orang tua lagi rasanya.
Ketika hari sudah sore, aku berpamitan pulang, mama koko masih menahan aku, malah menyuruh aku menginap disitu. Aku menolak dengan berat hati. Alasanku karena belum izin sama mama. Tapi mama koko meminta aku untuk berjanji agar mau menginap dirumahnya kapan kapan.
Aku menyetujuinya.
Baru saja aku dan koko mau naik ke motor. Sebuah mobil sedan hitam mengkilat masuk ke dalam pekarangan.
“wah, panjang umur kayaknya, baru aja diceritain, orangnya muncul..”
ujar koko sambil membuka kembali helmnya dan menghampiri mobil yang berhenti itu.
Pintu mobil terbuka. Seorang anak perempuan kecil berumur sekitar lima tahun langsung berlari keluar menghambur memeluk koko.
“astrid… Apa kabar adik cantik..?”
koko mengangkat bocah itu tinggi tinggi, kemudian menciuminya bertubi tubi.
Bocah itu tertawa tawa kesenangan.
Aku melihat seorang perempuan dan lelaki turun dari mobil itu, berjalan menuju kerumah koko. Mama koko yang sedari tadi masih berdiri didepan teras bergegas menyongsong kedua tamu yang datang itu.
“dek alvin.. Apa kabar..?”
seru mama koko terlihat senang sekali.
Kulihat mereka berpelukan.
“om, kok datang nggak ngasih kabar duluan sih?”
koko menghampiri om nya itu. Jangkung sekali tubuh om alvin, orangnya belum terlalu tua, aku perkirakan umurnya tak beda dengan mama. Paling baru 40 tahun.
“iya ko, om sengaja ngasih kejutan, soalnya udah tiga tahun nggak kemari.. Apa kabar ko, pasti sekarang udah sma ya..”
om alvin mengacak rambut koko
saat koko menyalami dan menciumi tangannya.
“ayo masuk ke dalam dulu dek alvin, dek sophie..”
mama koko mengajak om alvin dan isterinya masuk.
“om, koko mau pergi dulu sebentar.. Mau nganterin temen pulang dulu..”
koko pamitan sama omnya itu.
“loh.. Mau kemana.. Mana temannya?”
tanya om alvin pada koko.
Koko menunjuk ke arah aku, aku langsung menunduk dengan malu menghindari pandangan om alvin.
“loh kok malah mojok disitu.. Siapa nama teman kamu ko?”
“rio om… Teman satu sekolah, baru beberapa bulan tinggal disini.. Asal bangka.”
ujar koko.
“rio.. Kesini dulu lah, ntar aja pulangnya.. Om ada bawa makanan nih..”
dengan ramah om alvin menegurku. Aku mendongak melihat om alvin. Ia tersenyum lebar melihatku.
“ngapain kesitu, ayo masuk lagi lah dulu..”
om alvin mengulangi kata katanya
aku membalas tersenyum malu.
“nggak apa apa om, biar aku pulang dulu, kapan kapan lagi kesini, soalnya udah mau magrib nih..”
aku menghampiri om alvin dan menjabat tangannya.
Om alvin berkulit putih, rambutnya ikal dengan jambang terpangkas rapi agak ikal. Baju kemejanya sangat rapi tanpa berkerut. Wajahnya kharismatik dengan Alisnya tebal, dagunya agak kehijauan bekas dicukur.
pokoknya orangnya betul betul ganteng. Aku langsung suka sama om alvin, ditambah lagi ia sangat ramah, jarang jarang ada orang yang dewasa mau menegur remaja seusiaku. Apalagi dia tak kenal. Tapi om alvin beda. Dari awal aku melihatnya aku langsung menyukainya. Wajahnya yang berseri seri seperti memancarkan semangat yang akan menular ke siapa saja orang orang yang berada di dekatnya. Sebetulnya aku masih mau tinggal berlama lama, tapi sepertinya waktu sudah tak mengizinkan jadi dengan berat hati aku berpamitan. setelah menyalami om alvin dan tante sophie isterinya aku pulang kerumah diantar oleh koko
****
aku masih terkenang dengan pertemuan sama om alvin tadi, entah kenapa aku merasa langsung dekat padanya. Walaupun tadi aku malu malu, namun sebetulnya aku sangat senang mengenalnya. Aku merasa beruntung tadi mau diajak koko main ke rumahnya.
Aku sendiri heran kenapa aku ada perasaan seperti itu.
Sifat om alvin yang ramah dan berwibawa mengingatkan aku dengan sosok michael landon di film little house on the prairie serta bonanza, tubuhnya yang jangkung dan tegap membuat wibawanya makin memancar.
Dulu waktu aku masih bersama emak, aku sering berkhayal kalau punya ayah yang seperti itu. Sebagai anak yatim dulu, aku sering berkhayal saat aku iri melihat teman temanku bersama papanya. Aku sering membayangkan aku mempunyai seorang ayah yang hebat, yang bisa membuat semua teman teman yang memandangku dengan sebelah mata menjadi segan. Ayah yang akan membelaku disaat aku mengalami masalah. Sekarang keadaanku sudah berubah drastis, apa yang aku khayalkan dulu telah jadi kenyataan. Aku kembali mempunyai sosok ayah. Walaupun sekedar ayah tiri, namun aku harus meninggalkan emak. Bukan skenario yang dari dulu aku bayangkan. Semuanya menjadi seperti humor tuhan terhadap hidupku. Mungkin betul seperti yang aku dengar, hati hati dengan keinginanmu. Bila itu terkabul, tak akan seindah seperti yang di khayalkan.
“dari mana aja tadi?”
tanya mama saat kami berada di meja makan.
“rumah teman ma..”
jawabku singkat sambil mengambil potongan ikan tongkol goreng.
“bagus lah kalau teman kamu udah banyak, jadi bisa lebih bergaul jangan hanya dirumah terus..”
ujar papa bijak.
Aku mengangguk dan memandang papa sebentar penuh terimakasih.
“makasih ya sayang kamu mau menemani odie, bahkan mau ngajak tidur sama sama di kamar kamu”
mama tersenyum padaku.
“odie asik juga orangnya ma, beda sama tante laras..”
celetukku langsung terdiam saat melihat kerlingan mata mama yang mengisyaratkan **jangan ngomong gitu tentang tante laras, nggak enak sama papa**
aku buru buru menghabiskan nasi di piringku. Kemudian kembali ke kamar.
“dek, mau ikut nggak?”
kepala kak faisal nongol dari balik pintu kamarku.
Aku beranjak menghampiri kak faisal.
“Kemana kak?”
“Rumah agus dek.”
“Ngapain kak?”
“Biasaaa… Mau nggak?”
Kak faisal menatapku berharap
aku terdiam sejenak memikirkan. Ikut apa nggak ya, soalnya pasti kak faisal ngajak pulang pagi, sementara aku agak capek karena kurang tidur semalam.
“Aku ngantuk kak, lagian ada pekerjaan rumah yang harus di selesaikan, besok harus dikumpul..”
Aku mencari alasan.
“Nggak nyesel nih?”
Kak faisal memancing.
“Gimana ya kak.. Pengen sih, tapi kakak pasti pulang pagi, semalam aku kurang istirahat, tadi juga nggak bisa tidur siang karena aku kerumah koko.”
Aku menimbang nimbang.
“Kakak janji nggak pulang larut, lagian bukan ngajak mabuk kok dek..”
Aku lega mendengar penjelasan kak faisal.
“Oke deh.. Tunggu sebentar kalo gitu, aku mau ganti celana dulu.”
aku berbalik kemudian membuka lemari dan mencari celana panjang.
Setengah jam kemudian aku sudah berada dirumah agus.
“Yang lain mana gus?”
Tanya kak faisal saat melihat masih sepi dirumah agus, baru kami bertiga.
“Rizal lagi di jalan, sebentar juga udah nyampe kok.”
Jawab agus.
Kemudian kami masuk ke kamar agus.
Baru saja aku duduk sambil melihat lihat majalah remaja di kamar agus, Rizal datang.
“Sori agak telat, tadi habis nganterin mama ke tempat kakak.”
Rizal memberi alasan.
“Nggak apa apa, kami juga baru nyampe kok.”
Ujar kak faisal.
“Deni kok belum datang ya?
“Mungkin lagi ada urusan.. Oh ya sal, kamu bawa barangnya nggak?”
Tanya agus mencurigakan.
Aku menatap kak faisal tajam. Ia nyengir dan merogoh kantongnya mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Tiga lipatan kertas koran sama seperti tempo hari aku lihat.
Huh ternyata kak faisal berbohong, katanya tadi waktu mau ngajak aku kesini, nggak ada yang namanya acara mabuk mabukan. Ini malah mau menghisap rokok yang bikin mabuk itu. Tapi aku tak menunjukkan rasa tak setujuku itu pada kak faisal.
“Tuh bunyi motor Deni, kayaknya ia udah datang..”
seru agus sambil keluar kamar.
Tak lama kemudian ia masuk kembali bersama Deni.
“Belum mulai kan?”
Tanya deni sambil menaruh helmnya di atas lemari.
“Nunggu kamu sih lama..”
Kak faisal cemberut.
“Sori, nggak maksud ngaret, tadi ke bengkel dulu sebentar, nambal ban motor aku bocor..”
Kilah Deni.
“Huuu alasan saja..”
Rizal tak percaya.
“Mending dimulai aja.. Ntar kedulu pagi, jadi malah pada begosip gitu..”
Agus melerai teman temannya.
Kembali kami mengulangi kejadian yang sama dengan tempo hari, aku diajak kak faisal pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Kepalaku pusing sekali hingga aku tertidur hingga pagi dan terbangun dengan kepala yang masih berdenyut denyut. Rasanya malas sekali ke sekolah, tapi aku tak mungkin bolos, soalnya takut di tanya macam macam sama mama.
Pulang sekolah aku bermaksud untuk langsung tidur. Tapi kak faisal kembali mengganggu waktu tidurku. Ia mengajak temannya main sega di kamarku, alasannya sega miliknya rusak. Alhasil aku nggak bisa tidur karena suara teman teman kak faisal yang berisik. Teriak teriak sambil main sega membuat aku hampir frustrasi. Akhirnya aku turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Aku duduk di kolam ikan depan rumah, memandangi ikan gurami yang berenang diair yang mulai berubah jadi kehijauan karena lumut.
“sayang kok duduk sendirian disitu, kak faisal mana?”
Tanya mama yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku.
“Lagi di kamarku ma, main sega sama temannya..”
jawabku sambil menaburkan segenggam makanan ikan, yang langsung di kerubuti ikan ikan gurami itu.
“Loh emangnya tipi di kamar faisal kenapa, kok jadi ganggu tipi kamu?”
“Sega punya dia rusak..”
jawabku singkat.
“Kebiasaan si faisal, apa aja kalo dikasih sama dia nggak pernah panjang umurnya.. Dasar anak satu itu.. Entah mau jadi apa.. Nantinya..”
Mama menggelengkan kepala prihatin
TRAGEDI LIBURAN

“Liburan udah dekat, rencananya kamu kemana yo?”
Tanya Arthur saat kami berkumpul dirumahku sepulang sekolah, hari ini kami pulang lebih cepat karena ulangan umum, jadi siapa yang lebih dulu selesai mengerjakan soal, ia sudah boleh langsung pulang.
“Belum tau, nggak ada rencana soalnya, emangnya kamu mau kemana?”
Aku balik bertanya pada Arthur.
“Bisanya aku ke lubuk linggau main ke rumah Nenek..”
“Aku sih ketempat bibik saja, di Lahat..”
Timpal Arya tanpa ditanya.
“Kalau aku nggak kemana mana, liburan tetap aja dirumah..”
Anto nimbrung.
Sejak jam sebelas kami berkumpul di taman belakang rumah, suasana disini memang enak dan teduh, mama sengaja mendekorasinya untuk bersantai, tumbuhan bunga dan pohon tabulampot tumbuh tertata seolah olah alami. Ditambah lagi kolam ikan yang dibentuk mirip air terjun mini dan tanaman hias yang merambat. Tadi bik tin sudah mengantarkan sirup jeruk dengan batu es, juga camilan serta kue kue yang enak, teman temanku jadi betah. Anggita duduk di ayunan bersama diah, satu satunya teman cewek yang akrab dengan anggita.
“Gimana kalo kita liburan sama sama aja, ke kebun pamanku di sekayu, enak loh suasananya, aku jamin..”
anggita setengah berteriak memberikan usul.
“Wah boleh tuh, pasti asik kita liburan sama sama..”
seru arthur penuh semangat.
“tapi kita nanti menginap dimana, soalnya sekayu kan jauh dari sini, mana nggak ada kenalan, ntar malah kita terlantar disana..”
arya mengutarakan kekuatirannya.
“jangan takut bego, kalau aku udah nawarin tuh, nggak mungkin nggak dipikir dulu, kita bisa nginap dirumah paman barang dua hari tiga hari, nggak masalah, tambak ikan pamanku luas, kita bisa bakar bakar nantinya..”
“bakar diri kali…”
celetuk eka dengan gaya kemayu ciri khas nya.
“iya ntar ramai ramai kami bakar elo..!”
cibir bayu cemberut.
Eka dan bayu sudah satu bulan ini sering ikut bergabung bersama kami.
Kami memang satu kelas. Kedua anak itu sebangku. Eka mengingatkan aku dengan angga, agak kecewek cewekan, ia sedikit latah, tapi tak rugi kami mengajaknya ngumpul soalnya gerak gerik dan tingkahnya menjadi hiburan bagi kami, kalau ada eka, susah rasanya untuk mempertahankan mood sedih, soalnya ia selalu bisa membuat kami tertawa. Kadang tanpa bicara pun ia sukses memancing kami untuk tertawa. Cuma yang sering bikin risih kalau latahnya kumat, tak perduli dimana tempat, ia akan tanpa sengaja melontarkan kata kata jorok yang membuat kotoran kuping orang yang kolot bisa meloncat.
Kami sih oke oke aja dengan hal itu. Tapi bagaimana terkadang muka kami menjadi merah karena menghadapi pandangan marah orang orang.
Selebih dari itu eka adalah mesin humor.
Sedangkan bayu teman sebangkunya itu suka nyinyir sendiri kalau melihat tingkah eka. Mereka hampir tiap hari perang mulut. Tapi tak pernah sampai berantem apalagi tak teguran.
jam empat teman teman bubar, aku masuk kedalam rumah, mama baru saja pulang sedang menutup pintu mobil.
“capek ma?”
aku menghampiri mama membantunya membawakan tas kerjanya.
“makasih sayang, capek nggak terlalu, cuma sedikit lelah pikiran..”
mama berjalan disampingku ke rumah.
“faisal mana?”
“sejak pulang sekolah, habis ganti baju langsung ngeloyor gitu aja..”
jawabku sambil meletakkan tas kerja mama diatas buffet.
Mama menghenyakkan tubuhnya dikursi sofa, tangannya memijat mijat pelipisnya.
“mama ada masalah?”
tanyaku sambil memperhatikan raut keletihan diwajah mama. Beliau hanya tersenyum.
“mama nggak apa apa sayang, kamu udah makan?”
“udah ma, tunggu sebentar aku buatin teh hangat dulu..”
mama tersenyum menganggukan kepalanya.
“makasih ya sayang..”
aku langsung pergi meninggalkan mama dan pergi ke dapur, membuatkan secangkir teh.
“ini ma, diminum dulu biar capeknya hilang..”
aku meletakkan teh diatas meja.
“assalamualaikum..”
kak faisal masuk ke dalam rumah. Dia tak sendirian. Aku hampir tak percaya kak faisal bersama amalia. Mama tertegun melihat amalia yang terlihat sekali seperti segan dan malu.
“eh mama udah pulang ya?”
sapa kak faisal agak kikuk, mama tak menjawab hanya mengangguk pelan.
“masuk mel, nggak usah malu..”
aku berdiri menyuruh amalia masuk. Dengan ragu amalia masuk ke ruang tamu dan menyalami mama.
“teman sekolah faisal ya?”
tanya mama memperhatikan amalia dari atas ke bawah bagai seorang juri yang menilai model yang berjalan dicatwalk, tapi pandangan itu tak menyiratkan kepuasan.
Diperhatikan seperti itu sama mama tentu saja membuat amalia semakin salah tingkah hingga ia menjawab pertanyaan mama dengan agak terbata bata.
“i..i..iya tan.. Tante..ss..aya.. Teman sekolah f..faisal..”
aku kasihan sekali melihat wajah amalia yang semakin pucat seolah terpidana yang menunggu vonis dari hakim.
“tinggal dimana?”
lagi lagi nada pertanyaan mama seperti menghakimi.
Amalia terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu yang rumit, tapi aku bisa mengerti dengan kegelisahannya itu, seandainya aku yang menjadi amalia, aku juga akan mengalami rasa gelisah yang sama.
“di sekip tante.. Tak jauh dari masjid nurul hidayah..”
jawab amalia nyaris tak terdengar.
Mama mengangguk masih mengamati amalia dengan pandangan menilai.
“mama kok kayak petugas investigasi kepolisian aja, disuruh duduk dulu ma, kok orang baru datang bukannya di jamu malah diinterogasi gitu..”
protes kak faisal tak enak hati sama amalia.
Seperti tersadar mama langsung menyuruh amalia duduk, walau dengan agak ragu, amalia duduk di sofa depan mama. Aku bisa melihat tubuhnya agak gemetaran. Aku jadi kasihan sama amalia.
“papa kamu kerja dimana?”
kembali pertanyaan mama keluar, amalia seperti tercekat, bingung harus menjawab apa.
“papanya sudah tak ada lagi ma, ia sekarang dengan ayah tirinya..”
kak faisal yang menjawab pertanyaan mama. Amalia semakin dalam tertunduk.
“ayah tiri..? Oh begitu.. Ayah tirimu kerja apa?”
mama terlihat sekali ingin tahu pekerjaan ayah amalia.
“aku ke belakang sebentar mau suruh bik tin bikin minum..”
ujarku sambil berdiri, mama mengangguk. Aku langsung ke dapur mencari bik tin.
Setelah meminta tolong pada bik tin agar membuatkan minuman, aku kembali keruang tamu bergabung dengan mama.
“jadi ayah kamu pengangguran?”
suara mama terdengar bagai menyiratkan ketakpercayaan. Amalia mengangguk tanpa suara.
“ibu kamu?”
bagai kurang puas dengan jawaban amalia tadi mama kembali bertanya. Kulihat kak faisal ikut ikutan gelisah.
“ma udah dong, amalia kan temannya kak faisal, untuk apa sih mama tanyakan hal tak penting begini..”
aku mengingatkan mama agar tak terlalu kebablasan bertanya, karena itu hanya akan membuat amalia semakin merasa tak nyaman.
“siapa bilang pertanyaan mama ini tak penting, selama ini faisal belum pernah membawa satupun temannya yang perempuan kerumah ini, kalau sampai faisal membawanya, pasti ada sesuatu yang khusus dengan mereka, dan mama berhak tau tentang calon menantu mama..”
jawab mama tanpa aku sangka sangka. Wajah kak faisal langsung memerah saga, demikian juga dengan amalia. Ia menunduk semakin dalam, jarinya memain main rumbai kursi sofa dengan panik.
“mama apa apaan sih..”
sungut kak faisal kesal, ia cemberut memandang mama.
“mama tak mau kalau sampai kamu memilih pacar yang salah sal, apa mama terlalu berlebihan?”
mama balik bertanya dan memandang kak faisal tajam. Aku merasa suasana menjadi mulai panas.
Bik tin menghampiri kami sambil meletakkan minuman dingin yang aku minta tadi diatas meja. Setelah itu bik tin kembali ke dapur.
“diminum mel..”
aku menawari amalia. Ia tersenyum tipis sambil mengangguk, mukanya pucat sekali.
“kamu berapa bersaudara?”
mama kembali bertanya.
“lima tante, dua kakak dan dua adik..”
jelas amalia risih.
Mama mengambil gelas diatas meja dan meminum isinya sedikit, kembali menatap amalia tajam.
“papa belum pulang ya ma?”
tanya kak faisal yang aku duga hanyalah alasan untuk mengalihkan perhatian mama dari amalia.
“belum, biasanya juga jam segini belum pulang, kamu kan udah tau.. Kok pake bertanya lagi?”
rupanya mama menyadari maksud kak faisal dan itu tak mempan.
Aku jadi mengerti sekarang, kenapa kak faisal ragu untuk mengajak amalia kerumah, kalau melihat begini reaksi mama. Aku sebetulnya tak enak hati juga sama amalia, terlihat sekali ia begitu tertekan seolah olah ingin segera terbang jauh jauh dari sini.
“sudah lama kenal sama faisal?”
mama mendorong gelas amalia pelan ke arah amalia dan memberi isyarat agar amalia meminumnya.
Seperti ragu amalia mengambil gelas minuman itu dan meminumnya sedikit.
“sudah dari kelas satu ma..”
kak faisal yang menjawab pertanyaan mama itu.
“kalian udah pacaran berapa lama?”
tembak mama langsung pada intinya. Kak faisal langsung tercengang mendengar pertanyaan mama yang nyaris tak terduga duga itu, amalia langsung terbatuk batuk, buru buru melepaskan gelas dari bibirnya dan menaruh kembali ke meja. Sebagian minuman membasahi bagian depan bajunya.
Mata mama mendelik melihat amalia yang panik mencari saputangan untuk membersihkan bajunya yang putih berceceran noda merah muda. Aku menarik nafas prihatin. Kak faisal cepat cepat menghampiri amalia dan membantunya mengelap baju amalia. Mama melihat adegan itu dengan mata melotot tak suka.
“Sal, dia belum jadi isteri kamu, jangan terlalu berlebihan…!”
ujar mama dengan suara tinggi.
Kak faisal seperti tak mendengarkan kata kata mama terus saja berusaha membantu amalia. Dengan risih amalia mencoba menolak bantuan kak faisal, hatiku tiba tiba menjadi cemburu melihat kak faisal yang begitu perhatian sama amalia.
“mama betul kak.. Kalian itu cuma pacaran..!”
kak faisal langsung berbalik begitu mendengar kata kataku tadi, ia terdiam sejenak, menggaruk kepalanya yang tak gatal, mama melemparkan lirikan penuh arti padaku. Senang karena aku mendukung kata katanya tadi. Kak faisal duduk kembali, kulihat ekspresi wajah amalia nyaris nyaris seperti mau menangis.
“rio kekamar dulu ya ma..”
aku beranjak dengan sebal, mama mengangguk. Tanpa melihat kak faisal dan amalia lagi aku langsung meninggalkan mereka dan masuk ke kamarku.
Aku menghempaskan tubuh ke tempat tidur, terkenang kak faisal yang begitu perhatian sama amalia membuat perasaanku tak menentu. Sebetulnya wajar saja kak faisal demikian karena amalia pacarnya. Namun hati kecilku tak sanggup untuk menerimanya. Aku mulai mengerti perasaan ini, apakah aku menyukai kakakku sendiri… Kalau itu memang betul aku bingung harus bagaimana. Aku ternyata memang seorang gay dan parahnya lagi aku menyukai kakakku sendiri, dulu aku bingung mengartikan apa yang aku rasakan terhadap rian, rupanya itu adalah perasaan mendamba. Aku tak mungkin mengatakan terus terang tentang perasaanku ini, kak faisal bisa membenciku nantinya. Aku tak ingin itu terjadi. Andai keluargaku tau, entah apa reaksi mereka. Aku tak ingin membuat suasana rumah yang tenang menjadi panas. Aku sadar, aku harus menerima resiko atas perasaanku ini. Aku hanya bisa diam diam mencintai kak faisal. Aku tak bisa berbuat apa apa untuk menghalaunya. Biarlah rasa ini akan hilang sendiri nantinya. Aku yakin aku bisa mengatasinya. Namun entah kenapa semakin aku mencoba untuk menenangkan diri, semakin kalut perasaanku. Aku sudah menyadari jati diriku yang sesungguhnya, aku makin merasa tak menentu ketika menyadarinya.
Aku turun dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamar. Aku mengintip mama, kak faisal dan amalia dari balik gorden. Entah apa yang sedang mama katakan. Namun wajah kak faisal terlihat tegang sementara amalia tak berani menatap mama. Pastilah mama sedang menasehati mereka berdua. Aku tau mama tak setuju kak faisal berpacaran dengan amalia. Aku tak lagi membenci amalia, karena aku tau, bukan amalia yang aku benci, tapi aku benci pada diriku sendiri yang menaruh perasaan yang tak pada tempatnya. Siapapun pacar kak faisal, akan membuat aku merasa cemburu. Tapi mama beda, ketaksetujuan mama lebih diakibatkan pada latar belakang keluarga amalia. Sebetulnya aku juga tak setuju dengan mama, aku juga berasal dari keluarga dengan latar belakang yang nyaris tak beda dengan amalia. Aku telah merasakan bagaimana pahitnya tak memiliki apa apa. Hidup hanya untuk bertahan asalkan bisa makan.
Tak bisa memiliki barang barang bagus yang diinginkan seberapa kuat menginginkannya. Cari makan sehari untuk makan sehari. Tapi aku mempunyai keluarga yang harmonis. Walaupun dulu aku dan yuk tina kurang akur tapi akhirnya kami berdua bisa mengatasi masalah itu. Aku jadi merasa begitu jahat pada kak faisal, dalam hati kecilku aku merasa senang mama tak menyetujui hubungan mereka. Aku belum siap melihat kak faisal berpacaran. Kak faisal yang selalu baik dan perhatian padaku. Setiap hari dirumah selalu bersama kak faisal. Membuat aku menyayanginya lebih daripada sekedar sayang terhadap kakak.
Aku melihat amalia berdiri dan menyalami mama. Kemudian amalia berjalan ke pintu. Mama tak bergeming sementara kak faisal mencoba untuk menahan amalia, namun amalia seolah tak perduli dengan langkah terburu buru segera meninggalkan kak faisal. Mama berbalik masuk ke ruang tengah. Saat melihatku, mama tersenyum simpul kemudian naik ke tangga menuju kamarnya.
Aku segera menemui kak faisal, yang berusaha menarik tangan amalia namun ditepis amalia, setelah terlepas amalia langsung berlari meninggalkan pekarangan rumah dan kak faisal yang termangu.
“kenapa kak?”
tanyaku pura pura prihatin.
Kak faisal memandangku dengan sedih, matanya berkaca kaca. Ia menggelengkan kepala tanpa semangat dan berjalan meninggalkanku dengan lesu.
Betapa aku ingin memeluk kak faisal dan menghiburnya. Tapi aku tak ingin jadi munafik karena sebetulnya aku senang sekali melihat kejadian tadi. Kasihan kak faisal, aku nyaris kesulitan menyembunyikan perasaan senang dalam hatiku. Aku akan masuk neraka karena hal ini, Aku membatin.
****
tumben malam ini kak faisal tak kemana mana, ia hanya berkurung dalam kamar, saat aku masuk, wajah kak faisal sangat kusut. Aku menghampiri kak faisal dan mencoba menghiburnya, namun kak faisal hanya tersenyum dipaksakan, sekedar menghargai jerih payahku saja. Selama aku tinggal dirumah ini, belum pernah sekalipun aku melihat wajah kak faisal semurung ini, biasanya kak faisal selalu ceria dan penuh semangat. Aku menjadi makin iri dengan amalia, begitu berpengaruhnya amalia membuat kak faisal seperti ini.
Aku mengajaknya main game tapi kak faisal menggeleng, aku ajak makan ia juga menggeleng. Akhirnya ia menyuruh aku meninggalkan ia sendirian karena ia lagi tak mau bicara apa apa dan ingin sendirian saja tanpa ada yang mengganggu.
Aku menghela nafas kesal. Bahkan aku pun tak mampu membuat kak faisal mampu sejenak melupakan amalia.
“faisal didalam?”
tanya mama yang berdiri didepan kamar kak faisal.
“iya ma, ia lagi tak mau di ganggu..”
jawabku sambil menutup pintu kamarnya.
“nanti ia akan mengerti kalau maksud mama itu baik.. Ia masih terlalu muda, masih panjang jalan yang akan ia lalui nanti.. Kalau salah memilih pacar dan isteri, hanya akan membuatnya terjatuh.. Mama tak mau masa depannya jadi kacau hanya karena ini..”
urai mama panjang lebar. Aku mengangguk, namun tak sepenuhnya menyimak.
malam ini gerimis turun, suasana agak dingin, jalanan agak sepi dari kendaraan yang melintas, seharian aku dikamar memandangi rinai air hujan yang membasahi tanah. Daun daun bergoyang karena berat menampung tetesan air yang mengumpul diatasnya. Suasana hatiku saat ini tak menentu, kak faisal mengurung diri dalam kamar sejak tadi sore, aku sudah coba memanggilnya tapi tak ada respon, entah kak faisal sudah tidur atau ia memang sengaja tak menjawab. Aku tak tahu kak faisal pasti marah sama mama, tapi mama pasti punya alasan tak menyetujui hubungan kak faisal dengan amalia. Walaupun aku tak sepenuhnya setuju kalau materi yang dijadikan alasannya.
“rio.. Udah tidur ya?”
terdengar suara om sebastian dari luar kamarku sambil mengetuk pintu.
“belum om.. Masuk aja..”
jawabku agak keras.
Handle pintu diputar pintu terbuka, om sebastian masuk kedalam kamarku.
“lagi ngapain yo?”
aku menoleh ke om sebastian.
“nggak ngapa ngapain om, emangnya kenapa?”
“jalan sama om mau nggak?”
om sebastian berdiri disampingku.
“kan gerimis, emangnya om mau mengajak aku kemana?”
om sebastian melingkarkan lengannya di bahuku.
“Nanti kamu juga tau sendiri, mau nggak?”
om sebastian mengulangi pertanyaannya.
Aku mengangguk cepat, aku senang om sebastian mengajak aku jalan jalan, selama aku disini, baru kali ini om sebastian mau mengajak aku dan aku tak mau menyia nyiakan kesempatan ini.
Setelah pamit sama mama dan papa, aku mengikuti om sebastian ke garasi, om sebastian menyuruh aku masuk ke dalam mobil, tadinya aku kira om sebastian bakalan mengajak aku jalan pake motornya.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol dengan asik, banyak hal yang aku ceritakan sama om sebastian, termasuk kejadian tadi sore. Om sebastian agak terkejut mendengar ceritaku itu. Ia cuma menggeleng gelengkan kepalanya.
“ini 19 ilir, masjid itu namanya masjid agung..”
om sebastian menunjuk sebuah masjid berwarna putih yang megah, aku terpana menatap masjid itu, memang sebelumnya aku sudah pernah melihat masjid agung, soalnya teman teman sering mengajak aku berkeliling di jalan merdeka ini.
“wah om, masjid itu bagus banget ya..”
aku berkomentar sekadar menyenangkan hati om sebastian.
“iya yo.. Kalo dibanding dengan masjid terbesar di bangka, masih besar masjid agung.. Dibangka itu surau..hehehe”
om sebastian menyombongkan kemajuan kotanya. Aku mencibir mendengar om sebastian.
“kita ke jembatan ampera aja.. Kamu pasti belum pernah melihat jembatan itu malam hari.”
“wah boleh tuh om”
jawabku antusias.
meskipun gerimis banyak yang nongkrong di area dekat jembatan ampera, om sebastian memarkir mobil di tempat yang agak strategis dekat pinggiran sungai. Beberapa gerobak berbaris menjual nasi goreng, mie rebus dan macam macam makanan. Aku menyusuri pinggiran sungai musi yang beriak riak berkilau terkena pancaran cahaya lampu. Betul betul indah.
“kesitu aja ya..!”
tunjuk om sebastian ke satu arah.
Aku mengangguk mengikuti om sebastian. Dibeberapa sudut kulihat ada beberapa orang sedang berdua duaan, sepertinya mereka sedang pacaran.
“om kok nggak bawa pacarnya aja?”
tanyaku ingin tau.
Om sebastian tak menjawab, ia tersenyum kecil dan merangkul pundakku.
“duduk disini aja ya, kamu lapar nggak, mau om beliin bakso?”
“boleh om, agak lapar nih.. Hehehe..”
“tunggu disini sebentar, jangan kemana mana..”
om sebastian meninggalkanku, ia mendekati gerobak bakso yang berada tak begitu jauh dari tempat aku duduk.
Aku memandang ke depan melihat air sungai yang berombak kecil, rinai air hujan yang setipis benang masih jatuh sesekali membentuk bercak tak kasatmata diatas sungai.
“terkadang kalau lagi suntuk om bisa berjam jam duduk disini, rasanya begitu tenang..”
ujar om sebastian yang tak aku sadari sudah berdiri di sampingku.
Aku memandang om sebastian dengan tertarik.
“dulu om selalu disini bersama pacar om…”
om sebastian menggantung kata katanya.
“lalu, dimana pacar om sekarang?”
tanyaku dengan penasaran.
Om sebastian tercenung menatap sungai dengan nanar, seolah sedang mengingat kejadian yang telah berlalu.
“itu sudah lama sekali, bertahun tahun lalu waktu om masih sma…”
“pacar om sekarang dimana?”
selidikku curiga melihat ekspresi sedih yang jelas terpeta di raut wajah om sebastian.
“dia sudah lama meninggal…”
tandas om sebastian dengan suara bagai tercekik. Aku terpana menatap wajah om sebastian.
Keheningan beberapa saat antara aku dan om sebastian, hingga penjual bakso mengantarkan dua porsi bakso pesanan om sebastian tadi.
“dimakan rio, ntar keburu dingin..!”
perintah om sebastian karena melihat aku masih bengong dan mengabaikan bakso yang ditaruh bapak tadi di sampingku.
“iya om..”
aku mengangguk, om sebastian juga mengangkat mangkok baksonya.
Kami makan bakso tanpa bicara hingga habis seluruh isi dalam mangkok. Aku menaruh mangkok kosong disampingku.
“pacar om meninggal karena apa?”
aku masih penasaran dengan cerita om sebastian yang belum tuntas.
“bunuh diri…”
jawab om sebastian refleks.
“bu-nuh…di..ri..?”
aku setengah tak percaya.
Om sebastian mengangguk.
“apa masalahnya om…?”
suaraku bergetar menanyakan itu.
“hubungan kami di tentang oleh kedua orangtua, entah siapa yang mengadu sama mama tentang hubungan kami..”
om sebastian menunduk seolah serius melihat air sungai.
“kenapa sampai orangtua om tak setuju?”
aku menjadi semakin tertarik.
“karena dia lelaki…”
om sebastian menatapku tajam, jantungku terasa langsung berhenti berdetak mendengarnya,KEJADIAN JAHANAM

“Pacar om lelaki?…”
bibirku bergetar mengulangi kata kata om sebastian. Aku menatap mata om sebastian, tak ada terlihat tanda kesedihan ataupun ragu, sepertinya om sebastian sangat yakin untuk menceritakan rahasia dirinya yang selama ini tak pernah aku tau.
“iya rio… Kenapa..? Kamu pasti heran kan, atau barangkali kamu terkejut.. Om pahami itu..”
tenang sekali suara om sebastian. Aku jadi bingung harus memberi komentar apa, betul aku sangat terkejut, aku juga heran mengapa om sebastian yang terlihat begitu normal bisa mencintai seorang lelaki, aku jadi tak habis pikir, ternyata aku tak sendirian mengalami ini, rupanya bukan cuma aku yang tak biasa, ada sedikit perasaan senang juga. Namun kenapa sampai pacar om sebastian bunuh diri, aku jadi ingin tahu.
“om maaf boleh aku tau kenapa sampai e,.. Pacar om e,.. Bunuh diri..?”
aku memberanikan diri bertanya. Raut muka om sebastian mendadak berubah, matanya langsung murung, seolah menahan tangis yang hampir tumpah.
“itu yang om tak bisa terima sampai sekarang… Sakit rasanya hati om mengingat kejadian itu..!”
serak suara om sebastian beradu dengan isakan tertahan. Aku menunduk menghindari pandangan om sebastian, aku tak tega. Belum pernah aku melihat om sebastian begini lemah.
“pada waktu hubungan kami diketahui oleh keluarga, mama langsung melarang om untuk bertemu dengan rio..”
om sebastian melanjutkan dengan tersendat sendat.
“ri.. Rio..?”
aku kurang yakin.
“iya.. Namanya rio.. Lengkapnya rio prayuda.. Kami dulu begitu akrab, hingga tak terasa timbul perasaan lebih dari sekadar sahabat, awalnya saat ia mengakui perasaannya itu, om belum bisa menerima, tapi akhirnya om menyadari kalau sebetulnya om juga menyayanginya…”
om sebastian memulai ceritanya. Aku menyimak dengan serius.
“papa langsung memindahkan om ke sekolah lain dengan tujuan agar om tak lagi bertemu dengan rio, sejak saat itu suasana dalam rumah terasa bagaikan api, segala tindak tanduk om selalu diawasi, kemana mana harus ada yang menemani, om betul betul tak bisa melakukan apa apa, cuma yuk laras yang bisa memahami apa yang om rasakan, ia yang selalu menghibur om, mendengarkan segala cerita om walaupun om tahu sebetulnya yuk laras juga tak sepenuhnya bisa menerima kekurangan om ini, namun yuk laras lebih tak bisa menerima saat melihat om begitu menderita..”
om sebastian merogoh kantong celananya dan menarik selembar saputangan lalu menyusut hidungnya. Aku diam menunggu om sebastian melanjutkan ceritanya.
“rio yang lebih menderita ketimbang om.. Dia dipukuli abangnya sampai babak belur, belum lagi ayahnya yang memang keras dalam mendidik, membiarkan saja rio dipukul, itu membuat rio tertekan, perasaan malu mereka mempunyai anak yang menyimpang seperti rio membuat mereka semakin keras pada rio, hampir setiap hari kekerasan terjadi pada rio.. Kalau ada tingkah rio yang kurang mengena dihati abangnya, maka tangannya akan mendarat di wajah dan tubuh rio, namun sayangnya rio tak pernah menceritakan itu pada om, setiap kali kami bertemu walaupun secara sembunyi, rio tak pernah bercerita… Itu yang om sesali sampai sekarang…”
om sebastian tersenyum sinis, seolah mentertawakan kebodohannya sendiri.
“sudahlah om, itu bukan salah om juga, mungkin keadaannya saja yang harus begitu..”
aku tahu nasehatku tak bermutu sama sekali, terus terang aku betul betul tak tahu bagaimana menanggapi cerita om sebastian.
“makasih rio..”
senyum om sebastian sedikit terkuak dari bibirnya. Aku hanya membalas dengan anggukan.
“lalu om, setelah itu apa yang terjadi..?”
aku makin penasaran dengan cerita om sebastian.
“rupanya pertemuan rahasia kami diketahui… Sedihnya lagi, om langsung di pindahkan ke palembang, tinggal dirumah bang harlan, waktu itu faisal masih kecil, yuk laras menentang keras usul papa, namun ia juga tak berdaya, papa bisa sangat keras kalau sudah membuat keputusan. Sejak itu kami kehilangan kontak. Aku disuruh papa ikut tes jadi polisi, katanya untuk mendidik aku menjadi pria sejati.. Namun percuma saja.. Yang namanya orientasi seksual tak semudah yang mereka pikirkan untuk di hilangkan. Meskipun om jadi tentara sekalipun, om tetap akan menyukai lelaki, karena itu sudah takdir om, heh..”
om sebastian mendengus sinis, bagaikan mentertawakan nasibnya sendiri.
Aku tak perdulikan orang yang berlalu lalang, hujan sudah reda, namun langit masih kelabu, karena awan yang menggumpal menutupi cahaya bulan, membuat warna langit tak hitam pekat.
Om sebastian menceritakan bagaimana kejadiannya hingga rio bunuh diri, saat tahu om sebastian sudah pindah dari baturaja, rio betul betul seperti hilang pegangan, ditambah lagi perlakuan kasar keluarganya membuat rio memilih untuk mengakhiri hidupnya. Om sebastian tak di kabari mengenai itu, hingga setahun berlalu saat om sebastian telah menjadi seorang polisi dan kembali ke palembang, om sebastian berkunjung kerumah orangtuanya di baturaja, dengan tujuan bisa bertemu dengan rio, namun om sebastian hanya bertemu dengan batu nisan kaku dan dingin dari marmer, keluarga rio yang menyesal setelah kematian rio memilih meninggalkan baturaja dan pindah ke padang. Hanya tinggal om sebastian yang meratapi pusara rio. Hingga sekarang om sebastian selalu menyempatkan untuk ziarah di kubur rio. Aku terharu mendengar cerita om sebastian, ternyata di balik sikapnya yang tegas dan baik, om sebastian menyimpan kisah yang menyedihkan. Ingin rasanya aku memeluk om sebastian agar bisa mengurangi bebannya walaupun cuma sedikit.
+++

setelah bercerita, om sebastian mengajak aku pulang, karena hari sudah agak larut, sepanjang perjalanan kami membisu, sibuk dengan pikiran masing masing, wajah om sebastian sedikit muram, aku tak mengerti kenapa om sebastian menceritakan hal yang agak sensitif tentang dirinya itu. Padahal itu bagi sebagian orang adalah aib yang harus di simpan rapat rapat, apalagi dia adalah seorang aparat. Kalau sampai om sebastian mau bercerita, itu pastinya karena ia sudah percaya padaku. Cuma yang membuat aku bertanya tanya sekarang, apakah faisal juga sudah tau mengenai hal ini.
Tanpa terasa kami telah sampai dirumah. Aku turun dari mobil langsung masuk ke rumah. sementara om bastian menaruh mobil dalam garasi.
“darimana rio, mama udah tunggu dari tadi…”
terdengar suara mama dari pintu kamarnya. Aku langsung menoleh dengan heran, tak biasanya mama menungguku, ada apa ini. Lagi pula suara mama terdengar agak aneh seperti bicara agak ditahan tahan.
“kenapa ma?”
mama menghampiriku, wajahnya putih tertutup masker tebal, sementara rambutnya masih digulung dengan roll.
“dari tadi siang faisal tak keluar, coba kamu bujuk dia suruh makan..!”
ujar mama seperti berbisik, mulutnya nyaris tak bergerak, sebentar sebentar ia menyentuh pipinya dengan telunjuknya pelan pelan.
“kenapa sih ma.. Biasa aja ngomongnya, nggak usah bisik bisik gitu…?”
aku agak sebal.
Mama menggeleng sambil menunjuk wajahnya dan berkata hati hati.
“mama lagi maskeran, bisa retak kalo terlalu banyak ngomong..”
huuuu.. Dasar mama, udah tau amalnya lagi ngambek, masih aja sempat maskeran, padahal papa lagi ke luar kota, mama memang tak bisa di tebak jalan pikirannya. Aku berlalu dari hadapan mama, bertepatan om sebastian masuk keruang tamu.
“mau kemana rio?”
tanya om sebastian terus berjalan.
“kekamar kak faisal om..”
kataku sambil berjalan menuju kamar kak faisal. Om sebastian masuk ke kamarnya. Mama duduk didepan televisi tapi pandangannya ke arahku.
Pelan pelan aku ketuk pintu kamar kak faisal dan ku panggil dia, tak ada jawaban. Aku ulangi lagi, namun tetap tak dijawab, apakah kak faisal sudah tidur, padahal kan ia belum makan, kasihan kak faisal ia pasti sangat kelaparan, kak faisal pasti sengaja melakukan ini sebagai bentuk protesnya terhadap mama. Tanpa putus asa aku terus mencoba memanggil kak faisal, aku yakin kak faisal belum tidur, soalnya saat aku menempelkan telinga ke daun pintu. aku mendengar seperti ada suara berkresek yang langsung hilang dari dalam kamar.
“kak, bukain dong, rio mau ngomong sama kakak..”
aku mengeluarkan suara memelas biar kak faisal luluh.
“kak, apa kakak marah sama rio.. Kok kakak nggak jawab.. Kak.. Buka dulu sebentar..”
aku tak menyerah, akhirnya tak sia sia usahaku, terdengar sahutan dari dalam kamar.
“tunggu bentar dek..”
aku menghela nafas lega, mama yang sedang memperhatikan aku langsung berdiri, namun aku cepat cepat memberi isyarat agar mama tak buru buru menghampiriku, soalnya kak faisal nggak bakalan mau keluar kalau dia tau ada mama.
+++

pintu kamar kak faisal terbuka, kak faisal berdiri didepan pintu menatapku dengan heran.
“kenapa kamu?”
tanya kak faisal dengan nada seolah olah aku sudah gila.
“kak faisal nggak makan?”
tanyaku cemas.
“nggak..!”
jawab kak faisal ketus.
“nanti kak faisal sakit.. Makan ya kak..!”
“biarin aja, biar mama puas..”
“kakak nggak boleh begitu.. Mama pasti ingin yang terbaik untuk kak faisal..”
aku hampir putus asa dengan kekeras kepalaannya.
“mama tau apa.. Yang terbaik untuk mama belum tentu terbaik untukku..”
kak faisal ngotot.
“boleh aku masuk kak?”
tanyaku hati hati.
“ngapain?”
“ya temani kakak aja..”
“nggak usah, aku mau sendirian..”
“sebentar aja kak..”
pintaku memelas.
“nggak…”
kak faisal mendelik.
“sebentaaaaar aja kak..”
“cerewet!.. Awas kalo lama..!”
kak faisal cemberut sambil melebarkan pintu, aku masuk kedalam dan duduk diatas tempat tidur. Kak faisal menutup pintu secepat kilat. Aku terpana melihat tingkah kak faisal. Setelah mengunci pintu, kak faisal menghampiriku dan menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur.
“kakak sebel sama mama.!”
gerutu kak faisal. Aku pandangi kak faisal, wajahnya memang murung tapi tak pucat, padahal dari tadi siang belum makan.
“nanti rio bantu bicara sama mama kak, tapi mendingan kakak makan dulu, nggak ada gunanya kalo udah sakit..”
aku mencoba memberikan jalan keluar.
“nggak ah, nggak ada selera… Kamu aja gih makan sana kalo laper..!”
kak faisal mendumel.
“loh kok malah rio yang kakak suruh makan, rio itu udah berapa kali makan dari tadi kak, masa sih gara gara amalia kakak jadi cengeng kayak gini..”
aku mendesah melihat kelakuan kak faisal yang kayak anak kecil.
Kak faisal mendadak bangun dan beringsut cepat duduk disampingku.
“apa maksud kamu bilang kakak cengeng?”
tuntut kak faisal tak terima. Aku menahan senyum, lucu juga melihat kak faisal kalau sedang merajuk.
“ya apalagi kalo bukan cengeng kalo ada masalah mengurung diri dalam kamar kayak cewek aja..”
tapi kata kataku terputus karena kak faisal langsung menowel keningku.
“enak aja kalo ngomong..!”
kak faisal berdiri kemudian berjalan dengan cepat menuju ke televisi dan membuka laci dibawah televisi. Kak faisal mengeluarkan satu bungkusan plastik hitam kemudian ia lemparkan ke arahku. Untung saja aku sigap menangkapnya.
“apa ini kak?”
tanyaku heran sambil membuka bungkusan plastik itu. Mataku terbelalak begitu tahu apa isi dalam kantong plastik ini.
“puas!!”
ujar kak faisal kembali menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Aku mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, dasar kak faisal emang tak mau rugi, rupanya ia makan juga dari tadi walaupun berkurung dalam kamar. Kak faisal menyiapkan roti di kamarnya. Bodoh sekali aku kenapa sampai tak terpikir kalo biasanya dikamar kak faisal ada makanan.
“awas kalo dibilangin sama mama ya!”
kak faisal mengacungkan tinjunya ke arahku.
“dasar curang!”
aku menimpuk kak faisal dengan bantal.
“hei apa apaan ini dek..!”
kak faisal kelabakan menghindar.
Aku terus memukuli kak faisal, ia Akhirnya karena capek aku berhenti dengan nafas tersengal sengal.
“adek ini ngerusak mood aja..!”
gerutu kak faisal sambil tertawa.
+++

“salah kak fai sendiri.. Ada masalah bukannya berbagi… Ini malah milih menyepi..”
cibirku sambil baring disamping kak faisal.
“mama ada ngomong apa tadi?”
tanya kak faisal penasaran.
“mama cuma kuatir kakak nggak makan aja.. Percuma kak, sepertinya mama tetap nggak akan setuju kakak pacaran sama amalia…”
aku mencoba jujur, namun itu malah membuat kak faisal kembali murung.
“mama tak berhak melarang larang aku pacaran dengan siapapun.. Lagian dia bukan mama kandungku.”
aku terkejut mendengar apa yang barusan kak faisal ucapkan. Tak kusangka sama sekali kalau ia akan mengatakan itu.
“kak… Kenapa ngomong kayak gitu, mama melakukan itu karena ia sayang sama kakak.. Mama sudah menganggap kak faisal anak kandungnya kak.. Tak pantas kakak bicara kayak gitu..”
suaraku agak tinggi karena tersinggung, tak kusangka kak faisal bisa sepicik itu.
“kalau mama memang sayang kenapa ia tak suka melihat kakak senang..”
bantah kak faisal masih tetap dengan pendiriannya.
Aku menarik nafas dalam, susah juga rupanya kalo kak faisal sudah ngambek, baru keliatan kalau ia keras kepala.
“terserah kakak menilai mama, mungkin mama belum tau siapa amalia, nanti juga kalau kakak sabar, mama mungkin akan luluh.. Lagipula amalia kan cukup baik kak..”
nasehatku sok bijak.
“iya kalo emang gitu, gimana kalo mama tetap nggak bisa terima?”
kak faisal mulai ragu.
“ya kakak mengalah aja, lagipula kalian kan masih muda juga, itu kan cuma cinta saudara tua..”
“huuuu.. Lo itu saudara tua, tak ada cinta saudara tua dalam kamusku.. Kakak serius sama amalia.. Kakak mau nanti kalau kakak dewasa, menikah sama amalia…!”
kak faisal berkeras.
Ada yang menghimpit dadaku saat mendengar pernyataan kak faisal, entah kenapa aku jadi sedih, aku merasa begitu cemburu pada amalia, begitu sayangnya kak faisal padanya. Rasanya tak rela kak faisal dimiliki orang lain.
“dek.. Kakak ngantuk, adek mau tidur disini atau dimana?”
nada kak faisal setengah mengusir.
“rio tidur dikamar rio aja kak..”
jawabku sambil bangun dan turun dari tempat tidur.
“tolong matiin lampunya dek..”
ujar kak faisal sambil menarik selimut. Aku menekan sakelar hingga kamar kak faisal gelap, kemudian aku keluar dan menutup pintu.
Mama sudah tak ada lagi diruang menonton, jam sebelas sekarang, seisi rumah pasti sudah tidur.
Aku masuk kamar dan tidur.
Aku terbangun subuh subuh karena bermimpi buruk, dan tak bisa tidur lagi hingga terang. Jadi aku pergi ke sekolah dengan keadaan mata masih mengantuk.
Pulang sekolah keadaan rumah begitu sepi. Tadi kak faisal tak aku temukan di sekolah, padahal tadi pagi aku lihat ia berangkat walau lewat pintu belakang dan nggak pamit sama mama maupun papa. Kemana kak faisal bolos, agus, rizal dan teman temannya yang lain aku lihat ada di sekolah. Kalau mama tau kak faisal bolos, pasti mama bakalan marah.
Aku duduk di depan teras, kemana sih seisi rumah ini, kok nggak ada. Kalau mama dan papa sih pasti masih di kantor, tapi bik tin kok nggak ada.
Setengah jam aku menunggu karena tak bisa masuk. Untunglah tak berapa lama kemudian om sebastian pulang dengan motornya. Om sebastian agak heran juga melihat aku duduk diteras masih mengenakan seragam sekolah.
“kok nggak masuk rio?”
tanya om sebastian naik ke tangga teras dan membuka sepatunya.
“nggak ada siapa siapa dirumah om..”
jawabku sambil berdiri.
“ya ampun om lupa bilang, bik tin tadi pulang kampung, katanya ibunya sakit.. Jadi dia harus pulang..”
om faisal menepuk keningnya dan tertawa.
“rumah dikunci..”
sungutku sebal.
“tunggu sebentar, biasanya kunci di tinggal di situ.”
ujar om faisal mendekati pintu dan berjongkok mengangkat vas bunga lalu menuang isinya ke telapak tangannya. Betul saja sebuah anak kunci langsung meluncur dari dalam vas ke telapak tangan om sebastian.
“kamu pasti belum makan.,”
om sebastian memutar anak kunci di lobangnya dan pintu terbuka. Aku mengikuti om bastian masuk.
“gerah banget ya..”
om sebastian membuka kancing baju bagian atas.
“rio mau ke kamar dulu om, ganti baju.”
kataku sambil berjalan menuju kamarku.
“iya om juga mau ganti baju.”
jawab om sebastian.
Aku masuk dalam kamar dan membuka baju. Tiba tiba om sebastian masuk. Aku berbalik, pandangan om sebastian agak aneh. Entah kenapa ia menatapku tajam seolah tak pernah melihatku sebelumnya.
“kamu betul betul cakep rio..”
suara om sebastian terdengar ganjil.
“ah om bisa aja..”
aku tersipu malu.
“om mau melihat kamu telanjang… Tubuh kamu sudah mulai tumbuh.”
om sebastian menghampiriku.
Aku tersipu urung membuka baju.
“ah om ini bisa aja.. Nggak ah om, malu…”
“nggak usah malu sama om rio, bukannya kamu juga udah pernah lihat om telanjang kan..”
paksa om sebastian, aku tak yakin apa om sebastian serius atau cuma main main.
Om sebastian mendekatiku, nafasnya terdengar agak memburu, tak biasanya om sebastian berlaku aneh seperti ini, membuat aku merasa sedikit takut.
“katanya tadi om mau ganti baju..!”
aku mengalihkan pembicaraan yang tak enak ini.
“itu bisa nanti, om mau lihat kamu ganti baju.. Punya kamu sebesar apa?”
aku terhenyak mendengarnya, om sebastian sudah mengaku kalau ia gay tadi malam, dan sekarang ia bersikap aneh, masa ia mau melihat aku telanjang, bukannya aku ini ponakannya.
“rio.. Jujur.. Om suka sama kamu..!”
om sebastian menghampiriku tangannya langsung memegang dadaku dan mencoba membuka bajuku.
“om jangan om.. Sadar.. Aku ini rio..”
“ya rio, om tau kamu rio.. Om sangat mencintai kamu..”
om sebastian menarik seragamku dengan paksa
“om sudah lama menahan…kamu betul betul bikin om penasaran..”
om sebastian mendorongku hingga terbaring diatas tempat tidur.
Aku meronta ronta, namun tangan om sebastian yang kuat membetotku hingga aku sulit untuk bergerak.
“om jangan… Sadar om aku.. Aku ini rio… Om jangan..”
aku betul betul takut, om sebastian bukan seperti yang aku kenal selama ini, ia seperti kerasukan, padahal semalam om sebastian masih lembut dan baik, begitu cepat ia berubah, aku seakan tak mengenalnya.
“jangan berontak rio, om akan memberikan sesuatu yang tak akan kamu lupakan seumur hidup…”
om sebastian menindih tubuhku dengan kasar. Dadaku terasa sesak karena tubuh om sebastian yang kekar begitu berat.
Nafas om sebastian menerpa wajahku, tangannya menelusuri dadaku yang setengah terbuka. Aku merinding, berdiri semua bulu disekujur tubuhku. Mual serasa ingin muntah. Ditambah lagi kepalaku yang tiba tiba jadi pusing.
Om sebastian tak berhenti.
Tanganku yang memukul mukul tubuh om sebastian tak ia indahkan seolah tak ada rasanya sama sekali.
“semakin kamu beronta, om jadi semakin nafsu, kamu betul betul bikin om tergila gila…”
dengan serampangan om sebastian membuka paksa seragam kemeja putih di tubuhku hingga beberapa kancingnya terlepas dari jahitan.
“om jangan…”
suaraku semakin melemah. Aku takut sekali, namun dibalik itu ada rasa penasaran. Jantungku berdebar tak menentu. Om sebastian mungkin sudah gila.
“sudahlah tak usah melawan, tak ada siapa siapa disini, rumah ini besar, kamu teriak pun tak kan ada yang bakalan mendengar..”
om sebastian terus menindihku dengan liar. Aku kehabisan tenaga untuk melawan, lututnya menekan pahaku hingga tak bisa bergerak. Ngilu sekali rasanya. Aku sudah pasrah, tak mungkin juga aku melawan, kata kata om sebastian benar, percuma saja aku teriak. Air mataku mengalir seiring satu persatu pakaianku dilucuti dari tubuh hingga tak tersisa apa apa.
“indah sekali.. Tubuhmu betul betul mulus rio.. Om betul betul suka sama kamu.. Jangan menolak, om tak akan menyakiti kamu…”
bibir om sebastian menyapu dadaku perlahan lahan menimbulkan rasa geli yang membuat aku merinding. Aku memejamkan mata kuat kuat, pasrah sudah apapun yang om sebastian lakukan. Waktu berjalan seolah makin lambat, terbaring menghentak hentak seiring dorongan tubuh om sebastian beserta rasa sakit tak tertahankan yang baru sekali ini aku alami diantara kebencian dan rasa mual namun hanya bisa diam. Tubuhku bagaikan dimasuki benda yang menyakitkan. Aku menjerit namun om sebastian membekap mulutku. Hampir satu jam hingga akhirnya om sebastian berhenti, meninggalkan aku yang masih terbaring meringkuk kesakitan. om sebastian memakai bajunya keluar dari kamar seolah tak terjadi apa apa.
Dengan sisa tenaga yang masih aku miliki aku turun dari tempat tidur kemudian mengunci pintu kamar. Aku meringkuk disudut ranjang dengan tubuh gemetaran. Bercak darah membasahi lantai dan seprei.
++++

“rio… Bangun nak.. Sudah hampir maghrib..”
puasa mama terdengar dari luar disertai ketukan pintu.
Aku tak menjawab, tak bergeming terbaring diatas lantai telanjang bulat. Rasa nyeri makin menjadi di saluran pembuanganku. Bagaikan ada yang robek. Tubuhku panas dingin bagai demam.
“rio.. Rio.. Bangun sayang..”
kembali terdengar suara mama.
Aku tetap tak menjawab, aku tak mau mama melihat keadaanku ini, aku betul betul takut. Beringsut aku mengambil lap dari bawah tempat tidur kemudian membersihkan sisa sisa darah yang menetes di lantai.
Suara mama tak terdengar lagi, hanya langkah kakinya yang menjauhi kamar semakin terdengar samar. Aku betul betul membenci om sebastian lebih dari apapun di dunia ini.
++++


aku mandi hampir menghabiskan satu bak air hingga menggigil kedinginan, berkali kali aku menyabuni tubuhku, menyiram menyabuni lagi dan menyiram lagi seolah olah dengan begitu aku bisa menghilangkan segala bekas paksaan om sebastian tadi. Aku terpuruk di samping bak mandi. Meringkuk dengan tubuh basah kuyup. Aku sangat ketakutan bercampur marah. Aku jijik bila ingat kejadian tadi. Hilang segala kekagumanku pada om sebastian. Sosok yang selama ini begitu aku percaya. Sakit rasanya hatiku.
Untuk mengadu itu tak mungkin, selain malu akupun tak mau membuat keadaan rumah jadi ribut, belum selesai masalah kak faisal, sekarang aku yang begini. Bisa bisa mama jadi stress. Aku berdiri sempoyongan. Rasa sakit masih terasa dibagian bawah perutku. Dengan tertatih aku keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuh dengan handuk. Aku tarik seprei penutup tempat tidur yang dikotori bercak darah kemudian aku siram dengan air dalam kamar mandi hingga aku yakin bekas darahnya hilang.
Waktu aku memakai baju, terdengar pintu kamar di ketuk.
Aku terkejut sekali, aku takut kalau yang mengetuk pintu adalah om sebastian, aku tak ingin melihat mukanya lagi.
“dek.. Buka pintu.. Kakak mau ngomong.!”
suara kak faisal terdengar. Aku langsung lega. Cepat cepat aku buka pintu. Kak faisal langsung masuk.
“udah mandi dek?”
tanya kak faisal sambil mengamatiku dari atas hingga kebawah.
“su.. Sudah kak.. Ke.. Kenapa.?”
tanyaku terbata bata.
Kak faisal mengernyitkan keningnya.
“kenapa adek kayak orang gugup gitu?”
selidik kak faisal heran.
“nggak.. N..ng.nggak kenapa.. Napa kak..”
jawabku berusaha terdengar santai namun gagal total.
“adek nggak usah bohong, pasti ada sesuatu, kenapa muka adek pucat gitu.. Adek sakit ya?”
kak faisal mendekatiku dan mencoba untuk menyentuh keningku namun aku langsung mundur menghindarinya. Kak faisal terpaku memandangku.
“dek ada apa sih?”
cecar kak faisal kurang puas. Aku menggeleng tak menjawab.
“ada yang ganggu adek di sekolah ya?”
tuduh kak faisal asal.
“nggak kak.. Nggak ada..”
“trus kenapa adek jadi aneh gini?”
“nggak kenapa napa kak, kenapa sih curigaan gitu, kan aku udah bilang nggak ada apa apa..”
aku berusaha mengatur suaraku biar terdengar netral jadi kak faisal tak curiga lagi.
“ya sudahlah kalo emang nggak ada apa apa.. Kakak cuma mau nanya, tadi di sekolah ada yang nanyain kakak nggak?”
tanya kak faisal ingin tau.
Aku menggeleng.
“nggak ada kak..”
“dek tolong jangan di bilang sama mama kalo tadi kakak bolos..”
suara kak faisal memelas.
“iya kak..”
“mau ikut kakak jalan nggak?”
tawar kak faisal.
“rio kurang enak badan.. Kakak pergi aja, rio mau istirahat..”
kak faisal menatapku tajam.
“tadi katanya nggak apa apa.. Kalau memang sakit mendingan kerumah sakit aja dek, bilang sama mama minta antar ke tempat praktek dokter langganan mama..”
kak faisal menunjukkan perhatiannya. Aku jadi terharu, walaupun ia juga sedang banyak pikiran namun masih perduli padaku.
“makasih kak, kayaknya sih cuma demam biasa, dibawa tidur juga sembuh kok.. Nggak usah ke dokter..!”
aku menutupi kepanikanku, gawat kalo sampai mama tau aku kurang enak badan, bisa bisa aku dibawa ke dokter dan semua akan terbongkar, aku tak mau itu terjadi.
“ya sudah.. Kamu istirahat saja, kakak mau jalan dulu, bete dirumah..”
“kakak mau kemana?”
“rumah amalia, mau minta maaf sama dia..”
jawab kak faisal.
“hati hati kak.. Semoga berhasil.”
kak faisal tersenyum lebar, kemudian ia menghampiriku dan memelukku.
“makasih dek…”
aku membisu, ingin rasanya menangis. Pelukan kak faisal sedikit mengangkat beban dihatiku. Andai saja kak faisal tau apa yang aku rasakan terhadapnya, masih maukah ia memelukku seperti ini, andai juga ia tau apa yang baru saja terjadi, apakah kak faisal tak akan memandang rendah aku? Aku takut kak faisal jadi berubah bila mengetahui semua ini.
Kak faisal melepaskan pelukannya kemudian keluar dari kamarku.
Aku mencoba memejamkan mata namun sulit sekali untuk tidur. Kejadian tadi selalu melintas dalam pikiranku bagaikan film yang diputar terus menerus hingga membuat aku merasa jadi gila. Aku menangis sepanjang malam. Terlebih ingat dengan emak, rasanya aku mau kembali saja ke bangka, tenang dalam lindungan emak, tak ada masalah berat walaupun hidup bersahaja.
+++

sudah tiga hari ini om sebastian tak pulang kerumah, aku tak tau apa ia menghindar atau memang sibuk kerja. Yang pasti aku merasa lebih aman, rasa nyeri sudah hilang, tapi aku masih bergidik bila teringat.
Kak faisal juga mulai jarang tidur dirumah, ia langsung pergi setelah pulang sekolah, tanpa memberitahuku kemana. Mama tak punya kesempatan untuk menegurnya karena kak faisal terlihat sekali menghindari mama, aku betul betul kesepian dirumah, bik tin belum pulang dari kampung. Jadi setiap hari mama beli makanan jadi.
Siang itu saat aku sedang sendirian dirumah, baru saja mau mengambil piring di rak, tiba tiba terdengar suara motor om sebastian. Jantungku terasa langsung anjlok. Buru buru aku taruh kembali piring yang aku pegang. Secepat kilat aku berlari menuju ke kamar. Aku mengunci pintu kamar, jantungku berdebar debar tak menentu.
Aku takut sekali dengan om sebastian, wajahnya yang beringas saat ia memaksaku, tak akan bisa hilang dari bayanganku. Aku takut ia melakukan hal itu lagi. Belum hilang betul rasa sakitnya, aku berdoa dalam hati semoga mama atau siapapun saja yang tinggal disini segera pulang.
“rio.. Kamu didalam?”
jantungku mau copot saat pintu kamarku di gedor beradu dengan suara om sebastian. Aku tak menjawab. Duduk bengong menatap lantai. Tak perdulikan om sebastian memanggil manggil hingga akhirnya ia capek sendiri dan berhenti. Lega sekali saat om sebastian terdengar menjauhi kamarku. Aku beranjak hendak baring di tempat tidur. Namun kembali aku nyaris teriak saat wajah om sebastian nongol dari balik kaca jendela kamarku.
“hei.. Di panggil kok nggak jawab.. Bukain pintunya dong…!”
om sebastian menempelkan wajahnya di kaca.
Aku menggeleng pelan. Bodohnya aku kenapa sampai tak terpikir untuk menutup gorden, tentu saja om sebastian akan periksa dari luar halaman, kamarku kan terletak diruang utama, jendelanya cukup strategis dari halaman samping. Jadi om sebastian cukup keluar dari pintu ruang keluarga sudah kelihatan dengan jendela kamarku.
“rio jangan takut.. Om nggak akan nyakitin kamu kok.. Buka ya sayang..”
om sebastian tersenyum lebar seolah tak pernah ada kejadian apa apa antara kami.
Aku jadi kebingungan apakah tetap berkurung dalam kamar atau malah membuka pintu.
“ayo dong rio, aku kan om kamu, kok kamu jadi takut gitu sih… Kamu marah ya sama om.. Iya deh om minta maaf..”
kata kata itu meluncur dengan mulus dari bibirnya tanpa beban. Seolah permintaan maaf itu diucapkan semudah kata “apa kabar”.
“om lagi ngapain ngintip kamar rio?”
terdengar suara kak faisal.
Aku menarik nafas lega, untung saja kak faisal cepat pulang. Dari balik jendela aku lihat kak faisal berjalan menghampiri om sebastian dan ikut ikutan menempelkan wajahnya ke kaca untuk mencari tau.
Ia nyengir lebar saat melihat aku.

“dek lagi ngapain?”
tanya kak faisal dari balik jendela. Aku tersenyum
“nggak apa apa kak, cuma ketiduran tadi..”
jawabku sambil membuka pintu kamar lalu keluar menemui kak faisal yang ternyata sudah masuk ke dalam rumah.
“mama belum pulang dek?”
“belum kak.. Mungkin sebentar lagi..”
“ikut kakak kerumah koko ya dek..”
ajak kak faisal.
“ngapain kerumah koko kak?”
aku agak heran.
“tadi kakak kerumahnya, mama koko arisan ntar malam, dan katanya banyak makanan, jadi ia nyuruh kita datang, mamanya bilang gitu dek..”
kak faisal menjelaskan. Aku mangut mangut.
Om sebastian menatapku seolah ada yang ingin dia katakan namun terhalang dengan keberadaan kak faisal, aku tak mengacuhkannya. Andaikan dia melakukan pendekatan yang beda mungkin aku masih bisa menerimanya. Aku jadi curiga apakah kak faisal juga sudah pernah mendapatkan pelecehan seperti yang om lakukan kepadaku. Semoga saja tidak.
“assalamualaikum..”
mama rupanya sudah pulang.
“waalaikum salam.. Udah pulang ma..”
jawabku sambil membantu mama membawa barang barang belanjaannya ke dapur.
“iya sayang.. Bibik belum pulang jadi mama musti pulang lebih awal, hari ini mama mau masak.. Mana kak faisal?”
tanya mama sambil meletakkan sepatunya di rak.
“dikamar ma..”
ujarku singkat, mama mengangguk mengerti. Kak faisal memang belum teguran sama mama, ia masih kesal atas sikap mama terhadap amalia.
“mama ke kamar dulu, ganti baju..”
mama naik ke tangga menuju kamarnya.
Waktu aku mau ke dapur, om bastian mencegatku dan menarik tanganku.
“om mau bicara..!”
ujarnya tegas.
Aku mencoba melepaskan cekalan tangannya namun tenaga om sebastian betul betul kuat, ia menyeretku masuk kamarnya.
Setelah kami berada didalam ia langsung menutup pintu dan menguncinya.
“buka om! Apa apaan ini..!”
aku berontak.
“jangan teriak…!”
dengan panik om sebastian menutup mulutku.
Aku meronta ronta hampir sesak nafas, om sebastian menutup mulutku tak kira kira hingga hidungku pun tertutup membuat aku sulit bernafas. Perlahan lahan om sebastian melepaskan aku saat aku mulai berhenti melawan.
“rio, om tak mau menyiksa kamu, tapi tolong kamu juga jangan menyiksa om begini.. Om sayang kamu rio..”
ratap om sebastian serba salah. Aku melengos geram, sayang tapi memaksa, aku tak mengerti apa yang ada dipikiran om sebastian, enak saja dia bilang menyayangiku dan menyukaiku, tapi ia tak menanyakan apakah aku menyukainya. Ia main paksa, untung saja aku cowok, coba seandainya cewek, tentu masalah ini tak akan bisa ditutupi lebih lama, karena ada kemungkinan hamil, atau itu juga ada dalam pikiran om sebastian makanya dia berani melakukan perbuatan bejatnya itu disaat rumah sepi.
“aku mau keluar om, tolong buka pintunya..!”
aku berlari ke arah pintu. Om sebastian makin terlihat putus asa. Sepertinya dia juga kesal melihat aku yang tak bisa ia ajak bicara.
“rio tolong.. Om itu butuh bicara sebentar aja..”
“nggak.. Rio benci, om sudah menyakiti rio..”
aku tetap bertahan.
Tanpa aku duga tiba tiba om sebastian memelukku kuat kuat, seolah menahan agar aku tak pergi.
“om sayang kamu rio, terserah kamu mau percaya atau tidak..”
bisik om sebastian terengah engah, bibirnya menyusuri pipiku. Terasa hangat dan sedikit kasar oleh bulu jambangnya.
“om jangan…”
“om tau kamu sama dengan om, kamu juga gay.. Om bisa merasakan itu rio..”
suara om beradu dengan nafasnya yang tak teratur seolah bagaikan ada badai di kupingku.
Jantungku berdebar, darimana om tau, apakah om juga tau kalau aku menyimpan rasa terhadap kak faisal, padahal setahuku tak pernah sedikitpun aku menunjukan perasaanku itu.
“om jangan mengada ada..!”
aku menepiskan tangan om dari tubuhku. Namun secepat kilat ia memelukku lagi.
“om tak bisa kamu bohongi.. Rio, kamu itu masih remaja, om sudah dua kali umurmu.. Om tau sekali, dan om menyukai kamu.. Jadilah pengganti rio.. Tolonglah om, berikan lagi semangat hidup om yang dulu pernah hilang..”
puasa om sebastian sudah mulai melemah, seolah ia betul betul capek sekali. Perlahan ia melepaskan aku.
“pergilah kalau mau keluar.. Om tak akan memaksa lagi.. Cuma itu yang om ingin katakan.. Om mencintaimu..”
om sebastian berjalan gontai ke jendela. Kemudian memandang keluar tanpa berkedip, seolah pandangannya kosong.
Aku terdiam, dengan ragu memutar kunci.
“maafkan om rio..”
hanya itu kata yang kudengar sebelum akhirnya aku keluar dari kamar om sebastian.
+++

aku bergegas ke kamar, kemudian mengunci pintu dan mandi. Setelah itu aku berganti baju. Jam tujuh malam aku ikut kak faisal kerumah koko.
Seperti sudah menunggu, mama koko menyuruh aku dan kak faisal masuk. Koko sedang membantu pembantunya membereskan meja makanan.
“hai rio… Udah ditunggu dari tadi..”
ujar koko menghampiriku dan kak faisal.
“duduk dulu, nih aku lagi beresin meja..”
koko mempersilahkan.
Aku dan kak faisal mengangguk kemudian duduk.
“nak rio, sebentar ya sayang.. Tante ngambilin kue.. Pasti nak rio suka..!”
mama koko tersenyum lebar tergopoh gopoh ke dapur seolah menjamu tamu istimewa. Aku tertunduk malu, jadi nggak enak melihat keakraban keluarga koko padaku. Kak faisal sepertinya tak keberatan, ia tersenyum simpul melihat kesibukan mama koko.
“enak juga ya dek punya wajah yang mirip sama orang…”
bisik kak faisal.
“apaan sih kak..”
balasku jengah.
“ini kue nya.. Coba dicicip ya nak rio, nak faisal.. Nggak usah malu malu.. Masih banyak kok..!”
mama koko meletakan piring besar berisi kue cokelat yang terlihat sangat lezat sekali. Ada buah cherry di tiap tiap puncak potongan kuenya mirip dengan yang aku sering lihat di buku buku.
+++

“sebentar ya tante siapin empek empek dulu.. Sementara menunggu, dicicip dulu kuenya ya..!”
mama koko meninggalkan kami.
Aku dan kak faisal makan kue ditemani koko.
“tiap hari mama itu nanyain kamu terus..”
beritahu koko.
Aku menelan kue dalam mulutku.
“masa sih ko?”
tanyaku heran.
“iya yo.. Kamu nggak tau betapa sayangnya mama sama almarhum dulunya..”
jelas koko. Aku terdiam, kasihan juga keluarga koko harus kehilangan sosok yang mereka sayangi dalam keluarga mereka.
Mama koko keluar dari dapur sambil membawa empek empek panas baru digoreng. Kemudian menaruh diatas meja.
Mama koko menghampiri kami.
“udah siap empek empeknya. Ayo kita makan sama sama..”
tawar mama koko. Aku menoleh ke kak faisal, ia mengangguk.
“ayo ntar keburu dingin.”
tambah koko.
Aku dan kak faisal berdiri dan berjalan menuju ke meja makan.
+++

“makan yang banyak nggak usah malu malu…”
ujar mama koko sambil menuang cuka dalam mangkuk kecil lalu mengulurkan padaku.
“iya tante.. Makasih banyak..”
jawabku sedikit malu sambil mengambil mangkuk yang diberikan mama koko.
“wah ada pesta ya,.. Om ketinggalan nampaknya..”
serempak kami menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata om alvin bersama anak dan isterinya.
“wah kok ndak kasih tau mau balik hari ini..?”
mama koko agak kaget.
“iya kak.. Soalnya kakaknya sophie tadi siang udah keluar dari rumah sakit..”
jelas om alvin sambil menghampiri kami.
“enak banget nih aromanya.. Kebetulan kami memang belum makan malam..”
om alvin menarik kursi dan bergabung bersama kami. Isteri om alvin, tante sophie duduk disamping om alvin.
“om.. Ini rio teman koko yang mirip sama kak johan..”
ujar koko tak ku sangka sangka.
Om alvin tersenyum padaku.
“iya betul betul mirip johan.. Kok bisa ya..”
“dia itu mirip om juga.. Soalnya kan wajah kak johan mirip banget sama om..”
celetuk koko membuat aku mukaku jadi mengembang karena malu.
“iya pa.. Kalau dilihat ia mirip banget sama papa..”
tambah tante sophie.
“rio tinggal dimana?”
tanya om alvin.
“sekip om..”
jawabku singkat menghindar dari tatapan om alvin.
“dek alvin dimakan dulu, katanya lapar..”
mama koko mengingatkan.
“oh iya.. Malah jadi ngobrol..”
balas om alvin sambil mengambil sepotong empek empek telor.
Jadilah malam itu kami makan sambil membahas kemiripan wajahku dengan almarhum johan dan juga om alvin.
Selesai makan koko mengajak aku dan kak faisal duduk di taman depan rumahnya.
“ko..om alvin sudah lama menikah dengan tante sophie?”
aku bertanya karena merasa penasaran. Tadi waktu duduk dekat om alvin aku merasa seperti begitu ingin lebih dekat lagi. Entah kenapa bagaikan ada dorongan dari hati untuk mengetahui tentang om alvin lebih banyak.
“sudah sih, sekitar 6 tahunan lah.. Dulu sih sempat heboh juga.. Soalnya pernah dulu kejadian om alvin mau menikah tapi menurut cerita mama, orangtuanya tak merestui.. Soalnya mereka cukup trauma dengan kepergian mama yang menikah dengan papa..”
koko bercerita.
Aku diam mendengarkan cerita koko.
“jadi om alvin sama tante sophie itu di jodohkan ya..”
tanya kak faisal ingin tau.
“iya.. Menurut mama, om alvin tak mau lagi menjalin hubungan dengan perempuan.. Ia sulit melupakan pacarnya yang dulu..”
koko merenung.
“tapi sepertinya hubungannya dengan tante sophie begitu harmonis.”
ujar kak faisal.
“dulunya om alvin menentang perjodohan itu, aku dengar mereka sudah beberapa kali bertengkar hingga hampir bercerai, namun om alvin masih memikirkan anaknya..”
jelas koko. Aku merasa simpati sama om alvin, pastilah berat baginya menjalani pernikahan tanpa rasa cinta.
“sebetulnya mama juga kurang suka sama tante sophie, kebiasaanya yang suka berdandan, belanja. Dan tak mau masak, bagi mama tak pantas dilakukan oleh wanita yang sudah menikah.. Untung saja om alvin cukup sabar, dan hingga kini bisa mengimbangi tante sophie..”
tambah koko panjang lebar. Mendengar penjelasannya itu aku merasa seakan telah mengenal om alvin.
“ko.. Udah setengah sepuluh, kami pulang dulu ya..”
pamit kak faisal melirik arloji di tangannya.
“kok buru buru amat sih.. Nanti aja lah..”
koko mencoba menahan kak faisal.
“adek udah mau pulang belum.. Kalo belum kakak pulang dulu..”
tanya kak faisal padaku. Aku jadi bingung.
“udah lah rio ntar aja, biarlah kalo faisal mau pulang duluan, ntar aku bisa antarin kamu pulang.”
tawar koko. Aku diam sejenak mempertimbangkan. “oke lah.. Kakak pulang aja duluan ntar aku biar diantar koko aja..”
jawabku.
“oke kalau gitu aku pulang duluan..”
kak faisal meninggalkan kami. Setelah kak faisal pergi koko mengajak aku masuk ke dalam.
Mama koko sedang ngobrol sama om alvin, tante sophie dan anaknya tak kelihatan.
“tante mana om?”
tanya koko.
“udah tidur ko..eh mana teman yang satunya lagi.”
tanya om alvin.
“faisal udah pulang om, aku masih mau ngobrol sama rio.
..”
“menginap disini aja nak rio.. Tempat tidur koko luas kok..”
ujar mama koko dengan nada berharap.
“kapan kapan aja tante, soalnya aku belum izin sama mama..”
aku menolak secara halus.
“kan ada telpon, coba telpon aja ke rumah..”
mama koko memberi usul.
“iya rio.. Nggak apa apa kok.. Sekalian temani koko..”
tambah om alvin.
Aku terdiam, nggak enak juga menolak kebaikan mereka, lagipula aku merasa sangat nyaman disini. Akhirnya aku mengangguk setuju.
Aku pinjam telpon rumah koko memberitahu mama, untung saja mama mengizinkan.
Mama koko senang sekali begitu tau aku diperbolehkan menginap disini.
Kami mengobrol hingga jam sebelas sampai akhirnya mama koko mengantuk dan pamit tidur. Sementara itu om alvin dan koko belum mengantuk mengajak aku menonton bola.
Aku nggak suka bola, jadi hanya dia depan televisi pura pura menikmati permainan konyol itu.
Setelah setengah jam aku mulai bete. Baru saja aku mau bilang kalo aku ngantuk dan mau tidur, tiba tiba koko berdiri. Rio nonton aja dulu, aku ke kamar mau tidur dulu, nggak apa apa kok ada om alvin yang temani, ntar kalo udah ngantuk nyusul aja ke kamar.. Oke..”
kata koko sambil menguap.
“iya.. Nggak apa apa..”
jawabku senang, hilang sudah ngantukku. Akhirnya aku ada kesempatan berdua dengan om alvin.
“om pernah ke bangka.?”
tanyaku begitu koko sudah pergi.
Om alvin mengalihkan pandangannya dari televisi dan tersenyum padaku.
“sudah.. Dulu sekali mungkin sudah belasan tahun..!”
Jawab om alvin.
“emangnya rio udah pernah ke bangka.?”
ia menambahkan
“aku kan dari bangka om, baru beberapa bulan disini.. “

“oh kamu asli bangka ya..! Om kira kamu memang orang sini..”
om alvin jadi antusias.
“iya om, dari lahir tinggal di bangka..”
jawabku
“kok bisa pindah ke palembang?”
tanya om alvin nampak tertarik.
“panjang ceritanya om, aku juga nggak nyangka bisa gitu..”
aku menggantung kalimatku.
“maksudnya?”
om alvin penasaran.
Kemudian meluncurlah cerita bagaimana sampai aku bisa terdampar di palembang ini.
Berkali kali om alvin mengerutkan kening saat mendengar ceritaku.
“jadi kamu baru tau kalau selama ini ibumu bukanlah ibu kandung, dan ternyata kamu cuma anak titipan?”
komentar om alvin serius. Sementara televisi masih menanyangkan acara bola, jadi terabaikan begitu saja.
“iya om..!”
“kamu lahir tahun berapa?”
tanya om alvin.
“1980 om…”
jawabku santai.
“waktu om di bangka kisaran tahun 1978.. Dan pindah kembali ke palembang tahun 1980…”
ucap om alvin pelan.
“ibu kandungmu siapa namanya yo?”
om alvin menatapku tajam. Aku jadi gugup ia pandangi seperti itu.
“nama mama meganingrum suharlan.., emangnya kenapa om?”
aku agak heran.
“nggak… Nggak kenapa napa..”
suara om alvin terdengar sedikit aneh.
“maaf om ngantuk.. Om mau tidur dulu ya..”
ujar om alvin tiba tiba. Tanpa berkata apa apa lagi langsung meninggalkanku sendirian depan televisi. Aku cuma bisa bengong. Dasar om alvin, aku kan belum puas ngobrol sama dia. Akhirnya aku matikan televisi dan menyusul koko ke kamar.
Koko sudah tidur, di dadanya terbentang buku komik yang nyaris jatuh. Aku ambil buku itu kemudian kutaruh dimeja. Setelah itu aku tidur.
+++

MASALAH DEMI MASALAH.

“sudah mama bilang jangan lagi pacaran dengan gadis itu…!”
pekik mama marah. Aku yang sedang berbaring malas malasan sambil baca buku dikamar hampir saja terlonjak kaget. Buru buru turun dari tempat tidur berlari keluar.
“malas bicara sama mama tak bakalan mengerti…!”
balas kak faisal tak kalah kerasnya.
“jangan membantah fai..! Mama melakukan itu demi kebaikan kamu sendiri!”
bentak mama histeris.
“fai udah dewasa ma, fai bisa memilih sendiri cewek yang fai inginkan.. Mama tak berhak mengatur ngatur fai..!”
jawab kak faisal keras kepala.
“mama berhak mengatur kamu karena mama adalah ibu kamu..!”
“tidak… Mama tak berhak..kenapa mama selalu memaksakan kehendak mama..fai juga berhak memilih apa yang fai ingin ma..!”
lawan kak faisal dengan emosi, wajahnya merah menahan amarah.
Aku menggeleng gelengkan kepala prihatin. Kok nggak selesai selesai juga masalah ini, kak faisal keras kepala mama juga keras kepala tak ada yang mau mengalah diantara mereka karena mereka berdua beranggapan sama sama benar.
“aku akan tetap pacaran sama amalia tak perduli mama setuju atau nggak, titik!!”
serang kak faisal sambil meraih tas ranselnya diatas meja makan, dengan cuek meninggalkan mama.
“fai tunggu dulu..!! Mama belum selesai bicara..!”
mama menjerit mengejar kak faisal.
Namun kak faisal tak menghiraukannya.
“terserah…!”
kak faisal meraih motornya di depan teras kemudian menghidupkan mesinnya lalu ngebut meninggalkan pekarangan. Mama menggelengkan kepala dan menarik nafas panjang. Kemudian berbalik masuk kerumah.
“ada apa ma?”
tanyaku iba.
“biasalah rio, kakakmu itu, keras kepala, tak mau menerima masukan dari orang lain..”
jawab mama kesal.
“ya sudahlah ma, kenapa juga sih mama melarang larang kak faisal pacaran sama amalia… Kalau mama melarang terus malah jadinya kak faisal makin mengejar ngejar amalia ma..”
ujarku sok menasehati mama.
“kamu belum kenal sama kakakmu itu rio, kalau ia sudah memilih, sulit untuk diubah..!”
mama mendesah kesal.
“ya sudahlah kalau gitu kenapa juga mama repot repot..”
aku menghempaskan pantat diatas sofa.
“apa nanti kata teman teman arisan mama, kok calon mantu mama kayak gitu..mama bisa malu..”
mama mengeluh.
“ngapain juga mikirin mulut orang…Ma apa mama tega kak faisal menderita hanya karena mama lebih memilih gengsi mama ketimbang perasaan kak faisal?”
ujarku hati hati.
Mama menatapku tajam.
“kamu pikir mama tak sayang sama faisal? Walaupun dia bukan anak kandung mama, tapi mama menyayanginya rio.. Sejak umur 8 tahun mama sudah merawatnya..”
keluh mama sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Terlihat sekali mama begitu letih. Bahkan baju kantornya pun belum di ganti.
“ma… Coba mama mengenal amalia dulu.. Beri kesempatan mereka ma, kalau memang amalia tak baik, aku yakin kak faisal juga akan mengerti nantinya…”
aku coba memberikan jalan keluar.
Mama terdiam seperti sedang mempertimbangkan usulku tadi.
“jadi maksud kamu mama harus menyetujui hubungan mereka?”
tanya mama kaget.
“mau tak mau ma.. Daripada kak faisal dan mama harus bertengkar terus, sementara mama sendiri bilang kak faisal keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu..”
tandasku sambil meninggalkan mama.
+++

lagi lagi kak faisal nggak pulang tadi malam, entah menginap dimana aku juga nggak tau. Wajah mama masih keruh, sarapannya cuma ia main mainkan dengan sendok.
“kenapa sih ma, papa liat dari tadi mama kok nggak makan, udah hampir siang loh.. Ntar mama kesiangan loh..”
tanya papa yang heran dengan sikap mama yang aneh.
“faisal pa..”
ujar mama sebal.
“oh iya faisal kemana ma.. Kok papa nggak liat?”
papa seperti baru menyadari kalau kak faisal absen sarapan bersama.
“itulah papa, terlalu sibuk dengan urusan sendiri, malah anaknya nggak diperhatikan lagi..”
protes mama kesal.
“loh.. Kan ada mama… Lagipula mama tau sendiri gimana sibuknya papa.. Emangnya ada apa sama faisal ma?”
tanya papa dengan sabar.
“faisal pa, tak mau mendengarkan pendapat orang lain, maunya dia terus yang didengarkan..”
mama mengeluh.
“faisal kan remaja ma, ya wajar aja dia bersikap seperti itu, mungkin sudah jamannya anak sekarang lebih bebas dan tak ingin diatur atur..”
ujar papa santai.
“papa ini bagaimana sih.. Makanya si faisal itu jadi kurang ajar.. Apa apa selalu papa bela, semua keinginannya selalu papa turuti, kalau begini caranya mendingan papa aja yang mendidik dia.. Mama udah capek!”
semprot mama sambil berdiri dan meninggalkan kami. Sementara sarapannya tak sedikitpun mama sentuh.
Papa melongo melihat mama yang meninggalkan ruangan makan dengan kesal.
“ada apa sih dengan kak faisal yo?”
tanya papa sambil mendorong piringnya yang sudah kosong ke tengah meja.
“itu pa.. Mama nggak setuju dengan pacarnya kak faisal..”
jawabku sambil mengunyah potongan terakhir dendeng balado dari piringku.
“faisal sudah punya pacar? Wah.. Kok papa belum dikenalin ya.. Dasar anak papa itu..”
ujar papa tertawa terkekeh.
“itu masalahnya pa.. Mama nggak setuju dengan pacarnya kak faisal..”
aku mengulangi penjelasanku tadi.
“maksudnya?”
tanya papa heran.
Kemudian meluncurlah kronologis cerita percintaan kak faisal dengan amalia, bagaimana keadaan amalia dan ketaksetujuan mama dengan hubungan mereka itu. Papa cuma diam mendengarkan penjelasanku. Sesekali ia mengangguk anggukan kepala.
Setelah aku selesai bercerita, papa seperti termenung. Entah memikirkan apa aku sendiri tak tau. Tiba tiba papa berdiri dan menyusul mama ke kamar.

entah apa yang papa bicarakan dengan mama dalam kamar, yang pasti setelah mereka keluar berdua, tak terlihat lagi ada tanda tanda kekesalan diwajah mama, bahkan mereka pergi ke kantor sama sama.
Aku tak sekolah karena liburan sudah dimulai, sebetulnya teman teman mengajak aku liburan ke desa tapi aku menolak karena aku masih ada masalah yang belum diselesaikan.
Aku bertanya tanya kemana kak faisal, ada kemungkinan ia menginap dirumah agus. Daripada menebak nebak tak pasti mendingan aku telpon saja agus langsung. Namun begitu aku tanyakan ternyata agus juga tak tau menahu, katanya sudah dua hari tak bertemu kak faisal. Aku berterima kasih dan menutup telpon, setelah itu aku telpon rizal dan teman teman kak faisal yang lain yang memungkinkan jadi sarang persembunyian kak faisal, namun sia sia, tak satupun temannya yang tahu dimana keberadaan kak faisal, dasar kak faisal pinter banget sih cari tempat sembunyi. Sepi juga rasanya rumah tak ada kak faisal, mana liburan lagi.. Aku cuma bisa menggerutu dalam hati.
“rio.. Nggak jalan?”
jantungku langsung berdesir mendengar suara om sebastian.
“nggak..!”
aku menjawab dengan malas. Sialan aku tak menyadari kedatangan om sebastian jadi nggak keburu masuk kamar.
“kamu masih marah sama om ya?”
tanya om sebastian menghampiriku.
Aku tak menjawab, pura pura sibuk membuka kulkas dan mencari makanan dalamnya.
“rio kok nggak jawab… Om tau sikap om sudah keterlaluan.. Tapi om sudah tak bisa mengendalikan diri.. Maafkan om ya..”
suara om sebastian agak parau.
“minta maaf untuk apa om.. Sudahlah aku ingin lupakan kejadian itu.. Jangan diingat ingat lagi..”
jawabku ketus sambil meninggalkan om sebastian. Aku masuk kamar kemudian menutup pintu dengan membantingnya.
Andai saja om sebastian tak melakukan pemaksaan mungkin aku tak akan bersikap seperti ini, namun apa yang telah om sebastian lakukan waktu itu betul betul menyakitkan. Ia memaksa memasukkan alat vitalnya kedalam anusku, itu betul betul sakit dan hampir membuat aku pingsan. Sampai sekarang aku masih gemetaran kalau mengingatnya.
Baru saja aku mau menyalakan televisi. Pintu kamarku terbuka. Om sebastian masuk tanpa mengetuk pintu.
“rio.. Apa yang harus om lakukan agar kamu tak marah?”
tanya om sebastian dengan mengiba.
Aku mencoba menghindari tatapan mata om sebastian. Jujur timbul perasaan iba, namun aku harus menjaga gengsi.
“waktu itu om khilaf.. Om tak dapat lagi menahan..”
om sebastian terdengar putus asa, suaranya agak sengau.
“khilaf om bilang…?”
tanyaku terkejut.
“maksud om begini.. Om..”
putus putus kalimat om sebastian.
“maksud om apa?”
tantangku berani.
“eng.. Maksud om.. Kejadian itu.. Om.. Terpaksa lakukan. Karena om sangat menyayangi kamu.. Dan om tak tau bagaimana harus memulai..”
om sebastian mengaku. Aku diam tak merespon.
“om tau om salah.. Tapi entah mengapa om bisa menyukai kamu.. Sifat dan gerak gerikmu mengingatkan om dengan dia..”
lanjut om sebastian, tanpa ia menyebut nama, aku sudah bisa menebak kalau yang ia maksudkan itu adalah almarhum rio prayuda.
“aku bukan rio prayuda om.. Aku rio krisna julian.. Dan kami beda.. Usia kami berdua pun beda jauh..”
ujarku tak acuh.
“om tau.. Tapi entah kenapa, om selalu mencari sosok yang seperti dia.. Om terobsesi dengan dia, kenangan masa lalu masih begitu membekas dihati om… Hingga sekarang om tak pernah berhubungan dengan siapapun..”
om sebastian coba menjelaskan.
“usia kita jauh beda om.. Rio akui memang rio menyukai lelaki.. Tapi om telah membuat rio jadi takut.. Om membuat rio kesakitan..”
aku tetap berkeras.
“om akan menebusnya dengan cara apapun asalkan kamu maafkan om.. Katakan apa yang harus om lakukan..?”
memelas sekali om sebastian.
“om tak perlu melakukan apa apa…”
ujarku pada akhirnya.
“kamu memaafkan om?”
tanya om sebastian tak yakin.
Aku tak menjawab.
Om sebastian mendekatiku kemudian meraih tanganku. Tanpa kuduga tiba tiba ia memelukku. Aku yang tak siap, sangat kaget sekali namun tak berniat untuk melepaskannya. Om sebastian mencium pipiku dan mendekapku dengan erat. Ia berbisik.
“om sangat mencintaimu rio.. Tolong jaga rahasia ini.. Om mohon.. Andainya kamu tak bisa menerima, om mengerti.. Biarlah om tak akan mengganggumu lagi… Besok om akan pindah dari sini.. Om akan tinggal di barak saja..”
aku menelan ludah tak tau harus menjawab apa. Seiring dengan mengendurnya pelukan om sebastian. Aku masih mematung saat om sebastian keluar dari kamarku dengan lesu. Sebetulnya aku ingin memanggil om sebastian namun entah kenapa tenggorokanku seolah olah kaku dan tercekat.
Hingga om sebastian terdengar meninggalkan rumah dari suara motornya yang terdengar makin menjauh. Entah kenapa tiba tiba airmataku mengalir tanpa dapat ku tahan.
sudah dua hari kak faisal tak pulang, mama mulai panik, seisi rumah tegang karena mama selalu menangis dan marah marah.
“apa kita perlu lapor ke polisi pa, mama kuatir… Tak biasanya faisal begini.”
isak mama diruang tamu. Aku jadi tak menentu, semua yang dihubungi tak tau menahu keberadaan kak faisal, termasuk teman teman akrabnya. Aku hampir kehabisan akal mau mencari kemana.
“sabar ma, nggak perlu seekstrim itulah, wajar ma faisal kan sudah dewasa sekarang, mungkin mama cuma belum terbiasa.. Pada waktunya anak lelaki ingin bebas ma..”
tegur papa sabar.
“papa ini bagaimana sih? Bukannya mikir malah tenang tenang saja.. Kalau faisal pergi dari rumah tidak dalam keadaan marah mungkin mama lebih tenang pa.. Mama takut faisal melakukan hal hal yang tidak kita inginkan…”
jerit mama dengan panik.
“sssst… Mama tenang dong, papa itu bukannya tak perduli pada faisal, wong dia itu anak papa satu satunya.. Ya pastilah papa sangat memikirkan dia…”
papa mencoba membujuk mama. Ada terbersit rasa sedih mendengar kata kata papa, betapa mama menyayangi kak faisal yang notabene bukan anak kandungnya. Tapi papa mengatakan kak faisal hanya satu satunya anak lelakinya. Jadi keberadaanku dirumah ini mungkin hanya dianggap papa sebagai tamu.
Aku berdiri hendak ke kamar.
“mau kemana rio?”
tanya mama disela isakannya.
“kekamar ma.. Rio mau istirahat..”
jawabku lesu sambil berjalan ke kamar.
Aku berbaring ditempat tidur dengan pikiran berkecamuk. Mengapa aku harus terlahir sebagai anak haram, yang statusnya tak jelas begini, begitu banyak kekurangan pada diriku. Andaikan aku tahu dimana papa kandungku yang sesungguhnya tentu aku akan sangat bahagia. Dulu waktu masih tinggal bersama emak, ayahku begitu cepat meninggalkanku hingga aku tak merasakan kasih sayangnya. Saat aku tinggal bersama mama, papa tiriku jarang ada dirumah hingga kami berdua tak begitu dekat. Hanya sesekali sarapan bersama.
Dan dari kata kata papa tadi sepertinya hanya aku yang menganggap ia sebagai papa. Sedangkan papa hanya mengatakan cuma faisal satu satunya anak lelakinya. Aku sedih sekali, rupanya keberadaanku dirumah tak ada artinya dimata papa, hanya sebagai anak kandung mama saja, selebih nya tak ada yang spesial bagi papa. Aku cuma menumpang dirumah ini.
+++

“rio.. Ada telpon untuk kamu..”
mama mengetuk pintu kamarku.
Aku turun dengan malas dan membuka pintu.
“dari siapa ma?”
tanyaku heran, tumben ada yang telpon, teman temanku pada berlibur semua, jadi siapa yang menelponku.
“katanya koko.. Ayo cepat dia sudah nunggu tuh..!”
bergegas aku ke ruang tengah dan mengangkat telpon.
“halo..”
“ya halo, ini rio ya?”
balas suara di seberang.”
“iya ko, ada apa?”
“jalan yuk.. Mau nggak?”
“kemana?”
“belum tau sih, ya jalan aja.. Mau nggak?”
aku berpikir sebentar, sepertinya tak ada salahnya aku jalan jalan, dirumah juga nggak ngapa ngapain, lumayan bisa ketemu om alvin lagi.
“oke deh, aku tunggu ya..”
jawabku akhirnya.
“sip.. Sepuluh menit lagi aku jemput..”
suara koko terdengar sangat senang.
Aku menutup telpon dan kembali ke kamar, mencuci muka habis itu ganti baju.
Tak menunggu lama koko sudah sampai dirumahku. Aku langsung menemuinya.
“wah.. Udah siap rupanya.”
koko tersenyum lebar melihatku.
“ayo.. Langsung aja..”
ajakku.
Koko berdiri dan pamit sama mama.
“kalau lihat kak faisal tolong suruh pulang ya.. Bilang mama mau bicara..”
ujar mama dari depan pintu.
“iya ma..!”
jawabku sambil naik ke boncengan.
“udah yo?”
tanya koko memastikan aku sudah duduk nyaman.
“udah ko..”
jawabku.
“peluk aja yo ntar jatuh..”
koko menarik gas motor hingga jalannya agak ngebut.
“iya ko..”
aku melingkarkan lengan di perut koko.
“sering ke IP?”
tanya koko sedikit menoleh kebelakang.
“jangan ke IP Ah.. Bosan.. Kemana lah asal nggak kesana..”
aku keberatan.
“kalo gitu kita ke benteng kuto besak aja.. Mau nggak, kamu pasti belum pernah kesitu kan?”
tawar koko.
“wah boleh.. Boleh, aku belum pernah kesana..”
jawabku antusias.
“oke kita kesana sekarang..”
Suasana yang langsung ku tangkap saat tiba adalah sebuah bangunan yang menghadap ke sungai musi, dengan pelataran yang luas dan barisan pohon palem, sangat indah…
+++

jam setengah enam tepat koko mengantarku pulang, aku mengajak koko mampir, semula ia menolak dengan alasan sudah hampir maghrib tapi aku paksa akhirnya koko tak bisa menolak.
“ini kamarku ko, silahkan masuk..!”
aku mengajak koko masuk dalam kamarku.
“wah.. Besar banget kamarmu, mana isinya lengkap.. Pasti betah seharian didalam kamar ini..”
desis koko sambil mengitari pandangan ke seisi kamar.
“ya nggak lah ko, kalo udah tiap hari nggak bakalan betah…”
aku tersenyum mendengar kata kata koko.
“mau minum apa?”
tanyaku.
“terserah..”
“panas atau dingin?”
“coffemix ada?”
“ada.. Tunggu sebentar ya..”
“nggak usah buru buru..”
seru koko.
Aku ke dapur mengambil cangkir dan mencari coffemix yang biasanya ditaruh di dalam rak dinding. Untung saja masih ada.
“ini ko..”
aku meletakkan coffemix panas diatas meja belajar.
“makasih yo..”
“rumah sepi, nggak ada siapa siapa..”
“faisal belum pulang juga ya?”
tanya koko.
“belum, udah dua hari ini..”
“apa sih masalahnya?”
“biasalah ko, kak faisal bertengkar sama mama gara gara mama nggak ngasih ia pacaran sama amalia…”
jawabku terus terang.
“mamamu nggak setuju… Kenapa?”
koko agak heran.
“nggak tau juga, mungkin mama kurang sreg aja kali..”
jawabku asal.
“papa sama mamamu kemana?”
tanya koko lagi.
“nggak tau, udah biasa mama nggak dirumah jam segini.. Mungkin ke tempat saudara cari kak faisal.”
aku menduga duga.
“rio boleh aku numpang mandi?”
tanya koko sambil mengipas ngipas tubuhnya yang agak keringatan.
“boleh kok.. Mumpung belum gelap.. Ntar aku ambilin handuk dulu..”
ujarku sambil membuka lemari dan mengambil handuk bersih yang masih terlipat.
“ini handuknya ko..”
aku memberikan handuk pada koko.
“makasih..”
koko mengambil handuk lalu menyampirkan diatas bahunya.
Koko melepaskan baju kaus yang ia pakai. Kemudian celana jeansnya. Ia masuk kamar mandi dengan berlilitkan handuk di pinggang. Putih mulus kulit koko untuk ukuran cowok. Betul betul bersih dan klimis. Tapi tubuhnya cukup atletis dan sedap dipandang. Cocok sekali ia jadi pemain film atau bintang iklan.
Tak sampai sepuluh menit koko selesai mandi. Keluar dengan berlilitkan handuk. Rambutnya yang lurus agak acak acakan karena basah.
“pake baju aku aja ko.. Baju kamu udah bekas keringat..”
tawarku.
“nggak apa apa ya?”
koko bertanya.
“nggak masalah.. Sebentar aku ambil..”
aku membuka lemari lagi mencari baju untuk koko.
“ini..!”
aku melemparkan baju kaus putih dan celana pendek pada koko.
“thanks yo… Sekalian celana dalam boleh?”
koko menangkap baju yang aku lemparkan.
“emang kamu mau pake celana dalam ku?”
“nggak apa apa kalo kamu nggak keberatan.”
“ya udah..tunggu sebentar.”
aku mengambil celana dalam kemudian memberikan pada koko.
Aku menyalakan televisi sementara koko berganti pakaian.
Dari cermin aku lihat koko sedang memakai celana dalam. Aku pura pura tak melihat. Nafasku turun naik melihat tubuhnya yang polos. Betul betul indah. Begitu mulus dan bersih.
Setelah berpakaian koko duduk disampingku.
“boleh pinjam telpon nggak, mau kasih tau mama aku lagi disini..”
“tunggu sebentar aku ambil telponnya.”
jawabku sambil keluar dan mengambil telpon tanpa kabel.
Koko menelpon mamanya memberitahu ia menginap dirumahku.
“apa kata mamamu?”
“boleh.. Mama mengizinkan.. Tumben biasanya mama paling melarang aku menginap dirumah teman. Katanya kayak kepiting siput. Suka dirumah orang hehehe”
jelas koko sambil tertawa.
+++

Mumpung ada Koko disini aku ingin bertanya lebih banyak mengenai Om Alvin. Soalnya aku agak penasaran juga, Aku tak tau kenapa aku merasa tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai dia. Hanya yang kutahu tiap berdekatan dengan Om Alvin aku merasa betah.
Anak om Alvin cuma satu satunya yang bernama Astrid yang tempo hari aku lihat, menurut Koko, tante Sophie tak bisa lagi memberikan anak untuk Om Alvin karena ada kista di Rahim Tante Sophie. Padahal Om Alvin sangat berharap bisa mempunya anak laki laki.
Kadang kehidupan memang tak bisa ditebak. Ada yang begitu mengharapkan kelahiran anaknya tapi tak kunjung datang. Ada yang tak mengharapkan malah diberikan. Kadang bingung juga. Tapi memang begitu kenyataannya, tak semua yang manusia inginkan bisa dikabulkan.
“Ko, udah larut, mendingan kita tidur dulu..”
Ajakku karena kasihan melihat Koko sudah menguap berkali kali dari tadi.
“Nggak terlalu ngantuk juga Yo.. Kalau masih mau ngobrol nggak apa apa kok..”
“Nggak lah, aku juga mau istirahat, mataku juga udah mulai ngantuk..”
aku menarik selimut.
“Biasanya kamu tidur gelap atau terang?”
Tanyaku.
“Bisa gelap bisa terang, kalo mata udah ngantuk aku nggak perduli lagi..”
jawab Koko memperbaiki posisi bantalnya.
“Kalau gitu aku matiin aja lampunya biar lebih nyenyak.”
Aku turun dan mematikan lampu hingga kamar menjadi redup.
.
Keesokan harinya aku mengantar Koko, tentu saja bersama mang Tono.
Jam sembilan lewat tiba dirumah Koko, Mamanya sedang memasak. Beliau senang sekali waktu melihat Aku dan Koko datang.
“Wah tante udah nyangka Rio bakalan kesini, kebetulan tante masak yang spesial hari ini, Nak Rio makan siang disini aja ya…”
Senyum Mama Koko terkembang sumringah.
“Nggak usah repot repot Tante, jadi nggak enak.. Ada yang bisa Rio bantu Tan?”
Aku menghampiri Mama Koko yang kelihatan sibuk memotong sayuran.
“Nggak.. Biar tante udah biasa Sayang.. Kamu duduk aja di depan sama Koko..”
Mama rio tertawa senang.
“Om Alvin mana ma?”
tanya Koko.
“Tadi katanya ngajak Astrid jalan jalan..”
“Bareng Tante Sophie juga ya Ma?”
“Iya.. Tadi Om Alvin nyuruh Tante Sophie bantu Mama, Tapi kamu kan tau sendiri gimana Tantemu itu. Mana mau dia disuruh masak..”
Jawab Mama koko.
“Aku ke kamar dulu ya Ma..”
“Iya.. Nggak apa apa.. Bikinin Rio minuman, trus kue yang ada di Kulkas juga dikeluarin, untuk kalian Ngemil, Soalnya Mama baru selesai Masak jam Sebelas nanti..”
Ujar Mama Koko.
Aku mengikuti Koko ke kamarnya. Bermalas malasan sambil membaca komik. Hingga tak terasa sudah Jam sebelas Saat Mama Koko memanggil kami agar makan siang.
Ternyata di meja makan sudah ada Om alvin, Tante Sophie, dan Anaknya Astrid. Aku mencoba tersenyum pada Om Alvin, namun ia seperti tak melihat, Langsung sibuk dengan Makanannya.
+++

Aneh sekali sikap Om Alvin, Ia tak sekalipun menoleh padaku walau hanya sekedar basa basi menawari makan. Kemarin kemarin ia ramah dan bersahabat. Padahal banyak yang ingin aku ceritakan padanya. Bahkan hingga selesai makan pun Om Alvin seperti tak menyadari ada aku.
Selesai makan, aku diajak Koko nonton tipi.
Meskipun film kesukaanku sedang ditayangkan, namun tak konsentrasi sedikitpun. Dalam pikiranku cuma Om Alvin.
+++

aku pulang walaupun mama koko dan koko menahan agar aku tinggal lebih lama.
Mang tono datang sepuluh menit setelah aku telpon. Om alvin entah kemana, sejak selesai makan ia langsung masuk kamar bersama isterinya dan belum keluar hingga sekarang. Aku jadi bingung dengan sikap om alvin, kenapa bisa berubah begitu drastis. Apa aku ada salah kata terhadapnya kemarin, sehingga ia tak ramah lagi padaku. Sebetulnya aku mau bersikap tak perduli, namun hatiku berbicara lain. Aku seolah merasa semakin penasaran. Makin tergelitik untuk mendekati om alvin. Biarlah hari ini aku tak ada kesempatan bicara dengannya. Semoga om alvin dan isterinya belum keburu pulang ke jambi.
Sampai dirumah aku betul betul kaget. Ada mama, papa, om sebastian, tante laras, om beno, serta odie, dan satunya lagi yang membuat aku tadi nyaris tak percaya adalah amalia. Apakah itu berarti kak faisal sudah pulang..? Aku menoleh kiri kanan melihat kak faisal namun tak ada.
“hai sepupu.. Apa kabar?”
sapa odie langsung menghampiriku dengan semangat, senyumnya tersungging lebar.

“hai odie, kapan datang.. Kok nggak kasih tau dulu?”
aku menyambut uluran tangan odie dan menjabatnya.
“maaf bukan nggak ngasih kabar yo, tadi juga mendadak diajak kesini sama mama..”
jelas odie.
“dari mana aja kamu?”
tanya tante laras.
“rumah teman.”
jawabku singkat.
“kelayapan nggak karuan, udah tau ada masalah dirumah…!”
tembak tante laras tanpa perasaan. Mukaku terasa panas tak menyangka ia akan berkata seperti itu.
“sudahlah dek laras, jangan berlebihan, rio sedang liburan, lagipula dari kemarin ia juga tak kemana mana, tadi rio mengantar temannya pulang.”
jelas mama sabar.
“kak mega tak perlu selalu membelanya mentang mentang ia anak kandung kakak!”
tante laras kelihatan emosi.
“kenapa jadi bertengkar, faisal belum juga ketemu sudah merembet ke masalah lain..”
tukas om beno menengahi. Mama tertunduk, sementara tante laras cemberut dengan mulut mengerucut seolah sedang menelan gerutuan yang hampir keluar.
“sudah di cek ke teman temannya, barangkali ia menginap disalah satu rumah temannya..?”
cetus tante laras.
“sudah, semua temannya yang kami tau sudah dihubungi, tapi tak ada satupun yang tau..!”
jawab papa.
“makanya kak, kalau bertindak itu pikir pikir dulu!”
tante laras kumat lagi.
“tolong dek laras jangan memperkeruh keadaan, itu semua aku lakukan demi kebaikannya sendiri…”
mama membela diri.
“iya..! Kebaikan menurut kakak.. Memangnya kakak tau apa yang terbaik untuk faisal?”
tante laras tak mau kalah.
“sabar ma, nggak usah emosi gitu, percuma, faisal entah kemana, kalian malah ribut ribut!”
timpal om beno.
“iya yuk, ngomong yang bener kenapa?”
sambung om sebastian, dari tadi ia mencuri curi pandang ke arahku. Tapi aku pura pura tak menyadari.
“kalau sudah begini dimana kita harus cari faisal, terpaksa kita lapor ke polisi untuk membantu cari faisal..!”
keluh papa prihatin.
“itu semua gara gara kamu!”
mama menunjuk wajah amalia dengan berang. Amalia terisak tak berani menatap mama. Aku kasihan sekali pada amalia.
“E…e..e.. Jangan asal tunjuk anak orang dong! Kenapa lagi kak mega menyalahkan amalia, mau cari kambing hitam untuk kesalahan kak mega!”
hardik tante laras tak sabar.
“ma udah ma.. Jangan ribut!”
om beno kelabakan menenangkan isterinya.
“kalau bukan karena gadis gembel ini tak akan terjadi seperti ini!”
pekik mama histeris. Sambil berdiri kalap menghampiri amalia.
Om sebastian yang sigap langsung menghadang mama agar tak kelepasan memukul amalia. Tante laras yang duduk dari tadi ikut ikutan berdiri.
“kak sadar kalo ngomong! Lupa ya dulu kakak itu siapa?”
hardik tante laras tanpa tedeng aling.

“jangan ungkit ungkit masa laluku laras!”
jerit mama kesal.
“kan kakak yang memulai, seolah kakak berasal dari keluarga terhormat, keluarga kaya.. Mentang mentang sudah diangkat derajatnya sama bang harlan, kakak jadi sombong..!”
tikam tante laras tanpa belas kasih.
Semua tercengang mendengar apa yang tante laras katakan. Mama terpaku seolah kehilangan kata kata.
“dek laras jaga ucapanmu, bagaimanapun juga dia isteriku dan itu artinya dia kakak iparmu juga… Kamu seharusnya lebih hormat, kata katamu itu sungguh慡℁阄愀͡С6兑℁阄儀͑Сv慠Łԡ慠́ԡvnak anak kita disini..!”
papa mulai terpancing kemarahannya.
Amalia semakin terisak, ia terlihat sangat ketakutan.
“rio, mendingan kita ke kamar kamu aja yuk.. Kayaknya bakalan ada perang bintang disini..”
bisik odie pelan.
“tunggu die, aku takut terjadi apa apa.. Kasihan amalia, aku bingung kenapa dia bisa ada disini..”
aku mengungkapkan kekuatiranku pada odie.
“mama kamu yang menjemputnya, tante mega pikir amalia tau dimana keberadaan kak faisal, jadi tadi kami sama sama ke rumahnya setelah mama kamu menanyakan alamat amalia ke teman kak faisal..”
jelas odie. Aku terdiam, lututku jadi lemas, aku pernah melihat mama emosi seperti ini sebelumnya, dan mama tak akan mau mengalah, kejadian itu terus membekas di ingatanku, bagaimana mama dan emak dulu bertengkar. Dan sekarang tante laras yang juga keras sedang bertengkar dengan mama gara gara kaburnya kak faisal.
Aduh kak faisal kenapa sih pake kabur segala, padahal cuma masalah kecil seperti ini. Betapa kekanak kanakannya kak faisal, bukannya memperjuangkan cinta tapi malah lari dari kenyataan. Aku tak bisa mengerti dengan jalan fikiran kak faisal. Kesal juga aku memikirkannya. Kalau sudah begini semua jadi terseret. Apa tak ada ketenangan dirumah ini. Percuma saja harta berlimpah serta fasilitas yang lengkap tapi minim keakraban. Sering ada masalah, hilang satu masalah terbit masalah lain.
“pokoknya kita harus mencari faisal..! Jangan sampai terjadi apa apa sama faisal.. Kak mega tak bisa menjalankan amanah mendiang yuk lina, untuk menjaga faisal, merawatnya seperti anak kandung sendiri.. Kak mega telah gagal…!”
berondong tante laras tanpa henti. Sementara mama hanya duduk terdiam sambil terisak.
“maaf laras, kamu salah, aku sangat menyayangi faisal, tak kurang kasih sayang yang aku curahkan untuk dia, tak ada sedikitpun aku berpikir untuk membedakan dia dengan rio, aku betul betul menyayangi faisal seperti anak kandungku sendiri…”
isak mama dengan tubuh terguncang karena tangis.
“sudahlah ma, tak ada gunanya menyalahkan kak mega, faisal memang nekat, kita tau sendiri bagaimana sifatnya.”
om beno meredakan kemarahan tante laras.
“jangan menyalahkan mega terus dong dek, abang juga lagi pusing sekarang, jangan menambah masalah lagi..”
ujar papa lemah, terlihat wajahnya begitu capek. Empat hari sudah kak faisal menghilang tanpa tau kemana rimbanya, semua menjadi panik sekarang dan tak ada yang bisa berpikir jernih menyikapi masalah ini.
“sekarang kita ke kantor polisi dulu, sebastian tolong kerahkan teman temanmu untuk ikut membantu cari faisal,…”
om beno memberikan solusi.
“amalia, betul kamu memang tak tau menahu dimana faisal?”
om sebastian bertanya pada amalia.
Amalia mengangkat kepala, menatap om sebastian takut takut, bibirnya gemetar seolah sedang menjalani sidang yang menentukan vonis berat baginya.
“be.. Betul om, sungguh.. Sa.. Saya tidak tau.. Saya bertemu faisal terakhir waktu pembagian raport, dia mencoba memanggilku, tapi aku menghindar..”
kentara sekali amalia begitu ketakutan.
“ya sudah kalau memang begitu,..”
tukas om sebastian.
“jangan bohong kamu, tak mungkin kamu tak tau dimana faisal, dasar kecil kecil udah gatal!”
hardik mama tak mau mendengarkan penjelasan amalia.
“cukup kak..! Jangan menyalahkan amalia terus… Cukup kekacauan yang kakak buat! Biarkan faisal memilih sendiri gadis mana yang ia mau..!”
bentak tante laras tak sabar.
Mama mau membalas kata kata tante laras namun cepat cepat papa potong.
“ayo kita berangkat sekarang, kalau ribut terus nggak bakalan selesai, bisa bisa sampai subuh perang mulut terus!”
“betul, lebih baik kita berangkat sekarang..!”
timpal om beno bosan.
Mama berdiri dan menghampiriku.
“sayang mama sama papa pergi dulu cari kak faisal, kamu jangan kemana mana dulu, temani odie disini..”
“iya ma… Rio temani odie, hati hati dijalan ma..”
ujarku iba. Kasihan mama, ia pasti merasa sangat bersalah.
Sepeninggal mereka, aku dan odie duduk di depan televisi.
“kemana ya kak faisal..?”
celetuk odie sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
“entahlah die, aku juga kurang tau, aku belum begitu hafal dengan teman teman kak faisal, aku takut kak faisal berbuat nekat, soalnya pergaulan kak faisal agak parah, teman temannya banyak anak yang nakal..”
aku mengungkapkan kekuatiranku.
“semoga aja kak faisal nggak ngapa ngapain, cuma sekedar kabur ke rumah temannya.”
harap odie.
“iya die semoga..”
aku menghibur diri sendiri. Padahal dalam hatiku begitu cemas. Aku tau karakter kak faisal bagaimana. Tak bisa dilarang ataupun ditentang. Keinginannya sudah biasa dituruti. Ketika ia dilarang, ia tak bisa menerima, jiwanya masih labil. Ia memang nakal, tapi ia juga manja. Terkadang aku tak habis pikir dengan pola laku kak faisal. Sebetulnya sikap tante laras tadi sangat berlebihan. Wajar saja mama tak terima, karena sepengetahuanku, mama sangat menyayangi kak faisal.
Hati mama pasti sakit dengan hinaan tante laras.
Aku heran kenapa papa begitu lemah, mama itu isterinya sepatutnya ia bela.
KRING…. KRING…KRING..

Suara telpon yang berdering keras mengagetkanku. Bergegas aku angkat.
“halo…”
“ya halo, bisa dengan rio..?”
jawab suara diseberang, yang aku kenali sebagai suaranya koko.
“ini koko ya?”
“oh, ini rio ya.. Lagi ngapain yo?”
tanya koko.
“lagi nonton sama sepupuku dirumah, ada apa ko?”
“hari ini tante sophie pulang ke jambi sama astrid, tadi om alvin nanyain kamu.. Katanya habis nganterin tante ke bandara, om alvin bilang mau ngajak jalan… Dia nyuruh aku ngajak kamu yo.. Gimana, sempat nggak?”
tumben, om alvin yang beberapa hari ini cuek sama aku tiba tiba mau mengajak aku jalan jalan, lalu tante sophie pulang, kenapa om alvin tidak ikut?
“gimana ya ko, bukan aku menolak, soalnya lagi ada masalah dirumah, lagipula ada sepupuku baru datang dari baturaja, nggak enak kalo aku tinggalin…”
aku menolak dengan berat hati.
“yaaa… Kecewa dong aku.. Ajak aja sepupumu, nggak masalah kok yo..!”
“bukan cuma itu masalahnya ko.. Dirumah lagi panas, kak faisal belum pulang, takutnya nanti mama marah.. Kapan kapan aja ya ko, sampaikan salam sama om alvin, bilang aku bukan nggak mau, tapi belum bisa…”
jawabku berat hati, padahal aku betul betul ingin sekali jalan jalan bareng om alvin, tapi mau bagaimana lagi, nggak mungkin aku pergi bersenang senang sementara masalah dirumah belum selesai. Bisa bisa tante laras makin tak menyukaiku.
Aku menutup telpon lalu kembali menemui odie yang menunggu depan televisi.
“siapa yo?”
tanya odie ingin tau.
“temanku koko.. Dia mau ngajak keluar..”
jawabku sambil mengambil remote dan membesarkan volume televisi.
“terus kamu nolak?”
odie ingin tau.
“iya die, nggak mungkin aku pergi, lagipula kak faisal kan belum pulang.”
“kita tunggu aja kabar dari mamamu, mereka kan lagi berusaha untuk mencari kak faisal.”
ujar odie tersenyum.
“die kamu pasti belum makan ya?”
tanyaku.
“belum sih, tadi belum sempat sarapan karena buru buru mau kesini.. Ditambah lagi tadi orangtua kita nyaris berantem, jadi hilang selera..”
“kalo gitu aku temani kamu makan, kedapur yok..”
ajakku sedikit menyesal kenapa bisa nggak kepikiran mengajak odie makan dari tadi, kasian dia pasti sudah kelaparan sekali habis menempuh perjalanan jauh dari baturaja ke palembang, dan hingga sekarang belum makan apapun.
“yo maaf ya, sebetulnya aku sudah punya rencana kalo sekali lagi aku kemari aku mau bawain kamu helikopter remote yang bisa terbang, aku mau kasih sama kamu, tapi aku lupa bawa karena tadi terburu buru…”
ujar odie masih tetap duduk.
“ya ampun odie, nggak usah terlalu dipikirin, nggak apa apa kok, lagian kamu kesini aja udah bikin aku senang, nggak perlu bawa apa apa.. Aku jadi malu, justeru aku belum ngasih apa apa sama kamu, sekarang kita makan dulu ya sobat…”
aku merangkul bahu odie, betapa baiknya odie, dia sangat tulus.. Menyesal dulu aku sudah bersikap tak ramah terhadapnya hanya karena aku kurang menyukai ibunya. Untung saja odie tak mengambil hati. Kebaikan odie mengingatkan aku akan erwan. Dulunya erwan selalu baik terhadapku. Ternyata walaupun aku telah berpisah jauh dari erwan. Aku masih diberikan tuhan teman yang sebaik erwan. Sayang nya odie tinggal jauh dari sini. Jadi aku hanya jarang jarang sekali bisa bertemu dengannya. Aku harus bisa menyenangkan hati odie dan membuatnya merasa betah, mumpung dia masih disini, aku akan berusaha menahannya untuk tinggal disini lebih lama selama liburan. Semoga kak faisal bisa segera ditemukan. Jadi besok besok aku bisa mengajak odie berjalan jalan.
Sampai di dapur aku memeriksa lauk diatas meja, aku tak tau ada nggak nya, soalnya tadi aku sudah makan dirumah koko, bik tin belum pulang, dan mama juga jarang masak. Semoga saja ada yang bisa dimakan. Kasihan odie kalau sampai nggak ada apa apa.
Ternyata kekuatiranku beralasan. Tak ada apa apa diatas meja, mama tak masak, aku jadi bingung. Sedangkan untuk beli keluar aku tak bisa naik motor. Tak ada siapa siapa dirumah.
“die maaf ya, nggak ada makanan.. Hehehe.. Gimana ya..?”
aku tersipu sedikit malu karena tadi dengan semangat mengajak odie makan, sedangkan makanan tak ada.
“santai aja sobat, sekarang kita periksa kulkas dulu, barangkali ada bahan makanan yang bisa diolah, kebetulan aku bisa masak sedikit sedikit…”
jawab odie santai, ia tertawa melihat reaksiku.
“ya udah aku cek kulkas dulu ya..”
jawabku sambil membuka kulkas khusus persediaan makanan.
Untung saja ada mama sudah belanja kemarin dulu, jadi persediaan makanan banyak. Ada bermacam sayuran, daging dan ikan kaleng, daging segar, ayam, ikan dan macam macam.
“wah.. Mama kamu udah mempersiapkan bahan yang banyak.. Sekarang tinggal kita masak aja..”
odie tertawa kesenangan. Ia langsung memilih bahan bahan untuk dimasak.
“yo kamu lagi pengen makan apa?”
tanya odie sedikit kebingungan dengan banyaknya pilihan di depannya.
“terserah kamu die, apapun yang kamu masak aku ikut makan aja..”
jawabku.
“gimana kalo aku masak ikan kaleng dengan wortel, sama tumis bayam..”
tanya odie.
“emangnya kamu bisa die?”
aku agak heran.
“wah jangan ngeremehin aku… Gini gini aku pernah juara memasak di sekolah waktu praktek memasak.. Tunggu bentar ya.. Kamu tolong aku siapin bumbunya..”
odie mengeluarkan sekaleng ikan saus tomat dan beberapa buah wortel. Serta seikat bayam yang masih segar.
Aku mengambil pisau untuk membuka ikan kaleng. Odie memotong bayam dan bumbu. Aku membantunya mengiris tomat. Menyenangkan sekali memasak, berbulan bukan disini baru kali ini aku mencoba memasak.
+++



KEMBALINYA KAK FAISAL.
Sejam kemudian semua telah siap, wangi aroma masakan begitu menggugah selera, aku betul betul tak menyangka sama sekali kalau bisa memasak walaupun cuma sekedar membantu odie. Perutku jadi lapar sekarang.
Odie makan begitu lahap, melihat semangatnya itu aku jadi ikut ikutan makan banyak, padahal tadi sudah makan, walaupun rasanya standar saja tapi entah kenapa aku bisa begitu suka, jadi ingat dengan masakan emak dulu yang standar, bukannya karena emak tak bisa masak yang seenak mama atau bik tin, tapi karena bahan bahan yang seadanya. Kalo bik tin masak bisa menggunakan bermacam macam bahan, emak hanya mengandalkan bahan yang ada. Aku serasa mengalami nostalgia. Dan itu berkat odie. Aku jadi semakin menyukai odie. Ternyata berteman dengan odie betul betul menyenangkan. Aku merasa beruntung memiliki sepupu sebaik odie.
“tambah lagi yo..!”
odie menggeser mangkuk berisi ikan kaleng saus tomat kepadaku.
“makasih die, udah kenyang banget nih, aku makan udah dua piring… Bisa bisa nggak bisa berdiri lagi saking kenyangnya…”
tolakku halus.
Odie tertawa.
“enak ya yo, bisa makan bareng, masak bareng kayak gini, aku tak akan bisa melupakan saat saat seperti ini, kalo aku pulang nanti pasti bakalan kangen mengenang saat ini… Semoga saja kita bisa sering sering ketemu, coba kamu lebih dekat sama mama, jadi kamu bisa main kerumahku kapan kapan..”
ujar odie setengah menyesali keadaan.
“nggak tau lah die, mama kamu sendiri yang kurang menyukaiku..”
desahku sedih.
“aneh padahal mama sering cerita tentang kamu kalo dirumah, dan tak sekalipun mama bilang yang nggak nggak tentang kamu, malah mama selalu memuji kamu…”
jelas odie membuat aku sangat kaget.
“tante laras memujiku?”
tanyaku tak percaya.
“iya yo, mama selalu bilang kamu sangat pintar, bahkan raport kemarin kata mama kamu berhasil menjadi juara 2 umum. Padahal kamu pindahan dari kampung..”
urai odie tersenyum lebar.
“tante laras bilang gitu die?”
aku kurang yakin.
“iya.. Kalau mama lagi marah marah sama aku, ia pasti membanding bandingkan aku sama kamu, ia bilang kamu nggak nakal lah, anak yang baik lah, mandiri, pintar, dan kamu juga punya kepribadian yang tegas!. Gitu kata mama..”
odie melanjutkan kata katanya. Aku terhenyak, tak kusangka sama sekali kenyataan yang terjadi dibalik sikap tante laras yang judes dan dingin terhadapku rupanya ia selalu memujiku didepan anaknya. Aku jadi ragu, apakah aku telah bersikap tepat dengan tak menyukai tante laras. Tapi kenapa kalau ia menyukai sifatku, tapi tak ia tunjukkan, malahan ia bersikap seolah olah ia tak menyukaiku.
“jangan heran rio, mama memang begitu, ia memang agak keras, itu ia lakukan agar orang menjadi lebih baik dan tak mudah terlena. Ia tau dulu faisal terlalu di manjakan oleh mama nya, hingga ia tumbuh menjadi anak yang manja. Dari dulu ia selalu dituruti. Bahkan mamaku pun ikut memanjakannya. Hingga mamanya kemudian meninggal tujuh tahun yang lalu, meninggalkan faisal, itu membuat kak faisal jadi agak susah diurus. Setelah om harlan menikah dengan tante mega, kelakuan kak faisal mulai bisa di kendalikan. Karena tante mega bisa menyayangi kak faisal seperti anak kandungnya sendiri. Mamaku dulu tak menyukai tante mega, tapi tante mega rupanya bisa berlaku sebagai pengganti tante lina dengan baik, ia mengurus om harlan dan kak faisal dengan baik, jadi lama lama mama mulai bisa menerima. Aku juga heran kenapa tadi mama sama tante mega berantem lagi gara gara masalah kak faisal, padahal mama sering mengutarakan kekuatirannya terhadap kenakalan kak faisal..”
odie menyelesaikan kata katanya dengan panjang lebar.
Itu semakin membuat aku terdiam. Aku ternyata betul betul salah menilai tante laras. Aku menyesal telah membenci tante laras, sebetulnya aku juga telah salah, aku tak bersikap ramah terhadap tante laras, tak mencoba mengambil hatinya. Telah banyak indikasi perhatian tante laras selama ini, namun aku selalu menutup mata. Aku berjanji dalam hati, andai nanti tante laras datang, aku akan lebih ramah terhadapnya. Aku akan mencoba untuk lebih dekat padanya. Untung saja odie bercerita tentang hal ini. Sehingga mataku jadi lebih terbuka.
“kenapa melamun rio?”
tanya odie sedikit kuatir.
“nggak kok die, aku bukan melamun, aku cuma memikirkan kata katamu tadi..”
“aku tau rio, kamu tak menyukai mama.. Dan mama pun menyadari itu.. Kamu tau rio, waktu dia pernah menampar kamu dulu sebetulnya mama sangat menyesal, ia beberapa kali menangis tiap kali ia ingat menampar kamu. Itu ia lakukan dengan spontan, mama memang mudah emosi, tetapi mama juga mudah menyesali kekeliruan yang ia perbuat.. Aku minta maaf ya yo, kalau dulu mamaku pernah menampar kamu..”
odie terdengar menyesal.
“odie, kamu tak perlu minta maaf, itu masalah yang sudah lama berlalu aku juga udah melupakan semua itu..”
“makasih yo, aku hanya berharap kamu bisa lebih dekat sama mama…”
harap odie.
“iya die, makasih ya untuk penjelasan kamu tadi, aku akan mencoba untuk lebih dekat sama tante laras, udah selesai makannya die.. Aku beresin meja dulu ya..”
aku berdiri merapikan piring piring kotor.
“biar aku bantu yo.. Kita cuci langsung..”
tawar odie bersemangat.
“oke sobat, kita buah piring.. Tapi kamu jangan pulang dulu, malam ini kamu menginap dulu ya.. Kalau bisa kamu tinggal selama beberapa hari disini selama liburan.. Gimana?”
tanyaku penuh harap.
“oke.. Ntar aku bilang sama mama dulu, soalnya kan harus seijin mama dulu..”
odie terlihat begitu senang.
+++

“yo, tapi aku nggak bawa baju ganti…”
keluh odie sambil mengelap piring yang baru saja ia bilas.
Aku memainkan sabun cuci piring pada spons hingga berbusa banyak.
“soal baju nggak usah dipikirin die, bajuku kan masih banyak, lagian ukuran badan kita tak beda jauh, kamu bisa pake baju aku..”
aku menawari odie.
“kalau kamu nggak keberatan sih..”
“ya nggak lah die, yang penting kamu mau temani aku menginap disini ya.. Soalnya aku kesepian, mana kak faisal tak pulang pulang…”
“iya aku mau nginap disini, liburan kan satu minggu, jadi aku bisa lebih lama disini sampe hari jumat..”
jawab odie membuat aku senang sekali.
Aku membilas piring terakhir dan odie langsung menyambutnya kemudian mengelapnya hingga kering.
Setelah mencuci piring aku mengajak odie ke kamar.
“buku yang aku kasih kemarin udah dibaca semua yo?
Tanya odie ingin tau.
“belum semua die, ada beberapa yang belum sempat aku baca, soalnya banyak banget..”
jawabku sambil menghenyakkan tubuh diatas kasur, kekenyangan ditambah lagi capek habis cuci piring membuat aku jadi pengen berbaring.
“yo ada film nggak?”
tanya odie sambil menyalakan televisi.
“ada die, di lemari kaset, kamu tinggal pilih aja, nggak terlalu baru sih, soalnya aku jarang nonton..”
jawabku.
Odie langsung memeriksa rak kaset, memilih milih film. Ia memperhatikan kaset kaset film itu satu persatu untuk melihat judulnya.
“wah ada film pretty woman juga ya, kebetulan aku belum nonton.. Aku udah lama penasaran kepingin nonton..”
teriak odie antusias.
“aku sendiri malah baru tau ada kaset itu didalam kamarku. Mungkin punya kak faisal, soalnya beberapa hari yang lalu ia mengajak temannya nonton disini..”
aku duduk diatas tempat tidur memperhatikan odie.
“film ini katanya bagus yo, aku putar ya..!”
“silahkan..”
odie memasukan kaset dalam video player, tak lama kemudian terpampang gambar artis barat yang aku tak tau itu siapa, tapi lumayan cantik. Dengan dandanan super menor.
“ini julia roberts yo, artis favoritku. Semua film film nya bagus, artis ini bayarannya mahal loh.. Kabarnya tarifnya per film sebesar 16 juta dollar..”
odie menjelaskan penuh semangat.
Wow.. Banyak sekali, kalau kurs rupiah sekarang 2000 rupiah per dollar, jadi bayaran dia per sekali main film 32 milyar rupiah.. Ya ampun.. Yang bener itu die.. Kayaknya nggak mungkin deh..”
aku kurang percaya. Soalnya uang sebesar itu bisa membelikan apa saja. Pegang uang satu juta saja rasanya kaya minta ampun..
“bener kok yo, aku baca sendiri di artikel majalah.. Katanya ada lagi artis yang bayarannya lebih tinggi dari itu.. Mereka bisa hidup super kaya.. Bahkan kabarnya whitney houston lebih mahal lagi, rumahnya saja di lengkapi dengan komputer, jadi kalau kita mau buka pintu tinggal perintah saja..”
odie menjelaskan dengan sabar. Aku ternganga nyaris tak percaya. Rumahku saja sudah begini membuat aku kagum, bagaimana lagi dengan rumah para bintang film itu.
“kamu tau yo… Gaun adibusana yang mereka kenakan saat anugerah piala oscar, harganya bisa buat beli rumah mewah loh.. Kehidupan para artis itu betul betul glamor, nggak akan sanggup kita mengimbangi gaya hidup mereka itu..”
aku jadi semakin tertarik dengan informasi dari odie, ternyata menjadi terkenal itu enak juga, bisa hidup super mewah. Aku jadi memikirkan orang orang yang susah, coba artis artis itu menyisihkan sebagian harta mereka. Pasti banyak orang susah yang bisa ikut menikmati kebahagiaan.
“sudah ah, ceritanya udah mulai, ntar lagi aku sambung ngobrolnya..”
ujar odie yang mulai fokus menatap ke televisi. Aku langsung turun dari tempat tidur kemudian duduk disamping odie ikut menonton. Setelah mendengarkan penjelasan odie tadi membuat aku jadi tertarik untuk melihat artis dengan bayaran 16 juta dolar itu.
Ternyata filmnya memang bagus. Ceritanya tentang seorang perempuan nakal yang diajak seorang jutawan untuk menemaninya selama dinas, tak disangka ternyata sang wanita menjadi jatuh cinta terhadap jutawan itu. Jutawan yang kelihatan agak tua, karena rambutnya berwarna kelabu dan sebagian sudah ada uban. Belakangan aku ketahui namanya richard gere.
Lama juga durasi film itu, hampir dua jam. Setelah film selesai odie nampak begitu puas, matanya berbinar saat ia dengan antusias menceritakan kembali tentang artis artis itu. Aku mendengarkan dengan tertarik. Ternyata pengetahuan odie mengenai artis artis cukup luas juga. Tak hanya sebatas artis indonesia, tapi ia juga banyak tau tentang artis luar negeri terutama artis hollywood. Tanpa bosan bosan ia bercerita tentang kehidupan glamor para artis, termasuk busananya, siapa yang merancang, bahkan ia memuji baju baju yang dalam film tadi yang dibelikan oleh jutawan itu untuk pemeran wanitanya. Kata odie, baju baju itu rancangan desainer kelas dunia dan harganya bisa setara satu buah mobil mewah.
Sebetulnya mataku mulai mengantuk, tapi aku tak tega melihat odie yang masih terus semangat mengobrol. Kak faisal mana tertarik membahas hal yang begini. Paling kalau sama kak faisal, yang ia bahas cuma ngumpul dimana, film perang, dan juga bola.. Aku sih kalau mau jujur lebih senang mengobrol sama odie.
Terasa lebih nyambung. Aku senang sekali mendapat pengetahuan baru, mengenai gaya hidup kalangan atas.aku lihat odie sepertinya jarang sekali bisa bercerita lepas seperti ini, terlihat sekali dari sikapnya yang sangat gembira saat aku bisa menjadi teman diskusi yang bisa mengimbanginya.
“kamu udah ngantuk ya yo, kalau mau tidur siang nggak apa apa.. Aku masih mau nonton, nggak apa apa kan aku putar film lain?”
tanya odie.
aku terbangun karena ada yang mengoyang goyang bahuku.
“yo.. Bangun.. Bangun yo..”
aku menggeliat malas.
“yo.. Bangun dong.. Udah jam setengah enam nih, kamu nggak mandi ya?”
aku tersentak, buru buru bangun. Dengan pandangan yang masih kabur aku menyibak selimut.
“nyenyak banget kamu tidur yo, mimpi apa emang?”
odie nyengir melihatku.
“eh odie, sori, soalnya udah lama nggak tidur siang, aku emang jarang tidur siang die…”
jawabku setelah berhasil memulihkan semua kesadaran. Aku ingat tadi aku ketiduran waktu odie sedang menonton.
“mama kamu udah pulang, tapi kak faisal nggak ada..”
jelas odie tanpa ditanya.
“udah lama mama pulang?”
tanyaku.
“sekitar jam sejam yang lalu..”
jawab odie.
“aku mandi dulu ya die, kamu pasti udah mandi ya..”
ujarku karena aku lihat odie sudah rapi, ia memakai bajuku warna oranye yang jarang aku pakai karena terlalu menyolok warnanya.
Odie sadar aku memandanginya.
“maaf aku nggak bangunin kamu soalnya kasihan lihat kamu tidur nyenyak banget jadi aku nggak tega bangunin… Aku pake baju kamu yang ini nggak apa apa kan?”
tanya odie agak kuatir.
Aku tersenyum melihat odie, kemudian menggelengkan kepala.
“pake aja die, kamu boleh pakai yang kamu sukai, nggak perlu bilang…”
jawabku sambil turun dari tempat tidur, kemudian aku masuk kamar mandi.
Setengah jam aku mandi. Saat keluar dari kamar mandi, odie sedang membaca buku. Di atas nahkas ada dua gelas teh susu.
“aku bikinin teh susu, tadi tante mega nyuruh aku bikin minum jadi sekalian aja aku bikin untuk kamu..”
odie meletakkan buku yang ia pegang keatas meja.
“makasih die, nggak perlu repot, harusnya aku yang bikinin kamu minum…”
jawabku tak enak.
Kemudian aku membuka lemari memilih baju dan celana. Aku memakai baju kaus warna putih bergambar print patung singa landmark singapura.
Setelah memakai baju, aku duduk disamping odie dan meminum teh susu yang dibikin sama odie.
“kata tante mega ia sudah ada gambaran kak faisal kemana..”
ujar odie ikut minum teh susu.
“yang benar die?”
tanyaku tak yakin.
“ia.. Tadi aku dengar pembicaraan mereka, eh kata tante mega, om sebastian sekarang nggak tinggal disini lagi ya?”
jawab odie sekaligus bertanya.
Aku terdiam, memang betul om sebastian tak lagi tinggal disini, sejak kemarin ia sudah memutuskan untuk tinggal di barak, semua ia lakukan karena ia tak mau sampai kejadian tempo hari terulang lagi. Aku masih sedikit trauma dengan kejadian itu. Mengingat aku sekarang sudah ia paksa untuk melakukan sesuatu yang tak pernah sedikitpun pernah terlintas dalam pikiranku itu. Sebetulnya aku agak kasihan juga sama om sebastian, tapi aku juga belum bisa menerima karena bagiku itu terlalu cepat. Aku sadar sekarang aku bukan rio yang sama dengan sebelum aku tinggal disini. Aku tak seperti dulu lagi. Keadaan telah beda. Mau tak mau aku harus bisa menerima kenyataan tentang diriku.
“yo keluar yok.. Masa kita berkurung dalam kamar terus dari tadi..”
ajak odie yang sepertinya bosan di kamar terus.
“kamu keluar lah dulu, ntar lagi aku nyusul, aku mau sisir rambut dulu..”
jawabku sambil berjalan menuju kaca.
Odie keluar dari kamarku. Aku menyisir rambut dan memakai sedikit pewangi. Setelah itu menyusul odie keluar.
Mama sedang menyusun meja makan. Sepertinya mama baru habis masak.
“eh sayang udah bangun ya.. Mama kira masih tidur..”
ujar mama begitu ia melihatku.
“kak faisal belum ketemu ya ma?”
tanyaku sambil duduk di kursi makan.
“nanti malam kami menjemput dia, kata temannya, faisal menginap di rumah paman rusli, adik mama kandungnya yang di ogan.”
jelas mama sambil tetap sibuk menyusun lauk pauk diatas meja.
“semoga betul informasi dari temannya itu ya ma, soalnya rio betul betul kuatir sama kak faisal, untung saja ia menginap dirumah saudara..”
jawabku dengan simpati.
“iya sayang.. Mama tak enak sama tante laras, ia betul betul marah gara gara masalah ini..”
desah mama prihatin, sepertinya mama juga menyesali karena keputusannya melarang hubungan amalia dengan kak faisal membuat kak faisal kabur dari rumah.
+++

mama telah selesai menata meja. Aku berdiri mengambil gelas untuk minum.
“tolong panggilin odie sama mamanya.. Bilang makan telah siap..”
perintah mama waktu aku sedang menuang air putih dari keran dispenser.
“oke ma..”
jawabku, setelah menghabiskan satu gelas air putih, aku menemui odie yang sedang duduk didepan teras rumah bersama kedua orangtuanya.
Tante laras menoleh melihat kedatanganku.
Aku memberanikan diri ngomong sama tante laras.
“maaf tante, di panggil mama, kata mama makanan udah siap..”
aku berdiri menunggu jawabn tante laras.
“iya yo.. Sebentar lagi tante nyusul.. Makasih ya…”
tante laras tersenyum tipis.
Aku mengangguk, sebelumnya aku memberi kode sama odie untuk mengikutiku.
Odie mengerti, ia langsung berdiri mengikutiku ke dalam rumah.
“ada apa yo?”
tanya odie penasaran.
“betul die kalo mamamu nggak benci sama aku?”
tanyaku ragu.
“betul yo, buat apa juga aku bohong.. Mama itu memang gitu yo, dia bukan tipe yang gampang akrab sama orang, tapi kamu tenang aja, tadi kami ngobrol, dan aku banyak cerita tentang kamu, aku muji muji kamu depan mama..”
ujar odie penuh semangat. Dasar odie, entah apa yang ia ceritakan sama tante laras, aku jadi malu, odie memang betul betul anak yang baik. Ia selalu berusaha untuk membuat aku merasa senang. Aku semakin mensyukuri bisa mengenal odie.
“tadi juga aku udah minta izin sama mama untuk menginap disini beberapa hari, mama mengizinkan asal aku bisa bawa diri.. Gitu kata mama.!”
odie menarik kursi makan lalu duduk mengambil posisi di sampingku.
“betul die? Wah senang banget dengarnya.. Asik..!”
aku nyaris bersorak saking senangnya membayangkan beberapa hari ke depan punya teman yang selalu ada bersamaku dirumah.
“ada apa sayang kok kayaknya kamu gembira sekali?”
tanya mama yang baru keluar dari dapur masak.
“odie mau nginap disini sampe hari jumat nanti ma..!”
aku memberitahu mama dengan gembira.
Mama tersenyum lebar.
“benar die? Kamu mau menemani rio menginap disini, emangnya mama kamu ngasih?”
mama terdengar ikut senang.
“iya tante.. Kata mama boleh.!”
jawab odie riang.
“syukurlah.. Kamu memang belum pernah menginap disini.. Untung kamu ada teman ya, padahal selama ini ada faisal tapi kamu nggak pernah mau diajak nginap..”
mama ikut duduk bersama kami.
“beda tante, kak faisal orangnya cuek, kalo rio asik.. Makanya odie jadi kerasan..”
“oh ya mama kamu mana? Kok belum kesini?”
sepertinya mama baru ingat.
“kata tante sebentar lagi dia nyusul ma..”
jawabku.
Betul saja baru saja aku bicara begitu, tante laras sama om beno memasuki ruangan makan.
“wah kak mega masak banyak ya?”
ujar tante laras sumringah, kemudian menarik kursi dan duduk tepat di depanku.

“makan yang banyak dek laras…”
mama menyendok sayur asem ke dalam mangkuk kecil.
“iya kak..”
jawab tante laras sambil mengambil nasi.
Aku diam menunggu tante laras selesai. Odie mengambil sepotong ayam goreng. Sementara om beno mengulurkan piring ke tante laras yang langsung diisi tante laras dengan nasi. Papa duduk disamping mama sedang memotong daging dengan pisau dan garpu. Tiap kali makan, belum pernah lihat papa makan nasi banyak, papa lebih banyak makan ikan atau daging. Potongan daging yang mama masak sangat besar besar. Aku jadi bingung sendiri melihat banyaknya masakan. Entah kapan mama memasaknya. Ternyata mama bisa masak juga, soalnya selama ini hanya bik tin yang memasak. Mama terlalu sibuk bekerja hingga sore terkadang pulang langsung mandi terus sholat dan kemudian tidur.
Semua makan dengan lahap. Sebetulnya masakan mama lebih enak ketimbang masakan bik tin, sayang mama nggak bisa masak setiap hari. Kami makan dalam keheningan, hanya terdengar sesekali dentingan piring yang beradu dengan sendok.
Diam diam aku memperhatikan mereka satu persatu. Wajah mama yang terlihat masih begitu lelah, aku duga mama masih memikirkan kak faisal. Papa nampak tenang, seolah tak terjadi apa apa. Tante laras makan dengan teratur, ia mengunyah makanan lama sebelum akhirnya ia menelan. Om beno sekali sekali melihat pada tante laras, cara makan om beno hampir tak beda dengan tante laras, aku menduga om beno adalah anggota ISTI. Odie makan agak lama dan teratur, pastilah odie selalu diatur tante laras, kentara sekali odie sangat menjaga sikap dimeja makan.
Aku makan cuma satu piring, karena aku tak begitu lapar, soalnya tadi bersama odie aku sudah makan.
Setelah selesai makan, aku tak beranjak dari meja makan, soalnya mama pasti akan melarang, tak sopan beranjak dulu kalau ada tamu.
Setelah semua selesai makan, barulah aku berdiri.
Mama membereskan meja makan dibantu sama tante laras. Papa mengajak om beno merokok di taman belakang rumah. Sementara aku dan odie duduk di depan kolam ikan koi depan rumah.
Sekitar jam tujuh malam, papa dan mama bersama tante laras dan om beno pergi untuk menjemput kak faisal di ogan.
Aku dan odie disuruh jaga rumah.
Setelah mereka semua pergi, aku mengajak odie masuk ke dalam sambil menunggu pulangnya mama dan papa.
Terdengar suara motor berhenti di depan pekarangan rumah. Aku langsung beranjak dan melihat siapa yang datang.
Ternyata koko. Aku turun ke teras menghampiri koko.
“nggak jalan yo?”
tanya koko sambil melepaskan helm yang ia pakai.
“nggak, disuruh mama jaga rumah.. Dari mana ko?”
aku balik bertanya.
“dari rumah, emang sengaja mau kesini..”
jawab koko turun dari motor.
“masuk dulu yuk.. Sekalian aku kenalin sama sepupuku.”
ajakku.
“boleh..”
koko mengikutiku ke dalam rumah.
+++

“die kenalin nih koko teman aku…”
aku memperkenalkan odie dengan koko.
Odie langsung mengulurkan tangannya ke koko.
“odie..”
“koko..”
balas koko tersenyum.
“eh rio, apa bukan aku yang bilang kalo wajah kalian berdua kok agak mirip ya?”
ujar odie heran.
Koko tertawa seolah terbiasa dengan orang orang yang sudah terlampau sering bilang kami berdua mirip.
“iya die, banyak yang bilang gitu.. Hehehe”
“kalian berdua mirip kakak adik.. Kalau ada yang bilang kalian berdua saudara kandung, nggak bakalan ada yang nggak percaya..”
tambah odie kurang puas.
“iya.. Iya die, aku tau.. Nggak usah terlalu heran lah, wajar aja wajah orang mirip, manusia ada milyaran didunia, jadi pasti ada beberapa yang mirip.. Nggak aneh kan..”
jawabku bosan.
Odie terdiam, tapi dari gerak geriknya ia kurang puas.
“oh ya hampir lupa.. Ya ampun.. Tunggu sebentar yo, ada yang ketinggalan di motor..!”
seru koko teringat sesuatu. Bergegas ia bangkit kemudian keluar dengan buru buru. Tak lama kemudian ia kembali masuk dengan menenteng bungkusan.
“titipan mama.. Dia masak soto babat, dia nyuruh bawain untuk kamu..”
koko mengulurkan bungkusan itu padaku.
“makasih ko, nggak usah repot repot bilang sama mamamu, aku jadi nggak enak ko..!”
aku mengambil bungkusan dari tangan koko. Aku memang betul betul tak enak hati, mama koko sudah begitu baik, ia tak harus begitu cuma karena aku mirip sama anaknya yang sudah meninggal.
“melarang mama melakukan sesuatu yang membuatnya bahagia aku tak tega rio, mama begitu bersemangat setelah mengenal kamu, tak pernah lagi dia menyinggung tentang almarhum, biasanya mama sering terkenang sama almarhum kak johan, tapi sejak kehadiranmu, mamaku sudah lebih tenang, baru akhir akhir ini aku melihat mama begitu bahagia yo, biarkan saja mama begitu.. Kamu juga nggak keberatan kan?”
tanya koko.
“kalo aku sih nggak keberatan, cuma nggak enak saja sama mamamu..”
“ya udah nggak usah dipikirin, yang penting tak ada yang merasa dirugikan..”
ujar koko.
Odie cuma diam mendengarkan pembicaraan aku dan koko, sepertinya odie mulai paham.
“om alvin gelisah terus, tadi tante sophie sempat marah marah, soalnya om alvin belum mau pulang ke jambi, aku heran om alvin selalu nanyain kamu terus, ya walaupun tak secara langsung, tapi ia banyak bertanya tentang kamu, seperti ingin lebih tau banyak tentang kamu yo..”
ujar koko, mendengar itu aku menjadi senang, ternyata om alvin ingin tau tentang aku, berarti om alvin tidak cuek.
“emangnya kamu yakin ko.?”
tanyaku.
“iya.. Aku nggak mengada ada, aku kenal om alvin, aku sendiri agak heran, tapi wajar lah dia bertanya, mungkin om alvin seperti mama juga, jadi tertarik karena kamu punya kemiripan dengan keluarga kami..”
jelas koko terdengar agak tak yakin.
“aku ke kamar dulu ya..”
sela odie. Aku menoleh, wajah odie agak kusut, gara gara keasyikan ngobrol sama koko aku nyaris lupa ada odie.
“ngapain ke kamar?”
tanyaku.
“ngantuk, nggak apa apa kan?”
suara odie agak lain.
“ntar aja lah die, baru aja jam setengah sembilan, emang kamu habis nyuci dan ngepel lantai ya, kok bisa capek?”
canda koko.
Odie tak tertawa, cuma tersenyum tipis. Kalau sedang begitu, ekspresi odie betul betul mirip sekali sama tante laras.
“atau kita ke kamarku aja, ngobrol disitu sambil baring baring…”
usulku.
“boleh..”
koko mengangguk setuju.
“ayo die, kita ke kamar aja… Kalian masuk dulu, aku mau menutup pintu depan, motor udah kamu kunci kan?”
tanyaku pada koko.
“udah…”
jawab koko.
Aku menutup pintu ruang tamu kemudian menyusul odie dan koko ke kamar.
Odie berbaring tengkurap diatas tempat tidur, sementara koko duduk didepan televisi menonton film the monkey king di anteve.
“Kok pada diam gitu…?”
tanyaku heran, tumben odie yang biasanya begitu ceria sekarang agak pendiam. Aku kira ia senang aku kenalin sama koko.
“die udah tidur ya?”
tanyaku pelan.
“belum..”
jawab odie masih tetap tengkurap.
“ya udahlah kalo emang udah ngantuk tidur aja.. Nggak apa apa..”
jawabku pengertian.
“iya..”
lagi lagi cuma jawaban singkat keluar dari mulut odie.
“besok om alvin ngajak makan di restoran, kamu mau ikut?”
tanya koko.
“makan di restoran? Dalam rangka apa,.. Aku sih mau aja, cuma lihat kondisi besok gimana, kalau kak faisal udah pulang, mungkin aku bisa ikut..”
aku menarik bantal lantai bergambar mobil warna biru. Kemudian baring diatas karpet disamping koko.
Koko ikut berbaring satu bantal denganku, untung saja bantal ini lumayan besar jadi kepala kami tak perlu berdempet seperti kembar siam.
“tadi kami nggak jadi jalan jalan, om alvin tiba tiba ada urusan mendadak..”
“oh ya, aku kira kalian jadi pergi..”
komentarku.
“nggak tau sih, om alvin nggak jelas, kayaknya dia mau ketemu kamu, soalnya dia bilang ada urusan setelah aku kasih tau kamu nggak bisa ikut..”
koko menolehkan kepala ke arahku.
“besok aku usahakan ikut..”
aku jadi nggak enak hati sudah mengecewakan om alvin.
Koko dirumahku hingga jam sebelas lewat, ia pamit pulang. Aku menawarinya menginap tapi ia menolak, katanya lain kali saja.
Waktu aku mengantarkan koko sampai depan teras rumah. Tiba tiba mobil papa memasuki pagar, kemudian berhenti di depan garasi.
Aku melihat mama keluar dari pintu mobil bersama tante laras dan juga kak faisal. Ternyata mereka menemukan kak faisal. Senang sekali aku melihatnya. Cepat cepat aku hampiri mereka. Koko yang masih duduk diatas motor, turun kembali. Kemudian ikut aku menghampiri kak faisal.
“belum tidur sayang?”
tanya mama.
“belum ma..”
aku memperhatikan kak faisal, ia menunduk menatap standblok seolah ada uangnya jatuh.
+++

“ayo masuk ke dalam semua..!”
suara tante laras tajam.
Seperti mengerti dengan situasi yang agak lain, koko langsung pamit pulang. Papa, mama, tante laras, om beno dan kak faisal masuk ke dalam rumah, aku menyusul setelah koko pergi.
Baru saja aku sampai depan pintu, suara tante laras memenuhi rumah.
“Apa yang kamu pikirkan fai, apa yang ada di otak kamu?”
cepat cepat aku masuk ke dalam, sepertinya kak faisal sedang di sidang.
Kak faisal duduk di ruang tengah bersama papa mama dan kedua orang tua odie. Wajah kak faisal tertunduk.
“kamu pikir dengan kabur dari rumah, kamu sudah hebat..? Hah… Kalau memang hebat nggak usah numpang dirumah orang segala..!”
tikam tante laras penuh amarah. Kak faisal tak menjawab. Terus menunduk tanpa mengatakan apa apa.
“kenapa fai, kenapa kamu lakukan ini, apa kasih sayang mama kamu anggap kurang, apa yang mama lakukan untuk kamu belum cukup…?”
tanya mama terdengar sedih.
“faisal jawab nak.. Jangan cuma menunduk seperti itu, kamu tau kamu sudah bikin susah, seisi rumah kalang kabut memikirkan kamu, apa kamu pernah berpikir sebelum bertindak?”
tanya papa dengan tenang, tak ada kemarahan dari sikap papa.
“ayo jawab fai…kok diam saja?”
desak tante laras tak sabar.
Kak faisal mendongak ragu, takut takut menatap tante laras.
“kenapa fai, kamu sudah bisu sekarang? Nggak bisa lagi ngomong?”
cetus tante laras.
“sudahlah dek, jangan terlalu menekan faisal, kasihan dia..”
mama mengusap punggung kak faisal penuh kasih sayang.
“maafkan fai tante, fai tak bermaksud menyusahkan tante, fai pergi karena ingin menenangkan pikiran…”
jawab kak faisal takut takut.
“oh begitu… Jadi seenaknya nggak pulang pulang tanpa kasih kabar terus kamu bilang cuma menenangkan pikiran… Apa kamu pikir kamu sendirian, sudah punya rumah sendiri.. Sudah mandiri, sudah punya penghasilan sendiri jadi bisa seenaknya begitu… Dimana otak kamu?”
tuding tante laras emosi.
+++

“Mama mengerti mama memang salah, mama sudah memikirkan semua.. Dan.. Mama setuju kalau kamu pacaran sama amalia, tapi dengan satu syarat..!”
aku tau mama cepat mengatakan hal itu, namun rasa sayang mama terhadap kak faisal membuat mama mengesampingkan egonya.
Kak faisal tercengang memandang mama seolah tak percaya dengan apa yang mama katakan. Namun mama tersenyum pahit, menganggukan kepala seolah ingin meyakinkan kak faisal bahwa ucapan mama tadi tak main main.
Kak tak dapat menutupi perasaan senangnya. Ia berterimakasih sama mama. Tante laras tersenyum lebar. Aku senang akhirnya masalah kak faisal bisa diselesaikan dengan baik. Semoga keadaan rumah akan lebih tenang setelah ini. Mama menyuruh kak faisal istirahat karena sudah jam duabelas dinihari. Kak faisal beranjak dan pamit pada tante dan om, aku langsung mengikuti kak faisal ke kamarnya.
“kakak dari mana aja sih.. Kok kabur gak bilang bilang kemana..!”
protesku kesal.
“kalau bilang bilang namanya bukan kabur dek!”
jawab kak faisal sambil membuka bajunya.
“ya minimal bilang sama aku kek, jadi aku bisa menemui kak faisal, aku kan kesepian..!”
“adek juga kemarin bela mama kan, bikin sebel aja..!”
gerutu kak faisal.
“habis kakak semenjak pacaran sama amalia jadi cuek sama aku..!”
“dasar manja, kakak bukan cuek, salah adek sendiri tiap kali diajak nggak mau..!”
kak faisal membela diri.
“ya udah.. Kakak istirahat aja dulu, besok kakak nggak kemana mana kan?”
aku menahan keinginan untuk melepas kangen, kasihan kak faisal pasti mau istirahat.
“nggak apa apa dek, kakak belum ngantuk kok.. Disini aja, tidur sama kakak..”
tawar kak faisal. Ia membuka lemari baju, mengambil baju kaus kemudian memakainya.
“ada odie kak, nggak enak biarin dia tidur sendirian di kamar ku, ntar mama marah..”
aku menolak dengan berat hati.
“dek…”
panggil kak faisal.
Aku yang baru saja hendak membuka pintu langsung berhenti dan berbalik.
“ada apa kak?”
aku menunggu jawaban kak faisal, sepertinya ia terlihat ragu, agak lama dia berpikir sebelum menjawab.
“nggak apa apa dek….. Selamat tidur.. Kak faisal sayang sama adek…”
kata kak faisal terdengar kaku. Aku tertegun mendengarnya. Tak pernah kak faisal berkata seperti ini sebelumnya. Ada apa dengan kak faisal..? Aku melongo sepersekian detik.
“rio juga sayang sama kakak..!”
jawabku akhirnya. Aku keluar dari kamar kak faisal dengan pikiran yang masih bingung.
Aku kembali ke kamarku. Odie sudah tertidur begitu lelap, suara dengkuran halus terdengar dari sela bibirnya yang sedikit terbuka. Tidurnya begitu tenang dengan ekspresi setengah tersenyum. Sepertinya odie sedang bermimpi indah. Aku naik keatas tempat tidur dan tidur disamping odie.
AWAL DAN AKHIR


“Ajak amalia kesini fai, mama ingin lebih mengenal dia. “
kak faisal yang sedang menonton televisi diruang tengah langsung memalingkan muka ke mama, bukan cuma kak faisal yang terkejut, tapi aku juga. Sudah dua hari kak faisal pulang, baru hari ini mama membahas kembali mengenai amalia. Kemarin sore tante laras sama om beno sudah kembali ke baturaja. Odie tinggal disini selama liburan. Om sebastian sudah tinggal di barak, tadi pagi koko telpon untuk memastikan aku jadi atau nggak ikut ia dan om alvin makan ke restauran, karena kemarin kemarin aku belum sempat.
“nanti aku tanyakan sama amalia dulu ma sempat apa nggak nya.. Soalnya amalia sibuk bantu ibunya bikin jualan..”
jelas kak faisal terdengar senang.
“cantik juga pacar kak fai..”
odie nimbrung.
“ya jelas dong.. Gue kan ganteng..”
kak faisal narsis.
“huuuu… Dasar.. Nggak boleh di puji dikit..”
sungut odie.
Kak faisal tertawa. Aku senang dengan keakraban yang mulai kembali datang dirumah ini, apalagi dengan kehadiran odie, yang penuh semangat, suka bercanda, serta perhatian. Terasa lengkap.
“rio, mau temani mama ke supermarket nggak?”
tanya mama.
“kapan ma?”
“sebentar lagi, mama besok ada arisan dirumah, takutnya kalau nggak belanja hari ini, besoknya nggak keburu..”
“rio udah ada janji ma…”
sesalku.
“janji sama siapa sayang?”
mama ingin tau.
“koko sama om nya mau mengajak aku jalan jalan..”
aku menjelaskan.
“ya udah.. Kalau memang nggak bisa nggak apa apa.. Odie kamu ajak kan?”
mama memastikan.
“tentu aja ma, dari kemarin odie udah reseh mau ikut.. Kalo nggak diajak bisa bisa ia nangis..!”
aku bercanda. Odie cemberut mendengarnya. Ia langsung memimpuk aku dengan bantal kursi. Spontan aku mengelak.
“enak aja, emangnya kamu.. Suka nangis!”
sungut odie.
“hahaha.. Bukannya kamu anak mama.. Kan anak mama biasanya manja..!”
aku mengolok odie.
“nggak lucu!”
cibir odie kesal.
“udah jangan berantem, udah pada gede masih kayak anak kecil.
.!”
tegur mama.
“iya tante, rio kan masih anak kecil, masih suka merengek minta jajan!”
canda odie sambil buru buru berlari menghindari aku yang mau memimpuknya lagi.
“faisal aja yang temani mama ya?”
rayu mama.
Kak faisal menggaruk garuk kepala.
“iya deh.. Tapi fai mau mandi dulu ma, habis itu baru fai temani mama..”
jawab kak faisal.
“oh ya fai, besok jangan lupa suruh amalia main kemari, sekalian bantu bantu mama masak..”
mama mengingatkan kak faisal.
“oke ma.. Tenang aja.. Pasti fai ajak amalia besok, mama pasti nggak tau kalo amalia itu jago sekali masak, ia juga sangat rajin ma, di jamin mama pasti suka sama dia..”
promosi kak faisal.
“sudah.. Buruan mandi sana, ntar keburu siang..!”

Setelah kak faisal dan mama pergi, aku dan odie bersiap siap, menunggu jemputan, kata koko ia akan menjemputku dirumah. Aku berganti pakaian, lebih casual namun rapi. Odie memakai bajuku juga.
“keren nggak die?”
tanyaku pada odie sambil merentangkan tangan, meminta pendapatnya mengenai baju yang aku kenakan.
“wah.. Keren banget, mirip sama bintang film..”
jawab odie serius.
“beneran die, film apa? Kamu lihat dimana?”
tanyaku penasaran. Masa sih ada bintang film yang wajahnya mirip sama aku.
“itu mirip banget sama pemain film dokumenter… Flora dan fauna.. Episode bekantan..!”
jawab odie sambil ngacir tertawa terbahak bahak.
“sialaaaaaaan…!
+++

setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya sebuah mobil sedan memasuki pekarangan rumahku. Koko turun dari mobil dan menghampiriku.
“sudah siap yo?”
“udah ko, om alvin mana?”
“dalam mobil, dia nggak mau turun.. Ayo buruan..”
“oke, yo die.. Kita jalan..!”
aku menarik tangan odie, bersama koko masuk dalam mobil, kaca sedan yang gelap membuat aku tak bisa menebak ada berapa orang dalam mobil, ternyata setelah aku masuk, cuma ada om alvin.
“rumahmu kok sepi, pada kemana yang lain, Kamu nggak pamit dulu sama orangtua kamu?”
tanya om alvin.
“nggak ada siapa siapa dirumah, papa kerja, mama sama kak faisal ke supermarket, sebentar lagi juga pulang..!”
jawabku sambil duduk.
“ya udah kita berangkat sekarang..!”
ujar om alvin.
“mama kamu nggak ikut ko?”
tanyaku.
“mama nggak sempat yo, lagi ada kerjaan..”
“rumah kamu bagus sekali yo..”
suara om alvin terdengar aneh.
“itu rumah orangtua om, kalo rumahku belum ada… Hehehe..”
jawabku diplomatis.
Om alvin tertawa sumbang, entah kenapa aku merasa om alvin seperti agak penasaran, beberapa kali ia melihat ke rumahku. Seolah ada yang ia cari.
Om alvin menyetir dengan santai, membawa aku jalan jalan mengelilingi kota. Berputar putar dulu sebelum akhirnya menentukan restauran yang ia pilih.
Kami turun dari mobil memasuki restauran yang suasananya tak terlalu ramai tapi cukup nyaman. Beberapa meja disusun dengan penuh gaya dialasi taplak kotak kotak dan lain penutup berenda. Sebuah vas dengan bunga segar menghiasi masing masing meja. Suara alunan musik yang santai membuat suasana menjadi lebih rileks.
Om alvin mengajak duduk di meja sudut paling dekat dengan jendela kaca yang dihiasi lampu berkelap kelip bagaikan bintang.
Aku suka dengan suasana dalam restoran ini. Seorang pelayan menghampiri kami dengan membawa beberapa buku menu. Om alvin mengambil buku menu dan membacanya.
“pilih saja yo mau pesan apa..”
tawar om alvin.
Aku mengangguk dan mengambil buku menu itu kemudian meneliti isinya satu persatu. Akhirnya aku memutuskan memesan daging steak tenderloin, lengkap dengan kentang, banana split dan macadamian sunset punch. Om sebastian menulis menu pada sebuah kertas di klipboard. Koko menyebutkan pesanannya, begitu juga odie. Setelah selesai menulis makanan yang kami order, om alvin memberikannya pada pelayan.
“tunggu ya pak..”
ujar pelayan itu sambil tersenyum ramah, kemudia berbalik kembali ke belakang.
Sementara menunggu, om alvin mengeluarkan rokok, kemudian menyalakannya.
“sudah pernah kesini sebelumnya yo?”
tanya om alvin sambil mengembuskan asap rokoknya.
“belum om, baru kali ini..”
jawabku sambil melihat ke sekeliling. Beberapa orang pengunjung mengisi ruangan ini, duduk dengan santai seperti kami juga.
“biasanya kalau kamu pulang sekolah, ngapain aja?”
tanya om alvin lagi.
“paling dirumah om, bikin pr dan belajar, kalau ada teman ya ikut jalan…”
jawabku apa adanya.
“betah tinggal di palembang?”
“betah om, cuma tetap lebih enak waktu di bangka dulu, lebih alami, banyak pantai..”
“om juga kangen sama bangka, lama sekali tak kesana..”
om alvin terdengar agak murung.
“rencananya setelah lulus kuliah aku mau ke bangka lagi om.
“kembali ke bangka?”
tanya om alvin heran.
“iya.. Rencananya aku mau cari kerja di bangka aja, agar bisa dekat sama emak..”
“loh bukannya kamu sudah ada mama disini, apa nggak kasihan meninggalkan dia?”
“kan ada kak faisal, lagipula aku memang tak ada niat untuk tinggal seumur hidup disini…”
jelasku.
Om alvin mengangguk.
“kapan kapan om mau mengajak kamu main ke jambi… Mau nggak?”
tanya om alvin.
“wah… Beneran nih om? Mau banget…!”
aku senang sekali, prospek akan diajak om alvin ke jambi membuat aku jadi bersemangat. Aku memang menyukai om alvin. Ia begitu baik dan berwibawa. Ia juga begitu perhatian serta kebapakan. Andaikan om alvin adalah papaku, pasti aku senang sekali.
Saat kami sedang asik mengobrol, pesanan datang, berlimpah makanan disusun diatas meja hingga terlihat agak sesak.
“dimakan yo..”
kata om alvin setelah pelayan pergi.
“makasih om.. Ayo die kita makan..”
aku mengajak odie agar ia tak canggung.
Odie mengangguk, kemudian kami makan sambil mengobrol sesekali. Om alvin banyak bertanya mengenai aku. Entah kenapa aku bagai merasa terlalu banyak yang ingin om alvin ketahui mengenai aku. Ia menanyakan dari aku kecil hingga menanyakan papa, mama dan juga kak faisal. Waktu aku cerita tentang bagaimana aku terkejut dan tak bisa menerima mama pada awal awal pertemuan dulu, dan aku yang masih tetap lebih menyayangi emak hingga sekarang, om alvin langsung batuk batuk, hingga ia harus buru buru minum segelas air putih.
+++

setelah selesai makan, om alvin mengajak ke internasional plaza, tak kusangka, ternyata om alvin membelikan aku jaket dan celana, aku sudah mencoba menolak tapi om alvin tetap memaksa.
“anggap saja itu pemberian dari seorang om kepada ponakannya..”
begitu kata om alvin.
Akhirnya aku menerima pemberian om alvin. Sepanjang perjalanan kami dalam mall ini, om alvin sering merangkul bahuku. Seolah olah ia sudah begitu dekat sejak lama denganku.
“rio, tau nggak, kamu sama om alvin mirip banget kayak ayah sama anak lelakinya.”
bisik odie pelan saat om alvin sedang membayar belanjaan di kasir.
“masa sih die?”
tanyaku senang.
“iya yo, sumpah… Kalian betul betul mirip ayah dengan anak… Lagipula aku lihat saat om alvin menatap kamu tadi seperti ada sesuatu yang aku sendiri sulit untuk mengungkapkannya.. Tapi percaya deh, aku bisa merasakan kalau om alvin menyayangi kamu yo…”
tambah odie masih berbisik.
“kalian berdua lagi bicara apa sih kok bisik bisik gitu?”
tanya koko penasaran.
“ah nggak ko, kata odie, om alvin sama aku kayak anak sama bapak..”
jelasku pada koko.
“aku sependapat sama odie..”
ujar koko setuju.
Aku tak mengatakan apa apa lagi karena om alvin sudah selesai membayar belanjaan dan sekarang sedang berjalan menuju kearah kami.
“ini yo,..”
om alvin memberikan bungkusan kepadaku.
“makasih om..”
aku mengambil plastik bungkusan berisi baju, jaket, celana dan sepatu yang tadi dibeli om alvin. Selain membelikan untukku, koko dan odie masing masing dibelikan satu buah baju.
Om alvin mengantarkan aku sampai di depan pagar.
Disaat yang bersamaan mobil mama tiba, terdengar suara klakson, mobil om alvin menutup pintu masuk dekat pagar, terpaksa om alvin masuk ke pekarangan agar mobil mama bisa masuk ke dalam pekarangan.
“om mampir dulu,”
aku menawari om alvin.
Tapi om alvin tak menjawab. Ia nampak bengong melihat mama bersama kak faisal yang baru turun dari mobil. Kak faisal membuka bagasi mobil menurunkan barang barang belanjaan mama. Sementara mama dengan keingintahuan melihat ke arah kami.
Aku membuka pintu mobil hendak turun, namun tanganku langsung di tahan oleh om alvin.
“ada apa om..?”
tanyaku heran. Wajah om alvin begitu pucat seolah habis melihat makhluk halus.
“sebentar yo, jangan turun dulu, om mau memutar mobil dulu..”
ujar om alvin kemudian dengan tergesa menginjak pedal gas, mobil langsung mundur, berbelok dekat depan beranda kemudian keluar dari pekarangan.
Mama yang tadi berjalan menghampiri mobil om alvin, langsung berhenti dengan heran, mama mungkin tak tau kalau aku yang ada dalam mobil.
“kok keluar lagi om, ada apa?”
tanya koko.
“nggak enak ko, om belum bisa mampir, mana ada mamanya rio, om harus buru buru..”
jelas om alvin semakin aneh.
“ya udah kalau memang om lagi ada urusan, lain kali kalau om main ke palembang, mampir kesini om, rio kenalin sama keluarga rio..”
aku berbasa basi.
Om alvin tak menjawab cuma mengangguk.
“iya yo.. Kapan kapan…”
suara om alvin bergetar.
Aku turun dari mobil, odie ikut turun.
“makasih ya om…”
aku tak lupa berterimakasih.
“sama sama yo…”
tanpa menunggu lebih lama om alvin langsung berlalu dari hadapanku bersama koko.
“ayo die ke dalam..”
aku membawa bungkusan yang lumayan banyak, odie membantuku membawakan beberapa bungkusan.
Mama masih berdiri di tempat tadi, setelah melihat aku dan odie, mama langsung menggeleng.
“kalian berdua rupanya, mama kira siapa tadi..”
ujar mama.
“iya ma, habis jalan jalan sama koko dan om nya..”
jawabku.
“ya udah.. Itu apa yang kamu bawa?”
selidik mama ingin tau.
“oh, ini baju dibelikan oleh omnya koko ma, odie juga dibelikan..”
aku menjelaskan.
“baik sekali om nya itu, kok nggak diajak mampir aja tadi sekalian?”
tanya mama
“om nya masih ada urusan ma, katanya kapan kapan ia mampir kemari.”
“ya sudah, tolong bantu kak faisal bawa belanjaan mama, kamu taruh dulu barang barang kamu didalam rumah, itu dalam bagasi masih banyak belanjaan mama..”
tunjuk mama ke mobil.
“iya ma.. Eh die, tolong kamu bawa semua ini ke kamar, aku mau bawa belanjaan mama dulu..”
“siap bos”
seloroh odie sambil memberi hormat selayaknya orang sedang menghormati bendera.
Aku masuk ke dalam. Kak faisal sedang minum.
“darimana aja dek?”
“jalan jalan..”
“sama koko?”
“iya kak..”
“itu apa?”
“baju sama celana, dibeliin sama om alvin..”
“huuuu enak banget kamu dek, cuma gara gara mirip sama kakaknya koko, malah dapat fasilitas dari mereka..!”
sungut kak faisal.
“ya namanya juga rejeki kak, nggak lari kemana..”
candaku sambil masuk kamar. Kak faisal ikut masuk ke kamarku.
“dek, ada yang mau kakak omongin sama adek sebetulnya, tapi ketunda terus dari kemarin..”
ujar kak faisal sambil menepuk bahuku.
Aku berbalik mengadap kak faisal.
“kakak mau ngomong apa, kayaknya penting ya?”
tanyaku.
“iya dek, odie mana?”
tanya kak faisal sambil melongok keluar kamarku.
“lagi bantuin mama, emangnya kenapa kak?”
“dek, hati hati sama odie, kakak curiga sama dia, soalnya agak aneh…”
bisik kak faisal penuh misteri.
“aneh bagaimana kak, perasaan biasa aja kok selama aku sama odie, nggak ada keanehan.?”
tanyaku heran.
“huuu adek, kalau dibilangin pasti ngeyel, masa adek nggak ngerasa tingkah odie itu rada aneh..?”
ulang kak faisal.
“biasa aja kok..”
“kakak curiga odie itu suka sama sejenis, adek harus hati hati sama dia!”
kak faisal memperingatkanku.
Aku bagai tersambar petir saking kaget mendengar penyatan kak faisal.
“kak faisal tau darimana?”
tuntutku.
“sudah lama kakak curiga sama dia, dulu waktu kakak masih kelas satu smu, ia kesini, tidur siang di kamar kakak, dan dia…. “dia mencoba untuk memegang pen** kakak waktu kakak sedang tidur siang bersamanya. Kakak waktu itu belum nyenyak, jadi bisa merasakan.. Tapi kakak tak mau membuat ia merasa malu jadi kakak cuma mengubah posisi tidur jadi tengkurap. Setelah itu kakak tak begitu mau lagi akrab sama odie…”
jelas kak faisal. Aku diam tak tau bagaimana harus menanggapi, rupanya odie sama seperti aku juga, dan kak faisal begitu anti, andai kak faisal tau mengenai aku, entah apa nanti reaksinya.
“kok diam dek, kakak cuma mau biar adek nggak terjebak, kakak merasa ia menyukai adek..”
nasehat kak faisal sok bijak.
Aku tak mau menjawab, aku tau apa yang odie rasakan kalau apa yang kak faisal katakan itu betul, seperti juga yang aku rasakan, aku dan odie sama. Betapa tersiksanya odie andai memang ia ada perasaan padaku. Tak ada yang mau di lahirkan dengan keadaan tak sempurna. Kak faisal mungkin tak akan pernah mengerti mengenai hal ini. Percuma saja aku menjelaskan.
“sudah lah kak, odie nggak pernah macam macam kok, andai pun ia memang begitu, itu hak dia..”
jawabku tak sabar.
Kak faisal agak kaget dengan reaksiku yang tak terlalu perduli.
“apa maksud adek, kakak cuma nggak mau adek terjebak.. Itu aja dek..!”
“kakak tak perlu kuatir, aku juga sama seperti kakak, bisa jaga diri.. Lagian selama ini odie tak pernah bersikap tak sopan padaku!”
bantahku tak perduli.
“kalian menyebut namaku, ada apa?”
tanya odie.
Aku dan kak faisal menoleh serempak, apakah odie mendengarkan pembicaraan kami tadi, kak faisal terlihat serba salah. Odie menghampiri kami.
“kenapa yo? Kok kamu jadi bersikap aneh, kalian lagi bicarain aku kan… Ada apa?”
desak odie penasaran.
“nggak die, kak faisal cuma bilang, tadi aku sama kamu jalan kemana aja.. Cuma itu..”
aku mencoba menutupi.
“oh.. Itu ya.. Iya kak fai, aku tadi sama rio ke mall, sama om alvin.. Kayaknya om alvin perduli banget sama rio, lagipula mereka itu mirip banget kayak anak sama bapak..”
ujar odie bersemangat.
Kak faisal terlihat lega.
“baguslah kalau begitu, ya sudah.. Kakak mau ke kamar kakak..”
jawab kak faisal.
Lalu kak faisal meninggalkan aku dan odie.
Setelah kak faisal pergi, odie naik ke tempat tidur dan berbaring.
“gila, capek juga ya… Padahal kita tadi cuma jalan jalan..”
ujar odie sambil menumpukan siku diatas bantal.
“iya die, kalo capek istirahat aja, aku juga mau tidur siang…”
aku ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring disamping odie.
“yo… Aku senang banget disini, andai bisa tiap hari sama kamu, aku pasti makin senang..”
ungkap odie tulus, aku tersenyum dan mengangguk.
“kenapa nggak minta mama kamu memindahkan kamu sekolah disini, kamu kan bisa tinggal disini, kita bisa ke sekolah bersama…”
aku mengusulkan.
“kamu nggak kenal sama mama, tak mungkin ia mau kasih ijin aku untuk pindah sekolah disini, mama tak bisa melepaskan aku dari pengawasannya. Lagi pula mama kesepian kalau nggak ada aku, adikku yang perempuan masih kecil, aku sih kepingin banget bisa terus disini..”
sesal odie.
Aku jadi terngiang dengan ucapan kak faisal tadi mengenai odie. Sebetulnya odie tampan juga, tak kalah dengan kak faisal. Odie juga begitu perhatian dan baik, dari kata kata kak faisal, membuat aku jadi mengerti, tak boleh menanam harapan kosong, karena tak akan pernah menumbuhkan buah. Jadi perasaanku terhadap kak faisal selama ini hanyalah angan angan muluk. Aku harus bisa mengenyahkannya. Kak faisal sudah punya amalia. Dan ia begitu menyukai amalia, hingga kak faisal memilih dari rumah daripada harus berpisah dengan amalia. Ku lirik odie yang matanya sudah terpejam. Ketulusan di wajahnya yang polos sangat terlihat. Aku senang tau kondisi odie yang sesungguhnya. Andai odie memang betul betul menyukaiku. Aku tak keberatan untuk menerimanya. Aku mau menjadi pacar odie. Tapi kalaupun itu cumalah sebatas kekuatiran kak faisal saja, aku akan menjaga rahasia diriku sebisa mungkin.
Aku melirik odie lagi, rupanya ia sedang memandangiku. Aku kira tadi ia sudah tidur. Waktu melihat aku memergokinya sedang memandangiku, odie cepat cepat menutup matanya. Aku tersenyum karena lucu melihat tingkah odie. Aku pun memejamkan mata. Tapi sulit sekali tertidur. Aku pun menoleh ke odie. Rupanya lagi lagi ia sedang mengamatiku dan lagi lagi cepat cepat menutup mata waktu aku melihatnya. Sambil tertawa aku timpuk odie dengan bantal.
+++

“hei.. Apa apaan..”
odie terlonjak kaget.
“pura pura tidur ya!”
tuduhku langsung. Odie nyengir malu karena ketahuan.
“kenapa die?”
tanyaku akhirnya, sambil aku berbaring menyamping lebih dekat ke odie.
Odie kelihatan gelisah waktu tubuhku terlalu dekat dengannya.
“n..ng..nggak.. Kok.. Nggak.. Kenapa napa…!”
elak odie terbata bata.
“die… Kamu udah pernah pacaran?”
tanyaku ingin tau. Odie langsung menoleh kaget.
“kok nanya gitu, kenapa emangnya?”
odie balik bertanya.
Aku jadi tak enak hati dengan reaksi odie, sepertinya ia merasa kurang nyaman dengan pertanyaanku itu.
“nggak kok die, cuma sekedar mau tau aja.. Boleh kan?”
“jujur aku belum pernah pacaran, aku belum pernah merasakan sesuatu yang lain dengan cewek, jadi aku santai aja..”
jawab odie lugas.
“dari smp belum pernah pacaran?”
“iya…”
“sama!”
“hahaha…”
odie tiba tiba tertawa.
“kenapa die?”
tanyaku heran.
“kita banyak kesamaan yo…”
“contohnya…?”"
“ya sama sama belum pernah nyoba pacaran..!”
jawab odie asal.
“dasar!”
aku menowel kening odie kesal.
“teman teman sibuk pacaran tapi aku santai aja, untuk apa maksain pacaran kalau cuma untuk pamer..”
jelas odie.
“kamu kan ganteng mustahil nggak ada cewek yang mau sama kamu…”
ujarku pelan.
“yang naksir sih banyak..”
jawab odie sombong.
“ya elah.. Sok banget!”
“nggak maksud aku, ada beberapa cewek yang ngasih sinyal, tapi aku nggak gubris soalnya aku nggak tertarik..!”
“kenapa nggak tertarik die?”
pancingku.
“ya nggak tau, pokoknya aku nggak tertarik aja, mungkin belum ketemu cewek yang pas aja..!”
jawab odie ragu.
“emangnya baju pake pas segala…”
candaku.
“nggak tau lah yo, sampai sekarang aku belum kepikiran untuk berpacaran..”
tandas odie.
“kalau sama cowok gimana?”
tembakku langsung ke intinya.
Wajah odie langsung berubah pucat pasi.

“kok nanya gitu..!”
suara odie berubah ketus.
“nggak die, jangan tersinggung, aku cuma nanya.. Apa kamu ada perasaan lain kalau melihat cowok?”
aku penasaran odie akan menjawab apa.
“nggak… Aku nggak mau jawab..!”
odie langsung berbalik memunggungiku.
“die, kamu marah ya?”
aku memegang bahu odie.
Tak ada jawaban. Odie tetap memunggungiku.
“ya udah kalau memang kamu nggak mau jawab nggak apa apa, lagian aku cuma sekedar tanya aja.. Nggak maksud apa apa, mungkin kamu memang belum siap untuk pacaran aja..”
aku mengalah tak mau lagi bertanya lebih jauh. Aku kira tadi odie mau bercerita dan lebih terbuka padaku mengenai dirinya yang lebih dalam. Tapi odie kelihatannya tak mau membaginya. Jadi buat apa aku memaksa.
Aku turun dari tempat tidur. Meninggalkan odie berbaring sendirian di kamar. Hari ini kamis, besok rencananya odie mau pulang ke baturaja dan aku tak mau memberikan kenangan jelek dihasi terakhir dia disini. Biarlah odie merasa nyaman.
Baru saja aku mau menutup pintu tiba tiba terdengar odie memanggilku.
“yo..!”
aku urung keluar kamar, aku masuk lagi ke dalam dan menutup pintu. Kemudian menghampiri odie.
Ia sudah duduk di tepi tempat tidur dan menunduk.
“ada apa die?”
tanyaku bingung.
“kamu mau kemana?”
odie bertanya sambil tetap menunduk.
“nggak kemana mana die, cuma mau ke dapur, ada apa die?”
desakku tak sabar.
“pertanyaan kamu yang terakhir tadi….”
odie menggantung kalimatnya.
“kenapa die.. Ada apa dengan pertanyaanku terakhir tadi, bukannya kamu nggak mau membahas hal itu..”
tanyaku untuk memastikan.
“yo.. Apakah kamu betul betul sahabatku..?”
tanya odie agak aneh.
“iya die.. Aku sahabatmu.. Kok masih bertanya sih?”
“seberapa jauh kamu bisa aku percaya?”
tanya odie lagi.
“tanyakan hatimu die, kamu yang bisa menentukan apa aku ini patut untuk di percaya atau tidak..”
jawabku lugas.
“aku percaya kamu yo..”
jawab odie mantap.
“makasih die, aku hargai.. Tapi kenapa kamu bertanya kayak gitu?”
aku jadi makin penasaran.
“sebetulnya aku bukan tak pernah menyukai seseorang yo..”
“lalu?”
“kamu janji tak akan marah, dan kamu juga janji tak akan menganggapku tak waras?”
odie mendongak menatap wajahku. Aku baru menyadari ada dua bulir air mata mengalir dari bola mata odie yang bening.
“kamu menangis die?”
desisku kuatir.
“jangan pikirkan yo, aku memang agak sentimentil..”
lanjut odie.
“tadi kamu mau bilang apa?”
aku mengingatkan
“kamu mau tau siapa orang yang aku sukai?”
“siapa die?”
tanyaku dengan jantung berdebar debar…
“ngomong aja die, nggak usah ragu, apapun yang kamu mau katakan aku nggak masalah, kita nggak perlu ragu…”
aku meyakinkan odie.
Walaupun masih ragu, akhirnya odie bicara juga..
“aku menyukai kak faisal yo…”
pelan sekali kata katanya itu hingga aku nyaris tak mendengar.
“apa die aku kurang jelas!”
“aku menyukai kak faisal…”
ulang odie sedikit lebih keras. Sepertinya ia berat sekali untuk mengatakan hal itu. Aku tertegun sejenak tak menyangka kalau itu yang akan odie katakan, ternyata ia menyukai kak faisal. Astaga. Padahal baru saja kak faisal mengutarakan kekuatirannya mengenai odie. Apa yang kak faisal takutkan ternyata memang betul. Odie rupanya memang menyukai kak faisal, tapi kenapa kak faisal justru merasa kalau odie menyukaiku. Kepalaku mendadak pusing. Ternyata aku dan odie menyukai orang yang sama. Dan itu adalah kak faisal. Aku hampiri odie perlahan. Aku jadi kasihan sama odie, kalau memang dia mencintai kak faisal itu artinya odie menyiksa diri sendiri karena kak faisal normal dan tak akan pernah bisa membalas perasaan odie.
Aku duduk disamping odie sambil menepuk bahunya pelan.
“kamu tak berubah kan pandangan tentang aku, apa kamu jijik setelah tau aku adalah penyuka sejenis?”
tanya odie sambil menunduk.
“nggak die, santai aja.. Aku mengerti kok.. Ya sudahlah. Kamu istirahat saja dulu, aku janji tak akan katakan sama siapapun, cuma aku dan kamu yang tau.”
aku berdiri meninggalkan odie.
Ia masih memanggilku lagi tapi aku pura pura tak mendengar.
Ternyata odie menyukai kak faisal, dan dulu ia sempat meraba penis kak faisal mungkin karena ia sudah tak tahan lagi untuk menyembunyikan perasaannya itu. Kalau memang begitu adanya mau apa lagi. Aku tak bisa berbuat apa apa. Aku tak mau terburu buru menceritakan tentang keadaanku pada odie, biarlah aku menutupi dulu keadaanku. Lagipula odie suka sama kak faisal. Yang jadi pertanyaan dalam benakku sekarang sejak kapan odie menjadi gay, apakah odie pernah diperlakukan sama denganku oleh om sebastian? Aku jadi bertanya tanya.
++++

setelah pengakuan odie itu, dia sedikit lebih pendiam, tadi malam ia tidur cepat sekali, jam 8 malam udah lelap, aku masih sama kak faisal main catur di kamar kak faisal. Aku tak mengatakan apa apa sama kak faisal mengenai apa yang odie ceritakan tadi sore. Sekitar jam sebelas aku ngantuk, kak faisal masih mengajak main catur tapi mataku sudah benar benar tak mampu lagi bertahan.
Hari ini odie mau balik ke baturaja, rencananya sih om sebastian yang akan mengantarkan odie. Soalnya sejak jam sembilan om sebastian datang ke rumah, walaupun om sebastian tak lagi tinggal disini, namun kamarnya masih tetap di penuhi barang barangnya. Kata mama biarlah jangan di pindah siapa tau om sebastian mau tinggal dirumah ini lagi.
Kak faisal menjemput amalia, rencananya hari ini amalia mau menolong mama memasak untuk arisan nanti sore. Odie sedang berkemas kemas. Karena tak membawa baju, ia cuma membungkus makanan yang mama belikan untuk oleh oleh. Bajunya tempo hari dia datang ia pakai lagi.
Aku membantu odie mengikat kotak kotak berisi oleh oleh. Odie masih saja terlihat agak pendiam tak seperti biasanya. Saat kak faisal datang bersama amalia aku amati odie, ia terlihat sedikit murung, aku baru menyadari hal itu sekarang.
Kak faisal mengajak amalia langsung ke dapur, amalia berjalan dengan ragu, sepertinya ia agak canggung. Mungkin ia belum pernah melihat dapur dirumah ini sebelumnya. Walaupun dapur tapi begitu lengkap. Aku ingat waktu pertama aku masuk ke rumah ini, reaksiku nyaris mirip dengan amalia sekarang. Tinggal dirumah yang begitu bersahaja selama belasan tahun, kemudian masuk ke rumah yang lebih mirip istana tentu saja membuat aku merasa bagaikan berada antara dua dunia. Tapi itu sudah berlalu.
Aku meninggalkan odie, ia duduk di depan televisi sibuk menonton. Aku hampir tertawa sendiri bila ingat kemarin aku nyaris mengira bahwa odie akan mengatakan kalau ia menyukaiku. Rupanya aku kegeeran. Gara gara kak faisal sih! Sekarang ia malah enak enakan sama amalia. Aku justru lebih beruntung ketimbang odie, tiap hari aku bisa melihat kak faisal, bahkan tidur bersama kak faisal setiap hari kalau aku mau, aku pernah diajak onani sama sama, diajak kerumah teman temannya. Kak faisal sering memelukku dan kalau tidur pun terkadang kak faisal mencium pipiku. Tapi odie, kak faisal tak mau terlalu dekat dengannya. Apa karena cara pendekatan odie yang terlalu memaksa. Hingga membuat kak faisal jadi jijik. Sebetulnya kasihan juga sih sama odie.
Walaupun bagaimana ia baik terhadapku. Jadi aku tak akan pernah berubah terhadapnya. Kalau ia naksir sama kak faisal itu wajar, siapa sih yang tak tertarik bila melihat kak faisal yang tinggi, tampan, hidung mancung, alis tebal, serta berkulit bersih. Belum lagi badannya yang atletis. Di sekolah begitu banyak yang menyukai kak faisal. Aku adiknya sendiri pun nyaris tak bisa menahan perasaan terhadapnya. Apalagi orang asing.
“lagi mikirin apa yo?”
aku tersentak, om sebastian sudah berdiri di sampingku dekat lorong antara ruang keluarga dengan kamarku.
“nggak om.. Nggak apa apa.!”
jawabku ketus, berusaha menghindari om sebastian.
“om mau bicara sama kamu!”
“nggak perlu!”
aku keras hati, om sebastian menarik nafas panjang karena kesal.
Tanpa aku sangka sangka ia menarik tanganku. Kemudian menggendongku sambil tangannya membekap mulutku. Aku meronta ronta, namun tak ia indahkan. Dengan cepat ia membawaku ke kamarnya. Menghempaskan aku diatas kasur kemudian ia mengunci pintu. Om sebastian memasang musik keras keras, lagu sweet child o’mine. Sehingga suaraku yang keras memprotes om sebastian agar cepat membuka pintu tak ia indahkan. Om sebastian tergesa gesa membuka bajunya. Hingga tinggal memakai celana dalam warna putih yang berbentuk sangat minim. Aku tercekat ketakutan. Om sebastian mau mengulangi lagi perbuatannya itu. Wajah om sebastian memerah seolah ia tak perduli. Aku mencoba menendang nendangnya namun om sebastian dengan sigap menangkap kakiku. Mengikatnya dengan ikat pinggang, menyimpulnya kuat kuat hingga kakiku terasa nyeri. Om sebastian menindih tubuhku dengan kasar. Bagian keras di bawah perutnya terasa menekan pahaku. Om sebastian memagut bibirku dengan liar. Aku merasa agak geli, bibir om sebastian terasa agak manis aroma tembakau dan mint. Kumis dan jenggotnya yang baru mulai tumbuh kecil kecil terasa gatal dipipiku. Aku sadar tak ada gunanya meronta dan melawan. Om sebastian sangat kuat. Aku hanya bisa pasrah. Om sebastian melucuti baju yang aku pakai hingga polos. Karena melihat aku sudah tak melawan dan meronta. Om sebastian menjadi lebih santai.
“maafkan om rio, om mencintaimu.. Kalau kamu begini kan lebih enak..!”
bisik om sebastian.
Aku diam saja. Membiarkan saja om sebastian melakukan apa yang ia ingin lakukan, aku memejamkan mata, saat om sebastian mencium sekujur dadaku hingga ke pusar. Dan saat bagian paling rahasia dari tubuhku ini terasa hangat aku nyaris mendesah. Om sebastian memainkan penisku dengan mulutnya. Aku memejamkan mata kuat kuat.

“jangan takut rio, om akan lebih lembut kali ini, om akan bikin rio merasakan enaknya melakukan ini..”
desah om sebastian sambil terus menelusuri tubuhku. Ia masih terus memain mainkan penisku dengan lembut seolah itu benda berharga yang sangat ia sayangi. Entah kenapa aku merasa mulai menikmatinya. Sekujur tubuhku menjadi hangat ada suatu perasaan yang ganjil namun nikmat. Hingga aku pun mulai memberikan reaksi untuk membalas. Om sebastian sepertinya mengerti. Kemudian ia berdiri, menurunkan celana dalamnya hingga tubuhnya yang kekar menjadi polos tanpa ada penutup apapun lagi.
Om sebastian baring disampingku, penisnya teracung keatas.
“om kalau ada yang tau gimana?”
tanyaku kuatir. Om sebastian menggeleng.
“jangan takut rio, mereka tak akan menyangka kamu ada disini.. Paling kalau ada yang ketuk pintu, nggak usah dijawab. Mereka kira om lagi mandi.”
balas om sebastian menenangkan aku.
Om sebastian mencium pipiku lembut, kemudian menjalar ke bibirku. Lalu turun ke dadaku. Om sebastian bergantian menghisap kedua putingku. Hingga membuat tubuhku kelonjotan, karena geli bercampur nikmat.
“pegang rio..”
om sebastian mengulurkan penisnya lebih dekat ke wajahku.
Aku diam, menoleh ke lain, namun om sebastian langsung menahan pipiku dengan tangan kirinya lalu mendorong hingga aku menoleh lagi.
“pegang rio, nggak apa apa kok.. Kamu jijik ya?”
tanya om sebastian. Aku menggeleng. Namun aku pegang juga walau sedikit ragu. Astaga panas sekali, tak sama seperti memegang punya sendiri. Benda itu begitu keras dan berdenyut denyut, urat uratnya bertonjolan seolah membentuk alur anak sungai bila dilihat dari peta kadaster. Pelan pelan aku mengocoknya sebatas yang aku tau. Om sebastian langsung melenguh seperti sapi kena potong. Itu membuat aku semakin semangat.
Aku seolah dirasuki setan, tak perduli lagi dengan apapun. Kenikmatan yang aku rasakan ini seperti tak pernah bisa terpuaskan. Bagai anak sungai yang terus mengalir tanpa muara. Mengikuti apa yang om sebastian arahkan. Mulai merasa lebih nyaman. Biarlah yang terjadi terjadilah. Aku sudah pasrah kalau memang harus begini jalan hidupku.
+++

aku merapikan baju, setelah mencuci tubuh di kamar mandi om sebastian. Setelah itu aku duduk diatas tempat tidur sambil menatap lantai. Om sebastian masuk kamar mandi. Terdengar guyuran air dari kamar mandi yang terbuka. Setelah itu om sebastian keluar dari kamar mandi dengan tubuh penuh titik air, rambutnya basah, om sebastian mandi. Ia meraih handuk dan mengeringkan badannya kemudian om sebastian memakai kembali semua bajunya.
“makasih rio, kamu membuat om sangat bahagia hari ini… Berjanjilah sama om kamu nggak akan pernah melakukan ini dengan siapapun selain dengan om..”
om sebastian mengecup bibirku. Aku diam saja tak menjawab. Ada rasa penyesalan setelah aku melakukan ini, tapi nasi sudah menjadi bubur. Aku telah melakukan itu, dan kenyataan itu tak bisa dirubah lagi.
“om ingin kamu menjadi milik om seutuhnya.. Om bersumpah.. Om sangat menyayangi kamu..”
lanjut om sebastian.
“iya om..”
jawabku singkat.
“kenapa kamu murung? Kamu menyesal sudah melakukannya?”
tanya om sebastian,
aku menggeleng.
“maafkan kalau om membuat kamu tak nyaman, tapi nantinya kamu juga akan terbiasa, om harap kamu bisa menyayangi om sebesar yang om rasakan terhadapmu.”
om sebastian berdiri kemudian membuka pintu.
“ingat yo, jangan sampai siapapun tau tentang masalah ini.
…”
om sebastian memperingatkan aku.
Aku mengangguk dan turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar om sebastian.
“disini rupanya.. Dari tadi aku cari cari..!”
seru odie saat melihatku keluar dari kamar om sebastian.
“kenapa nyari aku die?”
tanyaku dengan jantung sedikit berdebar, apakah odie curiga..
“nggak… Tadi mama kamu nanyain kamu dimana, aku cari dikamar nggak ada, nggak taunya ada disini..”
jelas odie.
“temani aku ke toko yuk, mama kamu nyuruh aku ke warung beli kelapa parut..”
“kamu aja ya die, aku mau mandi dulu, gerah..”
aku menolak.
“ya udah kalau gitu, aku ke warung dulu ya…”
ujar odie berlalu meninggalkan ku.
Aku ke kamarku dan mandi, aku mandi dua kali lebih lama dari biasanya. Aku menggosok gigi dua kali lebih lama dari biasanya.
Setelah berpakaian aku ke dapur melihat mama masak.
“kecapnya di tuang sedikit sedikit biar rasanya lebih meresap..!”
terdengar suara mama. Rupanya ia bersama amalia sedang menumis sayuran.
“iya tante..”
“awas jangan sampai hangus, diaduk terus…”
“iya tante..”
sikap amalia masih kentara sekali canggung. Ia mengaduk tumisan diatas kompor gas, sementara mama mengeluarkan kue dari dalam oven. Tercium aroma harum kue jahe dan kayumanis.
Perutku tiba tiba menjadi lapar.
“darimana aja sayang?”
tanya mama begitu melihat aku.
“dari kamar om sebastian ma, ngobrol sama om, soalnya lama nggak ngobrol sama dia.”
jawabku menutupi kejadian sebenarnya.
“heran mama sama om mu itu, buat apa sih pindah dari sini, mau maunya tinggal di barak, sudah enak enak disini..”
gerutu mama, sementara tangannya sibuk bekerja memindahkan kue dari dalam loyang ke wadah kaca.

“ngaduknya jangan terlalu kuat mel, nanti sayurnya hancur, itu jangan terlalu mateng, vitaminnya nggak ada lagi..”
mama mengambil spatula dari tangan amalia, kemudian mengecilkan api. Amalia terdiam. Aku menggelengkan kepala melihat kelakuan mama. Sepertinya mama mengajak amalia kesini bukan untuk minta tolong, tapi hanyalah untuk mencela kerja amalia.
“kata faisal kamu jago masak, tapi ini kok disuruh tumis sayur aja sampe layu gini..!”
ujar mama dengan tak sabar menuang tumisan itu dalam tong sampah.
“sayuran seperti ini disajikan untuk ibu ibu arisan, bisa bisa tante jadi bahan gunjingan selama berminggu minggu..”
gerutu mama kesal.
Amalia diam, wajahnya kusut, ia seperti menahan tangis. pasti ia tersinggung melihat mama membuang tumisan sayur tadi.
“maaf tante.. Saya tak.. Bermaksud..”
“sudahlah, nggak usah banyak ngomong, tolong kamu potong lagi sayuran seperti tadi, ambil wortel, labu air, lobak dan kol dalam kulkas. Potongnya jangan terlalu besar besar!”
perintah mama tak terbantah.
“baik tante”
jawab amalia kemudian buru buru membuka kulkas mengambil sayuran yang tadi mama suruh ambil.
“tante, ini kelapanya..!”
odie masuk ke dapur menaruh kelapa parut diatas meja batu.
“makasih sayang.. Kamu mau pulang jam berapa?”
tanya mama sambil membuka daging kaleng.
“kata om sebastian jam 3 tante, kalau sudah agak teduh..”
jawab odie.
“kalau begitu tolongin tante kamu blender bumbu ini..”
mama memberikan wadah beling berisi bermacam bumbu yang sudah di kupas.
“siap tante..”
jawab odie dengan mimik lucu. Mengambil bumbu itu kemudian menuang ke dalam gelas blender.
“ya ampun..! Amalia.. Kamu itu perempuan bisa kerja nggak sih, motongnya itu searah jangan miring kayak gini.. Aduh.. Ini anak, lama lama tante yang bisa miring gara gara kamu!”
keluh mama sambil mengambil pisau dari tangan amalia.
“perhatiin tante ya, gini cara motongnya…padahal tadi udah di ajari.. Emang faisal itu kalo promosi nggak sesuai dengan kualitas!”
sindir mama tanpa perasaan.
Amalia mengambil pisau satu lagi, kemudian mengikuti arahan mama. Tangannya terlihat sangat gemetaran.
Aku betul betul kasihan sekali sama dia, kemana sih kak faisal, coba ada kak faisal disini, mama tak akan bersikap begitu.
“ma rio bisa bantu apa?”
tanyaku menghampiri mama.
“sayang.. Nggak usah ngapa ngapain biar mama sama amalia aja yang ngerjain, tinggal beberapa masakan lagi juga beres..”
jawab mama sambil meletakkan pisau.
“ngirisnya yang cepet ya, kalo gitu caranya bisa bisa jam tujuh malam baru selesai..!”
“iya tante..”
jawab amalia.
Aku jadi nggak enak sama amalia, pasti ia merasa tak nyaman dengan sikap mama. Tapi amalia tetap berusaha untuk membantu walaupun tak ada satupun pekerjaan yang benar dimata mama.
“sini mel, biar aku bantu..”
ujarku sambil mengambil pisau yang tadi mama pakai. Kemudian membantu amalia mengiris sayur.
“nggak usah yo, biar aku aja yang ngerjain..”
tolak amalia.
“nggak apa apa..”
aku tak menghiraukan amalia. Aku juga bisa kalau cuma motong sayuran kayak gini.
Terdengar bunyi desingan mixer. Mama sedang mengadon kue.
“kak faisal mana mel?”
“disuruh mamamu mengambil pesanan kue bolu di toko kue..”
jawab amalia sambil tangannya terus bekerja.
“udah lama perginya?”
“paling baru setengah jam, bisa yo?”
amalia memperhatikan aku.
“bisa dong mel, dulu waktu di kampung, aku sering bantu emak ngiris sayuran juga..”
jawabku sambil tertawa. Amalia ikut tersenyum. Akhirnya selesai juga aku dan amalia mengiris kuenya.
“udang kupasnya masih ada tante?”
tanya amalia kepada mama yang sedang memasukkan mentega ke dalam adonan telur yang sudah berbusa.
“cari aja di kulkas.. Jangan bertanya terus, pake inisiatif, gimana sih kamu ini…”
lagi lagi mama membuat amalia terdiam. Namun dengan sabar amalia pergi juga membuka kulkas untuk mencari udang kupas sebagai campuran tumisan.
“mel, bumbunya yang ini ya?”
aku bertanya sambil memegang mangkuk beling berisi bumbu halus yang baru odie blender tadi.
“iya yo.. Tolong kamu nyalain apinya dan panasin kuali.. Aku mau mengiris bakso ikan ini..”
amalia meminta tolong.
“sip lah..!”
aku mengacungkan jempol sambil mengedipkan mata sama amalia.
“ma, kualinya yang gede ini ya?”
tanyaku sama mama.
“loh kok bisa kamu yang ngerjainnya.. Amalia nggak bisa ya?”
cibir mama.
“sudahlah ma, tak apa apa, kasihan amalia juga bisa capek ma, dari tadi mama marahi terus!”
aku menggeleng gelengkan kepala.
“loh siapa bilang mama marah sama dia, mama itu cuma mengajari dia saja biar kerja itu lebih cekatan.. Udah kayak tuan puteri saja, kerja lamban kayak nggak pernah masuk dapur..”
sindir mama.
Aku tau amalia mendengar, tapi ia tak mengatakan apa apa. Aku mengecilkan api kompor, kemudian menuang minyak sayur.
“ma ini udah belum?”
tanyaku.
“tambah sedikit lagi sayang.. Iya begitu.. Pinter anak mama..”
puji mama. Membuat hidungku jadi kembang kempis.
Baru saja aku mau meletakkan botol minyak sayur, tiba tiba.
PRAAAAANG..!!!
Terdengar suara benda pecah.
Aku berbalik dengan kaget. Begitu juga mama.
Amalia berdiri dengan tangan memegang mulutnya. Sementara di lantai dekat kakinya mangkuk beling tahan api ukuran besar berisi pasta spaghetti. Berhamburan tak berbentuk lagi. Wajah amalia pucat pasi.

“apa apaan ini?”
pekik mama melengking mendirikan bulu roma.
Aku menepuk kening prihatin. Amalia terdiam tak mampu berkata kata, reaksi mama sudah bisa di tebak, kaya kebakaran kutang.
“ya ampun amalia.. Mata kamu di taruh di kaki ya? Minta ampun…. Mana wajan kesayangan tante lagi yang kamu pecahin.. Aduh amalia.. Amalia… Kamu pikir itu belinya pake daun apa?”
jerit mama histeris seolah olah cincin berliannya yang di rusak oleh amalia.
“ma…maaf tante.. Saya tidak sengaja.. Saya minta.. Maaf..”
suara amalia bergetar ketakutan.
“makanya kalo kerja itu konsentrasi jangan cuma mikirin faisal aja, aduh.. Bisa gila tante kalo gini..”
hardik mama tanpa perasaan.
“sudahlah ma, amalia kan udah minta maaf, lagian dia juga nggak sengaja..!”
aku menenangkan mama. Kemudian aku berjongkok membersihkan pecahan pecahan beling. Amalia ikut berjongkok membantuku. Ia betul betul ketakutan.
“itu tante arisan, nggak ada di jual per satuan. Harus satu set, sekarang udah nggak lengkap lagi gara gara kamu terlalu ceroboh!”
tuding mama.
Amalia terkejut hingga tangannya terkena pecahan kaca dan berdarah.
“ya ampun mel, hati hati..!”
aku menjadi panik melihat banyaknya darah yang mengalir dari jari amalia.
“ada apa ma? Kenapa ribut ribut…?”
tanya kak faisal yang baru datang. Ia meletakkan tumpukan kotak berisi kue pesanan mama diatas kulkas lalu buru buru menghampiri kami.
“tuh liat sendiri kelakuan pacar kamu itu, emang nggak bisa di andalkan..!”
sungut mama sebal.
“astaga mel, tangan kamu kenapa?”
kak faisal mengangkat amalia agar berdiri. Air mata amalia berderai deras menyertai tetesan darah dari jari jarinya.
“odie jangan bengong aja! Cepat ambil obat sama plester di kotak obat.. Ayo buruan!”
bentak kak faisal karena panik.
“iya kak..”
odie yang sedari tadi bengong melihat kejadian ini langsung bergegas meninggalkan dapur untuk mengambil obat.
“aduh mel, kenapa bisa begini sih.. Kamu nggak hati hati ya?”
tanya kak faisal penuh perhatian, suaranya agak cemas.
“nggak apa apa sal, cuma luka sedikit kok..”
“sedikit kamu bilang… Udahlah nggak usah lagi bantu mama… Kamu pasti capek ya..”
ujar kak faisal sambil memperhatikan jari amalia yang masih mengeluarkan darah.
“nggak kok fai, aku udah biasa.. Tadi itu wajannya licin, jadi tergelincir waktu aku pegang..”
suara amalia tersendat seperti kena pilek.
“ya udah kamu nggak usah pikirin wajan yang pecah itu, yang penting sekarang kita mengobati luka kamu dulu,.. Aduh odie ini kemana sih, kok ngambil itu aja lama amat..!”
gerutu kak faisal.
Baru saja kak faisal ngomong gitu, odie datang.
“ini kak..”
ia memberikan sebotol obat antiseptik beserta segulung perban dan plester.
“makasih die, guntingnya mana?”
tanya kak faisal.
Tiba tiba aku mencium aroma yang agak aneh, mirip seperti masakan yang gosong.
“astaga ma, kue mama hangus!”
teriakku.
“ya ampun… Apa lagi ini.!”
pekik mama heboh kemudian dengan cepat membuka oven.
“bukannya membantu malah bikin susah!”
gerutu mama dengan suara keras.

kak faisal mengajak amalia pergi dari dapur, akhirnya aku dan odie yang membantu mama, semua lauk telah dimasak, tinggal menghias kue.
Mama mencampur adonan mentega putih dengan gula halus serta pasta warna warni.
Mengolesi kue bolu dengan lapisan krem, namun hasilnya sungguh menyedihkan. berkali kali mama merapikan olesannya tapi sepertinya krem itu bagai menguji kesabaran mama.
“mama belum pernah ya menghias kue?”
tanyaku ingin tau.
“belum, biasanya kalau ada acara bik tin yang membuat kue, kayaknya kalau liat dia, bikinnya gampang banget, coba kamu tolong mama ambil pasta pandan..”
mama meminta tolong.
“yang ini ya ma?”
aku meraih botol kecil berwarna hijau.
“iya sayang, makasih ya..”
mama mencampur lagi adonan krem dengan pasta pandan.
“aduh kalau begini, nggak bakalan beres sampai jam empat nanti..”
mama mengeluh. Tiba tiba aku ingat, waktu acara ulang tahun amalia tempo hari, aku pernah melihat kue ulang tahun yang ia hias, bagus sekali tak kalah dengan yang dijual di toko kue terkenal.
“tunggu sebentar ma…”
aku berlari.
“mau kemana?”
teriak mama.
Aku mencari amalia dan kak faisal, mereka tak ada diruang tengah, di ruang keluarga maupun diruang tamu. Aku keluar mencari mereka di teras, untunglah ada, mereka sedang ngobrol di pinggir kolam. Jari amalia sudah di obati dan di plester.
“mel, masih sakit nggak tangannya?”
tanyaku.
“nggak begitu.. Kenapa yo?”
amalia menatapku heran.
“bisa bantu dekorasi kue nggak?”
“nanti mama kamu marah?”
amalia terlihat ragu.
“nggak mel, mama lagi kesulitan sekarang. Dari tadi kami nggak bisa, udah hampir satu jam belum beres juga.”
aku mengeluh.
Amalia memandang kak faisal meminta persetujuan.
“oke kita ke dapur sekarang, agar aku temani.”
kak faisal berdiri lalu memegang tangan amalia mengajaknya ke dapur. Aku melirik tangan kak faisal. Ada rasa tak menentu dalam dadaku. Tapi aku berusaha mengabaikan.
Kami tiba di dapur, mama yang nampak stress, tangannya berlepotan krim dimana mana, di depannya teronggok kue bolu yang menyedihkan, seolah dihias oleh anak balita. Aku setengah mati menahan tawa. Amalia sampai menutup mulutnya. Kemudian kami menghampiri mama.
“itu apa ma, Kue basi ya?”
tanya kak faisal heran. Mama mendelik mendengar ucapan kak faisal, dasar kak faisal asal bicara saja, nggak tau usaha dan kerja keras mama mendekorasi kue itu.
“kue basi gundulmu ini kue untuk teman teman mama,!”
jawab mama sewot.
“astaga ma, siapa mau makan kue hancur kayak gitu..!”
kak faisal bergidik tak percaya. Seolah mama baru saja melemparkan lelucon padanya.
“AWWWW…”
Jerit kak faisal kaget karena mama menggetok kepalanya dengan siku jari.
“dasar anak tak bisa menghargai jerih payah orangtua.”
sungut mama kesal. Kak faisal mengusap usap kepalanya.
“idih mama..”
ujar kak faisal sebal. Aku tertawa terbahak bahak.
“sini biar saya bantu tante..”
amalia menawarkan diri karena kasihan melihat mama yang sudah hampir stress.
“sudahlah nanti malah tambah berantakan..!”
larang mama.
“aku udah biasa tante, kalau boleh biar aku bantu..”
amalia tak perduli dengan cibiran mama.
“betul kamu bisa?”
mama sedikit ragu. Amalia mengangguk dan tersenyum, lalu berdiri disamping mama, ia menyingkirkan adonan pasta bikinan mama, kemudian mengolah adonan baru, tangannya gesit seolah sudah terbiasa melakukan itu. Mama diam saja memperhatikan amalia.
Kak faisal tersenyum lebar melihat amalia membentuk kelopak mawar merah muda, begitu rapi dan cepat. Adonan warna putih ia olesi ke seluruh permukaan kue, lalu ia ratakan dengan pisau bergerigi, hingga membentuk alur gelombang, kemudian ia menyemprot dengan pelan adonan itu di semua sisi kue hingga membentuk renda yang mirip sekali dengan renda pada gaun pengantin. Setelah itu ia membentuk daun dengan cetakan yang agak pipih. Semua itu ia kerjakan tanpa ragu. Tak sampai setengah jam satu loyang kue bolu sudah ia sulap menjadi kue yang betul betul indah, begitu rapi. Mama terbelalak tak percaya melihat hasilnya. Amalia mengangkat kue itu dan menunjukkan sama mama.
“ada yang kurang tante, apa lagi yang harus di tambah?”
tanya amalia.
Mama seperti sulit sekali menjawab. Ia memperhatikan kue itu dan kurasa mama tak ada celah sedikitpun untuk mengkritik kue itu.
“hmmm.. Sudah.. Lumayan bagus..”
jawab mama angkuh susah payah menyembunyikan rasa terkesan melihat kue itu.
Aku menahan tawa melihat mama. Sementara kak faisal menatap amalia dengan mata berbinar bangga. Seolah ingin menunjukkan pada mama. *ini ma cewek pilihan faisal, hebat kan*
amalia menghias semua kue bolu dengan bermacam bentuk hiasan dekorasi. Tak sampai
jam tiga semua beres,
setelah selesai, kak faisal mengajak amalia pergi dari dapur.
wajah mama masih keruh, aku tau mama belum bisa menerima amalia sepenuhnya, cuma karena kak mama tak mau kak faisal kabur lagi mama mengijinkan kak faisal terus pacaran sama amalia. Jam tiga om sebastian mengantar odie pulang ke baturaja.
“kapan kapan main lah ke baturaja yo..”
teriak odie dari balik kaca mobil.
“iya die.. Pasti.. Hati hati di jalan..!”
aku membalas, om sebastian melemparkan tatapan penuh arti padaku. Aku balas tersenyum.
Begitu banyak hal yang terjadi, rumah kembali sepi.
mama sedang membereskan meja serta bersih bersih, bik tin minggu depan katanya baru kesini lagi.
Aku masuk ke dalam rumah. Membantu mama menyusun kursi kursi. Bunga bunga segar ditata dalam jambangan dengan artistik, kak faisal sudah pergi mengantar amalia pulang.
Jam empat teman teman arisan mama mulai berdatangan. Heboh sekali suasananya seperti dalam pasar.

hari berganti hari, hingga tak terasa aku sudah naik kelas dua, hubunganku dengan om sebastian berjalan lancar, aku telah berpacaran dengan om sebastian. Kami bisa menjaga hingga tak ada yang tau, mama sudah semakin lunak terhadap amalia. Hubungan antara amalia dan kak faisal sudah direstui, bahkan amalia sering main kerumah. Aku senang dengan perubahan ini, dan perasaanku terhadap kak faisal pun berangsur bisa aku atasi, itu berkat om sebastian, ia sangat baik dan perhatian terhadapku. Aku tak menyesal telah memilih om sebastian, ia benar benar menyayangiku.
aku pun sudah menulis surat pada emak, balasan dari emak sempat membuat aku meneteskan air mata, kata emak yuk yanti sudah menikah. Aku sedih tak dapat menghadiri pernikahan yuk yanti. Aku menyesal telah menunda menulis surat hingga aku tak tau tentang itu. Aku janji sama emak akan kembali lagi nantinya kalau aku sudah berhasil. Emak selalu mendoakan aku. Bagi emak aku tetaplah anaknya dan tak akan berubah hingga kapanpun. Om alvin kalau ada main ke palembang pastilah menghubungiku. Terkadang aku menginap dirumah koko kalau ada om alvin.
Odie setiap liburan pasti kemari, bahkan aku sudah pergi ke baturaja, tante laras walau tak terlalu dekat denganku namun sudah ada sedikit perubahan.
Aku sedang berkumpul bersama keluarga saat bik tin memanggilku karena ada orang yang mencariku.
Aku bertanya pada bik tin siapa yang mencariku tapi kata bik tin dia tak kenal. Dengan bertanya tanya aku pergi ke ruang tamu. Tak ada siapa siapa, kata bik tin tadi ada yang mencariku. Aku langsung ke beranda mungkin yang mencariku itu belum masuk. Tak mungkin koko, soalnya bik tin sudah kenal sama koko. Saat aku keluar, di depan teras ada yang berdiri memunggungiku. Ia sedang mengamati taman depan rumahku. Sepertinya aku tak asing dengan sosok itu. Namun aku ragu. Jantungku berdebar keras. Seperti menyadari ada yang berada di belakangnya. Sosok itu berbalik, melihatku, senyumnya terkembang, senyuman yang pernah begitu aku rindukan, mengisi setiap detik dan menit ruang dalam hatiku. Mataku langsung berkaca kaca.
“apa kabar rio…”
ia menyapaku dengan wajah berbinar binar. Lututku langsung lemas.“Ri… Rian..?”
aku mendesis nyaris tak percaya.
“iya rio, kamu pasti kaget kan… Aku memang sengaja mau bikin kejutan..”
rian tersenyum lebar, rasanya rian semakin jangkung saja lama nggak ketemu. Lututku lunglai, hampir tak mampu bergerak mendekatinya.
“kamu.. Tau… Alamat…ku…dari… Mana?”
tanyaku terpatah patah. Aku tak yakin apakah ini nyata atau sedang bermimpi.
“tak susah mencari alamatmu, aku minta sama emak..”
jawab rian sambil mendekatiku.
“aku nggak disuruh masuk ya?”
tanya rian.
“eh.. Iya.. Iya.. Silahkan masuk… Maaf..”
aku belum bisa mengatasi perasaanku. Aku ingin berteriak rasanya. Air mataku mau jatuh, tak pernah aku bermimpi akan bertemu lagi dengan rian secepat ini. Apakah rian datang untuk menagih janji, tak kusangka ia masih mengingatku. Aku fikir karena sudah hampir dua tahun ia tak lagi mengingatku.
Rian melangkah memasuki rumahku. Aku mempersilahkan dia duduk.
“rumah kamu bagaikan istana yo..”
desis rian sambil memandangi seisi ruangan tamu. Mama memang memakai jasa desainer interior untuk menata setiap ruangan dirumah ini.
“ini rumah mama yan, aku hanya sekedar anaknya..”
jawabku singkat sambil berusaha untuk menenangkan gejolak dalam hatiku.
“kamu lagi sama siapa dirumah?”
“ada papa, mama dan kak faisal..”
jawabku.
“kemana mereka?”
“lagi di taman belakang rumah, bersantai”
“kamu bagai pangeran yo, beda sekali dengan kamu yang dulu, makin cakep dan bersih..”
puji rian.
“ah biasa aja kok yan, aku masih yang dulu..”
“kalau begitu kamu masih pacarku bukan?”
tembak rian membuat jantungku nyaris berhenti.
Saat melihat rian, perasaanku haru biru, bagaikan kembali lagi kemasa lalu. Aku sekarang sudah berpacaran dengan om sebastian, aku tak tau bagaimana caranya menjelaskan kepada rian.
“yan, kita ke kamarku aja ya..”
aku mengajak rian karena aku mau membicarakan sesuatu yang agak rahasia, aku tak mau sampai ada yang mendengar karena ini begitu pribadi.
“kamarmu dimana?”
rian nampak tertarik langsung berdiri. Aku mengajaknya ke kamarku.
“wah… Rio kamu betul betul bagaikan pangeran.. Kamarmu bagus sekali.. Wow.. Ada komputer.”
seru rian sambil memegang komputerku.
“ya rian begitulah..”
jawabku apa adanya.
Rian sibuk berkeliling kamarku, melihat barang barang dalam kamar ini, wajahnya berbinar binar cerah. Seolah olah dia ikut senang dengan keadaanku.
“rian…”
aku memanggilnya, tapi rian tak mendengar karena terlalu sibuk mengagumi koleksi miniatur yang aku punya.
“rian…”
ulangku lebih keras.
Rian tersentak langsung berbalik.
“iya yo ada apa?”
tanya rian penasaran.
“dalam urusan apa kamu ke palembang?”
“kangen…”
ujar rian sekenanya.
“yang serius yan..”
desakku tak sabar.
“aku pindah kesini, sekolah disini..”
jawab rian mengagetkan aku.
Tiba tiba rian memelukku.
“rio aku kangen banget sama kamu..”
desah rian bergetar.
Aku ingin menangis mendengarnya. Tak sanggup mengatakan pada rian kalau aku sudah berpacaran.
Pelan pelan aku melepaskan diri dari rian. Ia tercengang melihatku.
“kenapa rio?”
mata rian terbeliak.
“nggak rian..”
aku menarik nafas berat.
“kamu aneh sekali..”
“aku cuma lagi capek..”
“kamu sudah ada yang punya?”
tanya rian tajam seolah memvonis.
Aku terdiam, lidahku kelu.
“aku yakin kamu pasti sudah ada yang punya, kamu selingkuh dariku.. Jujur saja rio, itu lebih baik dari pada kamu menaburkan harapan kosong untukku.”
pinta rian sambil memegang bahuku dan menatap mataku seolah ingin menguliti hatiku.
“iya rian.. Aku sudah ada yang punya…”
walaupun berat akhirnya aku bisa mengakuinya.
Rian termenung, seolah sudah siap mendengar jawabn seperti ini.
“ya sudahlah kalau memang begini adanya.. Jadi sia sia aku meminta pada orangtua untuk memindahkan aku sekolah kesini.”
rian begitu tenang suaranya pun datar. Tapi air mata bergulir jatuh di kedua pipinya.
Aku merasa bagaikan seorang penjahat yang telah merengut kebahagiaan dari hidup rian. Kenapa semua harus terjadi begini. Aku mencintai om sebastian, tapi perasaan cintaku pada rian ternyata masih ada. Kenapa kami harus bertemu disaat ini, disaat aku tak mungkin untuk menerimanya lagi. Aku tak mungkin menduakan dia.
“kalau begitu aku pamit, terimakasih rio, aku doakan kamu bahagia..”
rian berbalik kemudian berjalan cepat ke pintu.
“rian tunggu.. Aku masih..”
aku mencoba menahan rian.
“kita tetap bersahabat rio, tenang saja.. Masih ada waktu..”
jawab rian tetap berjalan tanpa menungguku.
Aku mengantar rian hingga ke depan pintu. Ia naik ke mobilnya. Ternyata dia tak sendirian. Mungkin sopir yang mengantarnya.
Aku mematung memandangi mobil rian yang menghilang di jalan raya.
Aku masuk ke kamar, mengunci pintu dan menangis sepuas puasnya. Aku betul betul bingung. Aku telah menyakiti rian, cinta pertamaku. Seseorang yang paling aku inginkan didunia ini. Maafkan aku rian, tak ada maksudku untuk membuatmu sakit hati. Andaikan waktu bisa diulang, aku ingin sekali bersama rian, hanya rian yang sangat aku inginkan.
++++

KEMATIAN KAK FAISAL
“mau kemana yo?”
tanya mama yang sedang duduk didepan televisi sambil memangku dan menyuapi makan wenny adikku yang berumur empat tahun, adikku ini sangat manja sekali, tapi ia paling dekat denganku, aku betul betul bahagia punya adik perempuan, sudah lama aku membayangkan asiknya punya adik. Dan sekarang telah menjadi kenyataan.
“bang io, ikut…”
jerit wenny sambil melompat dari pangkuan mama.
“adek, ntar aja ya ikut, sekarang abang mau kerumah sakit, mau disuntik, adek mau disuntik?”
aku menggendong adikku.

“nggak mau dicuntik… Nggak mauuuu!!”
jerit wenny ketakutan.
“cup..cup…cup.. Adek jangan nangis ya.. Ntar dibeliin cokelat, makanya nggak usah ikut abang, ntar disuntik sama dokter..”
aku membujuk wenny, mama mendelik padaku, mungkin mama sebal melihat aku hampir membuat wenny menangis, soalnya kalau sudah menangis susah diamnya. Wenny meronta mau turun dari gendonganku. Aku menurunkan wenny, ia menghambur berlari naik ke pangkuan mama.
“rio jalan dulu ma..”
aku pamit.
“hati hati nak, jangan lupa nanti malam kita kerumah amalia..”
mama mengingatkan.
“oke ma..”
aku keluar dari rumah, mengambil mobil digarasi.
Hari hari belakangan rasanya hampa, hubunganku dengan om sebastian hanya seumur jagung, ia sekarang sudah menikah, tepatnya empat tahun yang lalu, kami mengakhiri hubungan secara baik baik, aku bisa mengerti walaupun tak sepenuhnya betul betul mengerti. Aku tahu tak selamanya om sebastian harus menjalani kehidupan yang tak punya masa depan. Om sebastian sebetulnya masih tetap mau berhubungan walaupun ia sudah punya isteri, namun aku sendiri yang menolak, aku tak mau terus terusan mengganggu rumah tangganya. Sudah cukup aku melakukan dosa, jangan lagi aku menambah dengan menyakiti isterinya. Tante sukma yang sangat baik padaku. Tiap om sebastian datang bersama isterinya, aku bisa menutupi perasaanku yang sesungguhnya. Walaupun terasa berat tapi aku mampu menjalaninya hingga sejauh ini.
Biarlah yang lalu berlalu, masa depanku masih panjang terbentang,masih banyak kesempatan yang dapat aku raih, sebentar lagi kuliahku selesai, aku akan menjadi seorang sarjana, setelah itu aku akan kembali ke bangka, aku akan segera bertemu lagi dengan emak dan ayuk ayukku. Lama waktu berlalu pastilah banyak perubahan yang terjadi, yuk yanti sudah punya anak, laki laki menurut surat yang emak kirim, aku sudah tak sabar ingin menggendong ponakanku itu.
Aku sudah mengatakan pada mama tentang rencanaku pulang, mama keberatan tapi ia bisa mengerti, aku sudah dewasa, bisa memilih jalan yang menurutku paling baik, pada akhirnya semua anak akan berpisah dari orangtuanya.
Aku memarkir mobil di tempat yang teduh di bawah pohon mangga.
Rumah yang aku tuju terlihat sepi, pintunya tertutup. Aku mengetuk pintu. Tak sampai semenit pintu dibuka.
“jadi nggak?”
tanyaku sambil masuk. Ruangan ini hanya terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Memang daerah ini tempat kost kostan.
“ya jadi lah..! Aku udah nungguin dari tadi..”
jawab rian berang.
“maaf yan, tadi aku lagi ngerjain tugas, jadi nggak bisa langsung kemari.”
aku mengutarakan alasan kenapa aku bisa terlambat.
“alasan! Pasti kamu menemui seseorang ya!”
tuduh rian.
“demi allah yan, aku nggak jalan sama siapa siapa… Percaya aku yan!”
kataku memelas.
“kalau dulu aku percaya sama kamu yo, tapi saat ini rasanya sulit, kamu sudah menghianatiku sekali, tak mustahil kamu mengulanginya lagi..!”
tuduh rian tanpa perasaan.
“rian, aku sudah bersumpah, aku tak mungkin melakukan itu, aku tak pernah dengan siapapun kecuali sama om sebastian, tapi itu sudah lama berlalu..”
hampir putus asa rasanya meyakinkan rian, semua ini salahku. Rian sudah berubah. Satu tahun setelah aku mengakhiri hubunganku dengan om sebastian, aku menjalin hubungan dengan rian, dia satu kampus denganku, kalau aku mengambil jurusan ekonomi, rian mengambil jurusan hukum. Dan sekarang ia seolah menghukumku yang pernah mengecewakannya. Setiap aku berbuat salah sedikit saja, rian tak segan segan menuduhku. Ia betul betul tak bisa aku mengerti, terkadang aku merindukan saat saat dulu, ketika dia begitu baik padaku. Namun itu sepertinya mustahil. Rian selalu mengandalkan kecurigaan. Jarang sekali perbuatanku betul dimatanya. Seolah ia memilikiku sebagai pelampiasan dendam atas kesalahan yang telah aku lakukan. Aku terjepit diantara dilema. Melanjutkan hubungan tapi aku hidup dalam kecurigaan dan serba salah, memutuskan hubungan dengan rian tapi aku sudah terlanjur mencintainya. Dialah cinta pertamaku dan aku harapkan menjadi yang terakhir. Aku masih berharap, andaikan aku bisa bersabar, mungkin lama kelamaan rian akan mengerti bahwa cintaku tulus padanya. Yang jadi tanda tanya besar sekarang, sampai berapa lama aku bisa bertahan dengan hubungan yang bagai telur diujung tombak ini. Kalau cuma kemarahan dan curiga yang rian limpahkan padaku, itu bisa aku terima. Tapi tak jarang rian memukulku. Memukul dalam artian sebenarnya. Terkadang meninggalkan bekas bilur bilur dibagian yang ia pukul. Aku merasa begitu asing dengan rian yang sekarang. Ia betul betul telah berubah total. Namun anehnya setiap kali ia selesai memukulku, ia akan menangis, kemudian memeluk aku erat erat, seolah olah ingin melindungiku. Menghilangkan perasaan takut pada diriku. Seolah tak terjadi apa apa. Seolah olah orang lain yang habis menyakitiku dan ia ingin melindungiku. Beberapa kali aku mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami, namun rian tak terima, ia meratap memohon dan mengancam akan bunuh diri kalau aku sampai meninggalkan dia. Aku tau itu tak main main, rian adalah orang paling serius yang aku kenal. Ia tak pernah sekadar mengancam. Kalau ia bilang A, maka A, kalau ia bilang B maka B itulah. Rian betul betul menguras pikiranku setiap hari. Bukan ini yang aku impikan dulu ketika menerima rian sebagai teman lelakiku. Tapi yang lebih membuat aku tak habis pikir lagi. Kadang ia betul betul baik dan perhatian. Ia sangat memperhatikan aku dari hal yang paling kecil sekalipun. Ia memperhatikan aku seolah memujaku.

aku menemani rian kerumah saudaranya, dulu waktu awal pindah, ia tinggal dirumah saudaranya itu, tapi akhirnya ia memilih kost dengan alasan ingin lebih mandiri, awal waktu rian tau aku sudah punya pacar, ia begitu kecewa, ia memutuskan untuk kembali ke bangka, namun entah kenapa ia merubah pikiran, ia batal pulang dan memilih tetap di palembang.
Ia tak pernah berpacaran dengan siapapun selama yang aku tahu. Dia sekolah ditempat yang sama denganku. Persahabatan kami kembali terjalin, walaupun rian menjadi lebih pendiam, tapi perhatiannya kepadaku tak pernah kurang, om sebastian kalau ada waktu selalu menyempatkan diri untuk menjemputku. Bahkan rian sempat akrab dengan om sebastian, walaupun terkadang aku melihat dia murung kalau om sebastian memberikan perhatian padaku.
Waktu terus berjalan, aku lulus sma, kemudian masuk ke perguruan tinggi, demikian juga dengan rian, tak lama aku kuliah, om sebastian dituntut keluarga untuk menikah. Hatiku hancur sekali saat itu, rian yang selalu menghiburku.. Memberikan aku kekuatan untuk tetap tegar, tak bosan bosan ia menasehati, menghibur dan memberikan semangat. Lambat laun akupun bisa menerima keadaan. Tak lama setelah itu ia mengejutkan aku dengan keputusannya untuk kembali jadi pacarku. Aku sempat ragu karena telah mengecewakannya. Namun rian memohon agar aku bisa menerima karena ia sudah lelah berharap, menunggu saat itu datang. Aku yang sendiri merasa tak ada salahnya menerima rian lagipula aku sudah mengenal dia dari smp dulu, dia adalah orang pertama yang sempat masuk kedalam hatiku. Namun tak lama setelah aku menerimanya, rian mulai berubah, ia mulai menunjukkan egonya, mulai suka melarang aku bergaul, terlalu posesif dan over protectif, seringkali kecemburuannya yang tak beralasan ia tunjukkan dengan penuh emosi tanpa bertanya terlebih dahulu, pernah ia melihat aku jalan dengan koko, ia cemburu, saat kami berdua ia langsung menampar pipiku. Aku betul betul kaget waktu itu, tamparan pertama dari rian, aku sudah berusaha menjelaskan posisi koko bagiku, namun tak ia gubris. Ia tak mau percaya. Bahkan ia mengata ngatai aku murahan. Mata keranjang, dan lain sebagainya yang membuat kupingku jadi merah mendengarnya. Bahkan waktu aku mencoba untuk melawan waktu mencekal leherku, ia malah meninjuku. Aku tak bisa terima perbuatannya itu, aku pulang dan tak mau lagi bertemu dengannya. Tiap hari dia mencariku kerumah, hingga akhirnya dia telpon dan mengancam akan menceritakan hubungan kami dengan keluargaku. Aku yang tak ingin membuat keributan terpaksa menemuinya. Dia meminta maaf, memelukku dan berjanji tak akan pernah lagi mengulanginya. Itulah hari pertama aku dan rian melakukan hubungan badan. Tak kusangka rian betul betul bisa membuat aku terbang dengan cumbuannya. Diatas tempat tidur rian adalah teman bercinta yang asik, tak egois, ia lebih mengutamakan kepuasanku, ia betul betul tahu titik di tubuhku yang paling nikmat disentuh. Rian memperlakukan aku bagaikan seorang kekasih sejati yang memuja kekasihnya. Aku kira hari hari setelah itu akan lebih indah, ternyata aku salah.
aku dan rian tak berlama lama dirumah saudaranya, jam tiga rian mengajak pulang.
Aku dan rian berkeliling dengan mobil hingga sore.
Setelah mengantar rian kembali ke kost, aku pulang kerumah.
Aku mencari wenny dikamar mama, rupanya dia sedang tidur. Mama keluar dari kamar mandi. Rupanya mama habis mandi.
“tumben pulangnya cepet yo?”
tanya mama sambil melepaskan lilitan handuk yang menutupi rambutnya.
“iya ma, tadi temani rian kerumah saudaranya, tak lama habis itu pulang, mau jalan malas soalnya gerah!”
jelasku sambil menghampiri adik kesayanganku dan mencium keningnya pelan agar ia tak terbangun.
“ada liat faisal nggak?”
tanya mama.
“nggak ma, mungkin lagi bantu bantu dirumah amalia.”
“oh ya..mungkin..”
karena mama mau berpakaian, aku keluar dari kamar mama.
Malam ini dirumah amalia ada acara selamatan karena amalia sudah berhasil menyelesaikan kuliah dan menjadi sarjana. Kami sekeluarga diundang. Tadi mama sudah wanti wanti agar aku jangan sampai lupa datang.
Hubungan kak faisal dengan amalia memang cukup lama bertahan. Sudah enam tahun mereka berpacaran. Aku cukup salut dengan kak faisal. Dia bisa bertahan selama itu berpacaran dengan seorang gadis. Lucu kalau aku ingat dulu pernah terpikir menyukai kak faisal. Padahal setelah lama aku tinggal serumah, baru terasa hubungan kakak adik yang nyata. Aku bahkan sampai merinding membayangkan andai dulu kejadian aku sama kak faisal. Ternyata memang segala sesuatu itu tak boleh terburu buru, kadang apa yang kita pikirkan hari ini yang terbaik belum tentu yang terbaik di masa datang. Malah bisa menjadi yang terburuk yang justeru akan kita sesali, karena semakin bertambah usia, pikiran kita menjadi bertambah dewasa, segala sesuatu yang akan kita perbuat cenderung kita pikirkan. tak seperti waktu masih remaja, berbuat dulu baru berfikir.
Aku pergi ke kamar, kemudian mandi, setelah itu aku duduk diruang tamu. Baru saja aku duduk, tiba tiba handphone ku berbunyi. Suara sms masuk. Segera aku baca. Sms dari koko. Ia memberitahuku kalau om alvin dan isterinya sedang mengurus perceraian mereka. Aku balas sms itu, aku bilang sama koko kalau aku ikut prihatin. Meskipun hal itu sudah aku duga akan terjadi. Om alvin sering menghubungiku, terkadang ia curhat mengenai masalah keluarganya. Ia selalu menasehatiku agar jangan sekali kali menikah tanpa dilandasi rasa cinta. Itu akan menjadi penderitaan yang panjang. Ternyata sekarang semua terjadi. Om alvin tak berhasil mempertahankan pernikahan mereka. Ia sudah tak sanggup lagi mengarungi rumah tangga bersama tante sophie. Om alvin yang begitu kebapakan, selalu menasehatiku tentang kehidupan. Terkadang aku malah merasa om alvin lebih perhatian padaku ketimbang papa.
“assalamualaikum..”
kak faisal masuk kerumah.
“waalaikum salam..”
jawabku.
“tumben dirumah dek?”
tanya kak faisal.
“nggak juga kak, tadi udah jalan bareng rian.”
“oh ya dek, abang ingin tanyakan sesuatu sama adek..”
“mau tanya apa kak?”
tak biasanya kak faisal bersikap seperti ini. Biasanya ia langsung bicara saja tanpa bertanya.
“kita ke kamar kakak…!”
ujar kak faisal. Aku bangun mengikuti kak faisal ke kamarnya. Kak faisal menutup pintu kamar.
“ada apa kak?”
tanyaku ingin tau. Kak faisal terlihat gelisah. Ia sepertinya ragu apakah harus bicara atau tidak.
“ada apa kak, tadi katanya kakak mau ngomong..?”
ulangku.
“adek…”
“iya.. Kenapa?”
“bisa jaga rahasia nggak?”
kak faisal membuatku bingung.
“bisa kak.. Memangnya kenapa?”
aku memastikan.
“amalia dek..”
“kenapa amalia kak?”
desakku, karena kak faisal masih saja agak ragu. Apa yang ingin ia sampaikan. Ada apa dengan amalia.
“amalia hamil…”

“AMALIA HAMIL..???”
teriakku kaget. Kak faisal jadi panik langsung membekap mulutku.
“dek.. Pelan pelan dong, nanti mama dengar..”
mohon kak faisal, aku mengangguk, kak faisal melesakan tangannya dari mulutku.
“kok bisa kak?”
tanyaku tak percaya.
“itulah kenyataannya dek.. Kakak juga kaget.. Benar benar kaget, tapi semua sudah terjadi..”
kak faisal terdengar menyesal.
“kakak kukira amalia gadis baik baik..ternyata aku salah…”
ujarku belum bisa menutupi perasaan kaget mendengar berita ini. Kak faisal memang tak berpikir panjang, usianya baru 24 tahun, mungkinkah mama mengijinkan kak faisal menikah secepat itu? Lagipula ini terlalu mendadak, bisa bisa papa akan mengamuk gara gara ini. Aduh aku nggak bisa berpikir, kepalaku betul betul pusing, kak faisal selalu saja membuat masalah, apa tak pernah ia mau sekali saja memikirkan orang lain, bukan cuma egonya sendiri, sekali saja aku ingin kak faisal memakai otaknya.
Sudah banyak orangtuaku memberikan pengertian untuk kak faisal, mama pada awalnya menentang hubungan mereka, ternyata kak faisal memang tak pernah perduli akan itu semua. Aku kecewa sekali sama kak faisal.
“dek, kakak harus bagaimana?”
desak kak faisal panik.
“entahlah kak, aku bingung.. Ini betul betul gila.. Sudah berapa bulan kak?”
tanyaku gelisah.
“sebulan setengah dek.. Kakak bingung, tak bisa terlalu lama menutupi masalah ini, lama lama kandungan amalia akan membesar, dan orang akan segera menyadarinya..”
desis kak faisal takut.
“kakak sendiri bagaimana, keputusan kakak apa?”
tanyaku ingin tau.
“itu yang bikin kakak bingung, bagaimanapun juga kakak belum siap kalau harus kawin dek..”
keluh kak faisal.
“tapi kakak harus bertanggung jawab! Tak boleh lari begitu saja, perbuatan kakak sama amalia akan mencoreng muka keluarga kita kak!”
ujarku dengan nada tinggi.
“dek jangan bikin kakak tambah bingung..”
ratap kak faisal ketakutan. Aku berbalik tak perduli, aku betul betul kecewa sama kak faisal, kalau memang ia mau melakukannya kenapa tak mencari cara yang aman, menggunakan kontrasepsi atau apapun yang bisa dipakai mencegah kehamilan. Kalau sekarang semua sudah terlambat, tak akan bisa ditutupi lagi.
“dek tolong jangan pergi dulu, kakak butuh teman bicara..!”
kak faisal memohon tapi tak kuhiraukan. Aku memang sangat kecewa. Kak faisal tolol, bodoh tak punya otak.
Aku membanting pintu kamar kak faisal lalu pergi dengan marah.
“loh kenapa ini, kok pintunya dibanting gitu?”
tanya mama heran.
“nggak kenapa napa ma..”
aku berlalu begitu saja meninggalkan mama.
“rio mau kemana… Udah magrib..!”
teriak mama. Aku tak perduli terus berjalan menuju garasi, aku masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesin.
“riooo….! Mau kemana… Nanti malam kita ada acara dirumah amalia..!”
teriak mama menyusulku.
Aku membuka kaca mobil.
“mama pergi aja.. Aku nggak ikut, ada kerjaan..”
teriakku dari dalam mobil lalu tancap gas. Tak perduli lagi mama mau marah itu urusan nanti.
Aku bingung mau kemana, berputar putar ditengah kota ini makin menambah kepalaku pusing. Akhirnya aku ke matahari berjalan dari konter ke konter tanpa tujuan. Aku bingung mau beli apa. Akhirnya aku pergi ke konter celana jeans, aku membeli beberapa macam celana. Kalau lagi ada masalah aku lebih suka berbelanja. Terdengar mirip perempuan, yah aku tak perduli yang penting aku tak merugikan orang lain. Aku ingin menenangkan diri sebelum ledakan besar dirumah terjadi.
Setelah membayar semua barang yang aku beli, aku keluar dari mall, kumasukkan belanjaan dalam bagasi, kemudian aku mengemudi mobil menuju kerumah koko.
Untung saja koko nggak kemana mana.
“dari mana yo, tumben jam segini udah muncul..?”
tanya koko.
“dari jalan jalan ko..”
“ayo masuk yo, kebetulan dirumah lagi nggak ada siapa siapa.. Oh ya yo besok om alvin mau kesini, urusan perceraiannya sudah beres..”
koko menjelaskan sambil mengajakku duduk dikursi ruang tamu.
“syukurlah kalau memang sudah selesai, tapi aku kasihan juga perkawinan mereka jadi kandas seperti itu..”
ujarku prihatin.
“mama justeru senang om alvin akhirnya sadar, kalau nggak cerai om akan menderita terus..”
kata koko.
“oh ya ko kamu nggak jalan sama rini?”
“kan semalam udah, nggak enak pacaran ketemuan terus yo, cepet bosan..”
ujar koko sambil berdiri.
“loh mau kemana?”
tanyaku.
“bikinin minum dulu, tunggu sebentar, atau mau nyantai dikamar langsung aja kesitu..”
jawab koko sambil meninggalkanku.
Aku beranjak ke kamar koko. Baru saja aku rebah ke tempat tidur, handphoneku berbunyi. Nama rian berkedip di layar monokrom. Aku angkat.
“ya sayang ada apa?”
tanyaku.
“sayang lagi dimana, aku mau ngajak kamu jalan jalan, bete di kost terus, aku kangen.. Jemput aku dong.”
kata rian memelas. Ya ampun baru aku mau bersantai, kenapa sih nggak dari tadi bilang mau ngajak jalan.
“iya yan, tunggu ya.. Sekitar jam delapan aku jemput, kamu siap siap dulu.”
“oke, jangan telat lagi ya!”
rian memperingatkan.
“iya yan..”
aku menutup pembicaraan. Mengantong hp kemudian beranjak dari tempat tidur.
Baru jam tujuh masih ada waktu satu jam lagi, lumayan masih bisa bersantai dulu. Koko masuk membawa dua cangkir kopi dengan krimer.
“minum yo”
tawar koko.
“makasih ko, kayaknya aku nggak bisa lama, soalnya ada janji sama rian.”
kataku sambil mengambil secangkir kopi lalu meminumnya sedikit.
“kenapa sih rian kalau sama aku kayaknya nggak suka?”
tanya koko.
“nggak kok ko, itu cuma perasaan kamu aja..”
aku berusaha menutupi, sebetulnya rian memang tak suka sama koko karena terlalu akrab denganku, rian cemburu katanya koko ada mau padaku.

Aku tak perduli apa yang rian pikirkan tentang aku dan koko karena memang tak ada apa apa, percuma saja aku menjelaskan kalau rian tak mau dengar, cuma kalau aku lagi sama koko, aku berusaha menjaga jangan sampai rian tau.
Tepat Jam delapan aku pamit pada koko, aku mau menjemput rian, malam ini aku mau tidur di kost rian saja.
Sampai di kost, rian sudah menunggu. Tanpa berlama lama ia langsung mengunci pintu lalu naik ke mobil.
“kamu udah makan?”
tanyaku pada rian.
“belum, mau makan sama kamu.”
jawab rian.
“kalau lapar nggak perlu nunggu aku, makan aja dulu yan, nanti kamu sakit.”
nasehatku.
“aku nggak bisa yo, kalau aku belum memastikan kamu udah makan, aku nggak bisa makan.”
ujar rian.
“iya yan, makasih kamu selalu memikirkan aku..”
“aku pasti memikirkan kamu, nggak tau kamu gimana, kalau nggak aku telpon, kamu jarang telpon duluan..”
ujar rian. Aku tak tahu harus menanggapi apa, ada benarnya juga yang ia katakan. Bukan apa apa soalnya aku sering merasa tak nyaman dengannya. Ia sering curiga dan menuduh tak jelas. Sebesar apapun cintaku padanya hampir tertutupi oleh perasaan kuatir. Siapa yang betah kalau selalu dicemburui, dicurigai seperti aku tak pernah benar.
“sayang, malam ini aku tidur sama kamu ya!”
kataku pada rian.
“boleh, udah lama kita nggak sayang sayangan..”
balas rian semangat.
“aku capek yan..”
keluhku.
“oke, ntar aku pijat, emangnya habis ngapain sih kok capek, aku heran sama kamu yo, masa nggak pengen sih, atau memang kamu sudah terpuaskan oleh yang lain?”
lagi lagi rian bertanya hal yang tak aku sukai.
“nggak yan, please deh.. Jangan suka ngomong kayak gitu, aku nggak suka.”
ujarku sebal.
“habis kamu aneh, masa nggak kangen mesra mesraan sama pacar sendiri, yo kamu itu tulus nggak sih mencintaiku?”
tanya rian sambil mengganti lagu di tape mobil.
“kenapa harus bertanya lagi, aku tulus yan, betul betul tulus..”
jawabku jujur.
“kalau gitu aku mau mesra mesraan malam ini.”
paksa rian. Aku tak menjawab, terserah rian, itu memang hak dia, aku adalah pacarnya jadi aku tak bisa menolak.
Kami telah sampai di restoran. Aku memesan makanan kesukaan rian, ia makan dengan lahap, bahkan sesekali ia menyuapiku, aku berusaha menolak karena malu, ini tempat umum tapi rian cuek. Beberapa pasang mata melihat kami, aku canggung namun rian tak perduli.
“yan, nggak enak dilihat orang.”
aku berbisik.
“orang gak kasih kita makan, perduli setan dengan orang orang, emangnya mereka pikir mereka siapa?”
balas rian tak perduli.
Selesai makan aku merokok. Rian meminta satu batang. Tak biasanya rian begitu, apakah ia belum menerima kiriman dari orangtuanya di bangka. Mau menanyakannya aku takut rian tersinggung, aku pernah mencoba kasih ia uang dulu namun ia nggak mau terima, katanya ia mencintaiku bukan karena uangku, tapi karena memang mencintaiku. Aku percaya kalau masalah itu, soalnya waktu ia menyatakan suka dulu, keadaanku belum seperti ini, aku masih tinggal bersama emak yang sederhana.
Aku menghabiskan rokok lalu mengajak rian pulang.
“masuk yo..”
ajak rian sambil membuka pintu.
“makasih yan.. Gila penat banget rasanya.”
aku langsung merebahkan diri diatas kasur. Rian sangat pembersih, walaupun tak begitu besar kost ini, namun ia tata dengan rapi. Segala barang barang tersusun pada tempatnya. Tak ada kesan berantakan sedikitpun. Rian memang menyukai kebersihan dan kerapian. Aku baru tahu kalau dia rajin merawat kulit dan wajah, dulu waktu aku mengenalnya aku kagum dengan mulusnya dia, ternyata semua itu karena perawatan.
Rian baring disampingku.
“aku pijat ya, mau nggak?”
tanya rian.
“boleh kalau kamu nggak capek..”
“untuk kamu nggak ada istilah capek yo, apapun aku lakukan..”
rian beranjak mengambil body lotion. Ia membuka bajuku lalu mengoleskan lotion merata disekujur punggungku. Tangannya bergerak searah melakukan pijatan yang konstan, melemaskan otot dan urat uratku yang kaku. Nyaman sekali rasanya. Aku betul betul rileks sekarang. Lama juga rian mengurutku.
“kamu udah capek yan?”
tanyaku.
“belum yo, santai aja, aku suka kok melakukan ini, kamu nggak usah kuatir, kalo capek juga aku bisa berhenti ntar..”
jawab rian sementara tangannya meremas bahuku.
Aku terpejam karena nyaman. Sambil memijat, rian mengajakku ngobrol, banyak yang kami bahas, dia bahkan bercerita tentang papanya yang sekarang sakit keras, dirawat dirumah sakit di bangka. Sebetulnya ia mau pulang, tapi belum memungkinkan karena masih banyak tugas kuliah yang harus di kerjakan. Aku prihatin mendengar ceritanya. Pantas saja rian tak punya rokok, pasti persedian uangnya lagi tipis jadi ia harus berhemat.
“yan, kamu kalau butuh sesuatu jangan segan segan ngomong, kamu tau sendiri kan, kita itu bukan orang asing, jadi apapun yang menjadi masalahmu, itu menjadi masalahku juga..”
aku mencari kata yang tepat agar rian tak merasa tersinggung.
“iya yo makasih, aku tau kamu baik, aku nggak apa apa kok yo, tenang aja, semua masih normal aja, cuma aku sedikit kuatir mengenai papa, jantungnya mengalami pembengkakan, beliau harus di opname, kasihan mama pasti kebingungan.”
curhat rian sambil terus memijat aku.
Aku berbalik, kemudian duduk menghadap rian.
“yan, kamu betul betul menganggap aku pacar kamu kan?”
aku bertanya walaupun sudah tau jawabannya.
“kenapa kamu menanyakan itu?”
rian heran.
“kalau aku kekasih kamu, aku ingin kamu membuang ego kamu, aku tau kamu sedang ada masalah keuangan, izinkan aku untuk menunjukkan keperdulian pada orang yang aku cintai..”
aku berusaha membujuk agar rian mau menerima bantuan dariku.
rian terdiam seperti sedang berpikir. Wajahnya berubah sendu, jarang aku melihat ia seperti ini, pastilah beban yang sedang ia tanggung sekarang begitu berat.
“yo.. Terimakasih untuk tawaranmu, aku akui memang aku lagi kesulitan, keuanganku saat ini betul betul parah, sudah satu bulan lebih aku tak menerima kiriman dari mama, begitu banyak kebutuhan, adikku yang bungsu baru mau masuk kuliah butuh banyak dana, belum lagi perawatan papa, itu butuh banyak dana, aku ingin mencari pekerjaan disini…”
jawab rian sedih.
“terserah kamu yan, kalau memang ada pekerjaan silahkan kamu kerja, tapi itu belum pasti kan, kalau kamu diterima ya sukur, tapi walaupun kamu kerja, pastilah gajinya baru dibayar setelah satu bulan, nah selama menunggu itu, kamu mau makan apa?”
tanyaku simpati.
“tenang aja yo, tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan otot dan otak, mengandalkan keduanya mustahil kelaparan.”
jawab rian diplomatis.
“iya sih yan.. Tapi izinkan aku membantumu walaupun tak seberapa, aku ingin meringankan beban kamu, andai kamu tak terima, anggap saja ini pinjaman. Kalau kamu sudah ada uang baru kamu bayar, gimana?”
aku berusaha membujuk rian.
Ia diam lagi, kemudian mengangguk.
“aku pinjam yo.. Makasih ya..”
berat sekali kelihatannya rian menjawab.
Aku mengangguk tersenyum padanya.
“tenang aja sayang, nggak usah dibesar besarkan, aku ikhlas kok, aku justeru sedih kalau kamu nggak mau memakai uangku seolah kamu anti kepadaku.”
“iya yo.. Aku tau..”
“besok aku ke atm ngambil uang..”
ujarku.
“iya yo, nggak apa apa..”
rian berhenti mengurutku. Kemudian aku berbaring, rian ikut berbaring disampingku.
Rian menyenderkan pipinya di dadaku. Tangannya menggenggam tanganku.
“rio, andai kamu bisa membaca pikiranku, membuka isi hatiku, kamu akan mengerti berapa besar rasa cintaku padamu..”
desah rian menarik nafas panjang. Aku tersenyum, membelai pipi rian, menelusuri setiap lekuk wajahnya. Bibirnya, hidungnya yang mancung, alisnya yang tumbuh begitu tebal dan rapi, matanya tajam dengan bola mata yang bening dan teduh. Aku senang kalau rian lagi tenang seperti ini, seperti kembali rian yang aku kenal dulu. Walaupun sekarang kami telah sama sama dewasa. Yang berubah pada rian hanyalah rambutnya yang sekarang di potong ala ferry salim, model tintin.. Memang model ini lagi trendy. Tubuh rian lebih terbentuk dan tegap. Jambang yang tumbuh diantara kuping dan pipinya itu ikal tebal hingga perbatasan tulang rahang. Sebetulnya aku beruntung dicintai rian, begitu banyak cewek kampus yang naksir sama dia, tapi ia tak mengacuhkan sama sekali. Ia bersikap cuek, itu malah membuat sebagian besar yang tergila gila pada rian menjadi penasaran. Tapi rian tetap setia padaku. Ia tak mau berpacaran dengan yang lain, walaupun aku tak melarang ia punya pacar cewek. Bagi rian kesetiaan adalah nomor satu, pantang baginya untuk melanggar, dan diapun berharap aku bisa sepertinya. Menjaga kepercayaan yang ia berikan. Tak pernah menduakannya. Apalagi selingkuh.
Aku tak keberatan untuk setia, aku bisa melakukannya. Tapi terkadang rian suka cemburu buta, kalau ia melihat aku jalan sama seseorang terlalu akrab, ia bakalan marah besar, mengamuk bahkan tak segan memukulku. Bukan hanya aku yang ia pukul. Ia akan mencari gara gara untuk melampiaskan marahnya pada orang yang membuat ia cemburu. Makanya aku selalu berhati hati agar temanku jangan sampai terkena pukulan rian.
“rio kamu sudah tidur?”
bisik rian pelan tepat di kupingku.
Aku menggeleng sambil terpejam. Rian mencium bibirku lembut setelah itu ia tidur berbantalkan lenganku.
Subuh aku terbangun, jam di dinding menunjukkan setengah empat. Rian masih terlelap. Aku merubah posisi karena tanganku mulai pegal di tindih kepala rian. Aku menarik bantal, mengganti posisi tanganku dengan bantal. Rian mengeliat sebentar lalu tertidur lagi. Aku pandangi wajahnya lama lama. Aku betul betul mencintai rian lebih dari siapapun. Aku tak ingin kehilangannya. Aku yakin nantinya rian akan menyadari perasaanku ini, ia mau merubah sikapnya yang terkadang susah aku tebak. Aku ingin rian selalu seperti ini.

“yo bangun, sarapan dulu..”
rian membangunkanku, ia mengoyang bahuku pelan. Aku mengeliat malas dan membuka mata, sinar matahari yang menerobos lewat jendela menyilaukan hingga aku menyipit karena mataku terasa pedih.
“jam berapa sayang?”
tanyaku pada rian yang sedang duduk disampingku sambil ku duduk menyibakkan selimut.
“jam delapan yank… Cuci muka dulu sana, habis itu sarapan, aku udah belikan bubur ayam..”
rian merapikan selimut dan melipatnya.
Aku beranjak ke kamar mandi mencuci muka. Keluar dari kamar mandi aku lihat rian sedang merapikan kasur, ia menepuk bantal dan menyusunnya bertumpuk disisi atas.
“sarapan yuk.. Kamu pasti udah lapar..”
rian duduk dilantai yang dialasi karpet plastik. Ia membuka karet bungkusan bubur ayam lalu menuang ke mangkuk. Aku duduk disampingnya.
“wah.. Enak banget aroma buburnya yank, beli dimana?”
“beli sama bapak tulang bubur yang tiap pagi lewat depan rumah, ayo dimakan nanti keburu dingin.”
ujar rian memberikan mangkok itu padaku.
“makasih sayang..”
aku tersenyum pada rian dan mengambil mangkok berisi bubur ayam hangat dan kerupuk.
“kamu tidur nyenyak banget yank, emangnya mimpi apa tadi?”
tanya rian sambil menyendokkan bubur lalu memakannya.
“mimpi apa ya?.. Kayaknya aku mimpi tentang kamu deh yank, kita berdua keliling candi borobudur, rasanya bagai nyata..”
aku mengingat ingat mimpiku semalam.
“kapan ya kita bisa ke jogja sama sama.. Pengen liburan sama kamu, pasti menyenangkan sekali, sekalian berbulan madu..”
ujar rian tersenyum. Kemudian ia mengulurkan sendok berisi bubur ke mulutku. Aku bergeser mendekat lalu memakannya.
“kamu maunya kapan, aku bisa ngajak kamu ke manapun yang kamu suka..”
aku menyendokkan bubur lalu menyuapi rian.
“yo kamu tau nggak, saat saat seperti ini yang paling buat aku bahagia, andaikan aku bisa menikahi kamu yo, kapan ya itu bisa terjadi?”
tanya rian sambil terpekur. Aku mengangkat gelas berisi air putih lalu menyorongkan ke mulut rian. Ia meminumnya sedikit. Kemudian mendorongnya pelan, aku menarik gelas itu dan meminum isinya hingga tertinggal setengah.
“sabar rian, kita jalani hubungan kita ini dengan optimis, kalau kita yakin dan tetap setia, walaupun tanpa ikatan pernikahan, pasti akan bertahan lama.”
jawabku sambil menyuapi rian lagi.
“iya yo, tapi aku takut kamu berpaling, kamu kan banyak penggemar..”
imbuh rian sambil menelan bubur.
“saling percaya itu yang paling penting sayang.. Aku tak terniat sedikitpun untuk menduakan kamu, bagiku cintamu sudah melebihi apapun..”
kata kataku terputus karena rian menempelkan sendok berisi bubur ke bibirku.
“aku harap begitu, kalau sampai ada yang berani mengganggumu atau kamu selingkuh, aku tak akan pernah memaafkan, nyawapun aku pertaruhkan..”
tikam rian tajam. Aku minum lagi karena kerongkonganku rasanya tercekat.
“jangan ngomong begitu yan, aku takut..”
“kalau kamu setia tak perlu takut.. Kalau kamu takut artinya di otak kamu ada terpikir untuk selingkuh.”
ujar rian menatapku tajam.
“sudahlah yan, berhentilah bersikap seolah olah aku ini tukang selingkuh..”
“soalnya kamu sudah pernah selingkuh..”
ungkit rian.
“itu kan dulu, sekarang nggak lagi, kan udah ada kamu..”
aku mencium bibir rian agar ia diam.
“kalau merayu paling pintar.. Dasar…!”
rian memencet hidungku dengan gemas. Aku tertawa kecil.
“mandi sana! Bau tau…!”
rian ikut tertawa.
“oke aku mandi dulu, mau ikut nggak?”
candaku sambil berdiri dan ke kamar mandi.
“dengan senang hati!”
rian tertawa dan menyusulku masuk ke kamar mandi. Aku dan rian mandi bersama sama, saling menyabuni tubuh, rian menggosok sekujur tubuhku dengan spons berbusa. Kami mandi telanjang saling menyirami dan berpelukan. Ia menggelitik pinggangku, aku mengusap wajahnya dengan busa sabun. Kami bercinta dalam kamar mandi.

seharian aku bermalas malasan di kost rian, bercanda dan ngobrol hingga menjelang sore, setelah itu aku pulang.
Baru saja aku sampai dirumah, kak faisal langsung menghampiriku, seperti orang stress wajahnya.
“dek, tolong kakak mau bicara, masalah ini hanya adek yang tau, kakak bingung harus ngapain..!”
kak faisal menarik tanganku dan menyeretku ke kamarnya.
“itu urusan kakak, aku tak mau ikut campur, nikahi amalia kalau kakak memang lelaki..”
jawabku malas, aku tak mau memikirkan masalah ini, kak faisal tak boleh pengecut seperti itu. Kalau sudah ada masalah baru menyesal.
“adek ini gimana sih, nggak perduli sama kakak sedikitpun..”
kak faisal cemberut.
“lalu kakak mau aku ngapain?”
tantangku.
“dek, tau nggak dimana dukun beranak yang bisa gugurin kandungan?”
tanya kak faisal murung.
“dukun beranak? Nggak tau.. Aku belum pernah beranak!”
ujarku sewot.
“adek, kakak serius, tolong dek, pikiranku kacau, nggak tau harus gimana… Benar benar buntu..!”
ratap kak faisal. Aku menghenyakkan pantat diatas tempat tidur. Bete sekali rasanya melihat kak faisal, bukannya bertanggung jawab, malah mau cuci tangan dari masalah, mau untungnya sendiri, amalia juga sebagai perempuan tak bisa menjaga diri, setelah kejadian begini baru dia sadar bagaimanapun juga ia tetaplah seorang korban. Tak akan bisa ngapa ngapain, mama kalau tau masalah ini aku yakin akan berang, kebaikan mama selama ini telah mereka nodai dengan mengecewakan mama, kak faisal masih kuliah, andai ia mau menikah aku sangsi mama akan mengizinkan, paling juga reaksi mama tak beda jauh dengan kak faisal, aku yakin mama akan menyuruh kak faisal mengajak amalia menggugurkan kandungan setelah itu mama akan melarang hubungan mereka. Aku kenal sekali dengan mama. Dan kak faisal tak mungkin tak mengetahui itu. Makanya ia panik.

“kakak mau cari nanas muda, kata rizal ia pernah kasih ke ceweknya waktu hamil dan berhasil..”
ujar kak faisal mantap.
“kalau nggak berhasil gimana kak?”
aku tak yakin.
“coba cara lain, pokoknya adek jaga agar jangan sampai keceplosan ngomong sama siapapun, kakak lagi berusaha tak membiarkan semua menjadi parah..”
“terserah kakak kalau memang itu sudah menjadi keputusan kakak.
Timpalku datar, aku hanya bisa berharap semua berjalan lancar, kalau memang harus begitu. Semoga lain kali kak faisal mau memakai otaknya.
Pintu kamar diketuk terdengar suara bik tin.
“bang faisal, ada amalia..”
seru bik tin.
Kak faisal langsung pucat.
“aduh dek. Gimana ini.. Kenapa sih amalia harus kesini..”
kak faisal panik. Aku berusaha menenangkan kak faisal.
“kak, temui aja, kakak nggak boleh menghindar, ia kan pacar kakak, kenapa kakak harus takut, aku yakin amalia tak akan gembar gembor, dia juga pasti sedang panik sama kayak kakak.”
“tapi dek, kakak belum siap, dari kemarin ia bikin kakak gerah, ia selalu saja menuntut kakak untuk bertanggung jawab. Kakak pusing..”
keluh kak faisal, sementara itu bik tin masih terus mengetuk pintu kamar.
“iya bik.. Tunggu sebentar..!”
teriak kak faisal.
“keluarlah sekarang kak, temui amalia, bicarakan baik baik, katakan apa yang kakak inginkan. Aku yakin kalau memang amalia mencintai kakak, ia akan mengerti..”
hiburku.
“iya dek..”
kak faisal membuka pintu dengan gontai berjalan keluar dari kamar menemui amalia. Aku mengikuti kak faisal menyusulnya.
Amalia sedang duduk diruang tamu, kelihatannya ia begitu gelisah. Ia memainkan kuku jari tangannya. Wajah amalia tak ceria seperti biasanya.
“ada apa mel?”
tanya kak faisal sambil menghampiri amalia lalu duduk disamping amalia.
“aku mau bicara sal..”
amalia menatap kak faisal, kentara sekali ia menahan tangis.
“lebih baik kita bicara diluar, ayo mel..”
ajak kak faisal. Amalia berdiri. Baru saja mereka mau keluar dari ruang tamu, mama masuk, rupanya mama sudah pulang dari kerja.
“eh ada amalia, sudah lama ya?”
tanya mama tersenyum.
“barusan tante..”
jawab amalia.
“kalian mau kemana?”
“mau jalan jalan ma..”
kak faisal yang menjawab.
“kok buru buru, memangnya mau jalan kemana?”
mama heran.
“mau kerumah dosen amalia ma”
kak faisal berbohong.
“oh begitu.. Hati hati dijalan”
mama mengangguk.
“kami jalan dulu tante..”
amalia pamit.

udah seminggu lebih kak faisal tak pulang kerumah, entah dimana dia, di telpon hp nya tak aktif, kalau saja kak faisal sedang tak ada masalah mungkin aku tak akan sekuatir ini, yang aku takutkan kak faisal tak berpikir panjang malah lari. Aku tak sanggup membayangkan kalau kak faisal sampai lari lagi dari rumah. Dan kedua duanya karena masalah amalia. Dulu dia lari karena mama tak menyetujui hubungan mereka, sekarang ia lari karena amalia hamil.
Apakah kak faisal lari bersama amalia, kalau memang begitu kok keluarganya tak ada ribut ribut, paling tidak ibunya mencari amalia kesini.
Aku tak bisa menunggu aku harus cari tau.
.
“apa…! Faisal sudah seminggu lebih tak pulang?”
jerit amalia panik. Saat aku berada dirumahnya menanyakan tentang kak faisal.
“iya mel, aku kira kamu tau kemana kak faisal pergi..”
“demi allah rio, aku benar benar tak tau.. Aduh gimana ini.. Jangan jangan…”
amalia hampir menangis.
“jangan jangan.. Apa mel?”
tanyaku bingung.
“jangan jangan ia mau lari dari tanggung jawab..”
amalia langsung menutup mulutnya dengan refleks seolah menyesal telah keceplosan.
“sudah lah mel, aku udah tau semua.. Kak faisal udah cerita.”
ujarku ketus.
“kamu.. Sudah.. Tau?”
amalia terbelalak.
“iya.. Kak faisal sudah mengatakan semuanya.. Aku kecewa sama kamu mel..”
kataku sinis.
“maaf yo, aku tak mampu menolak keinginan faisal, dia yang memaksa aku melakukannya.. Dia bilang kalau terjadi apa apa dia mau menikahiku dan bertanggung jawab..”
desis amalia lirih.
“kak faisal bilang apa sama kamu waktu tau kamu hamil?”
“ia katakan mau menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan sama mama kamu..”
ujar amalia terisak.
“dia tak akan bilang sama mama mel, dia bilang sama aku dia mau gugurkan kandunganmu..”
aku katakan apa adanya. Amalia ternganga memandangku.
“apaaa… Faisal bilang gitu…?”
amalia seolah tak percaya.
“iya.. Kak faisal bilang dia sudah berunding sama kamu tentang masalah untuk menggugur kan kandunganmu itu..”
“tidak yo, aku bersumpah faisal tak sedikitpun pernah menyinggung tentang itu.. Kemarin waktu terakhir aku bertemu dia, ia mengajak aku bicara, kami membahas akan kawin lari andaikan keluargamu menentang pernikahan kami.. Itu yang faisal katakan..”
penjelasan amalia membuat kepalaku semakin sakit, keterangan amalia dan kak faisal berbeda jauh. Aku jadi bingung harus percaya yang mana. Masa kak faisal berbohong padaku. Kenapa dia lakukan itu? Kalau memang dia mau menikah dengan amalia, aku akan berusaha bicara baik baik sama mama. Andai mama tak setuju, aku akan memberikan pengertian pada mama kalau anak kandung mama adalah aku, dan itu yang paling penting. Kak faisal bisa menikah dengan siapa saja itu tak ada pengaruhnya karena faisal tak ada hubungan darah dengan mama. Jadi anaknya kak faisal bukan cucu kandung mama. Mungkin kalau aku menjelaskan begitu mama bisa terima walaupun tak sepenuhnya.
“yo tolong kamu cari faisal, aku tak sanggup kalau sampai dia lari dari tanggung jawab..!”
desak amalia makin panik.
“aku usahakan mel, kalaupun kak faisal tak ditemukan, kamu terpaksa menggugurkan saja kandunganmu itu mumpung belum terlambat.. Dan satu pesanku. Jadilah perempuan yang punya harga diri!”
aku berlalu meninggalkan amalia yang masih bengong karena kata kataku tadi.
Sampai dirumah pikiranku rasanya betul betul kalut. Hanya rian yang bisa aku andalkan untuk bercerita. Mungkin dia bisa mencarikan jalan keluar yang terbaik untuk membantu kak faisal.
Tapi reaksi rian betul betul membuat aku kaget.
“salah mereka sendiri yo, buat apa kamu harus ikutan pusing, mereka kan sudah besar, sudah lebih dewasa dari kamu, ya harusnya mereka yang menanggungnya. Sudahlah yo untuk apa mengurusi orang lain..”
ujar rian tak perduli.
“faisal itu kakakku yan, bagaimanapun juga aku tak bisa tak memikirkan masalah ini, semua menyangkut keluargaku. Aku tak bisa tenang tenang saja..”
“iya aku tau, tapi apa yang bisa kamu lakukan?”
cecar rian ingin tau.
“entahlah aku bingung..”
“kakakmu itu reputasinya cukup buruk yo, kamu aja yang nggak tau..”
“maksudmu?”
aku menatap rian tersinggung.
“siapa tak tau sama faisal, playboy yo. Banyak pacar…”
timpal rian.
“kamu kok menuduh begitu?”
aku tak terima.
“aku kenal beberapa lonte yang akan membuka matamu siapa kakakmu itu..”
ucap rian membuat ku kaget.

aku jadi bingung, darimana rian tau, rian kenal dengan lonte darimana? Selama ini ia tak pernah bilang.
“jangan curiga dulu sayang, aku memang mengenal beberapa teman kampus yang nyambi jualan diri, dan beberapa diantaranya pernah sama kak faisal. Beberapa teman tau kok, cuma aku nggak enak kasih tau kamu…”
rian tak enak hati dengan tatapanku.
“ya udah aku nggak mau tau itu.. Yang penting sekarang kak faisal ada dimana, kamu mau bantu aku nyari nggak?”
ujarku tak sabar.
“oke oke.. Kita cari faisal sekarang!”
rian meraih jaket digantungan.
.
Sudah berjam jam aku dan rian berkeliling kerumah teman temannya serta ke tempat yang memungkinkan untuk kak faisal sembunyi tapi nihil. Akhirnya kami pulang tanpa ada hasil.
“heran kemana ya faisal kok udah seminggu lebih nggak pulang?”
gerutu mama sambil menyuapi wenny.
“iya ma, nggak tau kemana ya kak faisal, udah dicariin kemana mana tapi nggak ketemu, di telpon juga nggak aktif ma..”
“dirumah temannya udah kamu coba cari?”
mama menurunkan wenny, lalu mengambil gelas dan memberikan wenny minum.
“udah ma, tapi nggak ada yang tau…”
sesalku.
“aduh kemana lagi anak satu itu, sering sekali begini, apa nggak tau kalau orangtua kuatir..”
mama mengeluh.
“sudahlah ma, kak faisal kan sudah dewasa.. Dia bisa jaga diri.”
aku menghibur mama.
“ya.. Semoga dia tak kenapa napa, mama kuatir sekali, perasaan mama tak enak, semalam mama bermimpi buruk.”
“mimpi apa ma?”
“mama mimpi faisal masuk sebuah lubang dan dia minta tolong sama mama untuk membebaskannya. Mimpi itu terasa bagai nyata.. Mama jadi kepikiran sama faisal yo..”
suara mama terdengar agak ketakutan.
“ma sudahlah kak faisal tak kenapa kenapa kok, mungkin dia lagi ingin menenangkan pikiran saja makanya ia tak pulang, bisa jadi kan dia menginap diluar kota”
aku memberikan kemungkinan.
“semoga sayang..”
mama mencoba tenang.
Tak urung mendengar cerita mama tadi, aku menjadi kuatir, benarkah kak faisal tak apa apa, tapi kenapa tak ada kabar, semoga saja tak ada apa apa dengan kak faisal.
.
Setelah dua minggu kak faisal belum juga ada kabar, seisi rumah mulai panik, mama mencoba menghubungi siapa saja yang kenal dengan kak faisal, tante laras kembali datang, om sebastian dan isterinya tante sukma, dan juga beberapa kerabat kerabat papa dan mama. Ramai sekali suasana dirumah.
“emangnya sebelum kak faisal pergi, ia tak mengatakan mau kemana yo?”
tanya odie penasaran.
“nggak die, kak faisal nggak mengatakan apa apa, bahkan ia pergi pun waktu itu sama amalia…”
“yo, ini sudah beberapa kali ia seperti ini, apa ia ada masalah dirumah?”
selidik odie curiga.
Aku terdiam, aku bingung harus menjawab apa, memang kak faisal lagi ada masalah, masalah yang sangat besar sekali. Tapi aku sudah berjanji sama kak faisal, aku tak akan mengatakan apa apa.
“nggak die, nggak ada masalah apa apa.. Mungkin kak faisal lagi kemana dan nggak mau diganggu.”
aku terpaksa berbohong. Odie sepertinya percaya dengan penjelasanku.
Aku mengajak odie bergabung dengan para kerabat.
“bener kak mega nggak ada masalah?”
“nggak dek laras, nggak ada masalah apa apa… Malah sebelum dia pergi, malamnya kami masih sempat kerumah amalia untuk selamatan karena sudah menjadi sarjana.”
mama menjelaskan.
“kalau begitu kemana ya dia..?”
tante laras jadi bingung.
“apa kita harus menunggu kabar darinya atau langsung mencari saja?”
tanya tante sukma. Aku menghindari memandang tante sukma, soalnya aku merasa tak enak bila ingat suaminya dulu adalah mantan pacarku. Om sebastian berkali kali mencuri pandang padaku, tapi aku pura pura tak perduli.
“gini aja, aku akan bikin laporan di kantorku, nanti teman temanku akan membantu untuk mencari faisal..”
usul om sebastian.
Semua melihat ke om sebastian.
“itu lebih baik dek, tolong kamu usahakan cari faisal, jangan sampai berlarut larut masalah ini, aneh juga kalau ia tak bisa dihubungi selama ini.”
timpal papa.
“dan kita juga harus bantu mencari juga..”
imbuh tante laras.
“rio dan odie akan berkeliling kerumah teman temannya untuk mencari informasi siapa teman kak faisal yang ada diluar kota yang mungkin ia datangi.”
aku menambahkan.
“iya yo, ajak odie, kalian usahakan cari keterangan dari teman temannya..”
dukung tante laras.
“assalamualaikum…”
terdengar suara dari pintu ruang tamu.
Serempak semua melihat. Ternyata amalia dan ibunya. Amalia sedang menangis. Aku terkejut, jantungku tiba tiba berdebar keras. Apakah maksud kedatangan amalia dan ibunya, mengapa amalia menangis dan ibunya terlihat begitu marah dari raut wajahnya yang cemberut.

“ada apa amalia?”
mama berdiri menghampiri amalia dan ibunya.
“mana faisal!”
tanya ibunya amalia dengan marah.
“faisal belum pulang… Ada apa bu?”
tanya mama kebingungan dengan sikap ibunya amalia.
“tak usah bohong, katakan dimana anak nyonya itu,.. Anak kurang ajar!”
semprot ibu amalia dengan nada tinggi.
Mama terpana keheranan. Dengan deg degan aku hampiri mereka.
“kak faisal memang tak ada bu, udah dua minggu ini dia tak pulang..”
aku membantu mama menjelaskan.
“anak setan itu coba coba melarikan diri ya… Saya tak terima!”
ibu amalia semakin marah.
“loh kenapa ini, ada apa bu, ayo masuk dulu…”
papa yang juga terlihat bingung langsung menyuruh amalia dan ibunya masuk.
Walaupun terlihat berat, tapi ibunya amalia menarik amalia dengan kasar masuk ke dalam rumah.
“duduk dulu bu tenang dulu, katakan ada apa masalahnya?”
papa menyuruh amalia dan ibunya duduk.
“maaf pak harlan bukan bermaksud tak sopan, saya cuma ingin meminta faisal bertanggung jawab, jangan pengecut seperti ini….”
tuntut ibu amalia tak sabar.
“ini kenapa sih, datang datang langsung marah marah?”
timpal tante laras heran, ia langsung duduk disamping mama.
“ibu tenang dulu, ceritakan dulu duduk persoalan sebenarnya, kenapa ibu mengatakan anak saya macam macam, memangnya apa yang telah dia perbuat?”
wajah mama pucat pasi seolah takut mendengar jawaban yang akan keluar dari ibu amalia.
Tiba tiba ibunya dengan kasar menarik amalia dengan satu sentakkan hingga amalia berdiri dengan terpaksa.
“ngomong!.. Cepat katakan pada keluarga terhormat ini apa yang telah faisal lakukan!”
ujar ibu amalia dengan berapi api.
Amalia menangis terisak isak menangkup kedua tangannya menutupi wajah.
“ayo ngomong!.. Anak kurang ajar!”
maki ibunya tak sabar dan menghenyakkan tubuh amalia kasar.
Amalia semakin keras terisak, aku diam gemetar menunggu amalia mengakui perbuatan kak faisal yang bagaikan bom waktu yang akan mengejutkan seisi rumah ini. Diam diam aku berdoa.
“saya.. Saya hamil..”
akhirnya keluar juga pengakuan dari amalia. Sesaat hening tak ada suara. Mama ternganga tak percaya. Begitupun dengan papa, tante laras, om beno, om sebastian, tante sukma, odie, dan yang lain lain. Lututku semakin lemas. Hanya isakan amalia yang terdengar sengau mengisi jeda yang sebentar lagi pasti segera berakhir.
“amalia kamu hamil?”
desis mama seolah tak yakin.
“kamu hamil?”
timpal papa heran.
“apa kamu bilang?”
sela tante laras.
“kamu hamil?”
ekspresi papa sulit untuk aku gambarkan.
“amalia kamu hamil, kok bisa?”
ujar om sebastian.
Hanya tante sukma yang tak berkomentar, ia hanya terdiam menatap amalia mencari kebenaran yang tergambar dimata amalia atas pengakuannya yang baru saja ia lontarkan.
“kalian dengar kan.. Amalia hamil! Anakku hamil.. Dan itu gara gara si faisal setan itu!”
maki ibu amalia kesal.
“tunggu tunggu… Faisal menghamili amalia, itu tak mungkin!”
teriak mama tak terima.
“tak mungkin dari mana,.. Nyonya mau memungkiri kenyataannya.. Kalau anak nyonya tak menghamili anak saya emangnya anak saya maryam yang bisa hamil tanpa suami.. Kalian pikir dong!”
jerit ibu amalia berang. Mama memegang dadanya, wajah mama betul betul shock, sepertinya mama belum bisa mencerna semua ini.
“ibu kita bicarakan semua dengan tenang, apa ibu yakin amalia memang hamil?”
tanya papa berusaha menetralisir suasana.
“memangnya saya goblok pak harlan, walaupun kami orang miskin, saya tau orang yang hamil atau tidak!”
ibu amalia semakin marah, bukannya menjadi lunak.
Papa terduduk lemas begitu juga dengan mama. Wajah tante laras memerah entah karena marah atau terkejut aku tak bisa menafsirkannya. Tumben tante laras tak mengatakan apa apa.
“pokoknya saya meminta pertanggung jawaban dari anak kalian faisal!.. Dia tak bisa seenaknya menghamili anak orang lalu main lari begitu saja!”
tuntut ibu amalia, suaranya serak menahan tangisan. Amalia masih berdiri menutup wajahnya tak berani melihat siapapun. Mungkin dia malu sekali.
“amalia.. Benar kamu hamil dan faisal yang menghamili kamu?”
om sebastian bertanya lagi untuk meyakinkan. Amalia tak menjawab cuma mengangguk.
“jangan cuma menangis terus mel..!”
bentak ibunya tanpa disangka sangka langsung merenggut tangan amalia lalu menampar amalia dengan keras. Amalia sampai terhempas terduduk di kursi, rambutnya acak acakan menutupi wajahnya. Ia semakin sesungukan sambil memegang pipinya yang terasa panas.
“faisal. …. Anakku apa yang kamu lakukan nak… Teganya kamu sama mama…”
raung mama histeris, lalu tubuh mama limbung dan mama rebah, untung saja om sebastian sigap menangkap mama hingga mama tak menghantam lantai.
“mamaaaaaa,….!”
terdengar jeritan dari pintu. Serempak kami semua menoleh.
“kak faisal…?”
desisku tak percaya. Sementara kak faisal menghambur berlari menghampiri mama yang merosot dilantai berbaring diatas paha om sebastian.

“mama… Maafin fai ma..”
kak faisal bersimpuh di tubuh mama yang terbaring tak sadarkan diri. Aku tak tau harus ngomong apa, tiba tiba kak faisal ditarik oleh papa dengan kasar, belum sempat aku beranjak menghampiri kak faisal, satu tinju melayang ke muka kak faisal membuat kak faisal terbanting ke lantai dengan hidung bersimbah darah. Tante laras menjerit keras karena terkejut. Om sebastian berdiri dengan refleks menahan papa yang mau memukul kak faisal lagi.
“sabar bang.. Sabar..”
“lepaskan aku dek, anak ini harus dihajar!”
maki papa geram sambil berontak melepaskan diri dari om sebastian, namun sebagai brimob yang terlatih, tenaga om sebastian tak mampu papa tandingi. Tante laras berlutut disamping kak faisal yang sedang berusaha bangun.
“ya Allah faisal… Kenapa kamu bisa begini…”
tante laras membantu kak faisal bangun, sementara itu papa masih berusaha untuk melepaskan diri. Amalia dengan ibunya melihat kejadian itu dengan menutup mulutnya. Mata amalia terbelalak.
“anak tak tau malu..! Cuma bisa bikin susah saja…!”
papa memaki kak faisal. Om sebastian mempererat pegangannya agar papa tak kelepasan memukul kak faisal.
“dari mana saja kamu faisal..?”
tanya om beno yang sedari tadi diam.
“iya fai kamu darimana saja dua minggu kabur bikin kami semua kuatir?”
tante laras memeluk kak faisal penuh kasih sayang.
“maaf tante, faisal butuh menenangkan diri…”
jawab kak faisal tertunduk.
“jadi betul fai kamu sudah menghamili amalia?”
suara tante laras penuh kekecewaan.
Kak faisal terisak mendengar pertanyaan tante laras. Aku membaringkan mama diatas kursi jati panjang. Mama mengeliat sepertinya mulai mendapatkan kembali kesadarannya.
“ma… Mama.. Mama tak apa apa kan ma?”
aku mengusap pipi mama lembut. Bik tin datang membawa segelas air putih, pasti bik tin melihat semua kejadian tadi namun tak berani untuk mendekati karena ini urusan majikan yang ia tak mungkin ada hak untuk ikut.
“ma, diminum dulu ma..”
aku menempelkan mulut gelas ke bibir mama, lalu membantu mama mengangkat kepalanya sedikit agar mama bisa lebih mudah minum.
Papa masih mengamuk, baru saja om sebastian melepaskan papa, langsung papa menerjang kak faisal hingga kak faisal terjerembab. Tante laras berteriak. Mama mendorong gelas ditanganku kuat kuat hingga terjatuh dan pecah, mama bangun dan berteriak melengking mengejutkan semua yang ada diruangan ini.

papa yang baru mau meninju lagi kak faisal, menahan pukulannya yang nyaris bersarang diwajah kak faisal, dengan tangan teracung papa menoleh ke mama. Tante laras mengusap dada sambil menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
“ma kenapa ma…?”
aku memeluk mama agar mama tak turun, aku takut mama menginjak pecahan gelas.
“bik tin….!”
aku berteriak memanggil bik tin.
Tanpa menunggu lama bik tin datang.
“bersihkan pecahan gelas itu bik.. Jangan sampai terinjak orang orang disini..”
tanpa banyak kata bik tin membersihkan pecahan gelas itu.
“faisal anakku..”
ucap mama dengan mulut gemetaran. “Faisal anakku jangan pergi…”
isak mama pilu.
“ma, kak faisal sudah pulang ma.. Itu kak faisal, mama jangan kuatir lagi ma..”
aku menghibur mama. Tante sukma mendekat dan memeluk mama untuk menenangkan mama.
“kak mega, jangan kuatir, benar kata rio kak, itu faisal sudah pulang..”
tante sukma mengusap usap punggung mama.
“mama..”
kak faisal bersimpuh disisi mama. Airmatanya menggantung dipipi. Darah masih membekas diantara hidung dan kumis tipisnya.
“anakku.. Darimana saja kamu..”
mama bangun memeluk kak faisal.
“maafkan faisal ma.. Faisal mengaku bersalah, faisal memang anak yang tak berguna ma..”
isak kak faisal, bahunya terguncang guncang karena tangisan. Mama memeluk kak faisal erat. Kami semua diam melihat mama dan kak faisal. Tanpa terasa airmataku mengalir. Aku tau batin mama pasti begitu sakit, namun mama tak tau lagi harus bagaimana. Mama sangat menyayangi kak faisal. Kekecewaan mama dikalahkan oleh perasaan sayang. Amalia dan ibunya duduk. Wajah ibu amalia sudah melunak. Mungkin ia merasa ganjaran yang kak faisal dapatkan sudah sepadan.
“faisal, sekarang kita harus bicara tentang masalah kamu dengan amalia..”
tante sukma menepuk pundak kak faisal.
“iya tante…”
jawab kak faisal lemah.
Mama menutup hidungnya dengan saputangan menyusut hidungnya yang mampet karena tangisan tadi.
“bu rusmi, kami atas nama keluarga besar suharlan, meminta maaf atas kejadian yang tak kita sangka sangka ini…”
tante laras membuka pembicaraan. Aku diam menyimak moment ini.
“kami tau, sebagai orangtua, ibu kuatir…”
tante laras melanjutkan. Kemudian menoleh ke papa. Papa memberi isyarat agar tante laras melanjutkan. Semua diam menunggu kata kata tante laras selanjutnya. Amalia terpekur menatap lantai, tak berani menatap siapapun termasuk kak faisal. Mama menyusut hidungnya sesekali masih terisak. Om sebastian menggenggam tangan tante sukma, sementara tante sukma tak berkedip menatap tante laras.
“ini begitu mendadak dan sangat mengejutkan tak hanya bagi bang harlan dan anak isterinya, tapi juga kami selaku saudara kandung bang harlan… Jadi kami minta bu rusmi untuk memberikan keluarga kami waktu berpikir, bagaimanapun juga ini menyangkut masa depan faisal selaku keluarga kami..”
kata kata tante laras begitu lancar dan tenang. Ibu amalia melotot mendengarnya.
“ini juga masalah masa depan amalia anak saya.. Itu menjadi urusan saya juga.. Tak perlu menunggu bunting amalia besar baru kalian mau beri keputusan, anak saya bukan binatang kalau bunting tak masalah mau kawin atau tidak.. Pokoknya saya tak terima.. Secepatnya faisal harus menikahi amalia. Titik!”
tikam ibu amalia berang sambil berdiri dan menunjuk kak faisal.
“faisal… Dia masih muda.. Bagaimana nasibnya kalau menikah cepat..”
mama menangis tersedu.
“bagaimana kalau amalia di kuret saja, mumpung kehamilannya masih dini?”
usul papa tak terduga.

“apa… Maksud pak harlan kandungan amalia digugurkan?”
pekik ibu amalia terkejut.
“saya rasa itu adalah jalan tengah yang terbaik untuk kedua belah pihak…”
tuntas papa tenang.
“tidak bisa… Saya tak akan pernah memberi ijin untuk itu.. Tidak pokoknya tak akan pernah..!”
ibu amalia berdiri histeris, om sebastian tercengang memandang papa seolah tak menyangka papa akan berkata demikian.
“bu rusmi, bukannya kami tak mau bertanggung jawab, tapi mengingat anak saya masih kuliah dan umurnya juga masih muda, kami rasa ia belum siap untuk membina rumah tangga..”
tegas papa.
“kalian seenaknya saja memutuskan begitu, kalian tak memikirkan perasaan kami, tak ada dalam sejarah kami membunuh, apalagi jiwa yang polos tak bersalah… Pokoknya saya tak akan mengijinkan..!”
ibu amalia bersikeras. Aku merenung, aku tak setuju jika harus mengambil keputusan seperti itu, kak faisal yang telah berbuat seharusnya bertanggung jawab.
Semua termenung, wajah tante laras berkerut seolah berpikir keras, om sebastian menggeleng gelengkan kepalanya. Mama terdiam seperti orang melamun.
“bang harlan, apa tak terlalu cepat mengambil keputusan itu bang?”
tante laras meyakinkan papa.
“dek, sebetulnya abang juga berat mengambil keputusan ini, tapi kita sebagai orang tua harus mengambil keputusan terbaik menyangkut masa depan anak kita..”
jawab papa lugas.
Tante laras mendengar penjelasan papa tanpa bicara, ia memandangi amalia yang sedang menunduk, amalia tak bersuara dari tadi, seolah siap menunggu vonis apapun yang nantinya akan dijatuhkan. Kak faisal menatap papa tajam, seolah papa orang asing yang belum ia kenal.
“yo, kayaknya masalah tak bisa diputuskan begini deh.. Kasihan kak faisal..”
bisik odie pelan disampingku.
“iya die, aku juga bingung kenapa papa mengusulkan hal itu..”
balasku ikut berbisik.
Tiba tiba mama berdiri, memandangi satu persatu yang berada disini.
“mama tak setuju kandungannya digugurkan, mereka berdua harus menikah!”
ujar mama datar. Semuanya memandang mama heran, terlebih lagi aku. Tak kusangka mama justeru menyetujui kalau kak faisal harus menikah.
“nah.. Pak harlan sepertinya isteri bapak lebih waras!”
cemooh ibu amalia.
“mama apa sudah memikirkan kata kata mama?”
tanya papa heran.
“sudah pa.. Faisal harus bertanggung jawab, karena ia telah melakukannya, mama tak ada pilihan lain selain menyuruh mereka menikah.. Kasihan bayi itu, bagaimanapun juga itu darah daging faisal, mama tak tega kalau harus dibunuh…”
ujar mama sesekali terisak. Kak faisal menatap mama tanpa berkedip.
“kak mega betul bang harlan..”
timpal om sebastian.
“iya bang, jalan terbaik untuk mereka adalah menikah, bang harlan harus bijaksana..”
imbuh tante laras.
“kalau menurut kalian begitu, papa harus bagaimana lagi, tapi jangan lupa… Yang akan menjalaninya itu faisal, kita harus tanyakan sama faisal bagaimana keinginannya..”
suara papa terdengar begitu letih, mungkin papa betul betul lelah dengan hal ini.
“tak perlu tanyakan apa apa pada faisal, ia tak ada hak untuk memilih, segala konsekuensinya dia harus tanggung.”
cetus mama tegas.
Kak faisal menunduk.
“secepatnya kita harus menikahkan mereka.. Sebelum ini menjadi omongan orang orang..”
tambah tante laras.
“amalia, kamu mau menikah dengan faisal?”
tanya mama kepada amalia yang menunduk. Amalia mengangkat kepalanya perlahan memandang mama ragu, kemudian ia mengangguk.
“baiklah, itu artinya amalia setuju.. Kita akan memutuskan tanggal pernikahan mereka..”
lanjut mama.
Semua diam tak bersuara, diam diam aku sedih memikirkan kak faisal akan segera menikahi amalia, rasanya aku seperti kehilangan teman, kakak satu satunya akan segera mempunyai isteri.
“baik, saya setuju pernikahan mereka secepatnya dilangsungkan… Tak usah menunda nunda lagi..”
tukas ibu amalia. Aku mengerti yang dirasakan ibunya amalia, anak gadisnya hamil diluar nikah itu merupakan pukulan yang teramat berat baginya. Kekuatiran yang ia rasakan membuat ia yang biasanya lembut menjadi tegas dan ketus.
“aku setuju mereka menikah dengan beberapa syarat!”
mama meneruskan kembali perkataannya. Papa memandang mama dengan keingintahuan, demikian juga semua yang ada disini.
“syarat apa bu harlan… Kok menikahkan anak saja harus ada syarat?”
ibu amalia terlihat bingung.
“iya.. Aku setuju dengan syarat, dan ini tak bisa ditawar..!”
ujar mama seolah tak perduli. Kak faisal menatap mama tanpa berkedip, menunggu apa yang mau diajukan mama sebagai persyaratannya.
“apa syaratnya bu harlan.?”
tanya ibu amalia.
“yang pertama, pernikahan itu tidak diadakan dirumah ini…”
mama menyebutkan syarat yang pertama.
Wajah papa dan semua yang ada disini menjadi kaget.
“maksud mama?”
tanya papa seolah kurang mengerti.
“sudah jelas kan pa, mama tak ingin ada pesta dirumah ini, dan mama tak ada toleransi apapun untuk itu..”
ujar mama tegas.
“syarat kedua, tak ada pesta besar besaran, cukup selamatan dan akad nikah saja..”
mama menyebutkan syarat kedua.
Tante laras mendelik melihat mama, namun tatapan tajam mama membuat tante laras terdiam.
“syarat ketiga, mereka berdua tak boleh tinggal dirumah ini setelah menikah, dan akupun tak akan membantu mereka dalam soal keuangan, biarlah mereka berusaha sendiri…”
syarat ketiga yang mama berikan semakin membuat kami semua terkejut.
“syarat ke empat.. Tak perlu saya di libatkan dalam urusan apapun mengenai pernikahan itu.. Dan saya juga tak akan pernah hadir.. Cukup itu saja syaratnya.!”
tuntas mama, tanpa bicara lagi ia meninggalkan kami semua yang masih bengong. Mama membanting pintu kamar
semua terpana tak tau harus berkata apa lagi. Ibu amalia berdiri lalu mengajak amalia pulang. Tante laras dan om beno mengantar amalia dan ibunya hingga ke beranda, papa menyusul mama masuk kedalam kamar. Odie merangkul bahuku dan mengajak aku ke kamar, om sebastian dan tante sukma tetap duduk membicarakan masalah kak faisal.
Aku tau keputsan mama tak terbantah, kalau mama sudah memutuskan begitu, maka akan begitu, kak faisal tak bisa membantah karena tak ada celah membela diri untuk kesalahan besar yang ia lakukan. Arti dari kata kata mama tadi bahwasannya mama telah membuang kak faisal dan amalia.
Aku bingung harus bagaimana, tak ada yang bisa aku lakukan untuk membantu kak faisal, kesalahan kak faisal sudah terlalu besar bagi mama. Sekarang konsekuensinya harus ia tanggung sendiri. Kak faisal harus siap menjalani arti kehidupan yang sesungguhnya. Tak ada fasilitas, mobil, uang berlimpah. Ia harus mulai belajar mencari hidup dan menghidupi amalia serta anaknya nanti. Aku hanya bisa berharap nanti mama akan berubah. Seiring waktu berjalan, mama bisa menerima amalia.
Aku sedang membahas kejadian tadi bersama odie di kamar saat kak faisal mengetuk pintu dan masuk.
“dek, boleh kan kakak masuk…”
kak faisal membuka pintu dengan ragu.
“masuk aja kak.. Ada apa?”
aku berdiri menghampiri kak faisal, ia berjalan lesu lalu duduk di kursi belajar.
“kakak tak menyangka akan begini jadinya dek.
.”
keluh kak faisal sedih.
“kakak tak pernah berpikir sebelum bertindak, semua kakak lakukan atas ego dan kesenangan sendiri..”
aku betul betul kecewa dengan sikap kak faisal yang pengecut.
“kakak khilaf dek…”
“kalau sudah sering bukan khilaf namanya kak..”
aku mendengus.
“bahkan adek pun menyalahkan kakak..”
suara kak faisal begitu sedih, airmata kak faisal mengalir, tak kusangka kak faisal bisa menangis juga.
“kak, semua sudah terlambat untuk disesali, jangan lagi kakak berharap nasi yang sudah menjadi bubur akan kembali jadi beras..”
aku jadi kasihan juga dengan kak faisal.
“kakak tau dek, yang bikin kakak sedih, kakak akan segera berpisah dengan adek, dengan mama dan papa..”
isakan kak faisal membuat suaranya menjadi sengau.
“sudahlah kak, jalani saja… Aku yakin nanti mama akan terenyuh..”
aku menasehati.
“sampai berapa lama dek, mama kalau sudah memberi keputusan jarang mengubahnya..”
sesal kak faisal.
“aku yakin mama akan mengubah keputusannya kak, berdoa saja ya..”
aku menguatkan kak faisal.
“kakak memang bodoh..sekarang semuanya telah kacau, terus terang kakak belum siap menikah sekarang dek.. Kakak belum siap..”
kak faisal memelukku dan menangis lagi.
Aku mengusap punggung kak faisal.
“jangan menangis kak, kuatlah! Masalah tak akan selesai dengan tangisan..”
“kakak tak sanggup membayangkan hari hari ke depan nanti dek..”
kak faisal mencurahkan perasaanya.
“aku janji akan sering menemui kakak.”
hiburku ikut sedih, rasanya ingin ikut menangis bersama kak faisal, hampir delapan tahun aku tinggal dirumah ini, dari masa remaja yang indah, hingga saat beranjak dewasa, begitu banyak kenangan manis yang mengisi hari hariku, bersama kak faisal dirumah ini, terasa cepat waktu berlalu bagaikan berlari, semua tinggal kenangan, kak faisal yang dulu aku banggakan, dan aku sayangi, kini harus segera meninggalkan rumah ini, dua minggu kak faisal tak pulang saja aku sudah merasa begitu kesepian, apalagi kak faisal harus pindah ke rumah amalia. Rasanya aku ingin mengulangi waktu agar kembali ke masa sma dulu, kak faisal masih merupakan teman bermain yang asik, sekarang kak faisal lebih sibuk dengan kekasihnya amalia, banyak perubahan pada kak faisal, dan aku tak mampu untuk menghalangi perubahan itu.
Setelah melepaskan semua beban yang menyesakkan baginya, kak faisal keluar dari kamarku. Seharian kak faisal tak keluar dari kamar, bahkan saat keluarga berunding menetapkan tanggal pernikahannya pun, kak faisal tak bergeming. Aku duduk mendengarkan keputusan papa. Kak faisal akan menikah pada hari jumat ini juga. Dan malamnya langsung selamatan dirumah amalia. Aku menghela nafas, dadaku terasa sesak, tak ada pernikahan yang meriah, tak ada pesta, kasihan kak faisal dan amalia. Tante laras mengetuk pintu kamar kak faisal, tak lama kemudian kak faisal membuka pintu, tante laras masuk. Mungkin tante laras ingin menghibur kak faisal serta ingin menyampaikan hasil keputusan tadi.
Keesokan harinya. Papa beserta kak faisal, tante laras dan om beno pergi ke rumah amalia tepat jam tujuh malam untuk acara lamaran, seluruhnya tante laras yang mengatur, dari soal hantaran hingga cincinnya. Mama bahkan tak keluar kamar. Seolah enggan untuk melihat semua ini. Sebetulnya aku diajak papa untuk menyertai kak faisal, namun tadi pagi mama sudah melarangku, jadi aku merasa serba salah. Akhirnya aku memutuskan tak ikut.
Jam sembilan kak faisal pulang bersama papa dan tante laras, kak faisal mengetuk pintu kamar mama.
“ma.. Boleh faisal masuk?”
kak faisal memanggil mama, namun tak ada sahutan.
“ma, faisal ingin bicara sama mama..”
suara kak faisal begitu memohon, namun tak juga ada suara jawaban.
“ma.. Faisal minta maaf ma, tapi tolong jangan diamkan faisal seperti ini ma, faisal mohon..”
kak faisal makin keras menggedor pintu kamar mama. Aku menghampiri kak faisal.
“mama masih marah kak, percuma saja, tunggu besok siapa tau mama sudah bisa menerima kak..”
aku mencoba memberikan pengertian.
“nggak dek, dua hari lagi kakak menikah, kakak tak bisa membayangkan pernikahan kakak tanpa mama dek, kalau hanya tak ada pesta, kakak ikhlas asalkan mama mau merestui.
Asalkan Mama mau mendampingi kakak..”
kak faisal memelas, airmatanya mengambang di pelupuk mata.
“nanti besok aku coba bicara sama mama, semoga mama luluh.. Mama sangat menyayangi kak fai, mama pasti tak ingin melewatkan kesempatan ini kak,.. Pernikahan kakak..”
ujarku tak yakin, namun aku tak ingin kak faisal tambah sedih.
Dengan lesu kak faisal menjauh dari kamar mama. Aku mengikuti kak faisal, ia keluar rumah dan duduk disamping kolam.
“kakak sudah merusak semuanya ya dek.. Kakak bukan contoh yang baik untuk ditiru..”
desah kak faisal tertunduk ke arah kolam, entah memandang ikan yang berenang atau tengah menerawang.
“sudahlah kak, tak baik terus terusan disesali..”
“sekarang kakak sudah menerima akibatnya..”
kak faisal bicara pelan seolah berbisik.
“kak, mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini, sekarang kakak udah lebih berpikiran dewasa kan..kakak sudah mau menikah dan tak lama lagi menjadi ayah”
aku memandangi kolam, sesak rasanya dadaku, pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan seisi rumah, yang sering mama ceritakan andai aku atau kak faisal menikah, akan membuat pesta meriah, namun itu hanya mimpi.
Justeru pernikahan itu bagaikan duri yang menyakiti mama.
“kakak takut dek, pernikahan kakak tak direstui mama, apakah akan membawa berkah nantinya, kakak mencintai amalia, dan kakak telah menyakiti dia, kakak berpikiran untuk lari meninggalkannya, namun kakak sadar tak mungkin terus terusan lari dari kenyataan.”
kak faisal terlihat betul betul menyesal. Aku menggenggam tangan kak faisal.
“sabar ya kak, aku yakin kakak bisa melewati semua ini, yang penting terus berdoa…”
ujarku sedih, kak faisal meremas tanganku erat erat.
“makasih dek, kakak beruntung punya adek seperti kamu, kakak jadi ingat waktu adek dulu baru datang, sikap kakak begitu buruk, padahal jujur dek, kakak senang sekali waktu itu, cuma kakak tak mau menunjukkannya, kakak bangga punya adek… Kakak sayang sama adek..”
kak faisal memelukku. Airmataku mengalir mendengar pengakuan kak faisal, sungguh aku sudah melupakan masa itu, aku begitu menyayangi kak faisal, bagiku kak faisal adalah kakakku, yang sudah lama aku impikan, punya saudara lelaki, dan kak faisal adalah jawaban atas keinginanku. Aku sadar sebetulnya tuhan begitu baik padaku, memberikan begitu banyak kebahagiaan.
“dek…”
“iya kak…”
“maafkan kakak ya..”
kak faisal mempererat pelukannya.
“kak faisal nggak bersalah padaku kak…”
aku mengusap punggung kak faisal.
“makasih dek.. Masuk yok dek, sudah larut, kakak minta adek temani kakak tidur malam ini untuk yang terakhir kalinya dek.”
kak faisal melepaskan pelukannya.
“kakak jangan ngomong gitu, kita kan masih bisa bertemu… Walaupun nanti kakak udah tinggal dirumah amalia, aku akan sering sering mengunjungi kakak..”
jawabku sedih, seolah olah aku betul betul kehilangan kak faisal.
Aku mengikuti kak faisal ke dalam rumah.
“kak, ada odie… Aku nggak enak ninggalin dia sendirian di kamar..”
aku baru teringat kalau ada odie.
“nggak apa apa dek, odie nggak masalah tidur sendirian, lagipula ia pasti udah tidur..”
“ya udah kalau gitu aku temani kakak tidur dikamar kakak..”
jawabku sambil masuk ke dalam kamar kak faisal, lama sekali kak faisal memandangi seisi kamarnya.
“tak lama lagi kakak akan meninggalkan semua ini..”
desis kak faisal.
“kalau mama udah luluh nantinya, aku yakin ia akan memaksa kakak kembali kesini kak..”
“semoga dek..”
kak faisal naik ke tempat tidur dan berbaring. Aku menyusul kak faisal berbaring disampingnya. Kak faisal bercerita selama dua minggu ia tak pulang ternyata ia menginap dirumah sepupu rizal yang juga adalah teman kak faisal. Temannya itu tinggal di daerah sekayu. Ia banyak dinasehati oleh sepupu rizal agar bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Dan nasehat yang membuat kak faisal mau pulang adalah temannya itu mengatakan kasihan mama kalau kak faisal meninggalkan rumah, ia takut mama sedih. Tapi ternyata kepulangannya malah membuat mama kecewa. Bertepatan hari ia pulang, semua rahasia terbongkar. Kak faisal merasa begitu menyesal.
“dek, bagaimana hubungan adek dengan rian?”
tanya kak faisal tiba tiba. Aku terkejut dan refleks menoleh ke kak faisal.
“maksud kakak apa kak?”
tanyaku bingung.
“kakak sudah tau semuanya dek, adek bukan sekedar berteman dengan rian.. Diantara kalian ada hubungan yang lebih, kalian pacaran kan dek?”
deg! Jantungku terasa mau copot, bagaikan tersambar petir aku langsung bangun dan duduk. Bingung harus menjawab apa, darimana kak faisal mengetahui itu.
“kak.. Aku..”
“sudahlah dek, tak apa apa kok.. Santai aja dek, kakak udah lama tau mengenai itu, dan bagi kakak tak ada masalah dek…”
kata kata kak faisal semakin membuat aku terkejut.
“kak maaf.. Aku tak bermaksud.. Tapi..”
aku betul betul gugup.
“pasti adek heran kakak tau darimana, tenang aja dek, kakak sudah lama tau mengenai itu, dan kakak diam saja, selama adek bahagia.. Kakak ikut bahagia.”
kak faisal tersenyum, senyum seorang kakak yang menyayangi adiknya. Tak ada nada marah atau kecewa, yang ada hanyalah perhatian seorang kakak.
Aku menangis, aku tak menyangka kak faisal tau. Dan ia tak sekalipun menyinggung tentang itu, ia bisa menerima keadaanku. Aku tau tak gampang bagi keluarga untuk menerima ada salah satu anggota keluarga yang melenceng seperti aku. Namun kak faisal memberikan pengertiannya. Aku menyesal kemarin kemarin sempat kasar dan tak perduli pada kak faisal, aku marah padanya ketika ia mengaku bahwa amalia hamil, aku bukan menenangkannya malah aku kecewa. Padahal kak faisal melakukan hubungan yang wajar.
“kak.. Apakah setelah kakak tau kakak jijik padaku?”
tanyaku sedih.
Kak faisal tersenyum dan menggeleng.
“kakak sangat menyayangi adek, asalkan itu membuat adek bahagia, kakak ikut bahagia, namun satu nasehat kakak, sejauh apapun adek melangkah, ingatlah adek punya masa depan, jangan hancurkan masa depan seperti yang telah kakak lakukan. Adek harus lebih baik dari kakak..”
nasehat kak faisal. Aku terdiam, aku malu sekali pada kak faisal.
“bagi kakak, adek tetaplah adek, tak mungkin kakak jijik, itu adalah pilihan adek, ada beberapa teman kakak yang juga seperti adek, kakak bisa mengerti karena kakak tau dari mereka, menjadi gay bukanlah hal yang mudah, adek pasti merasa tersiksa, kakak tak mau membuat adek semakin tersiksa.. Kalau adek tanyakan apakah kakak kecewa, jujur kakak kecewa.. Tapi sekali lagi itu adalah hak adek, adek yang menjalani semua. Dan adek tau apa yang terbaik untuk adek.. Kakak tak akan menyalahkan adek.. Yang penting rian bisa membahagiakan adek, kalau kakak dengar ia menyakiti adek, kakak orang pertama yang akan membuat perhitungan dengannya..”
ujar kak faisal panjang lebar.
“makasih kak.. Makasih banyak untuk pengertian kakak..”
aku menyusut air mata dengan lengan baju.
“adek jangan menangis lagi..”
kak faisal membelai rambutku.
“dulu waktu kakak tau odie menyukai sesama jenis, tapi reaksi kakak beda..”
aku bertanya.
“itu dulu dek.. Sekarang kakak sudah lebih mengerti, mungkin karena pergaulan yang membuat kakak bisa membuka mata, asalkan adek tak menjual diri..”
kak faisal tertawa.
“enak aja! Uang dari mama lebih dari cukup kak, tak mungkin aku jual diri, gila..!”
aku mencubit kak faisal. Ia mengaduh dan tertawa. Lalu menimpuk aku dengan bantal. Aku berlari turun dari tempat tidur menghindari timpukannya. Kami berkejar kejaran dalam kamar sambil tertawa.
Setelah capek bercanda, kak faisal membuka bajunya yang basah oleh keringat lalu merebahkan diri di tempat tidur. Aku berbaring disamping kak faisal.
“adek ada nafsu nggak sama kakak?”
tanya kak faisal tiba tiba. Aku memejamkan mata, bingung harus menjawab apa.
“jujur aja dek..”
kak faisal penasaran.
“dulu iya kak, diam diam aku mencintai kakak, namun itu dulu, kalau sekarang Hoeeek..!”
aku pura pura muntah.
“huh dasar..!”
kak faisal menowel keningku.
“wajar aja adek naksir, kakak kan ganteng, banyak yang tergila gila..!”
“huh narsis… Dasar kepedean.. Sok ganteng..”
sungutku sebal.
“lah emang betul kan, buktinya adek sendiri mengakui kegantengan kakak, sampe pake naksir lagi sama kakak!”
ejek kak faisal menjadi jadi.
“iiiih kakak..”
aku mencubit kak faisal manja.
“ya udahlah dek, nggak apa apa kok.. Lupakan saja, yang penting sekarang kakak harus fokus untuk pernikahan nanti.”
kak faisal memejamkan matanya.
“kak… Tolong jaga rahasia ini ya..”
aku memelas.
“tenang aja dek, udah setahun kakak bisa jaga rahasia dan akan tetap begitu dek.”
kak faisal menepuk dadaku pelan. Aku mengangguk sambil menerawang menatap langit langit kamar. Aku semakin menyayangi kak faisal, ia betul betul kakak yang baik, ia tak menghujat aku meskipun tau kekuranganku.
Kak faisal berbalik dan memelukku.
“kak…”
bisikku.
“iya dek…”
jawab kak faisal tetap memejamkan mata.
“kakak kok meluk aku, kakak nggak takut?”
tanyaku heran.
“nggak.. Emangnya adek makan orang, kenapa kakak harus takut..”
jawab kak faisal mantap.
“tapi kakak kan tau kalau aku..”
“ssstt… Kakak tau adek mencintai rian, adek gay bukan berarti kakak harus menjauhi adek kan…”
kak faisal memotong ucapanku.
“udah larut dek, tidurlah.. Besok adek kan kuliah.”
aku mengangguk tak bersuara. Aku memejamkan mata namun sulit untuk tidur. Kak faisal mendengkur pelan. Memeluk punggungku dengan kaki tertumpu pada pinggangku seolah aku ini guling. Air mataku mengalir lagi, aku ingin sekali bisa membantu kak faisal, aku harus membantunya. Kak faisal tak boleh menderita, aku menyayangi kak faisal dan harus berusaha sekuat mungkin membelanya. Seperti ia membelaku. Besok aku akan bicara sama mama, aku akan merayu mama semampuku. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku agar mama bisa mengubah keputusannya. Andai mama tak bisa menerima aku akan terus berusaha. Kasihan kak faisal kalau sampai pernikahannya tak ada pesta, pasti kak faisal begitu sedih, ia berhak untuk bahagia walaupun ia telah bersalah. Itu adalah khilafnya dan tak harus di hukum terus terusan.
.
.
.
.
.

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar