Lihat semua daftar posting »»

Sabtu, 17 Desember 2011

KISAH RIO 04

Bangun tidur pagi sekali, aku turun dari tempat tidur, kak faisal masih nyenyak. Aku mencuci muka dan menyikat gigi. Sudah jam enam. Biasanya jam segini bik tin sudah bersiap siap di dapur. Aku mencomot roti selai diatas meja dan menuang kopi ke dalam cangkir. Aku duduk di kursi makan. Merenungi perkataan kak faisal semalam. Aku tak menyangka kak faisal sudah mengetahui hubunganku dengan rian, aku sadar kak faisal pergaulannya luas dan banyak teman, barangkali ada yang mengetahui hubunganku dengan rian dan menyampaikan pada kak faisal. Atau apakah kak faisal melihat sendiri, bukankah rian terkadang tak bisa menahan diri untuk mencium pipiku atau memelukku di depan umum. Tapi aku melakukannya selalu jauh dari rumah maupun kampus, aku juga berusaha menjaga agar jangan sampai banyak yang tau. Terkadang rian keterlaluan juga. Namun aku tak kuasa melarangnya. Soalnya rian suka cemburuan tak beralasan, kalau aku menolak untuk ia cium, maka ia akan curiga kalau aku selingkuh. Tapi aku bersyukur kak faisal tak melakukan tindakan ekstrim. Misalnya mengadukan pada mama atau memukul aku. Sekarang aku harus bisa membalas kebaikan kak faisal, meskipun ia tak menyuruh, namun aku akan membantunya agar mama bisa menerima pernikahan mereka. Aku ingin kak faisal bahagia.
Tepat jam tujuh mama keluar kamar. Masih mengenakan daster panjang untuk tidur. Mama menghampiriku.
“tumben sayang udah bangun..”
sapa mama sambil menarik kursi dan duduk disampingku.
“iya ma.. Semalam nggak nyenyak jadi bangunnya cepat.”
jawabku sambil menuang kopi untuk mama.
“terimakasih sayang..”
mama mengangkat cangkir yang sudah penuh dan meminum sedikit.
“ma, rio mau bicara..”
aku tak mau menunda nunda lagi.
“kenapa, mau ganti mobil, atau mau beli lagi gitar elektrik yang baru..?”
tanya mama sambil tersenyum.
“mama… Aku serius ma..”
aku cemberut.
“ya mama juga serius, kan katanya kamu mau mobil audi buildup itu, mama tak keberatan kok, nanti kapan mama ada waktu kita cari sama sama..”
jawab mama sambil membelai rambutku penuh sayang.
“itu bisa nanti ma..”
“lalu mau ngomong apa?”
tanya mama heran.
“mengenai kak faisal ma..”
aku langsung pada intinya. Mama terdiam, meletakkan cangkir dengan keras lalu berdiri meninggalkanku.
“mama… Mau kemana ma.. Rio mau bicara, penting ma..”
aku menyusul mama.
“mama malas membahas hal itu, jangan coba coba merayu mama.. Apapun yang kamu minta akan mama turuti asalkan kamu tak menyuruh mama mengubah keputusan terhadap faisal!”
ujar mama dengan tegas.
“kasihan ma kak faisal, masa mama tega sih?”
aku memelas.
“anak mama bukan cuma dia.. Tak tau terimakasih.. Mama masih punya kamu dan itu sudah cukup… Jangan kecewakan mama seperti yang dia lakukan..”
tandas mama.
“kak faisal tak bermaksud mengecewakan mama..”
“bukan baru sekali yo dia begitu, dan kali ini kesabaran mama telah habis, sudahlah kamu jangan bikin mama pusing..”
ujar mama tajam.
“kak faisal sedih ma, dia sedih bikin mama kecewa..”
aku mencoba membujuk. Mama berbalik menghadapku dan menatapku dingin.
“apa kamu kira mama tak kecewa, mama tak sedih, mama tak sakit, tapi apa dia pernah berpikir kesitu, tak ada gunanya lagi menyesali perbuatan yang telah ia lakukan itu, sekarang ia sudah dewasa, sudah mampu menikah jadi untuk apa mama repot repot..”
jawab mama keras kepala. Aku bingung sekali, mama begitu keras.
“siang ini kita beli mobil kamu, mama mau mandi dulu, dan jangan coba coba menyuruh mama memaafkan faisal..!”
mama meninggalkanku.
Aku mematung memandang mama yang masuk ke kamar.
___


Saat sarapan pagi kami semua makan dalam diam, tak seperti biasa ada obrolan di meja makan. Mama tak selera dengan sarapannya, terlihat dari sikapnya yang tanpa semangat, hanya memain mainkan sendok dan garpu mengaduk aduk nasi. Papa sesekali melihat mama namun tak berkomentar mungkin papa tak mau membuat mama marah, tante laras, om beno dan odie menyadari situasi ini, mereka pura pura sibuk dengan sarapannya padahal aku tau mereka juga sedang gelisah. Kak faisal tak ikut sarapan bersama, padahal tadi aku sudah mengajaknya. Kak faisal menolak dengan alasan tak ingin membuat mama kehilangan selera makan kalau ada dia, padahal tanpa ada kak faisal pun mama tak selera makan. Karena keadaan ini aku jadi ikut ikutan kehilangan selera, tanpa menambah lagi aku menyelesaikan sarapan. Aku ke kamar kak faisal sambil membawa segelas besar teh hangat.
Aku mengetuk pintu sekali dan membukanya. Kak faisal langsung menoleh ketika aku masuk.
“kak minum teh dulu..”
aku menaruh gelas diatas meja belajar kak faisal.
“makasih ya dek, mama mana dek?”
tanya kak faisal.
“mama mungkin lagi siap siap ke kantor kak, papa juga gitu.. Kenapa sih kakak seperti orang asing dirumah sendiri, santai aja kak, kalau kakak terus menghindar bagaimana mau damai dengan mama?”
aku membujuk kak faisal.
“nanti aja dek, kalau amarah mama sudah reda, saat ini bukan waktu yang tepat.”
bantah kak faisal, sudah dua hari ini wajah kak faisal murung, bagaikan terhukum yang divonis berat. Aku tak tega.
“sebentar lagi mama ke kantor, kakak bisa sarapan..”
“iya dek.. Oh ya dek, kakak boleh pinjam mobil adek nggak?”
“untuk apa kak, mobil kakak kan ada?”
tanyaku bingung.
“iya dek, tapi kunci mobil kakak sudah disita mama, adek tau sendiri mama tak pernah main main..”
desah kak faisal sedih.
“ya udah, pake aja kak, lagian mobil itu udah mau dijual kok,”
“dijual, kenapa dek?”
kak faisal heran.
“mama mau ganti mobil aku kak..”
aku berterus terang.
“mama mau ganti mobil adek? Tumben…”
hela kak faisal. Aku jadi tak enak hati, kak faisal sedang berkasus dan di boikot mama, sedangkan aku akan mendapatkan mobil mewah.
“iya kak, tempo hari aku bilang sama mama pengen ganti mobil, padahal aku cuma bercanda, mama tanya aku mau mobil apa, aku iseng aja jawab audi, rupanya mama menanggapi serius.”
aku menjelaskan apa adanya. Kak faisal tersenyum dan merangkul bahuku.
“kakak ikut senang dek, wah pasti bakalan banyak yang kagum kalo adek pake mobil itu…”
aku terdiam, kalau dulu reaksi kak faisal tak akan begini, ia akan menutut mobil yang sama, kak faisal yang ugal ugalan dan selalu bisa menghabiskan uang mama dengan bermacam cara bisa berubah drastis dalam waktu yang begitu singkat. Kak faisal bahkan tak sedikitpun protes, padahal dia juga berhak untuk mendapatkan mobil yang sama.
“emangnya kakak mau kemana?”
tanyaku ingin tau.
“ada sedikit urusan dek, kakak usahakan tak lama kok, sebelum mama pulang dari kantor, kakak udah dirumah…”
tegas kak faisal.
“iya kak tak masalah kok, pake aja, nanti kuncinya kakak ambil didalam laci meja belajar. Aku mau mandi dulu ya kak..”
aku berdiri kemudian keluar dari kamar kak faisal.
Didalam kamar mandi aku berpikir, kak faisal begitu berubah, menjadi lebih dewasa dalam waktu singkat, andaikan dengan perubahannya kak faisal masih tinggal dirumah ini alangkah senangnya. Tapi hikmah dari segala masalah yang terjadi tak seperti yang aku harapkan. Alangkah sepinya rumah ini nantinya. Kenapa kak faisal bisa ceroboh seperti itu, dan amalia juga kenapa jadi perempuan tak bisa menjaga kesucian hingga pernikahan nanti. Usia kak faisal yang baru 24 tahun masih terlalu dini untuk menikah. Andaikan waktu bisa diulangi. Agar segalanya bisa diatur lebih baik.
Aku menyiramkan air ke seluruh tubuhku. Terasa dingin hingga tubuhku menggigil. Cepat cepat aku menyabuni tubuhku. Aku menyelesaikan mandi dan mengeringkan badan.
Keluar dari kamar mandi ternyata kak faisal sedang duduk di karpet depan televisi di kamarku.
“kuncinya ada dalam laci meja belajar kak..”
kak faisal menoleh.
“iya dek..”
kak faisal sudah mandi, dia sudah rapi. Memakai baju kemeja warna putih serta celana jeans warna putih.
“wah kakak pake serba putih, mau kemana sih, tumben.. Biasanya kakak kan paling nggak suka pake warna putih..?”
aku menggoda kak faisal.
Ia nyengir sedikit malu.
“iya nih dek, tadi kakak mau pake baju kemeja kotak kotak, tapi entah kenapa waktu lihat kemeja putih ini, kakak jadi pengen pake yang putih. Tapi cocok kan dek..?”
tanya kak faisal sambil berdiri dan membentangkan tangannya.
“kakak pake baju apa aja tetap ganteng kak, apalagi putih seperti itu..”
jawabku sejujurnya.
“adek bisa aja hehehe.. Tapi kakak percaya, soalnya kalau adek bilang cocok pasti cocok, adek kan tau sama cowok ganteng..”
ledek kak faisal kembali usil.
“dasar.. Udah dipuji malah ngejek..!”
aku bersungut pura pura marah.
“adek juga ganteng kok.. Buktinya banyak teman teman cewek kakak yang ngirim salam..”
kak faisal tertawa.
“nggak ah.. Nggak doyan hahaha…”
“huuu.. Pasti selama ini adek suka melirik teman teman kakak yang cowok kan!”
“nggak, teman kakak semuanya jelek, nggak ada yang berkualitas, mirip preman, malas ah..”
aku ngeles.
Kak faisal cemberut.
“meskipun preman tapi baik dek, mereka semua setia kawan, ketimbang berteman dengan yang lain, kebanyakan sombong, dan munafik, kakak malas..”
kak faisal membela teman temannya.
“tapi gara gara mereka kan kak faisal jadi ikut ikutan bandel..”
aku membantah.
“enak saja, jangan nyalahin orang lain dek, emang dasarnya kakak udah bandel dari dulu kok..nggak usah mereka pengaruhi juga kakak udah gitu..”
aku menggeleng gelengkan kepala mendengar jawaban kak faisal yang tak mau mengalah. Aku membuka lemari lalu mengambil baju dan celana serta celana dalam. Aku ganti baju didepan kak faisal.
“sebetulnya adek itu banyak yang naksir, adek ganteng, nggak sulit untuk mendapatkan cewek yang adek mau, kalau mereka tau adek nggak suka cewek, pasti banyak yang patah hati…”
goda kak faisal. Aku tertawa terbahak bahak, kak faisal memang paling bisa memuji tapi ujung ujungnya menjatuhkan, dasar kebiasaan…!
“dek kakak mau pergi dulu ya, pinjam mobilnya..”
“iya kak, hati hati di jalan, ingat jangan sampe pulang keburu sore, ntar kalo mama tau bakalan marah..”
aku mengingatkan.
“tenang aja adekku yang manis..”
kak faisal mencubit daguku gemas.
“sana pergi..!”
“oke adek sayang..”
tiba tiba kak faisal memelukku. Erat sekali ia memeluk.
“kakak kok aneh… Idih risih ah pake peluk peluk gini.. Entar dikira orang kita incest lagi!”
aku pura pura tak suka, padahal sebetulnya aku sukaaaaaaaa banget.
“loh.. Kita kan saudara tiri dek.. Mana bisa incest, kalo sampe kejadian ya paling namanya khilaf..”
kak faisal ngeyel.
“sudah sudah.. Pergi sana..”
aku mengusir kak faisal. Ia melepaskan pelukannya sambil cengengesan tak jelas.
“oke dek, abang pergi.. Abang ada kejutan buat adek dan mama..”
kak faisal tersenyum penuh misteri.
“kejutan apa kak? Bilang dong jangan bikin aku penasaran..”
aku mendesak kak faisal.
“adaaaa aja.. Kalau di bilang sekarang namanya bukan kejutan dek..yang jelas adek pasti bakalan suka banget, mama juga dek”
kak faisal sengaja membuat aku semakin penasaran.
“idih.. Kakak bikin penasaran aja..ya udah cepetan pergi, jadi kejutannya juga cepet aku tau.”
aku mendelik kepada kak faisal.
“oke dek..”
kak faisal memeluk aku lagi, malah sambil cengengesan ia mencium pipiku dengan bibirnya.
Aku terdiam tak memberikan reaksi. Kak faisal betul betul tak seperti biasanya.
“kak faisal sayang sama adek..”
ujar kak faisal melepaskan pelukan dan berjalan ke meja belajarku, membuka laci untuk mengambil kunci mobil.
“hati hati di jalan kak..”
aku berteriak pada kak faisal yang sudah di depan pintu kamar.
“iya adek cerewet… Kakak pergi dulu ya dek..”
kak faisal melambaikan kunci lalu berlalu dari kamarku.
Setelah kak faisal pergi aku meraba pipiku di tempat kak faisal tadi mencium. Kak faisal betul betul telah berubah. Aku tersenyum lebar. Kak faisal manis juga kalau bersikap seperti tadi. Semoga saja akan selalu begitu. Aku akan selalu berdoa untuk kak faisal.
Sudah jam tiga sekarang, sudah enam jam kak faisal pergi, tadi katanya tak lama, sebetulnya kak faisal kemana sih, jangan sampai kak faisal telat, aku takut mama semakin marah, semoga kak faisal ingat waktu. Aku jadi teringat dengan sikap kak faisal yang aneh tadi. Aku tersenyum sendiri. Tiba tiba aku jadi kangen sama kak faisal. Aku tak sabar menunggunya pulang. Kejutan apakah yang mau ia berikan padaku. Dadaku berdebar debar tak sabar dengan kejutan kak faisal itu.
Jam merangkak ke angka empat, dan kak faisal belum juga pulang, aku ambil handphone lalu menelpon kak faisal. Belum sempat aku menekan tombol call, tiba tiba telpon rumah berdering.
Aku hampiri meja telpon lalu mengangkat telpon.
“halo.. Kediaman pak suharlan atmaja ini dengan anaknya..”
“ya halo.. Ini rio ya, yo aku rizal.. Buruan ke simpang charitas,. Yo gawat..!”
suara rizal panik.
“ada apa zal kenapa disana?”
“faisal yo.. Faisal.. Dia kecelakaan.. Mobilnya di tabrak truk yang bersebarangan.. Cepet yo..”
kakiku langsung lemas.
Tanpa berpikir panjang aku bergegas mengambil kunci mobil, jantungku berdebar kencang selama perjalanan menuju simpang charitas, ku kebut mobil secepat mungkin tanpa memperdulikan apa apa lagi. Jantungku rasanya mau copot saat melihat kerumunan orang yang ramai, ada mobil polisi juga, sebuah truk terbalik di sisi jalan dalam keadaan kaca pecah, barang barang yang berhamburan dipunguti orang orang yang memanfaatkan situasi. Aku meminggirkan mobil dengan terburu buru, kakiku rasanya lemas sekali melangkah ke mobilku yang bentuknya tak bisa aku gambarkan lagi. Bagian depannya penyok hampir seperempat badan mobil, pecahan kaca kecil kecil berserakan menimbulkan bunyi gemeretak waktu terinjak.
“rio.. Syukurlah kamu sudah datang..!”
pekik agus, ia berlari mendekatiku, wajahnya pucat pasi.
“gus, mana kak faisal! Dimana gus?”
aku menggoncang tubuh agus keras.
“tenang yo, faisal sudah dibawa rizal dan teman teman lain ke rumah sakit..!”
jelas agus terbata bata.
“bagaimana keadaannya gus, kak faisal tak parah kan?”
tanyaku tak yakin, melihat kondisi mobilku rasanya sulit untuk percaya kalau kak faisal tak apa apa.
“sebaiknya kamu segera menyusul kerumah sakit, kami bisa mengurusi mobil ini, buruan yo, aku takut kamu terlambat.”
desak agus membuat aku semakin kuatir.
“oke gus, aku kesana sekarang..”
aku berlari tanpa banyak bertanya. Aku tak perduli dengan mobil yang rusak parah, keadaan kak faisal yang membuat aku sesak nafas. Semoga Allah melindunginya. Tak putus putus aku berdoa sepanjang perjalanan menuju kerumah sakit.
Mama dan papa belum tau tentang semua ini, aku harus mengabari mereka secepatnya. Pertama tama aku menelpon mama. Reaksi mama sudah bisa ditebak, mama langsung panik, mama bilang langsung kerumah sakit. Aku menyuruh mama yang mengabari papa. Setelah selesai menelpon mama, aku bergegas ke unit gawat darurat.
Aku bertemu dengan rizal, anto dan beberapa teman kak faisal yang lain.
Tanpa membuang waktu aku mendekati rizal.
“zal, bagaimana keadaan kak faisal?”
tanyaku langsung.
“rio.. Sukurlah kamu sudah datang, yo gawat yo.. Faisal betul betul parah.. Tubuhnya hancur yo.. Faisal.. Dia..”
rizal tak sanggup menyelesaikan kata katanya.
“zal.. Kak faisal selamat kan?”
jantungku seolah berhenti berdetak. Aku tak berani mendengar jawaban rizal. Saat ia menggelengkan kepalanya, duniaku seolah olah langsung runtuh. Sesaat aku merasa agak limbung seolah seluruh kekuatanku lenyap.
“yo kamu kenapa?”
tanya rizal kuatir.
Aku menggeleng hampa. Waktu seolah berhenti bagiku saat ini, tanpa terasa airmataku mengalir jatuh, tuhan tak menjawab doa dan harapanku. Dengan langkah terseret aku mendekati pintu unit gawat darurat. Tanganku gemetaran hebat waktu membuka handle pintu bercat putih ini. Aku tak yakin apa aku mampu melihat tubuh kak faisal, melihatnya dalam keadaan seperti itu. Rizal mendorong tubuhku pelan agar aku segera masuk. Abu obat menyeruak menyentuh indra penciumanku hingga membuat kepalaku agak pusing. Bau alkohol yang menyengat semakin melemahkan semangatku. Dokter dan perawat memberi isyarat agar aku mendekat. Tubuh kak faisal terbujur diatas tempat tidur tertutupi selimut putih yang berlumuran darah. Perlahan aku sibak selimut yang menutupi kepala kak faisal. Aku menarik nafas dan langsung membuang muka. Ingin pingsan rasanya. Aku tak sanggup melihatnya. Andai itu bukan kak faisal mungkin aku sudah muntah. Rizal merangkulku, ia menahan tubuhku yang hampir rebah.
“sabar yo.. Sabar ya.. Itu semua sudah kehendak yang diatas.. Kamu yang tabah ya..”
rizal menghiburku. Aku menggeleng, dadaku sakit seolah terhimpit batu besar. Bahuku terguncang guncang tanpa dapat ku tahan bersama tangisan yang pecah.
Kata kata rizal tak lagi jelas terdengar. Aku menepis tangan rizal yang hendak memelukku, lalu aku bersimpuh disisi jasad kak faisal. Aku menangis tanpa suara, walaupun rasanya ingin menjerit sekeras kerasnya.
“kak kenapa bisa begini, kenapa kakak pergi secepat ini kak..”
aku terisak sambil memegang tangan kak faisal yang dililit perban, dingin sekali tangan itu. Kaku bagaikan batu.
“kak faisal janji akan memberikan kejutan untukku, tapi mana kak.. Ayo kak bangun kak, jangan meninggalkan masalah.. Kakak tak boleh pergi dulu…”
aku meratapi jenazah kak faisal. Rizal meremas bahuku, tangannya gemetaran.
“sudahlah yo.. Tenangkan dirimu.. Ikhlaskan kepergian kakakmu.”
bujuk faisal dengan suara parau. Aku tak memperdulikan rizal, aku menunduk diatas tubuh kak faisal, kemudian menempelkan pipiku di perutnya. Bau amis darah bercampur alkohol tak aku perdulikan. Airmataku membasahi kain putih yang menyelubungi tubuh kak faisal.
“kak.. Ini tak lucu, bangun kak…bangun.. Jangan tinggalkan aku, kak aku sayang kak faisal.. Aku sayang kak faisal..aku sayang..”
suaraku semakin melemah karena tenagaku habis, sesak dan sakit membuat aku lemas. Aku memukul dan menggoyang goyang tangan kak faisal berharap kak faisal mau bergerak walaupun cuma sebentar.
“rio.. Sudahlah rio..”
faisal mencoba menarikku agar berdiri, aku berontak menepis tangan rizal kasar. Rizal memandangku kasihan, ia tertunduk, airmatanya juga tergenang di pipinya.
“kak bangun dong.. Ayo kak.. Demi amalia, demi calon anak kak faisal.. Demi rio kak.. Ayo kak bangun.. Bangun… Bangun..!”
aku menggoncang tubuh kak faisal semakin keras, namun tubuh itu tetap terbujur kaku. Matanya tetap terpejam. Luka memenuhi wajahnya. Bagian kening hingga keatas rambut tertutup oleh perban yang berwarna merah karena darah. Wajah kak faisal nyaris tak bisa aku kenali lagi. Hatiku betul betul hancur melihat kondisi kak faisal. Bibirnya sobek hingga ke pertengahan pipi, bekas jahitan yang masih baru membuat bagian itu berkerut. Sobekan sobekan pada wajah dan tulang pipinya sangat parah hingga dokter mungkin tak bisa melakukan apa apa lagi untuk memperbaikinya. Aku sangat berharap semua ini cuma mimpi. Mimpi buruk yang akan hilang bila aku terbangun. Berkali kali aku menampar pipiku dengan keras namun aku tak terbangun. Ini bukan mimpi, ini nyata. Ini betul betul terjadi. Batinku terguncang aku meremas seprei dengan gemetaran.
Tiba tiba pintu terbuka. Mama berlari masuk bersama papa menghampiri aku.
“faisal…..”
desis mama tak percaya. Aku menoleh ke mama, ia menatapku seolah ingin aku meyakinkan semua ini. Aku mengangguk dengan berat hati, mama kembali melihat kak faisal yang terbaring tegak diatas tempat tidur. Ekspresi mama tak dapat ditebak, bibirnya bergetar mendesiskan nama kak faisal. Dokter menghampiri kami dan menutup kembali wajah kak faisal dengan selimut. Aku merosot dan terduduk saat melihat mama terhempas jatuh di lantai.
“mamaaaaaaaa”
aku bergerak seolah baru tersadar. Papa yang tak siap hanya terdiam tanpa melihat mama, pandangan papa hanya ke kak faisal. Wajah papa tanpa ekspresi bagai patung.
+++

Dalam sekejab seisi ruangan ini jadi panik, anto dan rizal membantuku mengangkat mama, papa masih saja mematung seolah kehilangan kesadaran hanya menatap tubuh kak faisal yang terbujur kaku. Anto memberikan minuman yang diberikan seorang perawat untuk mama.
Aku tahu betapa hancurnya hati mama hingga ia tak sanggup menanggungnya. Aku bingung dengan keadaan ini, disaat ini semua betul betul kacau, aku tak tahu siapa yang harus lebih dulu aku utamakan, mama yang pingsan, papa yang shock atau jenazah kak faisal. Aku bagaikan orang linglung yang tak tau harus melakukan apa menyikapi situasi seperti ini. Rizal dan anto masih sibuk mengipasi mama, menyeka keringat yang mengalir dari keningnya. Dadaku betul betul sesak, aku tak siap dengan semuanya, betul betul tak siap. Masalah yang datang terus menerus tanpa henti membuat aku tertekan. Perlahan aku menghampiri papa, ku rangkul papa menjauhi kak faisal, namun papa tak bergeming sedikitpun. Ia menggelengkan kepalanya lalu mendekati kak faisal, mengusap kening kak faisal seolah olah kak faisal sedang tertidur, papa bergumam tak jelas. Bersimpuh disisi kak faisal dan mencium kening kak faisal. Aku menyentuh bahu papa. Ia menoleh dan menatap mataku. Belum pernah aku melihat pandangan papa sekosong ini, seolah tak ada gairah dan semangat hidup. Aku mengangkat tubuh papa namun ia kembali menggeleng lemah. Papa menyelimuti kak faisal lagi.
“dia telah pergi yo, dia telah pergi…”
gumam papa parau. Aku mengangguk memaksakan senyum.
“iya pa.. Kak faisal telah kembali pada yang kuasa.. Kak faisal telah tiada..”
kesedihanku kembali membuncah seolah ingin menyeruak keluar dari dada ini. Ku gigit bibir keras keras agar aku tak menangis lagi, melihat keadaan kak faisal yang seperti ini sangat menyakitkan.
“faisal anakku..faisal…kenapa kamu harus meninggalkan papa secepat ini.. Kenapa harus begini caranya…kenapa…”
ratap papa pilu sambil mendekap kak faisal seolah tak ikhlas kak faisal meninggal.
Tiba tiba mama terbangun dan langsung duduk cepat seolah terbangun dari mimpi buruk, mama langsung turun dari kursi, berlari menghampiri kami tanpa memperdulikan rizal dan anto.
“anakku… Anakku… Ya Allah.. Anakku..!!”
mama memeluk jenazah kak faisal dengan histeris, suara raungan mama membuat bulu kudukku merinding.
“tidaaaaaaaak…!! Tidak mungkiiiiiin… Ini tidak mungkiiiiin….!”
lengking mama beradu dengan tangisnya. Mama mengguncang guncang tubuh kak faisal seolah dengan begitu kak faisal akan bangun. Aku tak kuasa menghentikan mama, mataku nanar memandang semua ini.
“maafkan mama nak… Maafkan mamaaaa…… Oh… Tuhan.. Anakkuuu… Maafkan mamaaaa”
ratap mama bergetar. Mama berteriak sambil bersimpuh memeluk perut kak faisal. Mata kak faisal terpejam, wajahnya pucat bagai kertas, bibirnya yang biru mengecil karena dijahit, kemeja putih yang ia pakai dipenuhi noda darah yang mengering, kemeja putih itu, celana putih yang kak faisal pakai, apakah ia memberikan isyarat itu padaku. Ataukah ini hanya sekedar kebetulan, aku teringat dengan sikap kak faisal sebelum berangkat, ia sempat memelukku sebelum berangkat, dan semalam kak faisal mengatakan ingin tidur bersamaku untuk yang terakhir kali, aku mengira itu hanyalah sekedar perkataan yang ia ucapkan karena menimbang ia akan meninggalkan rumah setelah menikah, ternyata itu memang menjadi kebersamaan kami untuk yang terakhir kalinya. Mama masih meraung raung bagaikan orang gila, mama terus memeluk kak faisal seolah enggan untuk melepaskannya walaupun teman teman kak faisal berusaha untuk menenangkannya. Papa walaupun tak seperti mama, namun aku tahu betapa hancurnya hati papa, entah seberapa hancur batinnya. Mata papa merah dan penuh air mata. Sulit bagiku untuk tetap tegar dengan keadaan ini. Aku ikut bersimpuh dengan mereka, meratapi kak faisal.
“kamu menghukum mama.. Kamu membenci mama nak… Mama minta maaf.. Mama minta maaf… Ya Allah.. Ya Allah…astaghfirullah ya allah…”
raung mama sambil memukul mukul kasur tempat kak faisal terbaring. Mama sebentar sebentar membungkuk ditubuh kak faisal, kemudian tegak lalu membungkuk lagi, air matanya deras menganak sungai. Tubuh papa terguncang guncang menahan isakan. Aku mengigit bibir hingga luka tubuhku pun ikut terguncang hebat. Aku memegang dadaku kuat kuat meremas bajuku hingga kusut. Tak ada siapapun yang berani mendekati kami walaupun sekedar untuk menghibur karena mereka tau semua itu sia sia.

Kenangan masa lalu melintas dalam otakku bagaikan proyektor yang memainkan kembali rekaman rekaman kebersamaanku dengan kak faisal, delapan tahun yang lalu aku datang ke palembang, menjadi bagian dari keluarga ini, kak faisal yang gagah tak menyambut kedatanganku dengan gembira, ia bahkan mengatai aku gembel, namun tak lama ia sudah bisa menerimaku. Kenangan waktu aku dia ajak berkumpul dirumah agus, kami minum minuman keras dan menghisap ganja. Awal dimana hubunganku dengan kak faisal semakin dekat, kenangan waktu ada yang menggangguku di sekolah, kak faisal memukul teman sekelasku itu hingga kak faisal harus menghadapi guru yang berakhir dengan kak faisal di skors selama empat hari, kenangan waktu ia mengajari aku menonton film dewasa dan onani, kenangan waktu aku sakit malaria kak faisal dengan setia menungguiku hingga aku sembuh dan keluar dari rumah sakit walaupun karena itu ia harus membolos. Dan juga waktu aku baru lulus sma, kak faisal mengajak aku ke sekayu bersama teman temannya untuk merayakannya. Kak faisal begitu baik dan perhatian padaku. Begitu banyak kenangan kenangan indah bersama kak faisal, aku tak sanggup membayangkan bagaimana hari hariku ke depan nanti tanpa ada kak faisal lagi. Kak faisal yang sangat perhatian. Walaupun ia nakal namun kak faisal begitu menyayangi dan selalu melindungiku. Meskipun aku cuma sekedar adik tirinya namun kak faisal bersikap melebihi seorang kakak kandung sekalipun. Ia selalu berusaha untuk membuat aku senang, hingga semua teman temannya segan padaku. Kak faisal bahkan memberikan pengertiannya saat tau aku seorang gay. Kak faisal tak marah atau menghakimiku, malah ia mengancam akan membuat perhitungan dengan siapa saja yang berani menyakiti aku. Bahkan disaat dia lagi dilanda masalah besar pun, kak faisal masih sempat untuk memberikan aku kejutan. Entah apa yang dipersiapkan kak faisal sebagai kejutan untuk aku dan mama. Allah keburu memanggil kak faisal. Kesedihan semakin menyeruak dalam dadaku. Aku menangis. Tangisan sedih kehilangan yang mendalam. Berkali kali aku melafaskan inalillahi wa ina illahi rojiun.. Berkali kali aku menggetarkan asma Allah.. Bukan aku tak mengikhlaskan kepergian kak faisal, namun aku belum siap menghadapinya secepat ini. Tiba tiba bahuku dipegang dari belakang. Aku menoleh. Koko tersenyum lemah menganggukan kepalanya. Aku memeluk koko dan menumpahkan semua kesedihanku.
Mama masih menangis tanpa henti disisi jenazah. Papa memeluk mama mencoba menenangkan mama walaupun air mata papa juga mengalir dengan deras. Dingin dalam ruangan ini sedimih perasaan hatiku yang ikut mati bersama kak faisal. Kakiku terasa lumpuh tak sanggup lagi berdiri. Rizal menahanku agar tak terjatuh. Aku tak tahu lagi saat dibawa keluar dari ruangan itu. Begitu aku sadar sudah banyak teman temanku mengelilingiku, menghibur aku. Bahkan aku melihat amalia juga. Ia sedang duduk di kursi paling pojok sambil menggigit kuku jarinya. Aku tak berani menatap amalia, aku tau saat ini amalia pasti kebingungan dan sedih. Masa depannya yang ia impikan bersama kak faisal telah sirna.
PELAMINAN DIATAS PUSARA.

“rio, lebih baik kamu pulang dulu, lagian tak ada yang bisa kamu lakukan disini..”
ajak koko. Sebetulnya itu benar juga, tapi aku tak ingin meninggalkan kak faisal, aku ingin kak faisal merasakan bahwa ada aku bersamanya.
“tidak ko.. Aku mau disini saja..”
aku menggeleng, kerongkonganku terasa sakit, airmata telah membuat mata dan hidungku bengkak.
“aku turut berduka cita yo, memang berat kehilangan seorang kakak.. Aku pernah mengalami dan merasakan sendiri…”
desis koko penuh keharuan. Ia menuntunku duduk ditempat yang agak sepi. Beberapa orang teman kak faisal berkumpul didepan pintu UGD. Mereka penasaran ingin melihat langsung keadaan kak faisal.
“yo… Aku bisa temani kalau kamu butuh teman untuk berbagi…”
koko merangkulku. Aku menunduk dan menangkupkan kedua tangan menutupi wajah. Airmata mengalir di sela sela jariku. Setiap aku teringat kak faisal, aku tak dapat menahan kesedihan.
Detik detik berlalu bagaikan semakin cepat dari biasanya. Tak ku sadari mama dan papa telah keluar dari unit gawat darurat. Mama masih menangis sambil menutup hidungnya dengan saputangan putih bersih di pelukan papa. Tubuh mama berguncang guncang pertanda betapa sesaknya perasaan mama.
Aku berdiri mendekati mama dan papa, aku merangkul mereka berdua.
Papa mengajak aku pulang, katanya dokter akan membersihkan dan memperbaiki jenazah kak faisal agar bisa dimandikan dirumah. Nanti jam setengah tujuh, jenazah kak faisal diantar kerumah.
Sepanjang perjalanan mama masih terus meratapi kepergian kak faisal, mama betul betul merasa bersalah. Berkali kali mama mengungkit masalah kak faisal dan mama menyalahkan dirinya yang tak adil terhadap kak faisal. Aku hanya diam mendengarkan segala penyesalan yang terlontar dari mama.
“mama memang bukan ibu yang baik… Maafkan mama nak, maafkan mama..”
isak mama tersengal sengal.
“andai mama tau akan begini jadinya, tak akan mama menghukum kamu.. Mama sangat menyayangi kamu faisal anakku.. Mama menyayangi kamu nak…”
papa menatap lurus ke depan, menyetir penuh konsentrasi, namun air mata papa mengalir, entah apa yang papa pikirkan.
“andai mama merestui pernikahanmu.. Andai mama tak menghukum kamu…ini semua tak akan terjadi…maafkan kesalahan mama..mama telah menyebabkan kamu meninggal..ini semua salah mama…”
ratap mama tak henti henti, aku begitu kasihan melihat mama. Beliau sangat tertekan. Namun aku tak tau bagaimana cara menghibur mama, segala kata kata bagai hilang dari pikiranku. Hanya bayangan wajah kak faisal yang mengisi benakku.
Sampai dirumah aku langsung duduk di kursi makan. Melamun. Sedangkan mama dan papa langsung masuk kamar.
Aku baru tersadar saat bik tin memegang bahuku.
“bang, mandi dulu, nanti keburu banyak yang datang..”
bik tin mengingatkanku dengan hati hati agar tak membuat aku terkejut. Mata bik tin juga bengkak, sepertinya bik tin menangis.
Aku mengangguk pelan dan berdiri dengan lesu.
Begini rupanya rasa ditinggalkan untuk selama lamanya oleh orang yang dekat dan begitu disayangi. Bagaikan kehilangan separuh jiwa. Tak enak mau apapun, dada sesak, hati sakit, hilang semangat dan air mata turun tanpa bisa ditahan.
Aku mengguyur tubuh dengan air, rasanya dingin bagai diguyur air es, menggigil sekujur tubuh serasa mau demam. Tulangku bergemeretak ngilu. Berkali kali aku mencuci muka agar tak terlalu sembab.
Aku mengeringkan tubuh dengan handuk. Setelah berpakaian aku keluar kamar. Sudah banyak saudara saudara yang datang. Odie sedang membentangkan karpet diatas lantai, beberapa yang lain mengangkut kursi dan meja hingga ruang tengah menjadi lapang. Kasur di gelar diatas lantai. Sebentar lagi jenazah kak faisal akan sampai disini. Aku berjalan menuju ruang tamu. Beberapa orang tetangga sekitar sini sedang duduk, yang perempuan memakai kerudung dan lelaki memakai kopiah. mereka tersenyum prihatin kepadaku. Aku membalasnya dengan berat hati. Aku berjalan ke teras, didepan ada mobil yang membawa tenda dan kursi. Dengan cekatan para pekerja memasang tenda dan menyusun kursi, sementara para pelayat berdatangan tak putus putus. Aku duduk di tangga lantai teras menunggu mobil jenazah yang akan mengantarkan kak faisal kesini. Pandanganku hampa melihat tamu tamu yang berdatangan dan duduk di kursi yang disediakan dibawah tenda. Seharusnya kedatangan para tamu besok dipernikahan kak faisal, untuk memberikan doa restu, bukan seperti sekarang, kedatangan mereka hanya untuk mendoakan agar kak faisal diterima ditempat yang layak disisi Allah.
Entah kenapa semakin banyak yang datang rasanya makin hampa.
Sebuah mobil berwarna putih memasuki halaman rumah. Orang orang yang duduk menunggu langsung berdiri semuanya. Sebuah peti diturunkan dari pintu belakang mobil. Aku berdiri menyongsong jenazah kak faisal. Saudara saudara membantu mengangkat peti yang berat itu membawanya masuk ke dalam rumah. Beberapa orang paramedis mengikuti masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti dari belakang berjalan bagai zombie hingga peti kak faisal diturunkan ke lantai.
Paramedis membuka peti itu dan memindahkan jenazah kak faisal ke atas kasur di lantai lalu menutupi tubuh kak faisal dengan kain batik. Mama keluar dari kamar mengenakan kerudung dan membawa alquran. Lalu duduk di sisi kak faisal. Aku duduk disamping mama dan ikut mengambil yasin yang tersusun di dekat kak faisal. Tante laras, odie, papa, om beno, dan seluruh keluarga yang datang duduk mengelilingi jenazah kak faisal. Dengungan suara ayat yasin langsung mengalun di seisi rumah. Aku membuka lembaran yasin dan membacanya dengan khusuk. Walaupun air mataku tak berhenti mengalir namun aku bertahan, suaraku tersendat karena hidungku buntu. Mama membaca yasin sambil sesekali menyusut hidung. Demikian juga yang lain. Hanya para tamu yang bisa membaca dengan tenang.
Aku sesekali menatap tubuh kak faisal yang terbujur tak bergerak dibawah kain yang menyelubunginya. Ingin rasanya aku memeluknya dan tak melepaskan lagi. Mama meletakkan yasin di samping jenazah kak faisal.
Mama berjalan menuju dapur. Aku menyusul mama, ternyata mama sedang menangis sambil menyender di pintu kulkas. Aku mengigit bibir keras keras. Aku tak tega melihat keadaan mama yang seperti ini. Aku hampiri mama dan aku peluk. Mama menangis tanpa dapat di tahan lagi.
“yo.. Kamu tau apa yang paling membuat mama sakit…”
sela mama diantara isakannya.
“apa ma…?”
tanyaku sambil menyeka air mata.
“faisal pergi disaat mama sedang marah, ia pergi diiringi kebencian mama… Mama menyesal yo.. Mama menyesal..”
mama meratap pilu.
Aku menggosok punggung mama.
“sudahlah ma, jangan mama sesali itu, rio yakin kak faisal pasti mengerti, kemarahan mama karena mama menyayanginya..”
aku coba menghibur mama.
“tidak yo.. Tidak..mama lah yang menyebabkan ia pergi..”
bantah mama.
“jangan di pikirkan ma.. Kalau mama berpikiran begitu, mama tak akan bisa tenang, kak faisal juga pasti tak akan tenang kalau ia tau mama seperti ini..”
“ia pasti membenci mama yo.. Ia pasti marah sama mama…”
isakan mama semakin menjadi jadi.
“sshhh… Ma, tenang ma… Kak faisal tak marah sama mama, ia justeru sedih karena telah membuat mama kecewa.. Ia mengatakan sendiri sama rio ma..”
mendengar kata kataku mama bukannya diam malah tangsannya makin menjadi jadi.
“sekarang ia telah pergi untuk selama lamanya.. Padahal kemarin mama telah mengusirnya..tetapi setelah ia pergi untuk selama lamanya, mama baru sadar, mama menyesali semua kata kata mama. Mama kehilangan dia yo.. Mama tak tau harus bagaimana…sakitnya hati mama yo.. Mama tak adil padanya..”
aku terdiam, mencerna kata kata mama. Aku mempererat pelukanku, agar mama bisa lebih terhibur, agar mama ingat masih ada aku yang menyayanginya.
Tante laras menyusul kami di dapur.
“kak.. Banyak tamu di luar, tak enak kalau di tinggalkan, aku tau kakak sedang kehilangan dan ingin menyendiri, tapi tolonglah di tahan dulu sebentar.. Temui para pelayat kak..”
tante kasar menuntun mama perlahan agar mengikutinya ke ruang keluarga.
Aku mengangguk pada mama dan mengikuti mama kembali duduk di sisi jasad kak faisal. Aku sibak kain bagian atas kak faisal, wajahnya telah lebih bersih walaupun sisa luka masih memenuhi wajahnya. Menurut keterangan dokter, pecahan pecahan kaca memenuhi wajahnya dan mereka harus ekstra hati hati mengangkatnya. Aku usap wajah kak faisal, terasa dingin dan kaku. Wajah yang biasanya selalu tersenyum dan penuh semangat, sekarang wajah itu membeku, tak ada ekspresi, terpejam, pucat.
Aku cium keningnya sambil berdoa dalam hati.
“kak, aku ikhlas dengan kepergian kak faisal, tidurlah dengan tenang kak… Kami semua menyayangi kakak..”
aku berbisik pelan di telinganya seakan ia bisa mendengarnya.
.
.
Aku terbangun dengan kepala yang terasa sakit. Suara dari masjid yang membuat aku terbangun.
“ASSALAMUALAIKUM.WARAHMATULLAH HI WABARAKATUH..BERITA DUKA CITA… TELAH MENINGGAL DUNIA, NAMA FAISAL HANUTAMA MAHENDRA BIN SUHARLAN MAHENDRA, UMUR 24 TAHUN, MENINGGAL DUNIA PADA PUKUL 15:45 WAKTU INDONESIA BARAT, AKAN DI SHOLATKAN DI MASJID AGUNG SELEPAS SHOLAT ASHAR DAN AKAN DIKEBUMIKAN LANGSUNG DI TEMPAT PEMAKAMAN UMUM PUNCAK SEKUNING SETELAH SELESAI DI SHOLATKAN…
Berulang ulang suara itu bergema dari menara masjid ke menara masjid yang terletak tak jauh dari rumahku secara sambung menyambung. Aku tersadar ternyata semua ini nyata bukan sekedar mimpi buruk. Aku bangun dan keruang tengah. Mendekati jenazah kak faisal. Aku bersimpuh disisinya. Kembali kesedihan yang mendalam aku rasakan. Inilah hari terakhir aku masih bisa bersama kak faisal, masih bisa melihat wajahnya walaupun dia telah meninggal. Aku sibak kainnya dan aku pandangi kak faisal sepuasnya. Mama tertidur di lantai tak jauh dari jenazah kak faisal. Hanya ada beberapa yang masih terjaga termasuk odie yang masih saja membaca yasin. Odie membacanya dengan suara serak, odie pasti begitu sedih karena odie menyayangi kak faisal, meskipun sayangnya itu hanyalah bertepuk sebelah tangan. Entah kenapa aku masih saja berharap tiba tiba kak faisal membuka matanya dan terbangun lalu memelukku dan mengatakan ini semua hanyalah sebuah lelucon. Namun itu tak mungkin. Kak faisal benar telah meninggal dan tak akan pernah bangun.
Menjelang subuh, banyak yang mulai terbangun termasuk mama. Di halaman belakang, beberapa orang menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah kak faisal, karena kak faisal meninggal dalam kecelakaan dan pastinya kalau terkena air, tubuhnya yang luka akan kembali berdarah. Tempat itu dibuat sedemikian rupa agar darahnya tak meluber kemana mana.
Menjelang jam tujuh pagi, kembali para pelayat datang malah lebih banyak dari malam tadi. Mereka membawa beras sebagai tanda ikut bersimpati, walaupun aku yakin mama tak membutuhkan semua itu, namun beginilah tradisi disini. Beberapa tetangga yang membantu mengurus disini, menaruh beras itu ke dalam karung yang telah mereka persiapkan. Dalam sekejab telah penuh hingga berkarung karung.
Sebuah bak dari fiber ditaruh di dekat tempat untuk memandikan kak faisal. Bunga bunga bermacam rupa dan juga gayung di taruh dalam bak itu. Mama walaupun masih bersedih namun harus menahan semua itu karena harus melayani para pelayat. Beberapa ibu ibu sekitar sini sibuk memasak di dapur. Di samping Kasur tempat jenazah kak faisal telah di taruh beberapa kain kafan putih bersih yang terlipat rapi juga kapas serta damar, sebentar lagi jenazah kak faisal akan di mandikan.
Aku cuma bisa diam melihat semua kesibukan ini. Detik detik yang berjalan akan segera menghantarkan kak faisal ke tempat istirahat untuk terakhir kalinya. Aku mandi bersih, karena papa bilang, yang akan memandikan kak faisal adalah dari fihak keluarga. Setelah mandi aku kembali ke ruang tengah. Beberapa orang mengangkat tubuh kak faisal dari kasur dengan hati hati. Aku dipanggil oleh mama agar ke belakang ke tempat kak faisal akan di mandikan.
Disana telah menunggu papa, odie dan om beno. Mereka duduk diatas papan dengan kaki diluruskan. Aku disuruh duduk di samping papa. Dengan posisi yang sama. Tubuhku gemetaran saat jenazah kak faisal di baringkan diatas pahaku. Melintang dengan posisi papa di bagian muka, aku dada, om beno di bagian perut dan daerah intim, sedangkan odie di bagian betis hingga telapak kaki. Pak haji malik menutupi tubuh kak faisal dengan kain tebal lalu mencopoti pakaian kak faisal hati hati agar bagian yang tak layak dilihat orang lain tak terbuka. Sambil membaca doa ia mulai menyiram tubuh kak faisal dari atas hingga ke bawah tanpa putus putus dibantu oleh beberapa orang. Aku membersihkan tubuh kak faisal dengan sepenuh hati.. Sementara air mataku mengalir kembali dengan deras. Papa pun demikian. Terasa sekali kesyahduan suasana yang aku rasakan. Celanaku yang basah bercampur dengan darah. Aku berdoa tiada henti untuk kak faisal. Aku ingin kak faisal merasakan betapa aku menyayangi dan merasakan kehilangan yang teramat mendalam.
+++

Setelah selesai dimandikan, jenazah kak faisal di kafani oleh ketua masjid daerah sini dibantu oleh papa dan beberapa orang tetangga. Aku mandi lagi dan memakai baju koko. Sebentar lagi kak faisal dibawa ke masjid untuk di sholatkan. Sebelum dimasukkan ke dalam keranda, kami di izinkan untuk mencium kak faisal untuk terakhir kali. Mama mengulurkan tissue padaku untuk menahan airmata agar jangan sampai menetes jatuh ke wajah kak faisal. Aku memejamkan mata lalu mencium kak faisal lama sekali, gatal damar yang dibubuhkan di seluruh wajah kak faisal yang terkena hidungku tak aku perdulikan. Selamat jalan kak faisal, kenangan bersama kakak tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun..
Setelah itu satu persatu bergiliran memberikan salam terakhir untuk kak faisal.
Jenazah kak faisal dimasukkan ke dalam keranda lalu ditutup dengan kain beludru hijau tua bertuliskan ayat ayat. Empat orang mengangkat keranda, papa, om beno, om sebastian, dan paman herman. Semua mengiringi dari belakang. Aku berjalan disisi mama, tante laras, odie, tante sukma, koko, rian, rizal, agus dan beberapa teman lain yang aku tak tau mereka sudah ada disini. Kami berjalan hingga ke masjid. Kak faisal di sholatkan. Setelah itu keranda diangkut ke atas mobil, aku bersama keluarga naik ke mobil yang dibawa oleh isteri paman herman.
Beberapa rombongan yang lain juga ikut ke pemakaman ada yang mengendarai motor dan ada juga yang naik mobil. Liang lahat kak faisal telah disiapkan. Beserta sepasang nisan dari papan dan bilah bilah papan untuk menutupi liang lahat.
Om sebastian turun ke dalam bersama papa. Paman herman dan om beno menggendong jenazah kak faisal yang telah di kafani lalu mengulurkan kepada papa dan om sebastian. Papa membaringkan jenazah kak faisal ke dalam celah liang lahat. Aku berdiri di pinggir liang bersama mama yang terus menerus menyusut hidung dengan saputangan. Hampa sekali perasaanku saat ini. Bagaikan tak nyata berada disini. Seolah olah ini semua bagai mimpi yang tak selesai selesai. Koko menggenggam tanganku begitu kuat. Aku bagai tak percaya kak faisal yang kemarin masih bersamaku bercanda, yang selama ini selalu bersamaku, yang selalu menemaniku mengisi hari hari selama delapan tahun lebih, yang biasanya penuh semangat, yang hampir tak pernah diam, yang tampan dan banyak di gilai wanita. Yang begitu baik hati walaupun sedikit bandel. Sekarang harus dikubur dalam tanah. Kesepian ditengah tengah pemakaman. Tubuh yang gagah itu akan diselimuti tanah kuning untuk selamanya. Tak akan pernah lagi aku mendengar suara kak faisal, melihat tawa dan candanya, tak bisa melihat kak faisal tumbuh menjadi dewasa hingga tua nanti, begitu singkat usia kak faisal, seharusnya disaat ini ia masih bergembira menikmati masa mudanya, bersenang senang seperti biasanya. Menikah dengan amalia dan mempunyai anak. Amalia.. Aku baru teringat, dimana amalia.. Tak kulihat dia disini. Bahkan dari kemarin aku cuma melihatnya selintas saja dirumah sakit. Kemana amalia? Kenapa ia tak menghadiri pemakaman kak faisal, apakah terjadi sesuatu pada amalia hingga ia tak bisa datang. Aku harap amalia tak apa apa, semoga saja ia tak datang karena ia tak siap bukan karena sakit atau ada masalah. Setelah papan disusun hingga jenazah kak faisal tertutup sempurna, gundukan tanah langsung dijatuhkan ke dalam kuburan secara cepat. Mama memeluk tante laras karena tak sanggup. Tubuhku lemas.. Selesai sudah. Dengan tangan gemetar hebat mama menaburkan bunga diatas gundukan tanah kuning yang masih basah. Tangisan kembali mengiringi kak faisal di istirahat terakhirnya. Aku mengambil segenggam bunga dari keranjang bambu yang mama pegang. Lalu aku taburkan penuh khidmat dimakan kakak kesayanganku ini. Teriring doa dalam air mata untuk kak faisal, semoga kak faisal mendapat ketenangan di alam sana, semoga nanti kami akan dipertemukan lagi di surga yang indah.
.
Para pelayat satu persatu berpamitan pulang, mama menyalami mereka dan tak lupa berterimakasih untuk kedatangannya di pemakaman. Suasana menjadi lebih sepi, hanya tinggal keluarga dan kerabat. Semua bersimpuh disisi makam untuk mendoakan kak faisal. Mama berlutut tak perduli roknya kotor terkena tanah. Mengusap nisan kak faisal dan menciumnya. Demikian juga papa. Ceret tembaga kosong beserta keranjang kosong ia letakkan disampingnya. Papa berdiri sambil memapah mama. Mengajak kami semua pulang. Aku berat sekali meninggalkan makam ini, ingin rasanya menemani kak faisal, aku tak tega meninggalkan kak faisal disini sendirian dalam kuburan yang sempit ini. Namun om sebastian segera menarikku agar ikut pulang. Untuk pertama kali dalam beberapa tahun ini aku memeluk om sebastian. Ia merangkulku dan mengusap punggungku selayaknya dulu ketika aku masih menjadi miliknya. Aku merasa begitu rapuh saat ini, pelukan om sebastian sedikit menghiburku. Aku menangis didadanya.
“sabar yo.. Kak faisal telah mendapatkan tempat yang lebih baik.. Kita ikhlaskan saja ya..”
om sebastian menggiringku ke mobil. Tante sukma tersenyum padaku sambil merangkulku bersama om sebastian. Sampai mobil berjalan aku terus menatap kuburan kak faisal, kuburan beku tanpa jiwa, menebarkan aura kesuraman begitu kental. Air mataku tergenang tiada henti hingga kami meninggalkan tanah pekuburan dan makam kak faisal lenyap dari pandangan.
Selamat tinggal kak faisal.
Sampai dirumah aku langsung masuk dalam kamar. Aku berbaring dengan lesu, memandangi foto kenangan waktu masih ada kak faisal, foto waktu aku dan kak faisal di depan benteng kuto besak. Di lahat dan foto foto waktu kami lagi narsis di depan sekolah. Baru saja ditinggalkan sudah begini rasanya. Hampa dan kesepian. Tadi rian pulang tanpa memberitahuku. Mungkin ia langsung pulang ke kost nya. Aku ingin mencurahkan perasaan dan segala kesedihan pada rian, hanya ia yang bisa membuat aku tersenyum seperti biasanya.
Aku turun dari tempat tidur, aku tak bisa istirahat karena kepalaku pusing, aku keluar kamar, kemudian aku berjalan menuju kamar kak faisal, aku membuka pintunya. Kamar itu sudah rapi tak seperti biasanya. Mungkin bik tin yang sudah membereskannya. Seprei dipasang tanpa kerutan sedikitpun, bantal disusun bertumpuk. Karpet tak ada debu sedikitpun, meja belajar tak berantakan lagi. Aku merasa asing dengan kamar ini, tak seperti kamar kak faisal biasanya. Terasa sekali bedanya. Biasanya walau telah dibersihkan oleh bik tin, kak faisal akan mengacak acaknya lagi. Biasalah kak faisal, tak terlalu suka kamarnya rapi, katanya kayak kamar cewek. Gitar listrik dan drum yang terletak di sudut berkilau tertimpa cahaya matahari yang menerobos lewat jendela. Aku duduk di sisi tempat tidur tiba tiba pintu terbuka dan mama masuk.
“eh ada kamu…”
mama agak terkejut ragu untuk masuk.
“ma…”
aku memanggil mama karena kulihat mama berbalik hendak keluar.
“iya sayang ada apa?”
mama menoleh lagi, suara mama masih serak karena terlalu banyak menangis.
“mama yang tabah ya ma..”
padahal aku hampir tak bisa tabah, namun aku tak tega melihat mama, ia belum bisa menerima semua ini.
“rio… Sebelum meninggal, faisal ada cerita apa aja nak?”
mama berjalan menghampiriku lalu duduk disampingku. Aku menatap mama sebentar, lalu menunduk.
“kak faisal tak banyak cerita ma, dia cuma menyesal telah membuat mama kecewa, sebetulnya kak faisal begitu menyayangi mama, ia sangat takut bila mama marah..”
jelasku apa adanya.
Mama menggeser duduknya lebih dekat denganku.
“mama begitu kecewa ketika amalia hamil, kamu tau sendiri bagaimana sulitnya mama untuk menerima amalia dulu, dan setelah mama mengijinkan, mereka malah menyalahgunakan semua… Mama begitu banyak rencana untuk faisal dan kamu.. Dan semua itu sudah buyar..”
isakan mama mulai lagi.
“kak faisal tau ma… Makanya ia betul betul menyesal, aku bahkan banyak bercerita dengan kak faisal dari kemarin..”
“apa saja yang ia katakan..”
“aku merasa hampir tak mengenal kak faisal ma.. Ia mendadak jadi dewasa, lebih berpikir.. Bahkan ia pun tak protes sedikitpun ketika tau mama mau membelikan aku mobil..”
mataku kembali berkaca kaca.
“betulkah itu nak…”
mama terkejut.
“iya ma.. Sebetulnya sudah ada tanda tanda kak faisal mau pergi ma.. Waktu malam setelah lamaran itu kak faisal begitu beda ma.. Ia menangis karena harus meninggalkan mama.. Meninggalkan rumah ini, ia menyesal telah menghancurkan hati mama.. Bahkan ia juga berharap suatu saat mama bisa memaafkannya lagi..”
aku terisak. Mama ikut terisak bersamaku.
“malam itu kak faisal mengajak aku menemaninya tidur.. Ia bilang untuk yang terakhir kali… Aku tak menyangka kalau itu merupakan pertanda ma..”
mama meremas tanganku kuat sekali, tangannya bergetar.
“besoknya kak faisal meminjam mobilku, karena mobilnya mama ambil kuncinya.. Kak faisal memakai baju putih dan celana putih, padahal mama tahu sendiri bagaimana almarhum dulunya..”
jelasku sambil mengusap lengan baju ke hidung. Mama mengangguk angguk pelan. Air mata mama jatuh diatas blouse yang ia pakai.
“kamu tau ia pergi kemana sebelum kecelakaan itu terjadi..?”
tanya mama.
“tepatnya kemana aku tak tau ma.. Tapi ia bilang ia akan memberikan kejutan pada aku dan mama..”
aku menangis tersedu sedu karena dengan bercerita membuat aku menjadi kembali sedih. Mama memelukku dan menangis juga.
Pintu terbuka. Om sebastian masuk ke dalam kamar. Mama menyeka airmatanya.
“ada apa bas?”
tanya mama.
“ini kak.. Ditemukan dalam mobil yang dipakai faisal kemarin.”
om sebastian mengulurkan sebuah kotak beludru seukuran kotak pasta gigi. Dan sebuah kotak berukuran sebesar kotak sepatu, disampul kado pembungkus yang berkilau. Dengan tangan bergetar mama menerima kotak yang diberikan om sebastian.
“ini ada amplop juga kak..”
mama mengambilnya dan membuka. Ada kartu ucapan berwarna merah hati.
Setelah membacanya mama langsung pingsan.
“mamaaaa…”
aku berteriak kaget. Om sebastian membaringkan mama diatas tempat tidur kak faisal. Aku memunguti kartu yang tadi mama baca. Aku terdiam saat membaca kata kata yang ditulis kak faisal dalam kartu itu. Tubuhku menjadi lemas hingga kartu itu terlepas dari tanganku tanpa aku sadari. Aku raih kotak berukuran sebesar kotak sepatu. Aku menangis terisak isak.
___

“om lagi ngurus mobil kamu biar bisa langsung diambil, sopir truk yang menabrak almarhum faisal sekarang masih di opname dirumah sakit charitas, keadaanya sungguh mengenaskan..”
om sebastian menjelaskan. Aku menunduk memandangi kotak yang aku pegang. Mama belum siuman juga, om sebastian mengipasi mama dengan sebuah majalah.
“coba kamu lihat apa isi kotak itu yo…”
om sebastian berdiri lalu keluar dari kamar.
Aku jadi makin sedih, sebelum meninggal kak faisal masih sempat membelikan aku dan mama hadiah. Sebuah kejutan yang tak aku duga. Aku menduga duga apa isi dalam kotak ini, lumayan berat juga.
Om sebastian masuk kembali dengan membawa segelas besar air putih. Lalu ia mengangkat punggung mama sedikit, menempelkan gelas itu ke bibir mama. Perlahan mama mendapatkan kembali kesadarannya.
“kak…sukurlah kakak sudah siuman..”
suara om sebastian terdengar lega.
Mama bergerak hendak menyender, ia mengurut keningnya seolah masih merasa pusing.
“ma.. Jangan terlalu memikirkannya ma, ini semua bukan salah mama, ini kecelakaan ma..”
aku mendekati mama dan menghiburnya. Mama menggeleng, airmata mama mengalir dari sudut matanya.
“bahkan ia masih sempat memikirkan mama..” isak mama sedih.
“aku tau ma, kak faisal memang mengatakan ingin memberi kejutan, tapi aku tak menduga kalau ia membelikan hadiah untuk aku dan mama.”
aku mengusap kotak yang aku pangku dengan dada sesak.
Ku ambil lagi surat yang terselip dalam kartu itu. Kubaca tulisan tangan kak faisal.
.
Assalamualaikum..
.
mama, faisal tahu mama begitu kecewa dengan apa yang faisal lakukan. Faisal tak tahu bagaimana memperbaiki kesalahan faisal, maafkan faisal ma, faisal tak bisa membuat mama bangga, cuma bisa membuat mama malu, mencoreng aib di keluarga ini, faisal bisa menerima kemarahan mama, faisal ikhlas menerima hukuman dari mama. Karena kesalahan faisal sudah terlalu besar. Faisal minta doa restu mama, cuma itu yang faisal harapkan dari mama. Izinkan faisal menikahi amalia, faisal harus bertanggung jawab. Andai dengan itu faisal harus kehilangan semuanya faisal ikhlas. Faisal akan berusaha menjalani kehidupan yang sesungguhnya, yang perlu perjuangan serta kerja keras. Faisal tak akan membawa apa apa dari rumah ini ma, mama tak perlu kuatir. Faisal akan berusaha mencari pekerjaan walaupun harus menjadi kuli sekalipun faisal jalani. Faisal pamit sama mama, semoga suatu hari nanti mama bisa memaafkan faisal. Hanya kata maaf dari mama yang ingin faisal dengar. Agar faisal bisa tenang. Setelah menikah nanti, faisal akan pindah ke sekayu ma, faisal akan memanfaatkan tabungan faisal untuk mencoba bertani. Dua minggu waktu faisal kabur dari rumah, faisal sudah belajar berkebun ditempat teman faisal, doakan faisal dan amalia bahagia, dan cucu mama juga bisa lahir dengan selamat dan sehat.
Faisal sayang mama.
.
NB. Ma faisal belikan mama gelang, memang tak mahal, tapi faisal beli dengan tabungan faisal sendiri, semoga mama suka, itu sebagai kenang kenangan dari faisal untuk mama.

Ttd.
Faisal
.
Aku lipat surat itu dan kumasukkan dalam amplop.
Itu surat dari kak faisal untuk mama.
Diatas kotak untukku juga ada surat, namun belum sempat aku buka. Kak faisat menulis dua surat, yang satu untuk mama, dan yang satu lagi untuk aku. Aku yakin kak faisal sudah menulis surat itu dari sebelum ia membelikan hadiah ini. Kak faisal sudah merencanakan segalanya.
Mama mengambil amplop yang aku letakkan disampingnya. Mama membuka kotak beludru pemberian kak faisal. Seuntai gelang dari emas 18 karat bertahta permata tiruan namun begitu indah bagaikan permata asli, berbentuk hati yang di jalin melingkar membingkai batu warna hijau zamrud berkilauan. Terlihat mahal. Mama mendekap gelang itu didadanya. Mulut mama bergetar membisikkan nama kak faisal. Aku melepaskan selotip yang menempelkan surat dari kak faisal di kotak yang aku pegang, kemudian aku buka dan ku baca.
.
Assalamualaikum.
.
Rio, kakak tak banyak yang bisa dikatakan, cuma ingin adek tau kalau kakak sangat sayang sama rio, maaf ya kalau kakak bikin rio kecewa, tapi kakak janji, kakak nggak akan pernah lupa sama rio, rencana kakak, setelah menikah nanti, kakak akan tinggal di sekayu, kalau rio ada waktu sering sering lah main ke tempat kakak. Terimakasih sudah mendukung kakak selama ini, rio tau apa hadiah terbesar yang pernah kakak dapatkan, ialah ketika kakak mendapatkan adek seperti rio. Kakak merasa begitu beruntung, terimakasih selama ini sudah menjadi teman sekaligus adek yang baik untuk kakak.. biarlah hubungan kita selamanya hanya sebagai adik dan kakak.. Kakak sadar rio berhak mendapatkan kebahagiaan yang tak dapat kakak berikan. Tapi jujur, kehadiran rio dirumah ini telah membawa begitu banyak perubahan bagi kakak, dan kakak sangat bersyukur untuk itu. Satu permintaan kakak, jagalah semua ini jangan sampai ada keluarga kita yang tau. Kakak tak ingin rio dapat masalah.
Saat kakak tau rio berhubungan dengan rian, terus terang kakak sangat kaget. Sebetulnya kakak tak ikhlas, Pernah terpikir untuk melarangnya. Kakak tak berani terus terang mengatakan itu. Setelah kakak berpikir lagi kakak bersyukur tak menghalangi kebahagiaan kamu.
Ini kakak ada sesuatu untuk kamu. Karena mungkin setelah ini kakak mungkin tak bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk rio..
Jangan lupa besok adek harus hadir untuk memberikan semangat bagi kakak.
Terimakasih banyak untuk semua yang telah adek lakukan.
Pesan kakak, bukalah kado dari kakak tanpa sepengetahuan mama, di situ adek akan mengerti tentang sesuatu rahasia yang selama ini adek tak tahu.
Salam sayang.
Faisal.
Aku melipat surat dari kak faisal, tanganku bergetar.. Perlahan ku lepaskan selotip pada pembungkus kado. Sebuah kotak dari karton tebal berwarna biru. Kubuka penutupnya, perlahan ku angkat sebuah album kecil seukuran buku agenda, disampingnya ada sebuah saputangan bertuliskan nama ricardo malvin silalahi. Aku menoleh ke arah mama, ia sedang termenung memandangi gelang pemberian almarhum. Aku berdiri dan memberitahu mama kalau aku mau kembali ke kamarku. Mama mengangguk. Om sebastian memandangku seolah ingin bertanya. Namun aku tak hiraukan.
Aku kunci pintu kamarku. Apa maksud kak faisal memberikan kejutan ini padaku, kenapa mama tak boleh tau, ada apa sebenarnya ini. Bermacam pertanyaan berkecamuk dalam otakku.
Aku duduk diatas tempat tidur dan membuka lagi kotak ditanganku. Aku keluarkan album mini itu, ku buka perlahan. Ternyata foto pernikahan.
Astaga… Jantungku berdebar kencang, kepalaku langsung pusing. Ternyata sepasang mempelai yang bersanding di pelaminan itu adalah mama, dan disampingnya itu, betul betul mirip aku, sangat mirip hingga nyaris bisa dibilang seperti lembaranku. Tanganku yang gemetaran secara refleks membalik halaman selanjutnya. Masih foto pernikahan mama. Tak terasa air mataku mengalir, sederetan foto yang mulai usang, menampilkan mama dan om alvin, wajah om alvin sumringah tersenyum disamping mama, lalu ada lagi foto seorang bayi lelaki yang begitu montok sedang di gendong mama yang sedang tersenyum menciumnya.. Tanpa diberi tahu aku langsung sadar kalau bayi itu adalah aku. Yang membuat aku shock ternyata suami mama dulu ialah om alvin. Aku jadi mengerti dengan segalanya. Semuanya menjadi jelas kini.
+++

Jadi selama ini seseorang yang begitu ingin aku tau, yang membuat aku rindu dan bertanya tanya, yang membuat aku merasa tak berarti, ternyata begitu dekat, bahkan aku sering bersamanya. Aku mengerti kenapa om alvin selalu menhindar untuk datang kerumah walaupun sudah aku ajak berkali kali, ia selalu punya alasan untuk menolak secara halus, rupanya selama ini om alvin sudah tau kalau aku adalah anaknya, itulah sebabnya kenapa ia begitu baik padaku. Selama ini aku tak menyangka sama sekali, pantas saja aku cepat akrab dengannya, bahkan wajahku pun mirip dengannya. Tapi kenapa om alvin tak mau berterus terang padaku, tak mengatakan hal yang sebenarnya kalau aku adalah anaknya. Aku tak ragu lagi kalau aku adalah anak kandung om alvin, wajahku dengannya begitu mirip, dan dia adalah suami mama yang pertama. Lalu bagaimana kak faisal bisa mengetahui semua ini, bagaimana cara ia mendapatkan semua bukti ini, aku butuh penjelasan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mendapatkannya sedangkan kak faisal sekarang telah meninggal, kenapa masalah demi masalah terus berdatangan tak berhenti seolah menguras seluruh kekuatan yang aku miliki.
Aku nyaris tak bisa berdiri saking lelah tekanan yang aku rasakan. Aku tak mengerti harus bagaimana, apakah aku harus senang atau marah. Mama tak pernah bercerita, om alvin berusaha menutupi. Seolah mereka berdua tak ingin aku tau. Apakah mama tau kalau om alvin sekarang berada di palembang, ataukah sebetulnya mereka sudah bertemu namun mama melarangnya untuk kerumah atau menemuiku? Tapi aku yakin mama tak mengetahui masalah ini, mama tak tau kalau om alvin ada disini.
Masih ada sesuatu dalam kotak ini, aku ambil selembar saputangan biru muda, nama siapakah ini, ricardo malvin silalahi, apakah ini nama om alvin, mama harus menjelaskan semuanya padaku. Aku akan meminta mama jujur, aku sudah dewasa, aku berhak tau tentang siapa aku dan keluargaku yang sesungguhnya.
Dalam kotak pemberian kak faisal juga ada selembar amplop lagi, yang tersembunyi dibawah saputangan dan jam tangan casio digital berwarna hitam yang juga ikut dimasukkan kak faisal sebagai kado kejutan untukku. Tanpa membuang waktu lagi aku membuka amplop itu dan membaca surat yang ada didalamnya.

Dek, kakak tau setelah melihat foto pernikahan mama pasti adek langsung kaget, begitu juga kakak waktu pertama melihatnya. Adek pasti bertanya tanya darimana kakak bisa tau mengenai semua ini, kakak akan menjelaskannya.
Waktu mengetahui adek begitu mirip dengan koko dan keluarganya, terus terang kakak jadi curiga, ditambah lagi dengan kehadiran om alvin, sikap om alvin yang mungkin tak adek sadari namun terus kakak perhatikan begitu aneh, seolah ia sangat menyayangi adek. Akhirnya kakak mencoba mencari informasi mengenai ini. Kakak bertanya pada mamanya koko mengenai masa lalu om alvin, mamanya koko tak tau siapa isteri om alvin dulunya karena mama koko tak tau tentang masalah itu karena waktu om alvin menikah dulu, mama koko sudah dibuang dari keluarga. Ia kehilangan kontak dengan keluarganya. Jadi kakak dan koko sepakat untuk mengorek keterangan dari om alvin, tentu saja om alvin tak memberikan keterangan apa apa. Akhirnya koko berinisiatif mencari tau sendiri, ia pergi ke jambi, menginap dirumah om alvin dan menemukan foto pernikahan om alvin dengan isterinya yang terdahulu. Koko begitu terkejut waktu tau isteri om alvin dulunya adalah mama. Ia mengambil album itu diam diam dan bermaksud memberi tahu adek. Tapi kakak melarang, adek tau sendiri bagaimana mama, adek pasti menyadari hubungan papa dan mama sekarang begitu hambar, kakak takut kalau kehadiran om alvin akan membuat mama berubah. Aku takut mama meninggalkan papa, meninggalkan kakak, aku tak ingin mama kembali kepada om alvin, karena aku tau om alvin masih sangat mencintai mama. Kemudian kakak mencari informasi dari mama, hanya foto adek waktu masih bayi yang kakak temukan, tak ada foto yang lain, mama tak menyimpan foto om alvin, mungkin mama menyembunyikannya, atau mungkin mama memang tak pernah menyimpannya.Akhirnya kakak memutuskan untuk menyimpan sendiri rahasia ini bersama koko. Tapi kakak berubah fikiran, kakak tau tak mungkin selamanya menyimpan rahasia ini dari adek karena adek berhak tau semua. Cuma satu yang kakak pinta, jangan adek memberi tau mama, cukuplah adek sekedar tau, kasihan papa ia sudah tua, terlalu banyak masalah yang kakak buat, kakak tak ingin menambah masalah papa. Kakak percaya adek bisa bersikap bijaksana.
Nanti selesai pernikahan kakak, kita akan membahas tentang ini, kakak akan menjelaskan semuanya.
Saputangan itu adalah saputangan adek, ricardo malvin silalahi adalah nama adek sebelum diganti menjadi rio krisna julian.
Kakak sempat mengira itu nama om alvin, tapi kata koko, nama lengkap om alvin adalah alvin hosea silalahi.

Aku melipat surat kedua dari kak faisal, aku menghapus airmata yang jatuh disudut mataku dengan saputangan ini.
Rupanya koko dan keluarganya telah tau masalah ini. Jadi koko tau aku adalah sepupunya. Mama koko tau aku adalah keponakannya. Tapi mereka selalu menjaga rahasia ini. Aku akan meminta koko menjelaskan lagi, karena banyak yang ingin aku ketahui.
Kumasukkan kembali semua album dan saputangan ke dalam kotak, juga kedua surat dari kak faisal, kecuali jam tangan. Langsung aku pakai. Terimakasih kak faisal, walaupun sekarang kakak telah tiada namun kakak telah memberikan hadiah terbesar dalam hidupku. Hadiah paling berharga yang tak pernah aku bayangkan. Yaitu seorang ayah. Walaupun aku tak bisa menerima sikap om alvin. Yang penting aku tak bertanya tanya lagi siapa ayahku sebenarnya.
*****

suasana dalam rumah masih diselimuti kesedihan, mama tak banyak bicara waktu makan malam. Tante laras dan odie sudah pulang kemarin. Jadi kembali sepi lagi sekarang. Papa sudah dua hari ini menenangkan diri ke tempat orangtuanya di dusun. Dia belum bisa sepenuhnya menerima kepergian kak faisal, karena cuma kak faisal putera satu satunya darah dagingnya. Papa begitu terpukul, setiap kali melihat sesuatu yang bisa mengingatkannya dengan kak faisal, papa pasti langsung sedih. Jalan satu satunya ialah papa menenangkan diri jauh dari rumah.
Wenny adikku yang masih kecil belum tau apa apa. Ia hanya diam agak bingung saat melihat keramaian dirumah, hingga saat kak faisal dikubur, ia tak rewel.
Sepi sekali cuma aku, mama dan wenny, mama berusaha untuk menghilangkan rasa sedih kehilangan kak faisal dengan cara menyibukkan diri bekerja dan mengurusi wenny. Terasa kebekuan dalam rumah, bik tin pun tak banyak bicara, ia tahu mama masih sensitif.
Baru saja aku berdiri dari meja makan, bell rumah berbunyi. Entah siapa yang datang. Bik tin masuk ke dapur.
“bu ada tamu yang mau bertemu.”
ujar bik tin sambil menghampiri mama dan mengambil wenny dari gendongan mama.
“siapa bik..?”
mama berdiri dan mendorong kursi sedikit menjauh.
“orangtuanya amalia bu..”
ekspresi bik tin agak aneh. Mama menarik nafas dalam seolah kedatangan mereka adalah hal terakhir yang mama inginkan disaat ini.
“baiklah bik, tolong temui dulu mereka.. Bilang sebentar lagi saya keluar..”
jawab mama dengan lesu lalu beranjak ke kamar. Bik tin balik lagi menemui orangtua amalia. Aku membereskan meja makan.
Setelah semua beres aku duduk diruang tengah. Mama keluar dari kamar menemui orangtua amalia. Aku merapat ke pintu mendengarkan pembicaraan mereka.
“maaf bu harlan bukan bermaksud untuk mengganggu ibu, tapi kami ingin menanyakan kejelasan nasib anak kami amalia, bagaimana dengannya bu.. Kami tak tega dengan keadaannya sekarang ia seperti orang hilang ingatan…”
ibu amalia terisak menangis. Mama tertunduk kebingungan.
“ibu tau sendiri sekarang faisal telah meninggal, tak ada niat kami untuk lari dari masalah, tapi saya juga kebingungan sekarang..”
jawab mama serba salah.
“saya tau bu, saya tak memaksa… Cuma keadaan amalia membuat saya bingung.. Ia suka menangis sendiri lalu tiba tiba tertawa, kadang ia menjerit berteriak seolah olah faisal datang.. Kami tak tega melihatnya bu, kami takut kalau anak kami menjadi gila..”
ibu amalia menangis sesungukan. Bapak amalia tak berkata apa apa, ia kelihatan sibuk memandangi seisi ruangan tamu. Seolah tak perduli dengan yang dibicarakan oleh isterinya dan mamaku.
“saya sangat menyesal bu, betul betul tak tahu harus bagaimana, keadaan ini sungguh membingungkan..”
desah mama kelu, mama berkali kali menggeser duduknya dengan gelisah. Sementara itu ibu amalia menatap mama tajam seolah mengharapkan mama dapat memberikan jalan keluar.
“kami tau bu, kami menyadari itu, namun ibu enak, anak ibu lelaki dan tak ada akibat yang ibu tanggung, tapi kami bu, bayangkan aib yang kami dapatkan, belum lagi trauma yang anak kami alami..”
keluh ibu amalia panik. Mama mendesah, wajah mama tampak kacau, ia berpikir keras.
“tolong beri kami waktu berpikir, bagaimana harus menyelesaikan masalah ini, karena untuk mengharapkan pernikahan tak mungkin lagi kalau mempelai lelakinya tak ada. Kalau menurut ibu rusmi apa yang seharusnya kita lakukan?”
mama balik bertanya.
Ibu amalia terdiam mendapat pertanyaan seperti itu.
“mengapa harus repot repot seperti itu, sudah aku bilang gugurkan saja, memang amalia itu kelakuannya seperti lonte.. Tak tau malu, sekarang kita juga yang dapat masalah..”
timpal ayahnya yang sedari tadi cuma diam.
“bang..!”
ibu amalia terkejut mendengar kata kata suaminya.
“kenapa… Mau bilang kalau aku salah? Abang sudah pusing memikirkan masalah ini rus, abang mumet.. Tak sudah sudahnya kamu membahas hal tak penting ini..”
ayah amalia tak berhenti.
“ini penting bang.. Sangat penting, menyangkut nasib anak kita.. Ini menyangkut amalia, abang pikir bang, amalia menderita..”
ibu amalia histeris.
“menderita karena dia sendiri!.. Siapa suruh dia bunting.. Siapa suruh dia murahan?”
berondong ayah amalia tak mau kalah. Mama menggeleng geleng sambil memegang keningnya. Pusing melihat ayah dan ibu amalia bertengkar.
“bagaimanapun juga amalia anak kita bang.. Masa abang tak kasihan?”
“kasihan rus, tapi kita jangan dimanfaatkan oleh anak anak, tak bisa mereka seenaknya membuat masalah dan harus selalu kita yang pusing, harus kita yang selalu disalahkan sebagai orangtua tak becus mendidik anaknya, coba kamu pikir apa pernah kita menyuruh dia mengobral dirinya. Menyuruh dia tidur dengan pacarnya. Pernah nggak? Lalu sekarang kenapa harus repot repot untuk menutupinya rus, biarlah mereka yang menanggung.. Kita sudah cukup berusaha membesarkan serta mencukupi kebutuhan mereka..!”
ayah amalia berang.
“bagaimanapun juga dia anak kita, mau suka ataupun tidak mereka adalah tanggung jawab kita, abang jarang dirumah, cuma sibuk mabuk mabukan tak jelas sama teman teman abang yang masih remaja remaja itu, aku bang yang harus menghadapi cemoohan dari tetangga, aku yang menanggung malu digunjing setiap hari… Apa kata tetangga kalau mereka melihat perut amalia semakin membesar sedangkan tak ada lelaki yang menikahinya… Abang memang tak perduli karena amalia bukan anak abang!”
maki ibu amalia kesal. Suaminya berdiri spontan dengan muka memerah.
“kalau bukan dirumah orang sudah aku tampar mulutmu yang nyinyir itu..!”
geram ayah amalia sambil menggerakan tangannya dengan posisi seolah hendak menampar ibu amalia.
Melihat reaksi suaminya, ibu amalia langsung terdiam, namun dari raut wajahnya nampak ia belum puas.
“maaf pak, bu.. Saya mohon jangan ribut ribut dirumah saya, kita bicarakan masalah ini agar cepat selesai, masalah ini tak hanya bikin kalian pusing tapi saya juga..”
mama langsung memotong pertengkaran mereka, sepertinya mama tak mau ayah amalia sampai kelepasan memukul isterinya disini.
“makanya bu harlan tolonglah pakai hati nurani ibu, bagaimanapun juga janin yang ada di perut amalia adalah cucu ibu juga. Jadi ibu berkewajiban memikirkannya juga.”
tuntut ibu amalia jadi tak sabar.
“jangan takut bu, saya tak akan lari dari tanggung jawab, meskipun sekarang faisal sudah tak ada lagi, saya tak akan cuci tangan dari masalah ini, tapi tolong jangan buat keributan dirumah saya, keluarga kami sedang berkabung, hormati mendiang anak saya!”
tegas mama tajam.
“anak anda pantas mampus! Dia tak berguna, pemuda sialan goblok, tak punya otak.. Tak bisa jaga kontol,.. Liar kayak setan.. Semoga arwahnya gentayangan nggak diterima bumi!!!”
ayah amalia lepas kontrol, mama ternganga dengan ekspresi kaget tak menyangka bakal mendengar kata kata tak patut dari ayah amalia.
“abang..! Cukup… Teganya abang ngomong begitu.. Tak pantas abang menyumpahi orang yang sudah meninggal..”
ibu amalia menjerit, sementara mama aku lihat mulai menangis, aku jadi kasihan sama mama, cepat cepat aku keluar menemui mereka semua, aku tak mau mereka menyerang mama seperti itu.
“maaf pak, bu.. Bukan maksud saya ikut campur urusan orangtua, tapi tolong hargai mama saya..”
aku mencoba menengahi.
Ayah amalia menoleh padaku. Aku tahu tabiat ayah amalia, ia pemarah dan mau menang sendiri, sudah lama amalia tak tahan dengan kelakuan ayah tirinya itu, aku heran kenapa ibunya amalia bisa sanggup bertahan dengan suami seperti itu. Sudah pengangguran, ditambah lagi suka mabuk dan memukul. Amalia bahkan kerap kena tangannya itu. Dan sekarang ia telah betul betul membuat aku marah dengan perkataannya yang tak pantas mengenai kak faisal, aku tak terima dia menjelek jelekan kak faisal seperti tadi.
“kalau bapak tak bisa menjaga sikap bapak, saya akan menelpon polisi.. Saya tak main main pak.. Maaf sekali lagi, jangan sampai saya terpaksa melakukannya pak..”
aku mengancam bapak amalia. Mama menatapku penuh terima kasih.
“tolong rio, jangan melibatkan polisi, sudah cukup kami menanggung masalah..”
ibu amalia memohon.
“iya bu, asalkan ibu dan bapak bisa membicarakan ini dengan kepala dingin tanpa emosi seperti tadi..”
aku menahan emosiku agar tak tersulut lagi.
Bapak amalia sudah hampir menjawab namun mengurungkan niatnya karena melihat aku tak main main dengan kata kataku tadi.
“mama silahkan berbicara, kemukakan apa yang mama ingin katakan pada mereka..”
aku menoleh ke mama. Ia mengangguk dan berbicara.
“sekarang saya akan mencoba memberikan satu cara agar diantara kita tak ada yang dirugikan. Memang masalah anak kita cukup menguras pikiran kita. Tapi bagaimanapun juga semua sudah terlanjur terjadi. Kami sendiri tak menyangka kalau anak kami akan meninggal disaat seperti ini, jujur saya sendiri shock waktu tau amalia hamil, dan saya tak bisa menerima..”
ucapan mama terpotong oleh ayah amalia yang tak sabar.
“cukup.. Cukup.. Kami tak mau mendengar ibu bertele tele.. Tolong langsung saja ke masalahnya jangan berputar putar lagi.. Capek bu!”
bapak amalia tak sopan. Mama bergidik seolah jijik melihat bapak amalia. Aku juga tersinggung dengan caranya itu. Diam diam aku sms om sebastian agar datang kesini, aku juga menyuruh om sebastian untuk mengajak temannya yang polisi untuk makan siang disini. Tak lupa aku menyuruh secepatnya. Aku katakan kalau aku dan mama kebingungan menghadapi orangtua amalia.
“baik.. Saya tak akan berpanjang lebar lagi.. Terserah kalian mau diapain si amalia.. Saya tak ada urusan lagi.. Betul seperti kata bapak tadi, orangtua tak harus selalu disibukkan oleh ulah yang dibuat anaknya.. Jadi saya angkat tangan.. Anak saya telah meninggal dan tak mungkin lagi bertanggung jawab.. Saya akan kasih uang sebagai ganti perawatan anak amalia andai lahir nanti. Atau kalaupun dia mau menggugurkannya, aku bisa kasih uang sebagai biaya ke bidan…!”
ujar mama emosi, aku yakin keputusan mama itu karena ia tersinggung dengan sikap dari bapak amalia yang tak sopan itu. Ibu amalia terhenyak kaget mendengar jawaban mama. Begitupun dengan bapak amalia. Ia menatap mama seolah sedang melihat hantu. Matanya terbelalak dan selama beberapa detik ia ternganga. Aku memandang mama ingin melihat kebenaran dari apa yang mama katakan tadi, namun ekspresi mama sulit ditebak. Mulut mama mengerucut terkatup dan tatapannya dingin.
“tak bisa seenaknya begitu dong bu harlan.. Disini yang jadi korbannya itu adalah kami..”
ibu amalia tak terima.
“apa ibu pikir kami tak jadi korban, saya yang paling menderita bu, mengetahui anak saya menghamili puteri ibu, apa tak membuat saya menderita.. Mengetahui masa depan anak saya hancur gara gara puteri ibu apa saya tak kesal, mengetahui akan memiliki besan seperti suami ibu apa tak membuat saya stress..”
mama tak mau kalah.
“tapi anak ibu sekarang sudah meninggal, dan kami sekarang yang jadi korban..”
balas ibu amalia sengit.
Aduh.. Mulai lagi, aku menggeleng gelengkan kepala sedih melihat kedua orangtua yang sedang mempertahankan ego masing masing. Dalam hati aku berdoa semoga saja om sebastian segera datang. Tiba tiba hp ku berbunyi. Aku lihat nama om alvin terpampang di layar. Aku menatap mama, aku bingung apa harus diangkat atau diabaikan. Semua terdiam mendengar hp ku berbunyi. Serempak menoleh kepadaku.
“dari siapa rio!”
tanya mama.
+++

Aku bingung harus menjawab apa, beda sekali rasanya sebelum aku tahu kenyataan tentang om alvin, akhirnya aku menjawab sembarangan.
“dari teman kampus ma..”
jawabku sambil mematikan hp, aku tak mau bicara dengan om alvin, aku kecewa. Seenaknya ia mempermainkan aku, ia menutupi rahasia yang aku berhak tau, ia tak pernah mengatakan dengan jujur tentang siapa dirinya, selama ini kedekatan kami karena dia tau aku anaknya. Aku tak akan mau lagi bertemu dengannya. Bagiku sekarang yang paling penting adalah aku sudah tau dimana dan siapa ayah kandungku.
“kenapa tak dijawab nak?”
tanya mama heran.
“nggak penting ma, paling juga cuma mau nanya aku lagi dimana..”
aku memaksakan diri untuk senyum. Mama mengangguk penuh pengertian.
“oke bu harlan, jadi bagaimana.. Masa sih anak saya harus terkatung katung tanpa ada kejelasan bagaimana nasibnya..”
tuntut ibu amalia tak sabar.
“memangnya apa yang bisa kalian harapkan dari saya? Apa kalian ingin saya menggali kuburan anak saya, lalu tetap melangsungkan pernikahan amalia dengan jenazah anak saya?”
mama menggelengkan kepala seolah menghadapi dua anak kecil yang memaksa minta dibelikan es krim.
“tentu saja bukan begitu maksud saya bu harlan, sedikitpun tak ada niat memaksa..”
ibu amalia berhenti, lalu menatap aku sebentar…
“misalkan ada pengganti sementara hingga bayi amalia lahir, agar tak jadi anak haram..”
ia melanjutkan.
Aku langsung merasa perutku tak enak, sepertinya aku sedikit bisa menangkap yang ia maksudkan, pengganti kak faisal? Tidak… Tidak… Tak akan pernah aku mau, ini usul gila, sampai kapanpun aku tak akan setuju.
Mama menatap ibu amalia tajam, alis mama berkerut heran, mama seolah kurang memahami apa yang ibunya amalia maksudkan.
“dalam keadaan darurat seperti ini, semuanya bisa dijadikan alternatif asalkan tak merugikan kedua belah pihak.”
dengan tenang ibu amalia mengatakannya seolah sedang mengomentari film yang membosankan.
Sontak Aku langsung berdiri, tanpa mengatakan apa apa lagi aku meninggalkan mereka. Mama bengong melihatku. Bertepatan aku mau keluar, om sebastian datang.
“mau kemana rio, kok buru buru amat?”
om sebastian menarik tanganku hingga langkahku terhenti. Om sebastian tak sendiri, ada dua orang temannya yang juga polisi sedang berdiri disampingnya. Yang satu bertubuh tegap dengan kulit cokelat terbakar, hidung mancung besar seperti peranakan flores, memakai baret biru tua. Ia tersenyum ramah padaku menunjukkan giginya yang berbaris putih kontras dengan bibirnya yang sedikit gelap dikelilingi bekas cukuran berwarna agak kehijauan. Ada gingsul di sudut lengkung bibirnya sebelah kanan tepat di gigi atas. Yang satunya lagi berkulit seperti buah kesemek, alisnya tebal mengingatkan aku dengan wajah tony sandstorm aktor thailand. Garis dagu dan rahangnya runcing, bibirnya sedikit tebal dibagian bawah, begitu seksi. Dari usia keduanya aku perkirakan paling tidak lebih muda sekitar 2 hingga 3 tahun dari om sebastian.
“mau kemana dik..?”
tanya yang berkulit gelap dengan senyum simpatik.
Aku menjadi gagu bingung harus menjawab apa, tak mungkin aku mengatakan kalau lagi menghindari mama dan tamunya.
“nggak kemana mana, silahkan masuk,.. Tadinya aku mau ke depan cari angin..”
jawabku sekedarnya.
“wah dirumah sebesar ini masih cari angin di luar, apa nggak ada ac?”
goda yang berkulit kuning kesemek.
Aku cuma nyengir,
“ada sih, cuma kalau di dalam nggak bisa cuci mata.. Oh ya silahkan masuk..”
aku mempersilahkan mereka masuk, lalu aku membawa mereka duduk diruang tamu dimana mama dan orangtua amalia sedang berunding, atau lebih tepatnya bertengkar mulut.
Saat melihat aku kembali masuk ke ruang tamu bersama tiga orang polisi, ayah amalia terkesiap kaget. Ia mengerling pada isterinya takut takut.
Mama tersenyum kepada om sebastian dan kedua temannya.
“silahkan duduk bas, ajak kedua temannya juga.
Om sebastian langsung duduk di sofa panjang, sementara kedua teman om sebastian menyalami mama dan kedua orangtua amalia.
“kenapa kak, katanya kakak lagi kebingungan ya,..?”
tanya om sebastian pada mama.
“iya bas, kakak betul betul bingung, ini keluarga amalia menuntut pertanggung jawaban dari kita… Mana bang harlan tak disini, kakak betul betul bingung bagaimana menghadapinya..”
tukas mama tanpa membuang waktu, om sebastian menyimak segala yang dikatakan mama penuh konsentrasi, ia mengangguk angguk, seolah berfikir keras matanya menyipit.
“kalau masalah seperti ini betul betul rumit, tak ada penyelesaian yang bisa adil bagi kedua belah pihak..”
om sebastian bergumam. Kedua temannya mengangguk. Aku berdiri ke dapur untuk menyuruh bik tin membuatkan minuman kepada tamu. Setelah itu aku kembali bergabung.
“makanya seorang perempuan itu dituntut untuk bisa menjaga kehormatannya, karena kalau terjadi apa apa mereka tak bisa berkeras..”
om sebastian menambahkan. Ibu amalia mendengarkan namun matanya agak terbelalak.
“sekarang coba pikir sendiri, bagaimana keluarga kami bisa menyelesaikannya?”
om sebastian bertanya kepada kedua orangtua amalia. Ditanya demikian keduanya terdiam. Sehingga beberapa saat tak ada juga jawaban dari keduanya om sebastian melanjutkan lagi.
“jalan satu satunya untuk menghindari malu yaitu kalian harus mencari seorang pria yang mau menggantikan almarhum faisal untuk menikahi amalia..”
tandas om sebastian. Mendengar hal itu wajah ibu amalia sedikit berbinar.
“betul, itulah yang tadi aku usulkan, namun mereka menolak..”
ujar ibu amalia bersemangat. Om sebastian memandang ibu amalia ingin tau.
“maksud ibu..?”
tanya om sebastian bingung.
“rio kan saudaranya faisal, masih ada hubungan keluarga dan saya rasa dia adalah lelaki yang tepat untuk menggantikannya.. Untuk menikahi amalia, agar masalah ini bisa terselesaikan dengan cepat..”
cerocos ibu amalia seenaknya. Om sebastian hampir terlonjak dari kursi mendengarnya.
“apaaaaa… Tak bisa begitu dong.. Rio masih muda, dia juga masih kuliah..”
hardik om sebastian kasar. Ibu dan bapak amalia mengkerut melihat om sebastian.
“itu juga yang sudah saya bilang tadi, sampai mati pun saya tak akan mengizinkan rio dan amalia menikah, cukup faisal yang sudah dirusak oleh anak perempuan ibu.. Jangan lagi kalian meminta anakku yang satu lagi..”
mama berapi api. Diam diam aku berterimakasih pada mama. Ingin rasanya aku melompat dan mencium pipi mama sepuas puasnya.
“kakakku benar, kami tak akan pernah mengijinkan rio kalian suruh menggantikan posisi faisal, dalam hal ini rio tak punya kewajiban untuk menikahi amalia..”
om sebastian berang, rahangnya bergemeretak kesal melihat kepada orangtua amalia.
Bik tin menghampiri kami takut takut sambil membawa beberapa cangkir kopi. Kami semua diam memandangi bik tin yang menyusun cangkir di atas meja dihadapan masing masing kami. Setelah selesai bik tin mengangguk sopan memberikan isyarat kepada tamu untuk meminumnya. Lalu ia mundur hendak kembali ke belakang.
Kedua teman om sebastian membalas anggukan sopan pada bik tin.
“makasih bu..”
ujar keduanya nyaris tersipu. Bik tin tersenyum lalu meninggalkan kami.
“sudah aku bilang gugurkan saja…”
bapaknya amalia memecah kebisuan.
Om sebastian mendelik, demikian juga kedua temannya itu.
“apa maksud bapak, membunuh janin yang ada dalam rahim amalia secara ilegal, itu termasuk kejahatan.. Kalian bisa dipenjara..”
om sebastian dengan tegas menolak. Mendengar penjelasan om sebastian tadi, wajah ibu amalia jadi pucat.
“saya juga tak mengusulkan itu, saya tak tega.. Makanya saya mengajak berunding agar kita bisa mendapatkan cara terbaik untuk menyelesaikan ini..”
terbata bata ibu amalia membantah.
Om sebastian mengangguk angguk bagai burung beo padahal aku tau dalam otaknya sekarang sedang berpikir keras.
Kembali hening semua berpikir, termasuk kedua teman om sebastian.
“silahkan di minum..”
aku menawari semuanya.
.
“assalamualaikum semuaaaaaa….”
terdengar suara dari pintu, aku melirik ke pintu ingin tau siapa yang datang.
Wajah mama langsung pucat, mama berdiri.
“kamuu…..”
gumam mama nyaris tak percaya. demikian juga kedua orangtua amalia. Reaksinya walaupun tak seperti mama namun aku tau kalau mereka juga kaget. Aku juga ternganga hampir tak dapat bicara karena nyaris tak percaya melihatnya.
“kok pada diam… Emangnya kalian pikir aku hantu?”
ujarnya sambil masuk dalam rumah tanpa disuruh
Flash Back

“assalamualaikum semuaaaaaa….”
terdengar suara dari pintu, aku melirik ke pintu ingin tau siapa yang datang.
Wajah mama langsung pucat, mama berdiri.
“kamuu…..”
gumam mama nyaris tak percaya. demikian juga kedua orangtua amalia. Reaksinya walaupun tak seperti mama namun aku tau kalau mereka juga kaget. Aku juga ternganga hampir tak dapat bicara karena nyaris tak percaya melihatnya.
“kok pada diam… Emangnya kalian pikir aku hantu?”
ujarnya sambil masuk dalam rumah tanpa disuruh.

“fairuz….”
suara mama terdengar seperti tercekik.
“iya… Kenapa tante, kaget melihat saya, atau tante tidak suka dengan kedatangan saya?”
ia menerobos masuk tanpa memperdulikan siapapun yang ada diruangan ini.
Om sebastian berdiri mencegatnya.
“jangan macam macam fairuz, apa maksud kamu datang kemari, apa kamu mau membuat kekacauan lagi seperti dulu..?”
hardik om sebastian marah.
Aku terdiam memperhatikan kejadian itu, terus terang aku sangat kaget sekali. Tadi sempat aku mengira itu kak faisal, mengapa mereka begitu mirip sekali, walaupun setelah aku melihatnya beberapa lama terlihat kalau dia lebih tua dari kak faisal, aku perkirakan umurnya sekitar 27 tahun. Dia juga punya kumis tipis dan jambang yang tebal yang tak dimiliki kak faisal. Sorot matanya pun terlihat agak sangar. Siapakah dia, kenapa mama begitu kaget.
“kenapa tak mengabari saya..?”
ia bertanya pada mama, suaranya begitu dingin.
“mama tak tahu kemana harus menghubungi kamu..”
jawab mama singkat, mama terlihat semakin gelisah. Sementara itu kedua orangtua amalia masih tercengang menatap pemuda yang baru datang itu.
“papa kemana?”
“papamu lagi dirumah kakek mu di dusun..”
“aku tadi dari makam faisal, aku baru mendapat kabar ia meninggal kemarin..”
katanya sambil duduk di kursi.
Jadi dia bernama fairuz, ia juga anak papa, kalau begitu selama ini rupanya kak faisal punya seorang kakak yang bernama fairuz, sudah hampir delapan tahun aku tinggal disini baru hari ini aku mengetahui tentang semua ini. Masih ada hal yang disembunyikan dariku. Ternyata kak faisal bukan satu satunya putera kandung papa, masih ada fairuz.
lalu kemana dia selama ini. Kenapa baru muncul hari ini. Aku sedikit takut dengannya. Terus terang saja ada sesuatu yang tak aku sukai dari sikapnya, Sorot matanya dan juga cara ia bicara yang terkesan angkuh.
“kamu datang kesini sama siapa?”
tanya om sebastian tajam.
“sendirian om, memangnya kenapa? Jangan takut… Mama tak akan pernah datang kemari, ia tak sudi menginjak rumah ini selama perempuan masih disini..”
ia menunjuk mama tak sopan. Mama tak bereaksi apa apa cuma diam. Wajah mama betul betul kalut, belum pernah aku melihat mama sepucat itu.
“kamu sudah melihat makam adik kamu, jadi kamu sudah boleh pergi..”
ujar om sebastian datar.
“wah om.. Lupa ya kalau aku berhak berada disini, aku adalah anak suharlan…”
ia tersenyum melecehkan om sebastian.
Melihat gelagat yang kurang nyaman, ibu dan ayah amalia pamit pulang. Mama mengantar mereka hingga ke beranda, setelah itu mama kembali masuk. Belum ada keputusan apapun yang diambil mengenai nasib amalia. Kedatangan kak fairuz yang tak terduga duga seolah membawa hawa yang tak menyenangkan dalam rumah ini.
“sudah siang, lebih baik kita semua makan dulu..”
ajak mama sambil berjalan menuju dapur. Om sebastian dengan kedua temannya berdiri. Aku pun ikut berdiri lalu beranjak ke dapur.
“bas, tolong kamu jangan kemana mana dulu, tinggallah sedikit lama disini, paling tidak setelah fairuz pergi..”
mama memohon pada om sebastian agak berbisik seolah tak ingin terdengar oleh kak fairuz.
“iya kak tenang aja.. Yang penting sekarang aku makan dulu, sudah lapar banget nih..”
om sebastian menepuk perutnya yang datar.
“oh ya maaf.. Silahkan duduk, sebentar saya sama bibik persiapkan makan siangnya dulu ya..”
mama tersipu melihat kedua teman om sebastian yang masih berdiri menunggu. Lalu mama pergi ke dapur masak. Bik tin keluar dengan membawa mangkuk porselen berisi lauk pauk yang aromanya membangkitkan selera lalu menyusunnya diatas meja. Aku duduk disamping om sebastian, baru saja aku mau menanyakan tentang kak fairuz tiba tiba kak fairuz masuk ke ruang makan.
“wah aku tak ditawari makan siang ya.. Tak apa apa lagian tadi saya sudah makan, jadi tak perlu kelaparan disini..”
katanya terdengar sinis, ia merogoh saku jaketnya dan mengambil sebungkus rokok lalu menyulutnya sebatang. Ia menghembuskan asap dari mulutnya dengan gaya seorang koboi.
Aku mencuri curi melihatnya diam diam namun tak urung juga ia memergoki aku. Ia langsung melotot. Buru buru aku membalik piring di depanku dengan kikuk.
“siapa kamu?”
tanya kak fairuz yang entah kapan sudah berdiri di belakangku. Sesaat aku terdiam, bingung harus menjawab apa.
“anak mama..”
mama yang baru keluar dari dapur sambil membawa sepiring ikan bakar yang menjawab.
“anak tante…?”
kak fairuz nyaris berteriak seolah betul betul kaget mendengar jawaban mama.
“iya… Memangnya kenapa,.. Kamu kaget…?”
mama balik bertanya.
“bukannya waktu tante dulu menikah dengan papaku, tante tak punya anak?”
kak fairuz menyipit menatap mama.
“mama sudah punya anak waktu menikah sama papa kamu.. Tolong fai, nanti saja kita bahas masalah ini, mama akan jelaskan semuanya nanti..”
mama mengerling pada kedua teman om sebastian yang masih diam duduk dikursi makan.
“silahkan makan, maaf siapa namanya?”
tawar mama dengan ramah.
“saya bernhard tante..”
jawab yang mirip orang flores.
“saya wahyudi tante..”
yang agak putih dan ganteng menjawab.
“oh ya silahkan dimakan nak wahyudi, nak bernhard.. Jangan sungkan sungkan..”
Mama kembali menawari mereka dengan ramah.
Kak fairuz menarik kursi kosong yang ada disampingku.
“bik ambil piring satu lagi..”
mama memerintah bik tin.
“tak perlu, saya tak makan..”
larang kak fairuz.
Bik tin yang baru saja mau beranjak mengambil piring untuk kak fairuz jadi serba salah. Bergantian ia memandang mama dan kak fairuz untuk menyakinkan siapa yang harus ia ikuti perintahnya. Aku yakin bik tin juga pasti bingung dengan keberadaan kak fairuz saat ini, kemunculannya yang begitu mendadak dan seolah mama tak mengharapkannya.

“nama kamu siapa?”
ia bertanya padaku lagi.
“rio..”
aku menjawab singkat, nyaris saja aku tersedak oleh ayam yang aku kunyah dan hampir aku telan namun tak jadi. Buru buru kuambil segelas air dan meminumnya.
“senang tinggal disini?”
tanyanya lagi.
Aku menoleh menatapnya, pertanyaannya begitu aneh seolah hendak menghinaku dari nada suaranya.
“fairuz jaga sikap kamu, rio lagi makan… Nanti saja kalau mau tanya tentang dia tunggu dia selesai..”
peringat om sebastian tak suka. Kak fairuz cuma tersenyum sinis lalu berdiri mendorong kursi dan meninggalkan kami.
Aku lihat mama seperti tak begitu berselera makan. Mama seolah sedang berpikir, bagaikan ada masalah berat yang menghimpit di pikirannya.
Setelah kami semua selesai makan, bik tin membereskan meja. Teman om sebastian langsung pamit karena mau kembali ke kantor, sedangkan om sebastian tetap tinggal atas permintaan mama. Aku pergi ke kamarku, lalu masuk kamar mandi dan menggosok gigi. Aku memandang bayangku di cermin. Masih sedikit sembab mataku akibat terlalu sering menangisi kak faisal. Sampai detik ini entah kenapa rasanya aku belum juga bisa merelakan kepergian kak faisal. Terkenang masa masa bersamanya begitu membuatku sedih. Terlalu banyak kenangan yang indah untuk dikenang. Walaupun kak faisal pergi dengan meninggalkan masalah yang belum terselesaikan, namun itu tak mengurangi perasaan sayang dan hormatku terhadapnya. Andai saat ini kak faisal masih hidup dan menyaksikan sendiri kedatangan kak fairuz, aku tak tahu bagaimana reaksi kak faisal. Tak sedikitpun aku menduga ternyata kak faisal punya kakak. Aku tak bisa tak percaya karena mama dan om sebastian telah menyakinkan aku kalau kak fairuz memang kakak nya kak faisal yang berarti anak papa atau anak tiri mama, namun kenapa ia memanggil mama dengan tante bukannya mama yang seperti faisal memanggil mama. Sikapnya juga sangat tak ramah terhadap mama seolah ia sangat membenci mama. Aku akan menanyakan semua ini pada mama nantinya. Aku tak suka mendapat kejutan seperti ini. Aku betul betul tak siap.
Setelah selesai menggosok gigi aku keluar dari kamar mandi. Aku naik keatas tempat tidur. Baru saja aku mau memejamkan mata, terdengar suara ribut dari ruang tamu. Bergegas aku turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar.
Betapa kagetnya aku saat melihat kak fairuz sedang menarik mama dengan kasar menyeret mama keluar dari rumah. Sementara itu om sebastian berusaha sekuat tenaga menahan kak fairuz hingga kak fairuz jatuh terjerembab diatas lantai. Kak fairuz berdiri dengan cepat hendak menarik mama lagi namun tiba tiba om sebastian melayangkan tinjunya tepat mengenai muka kak fairuz. Mama menangis terisak. Aku berlari menghampiri mama.
“jangan halangi saya om.. Jangan halangi saya.. Perempuan ini yang telah menyebabkan adikku meninggal..”
teriak kak fairuz sangar mukanya memerah hingga nampak bengis. Urat urat lehernya bertonjolan. Om sebastian menahannya dengan kuat membekap kak fairuz agar jangan sampai kelepasan menyakiti mama lagi.
“kak masuk kamar kakak sekarang.. Rio cepat bawa mama kamu masuk kamar, kunci pintunya cepat…”
perintah om sebastian sambil terengah karena kak fairuz beronta untuk melepaskan diri dari om sebastian. Aku tercengang kebingungan. Hingga aku seperti orang kikuk.
“rio cepaaaat.. Bawa mama kamu masuk ke dalam kamar..”
om sebastian mengulangi lagi perintahnya kali ini dengan suara yang lebih tegas dan keras. Seolah baru tersadar aku langsung menuntun mama dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Aku mengunci pintu kamar mama. Mama duduk diatas tempat tidur, bahu mama tergoncang goncang karena menangis. Aku mendekati mama dan memegang bahunya. Mama mendongak memandangku. Air mata mama berlinang membasahi pipinya.
“ma ada apa ini? Kenapa ma.. Rio butuh penjelasan sekarang.. Kenapa kak fairuz bisa tiba tiba ada.. Kenapa ia begitu membenci mama, kenapa juga mama tak pernah bercerita tentang keberadaannya selama ini?”
aku mencecar mama dengan pertanyaan pertanyaan.
Mama menyusut airmatanya dengan ujung lengan baju. Mama menarik nafas berat. Sambil menunduk mama bercerita dengan suara bercampur isakan.
+++
“sudah saatnya kamu tahu semua cerita tentang masa lalu kamu dan mama, sebelum kamu tahu dari orang lain, hingga kamu membenci mama, lebih baik mama mengambil resiko itu, mama tak mau lagi menutupinya…”
ujar mama terisak isak. Aku menatap mama kebingungan, air mata mama masih deras mengalir. Aku jadi kasihan sama mama.
“sudahlah ma, kalau mama memang tak sanggup untuk menceritakannya, rio tak memaksa ma… Rio tak mau mama sampai sakit..”
aku memegang tangan mama dan kuusap lembut. Mama merangkulku dan bersandar didadaku.
“tidak sayang, sudah waktunya kamu tau, kamu sekarang telah dewasa dan bisa berfikir… Mama tak mau lagi menyimpan ini…”
mama membantah tetap tegas pada pendiriannya. Aku menghela nafas panjang, mama memang keras kepala, kalau sudah memutuskan sesuatu tak bisa terbantah.
“terserah mama kalau begitu, asalkan mama tak tertekan hingga membuat mama sakit, memangnya apa sih yang mama mau ceritakan?”
tanyaku hati hati. Mama tersenyum lemah.
“waktu itu mama masih terlalu muda, baru berusia delapanbelas tahun, mama berkenalan dengan seorang pria yang membuat mama terhanyut, begitu tampan.. Baik dan simpatik.. Yang telah membuat dunia mama jungkir balik…”
mama berhenti, menarik selembar saputangan dari dalam saku blousenya lalu menyusut hidungnya.
Aku menunggu dengan sabar mama melanjutkan ceritanya, aku begitu ingin mengetahui bagaimana awalnya hingga aku ada didunia ini. Apakah itu disebabkan karena cinta atau keterpaksaan saja. Sudah begitu lama aku mengharapkan mengetahui semua ini. Hari ini semua akan segera terungkap.
“pemuda itu bernama alvin, dia sangat baik, begitu banyak yang menyukainya.. Mama masih mengingat dengan jelas bagaimana pertemua kami pertama kali, waktu itu mama baru lulus sma, bersama teman teman di belinyu bangka mama membantu bibi kamu, kakak mama, menjaga warungnya. Disitulah awal mama berkenalan dengan alvin, hampir setiap hari dia belanja di toko itu. Hingga pada suatu hari mama memberikan uang kembalian lebih karena salah menghitung. Ia kembali lagi untuk memulangkan sisanya. Mama terpesona dengan kejujuran alvin. Kami berkenalan, setelah itu kami berdua sering bertemu, dalam beberapa kali bersama, entah kenapa mama jadi semakin menyukainya.. Alvin berasal dari medan tapanuli, anak dari orang yang cukup berpengaruh… Mama sebetulnya tau kalau tak mungkin bisa berhubungan dengan alvin.. Tapi perasaan cinta mama sudah begitu dalam.. Begitu juga alvin, dia sangat menyadari posisinya dalam keluarga yang menjunjung tinggi patrinealisme, masih memegang adat dengan erat. Ibaratnya hubungan kami itu bagai mahligai diatas pasir. Begitu banyak perbedaan yang memberi jarak pada kami… Namun pikiran yang belum matang dimasa menuju kedewasaan membuat kami tak mengindahkan semua itu, hingga akhirnya keluarga alvin tau mengenai hubungan kami..”
mama berhenti sejenak untuk menarik nafas. Keletihan tampak memayungi matanya.
“apakah keluarga alvin menentang hubungan mama dengan alvin ma?”
tanyaku ingin tahu. Mama mengangguk.
“iya sayang… Sejak mereka tahu, alvin dicari oleh kakaknya, ia disuruh pulang ke medan, tapi alvin menolak, ia tak mau menuruti keinginan keluarganya untuk meninggalkan mama, namun keluarganya tak mau menyerah, mereka tak ingin kesalahan terulang untuk kedua kalinya, kakak perempuan alvin yang paling tua dibuang oleh keluarganya karena menikah dengan muslim dan menjadi mualaf, padahal alvin begitu dekat dengan kakaknya itu, ia sangat bersedih kehilangan jejak kakaknya.. Sampai pada suatu hari alvin mengajak mama menikah. Mama yang terlanjur sangat mencintainya menerima pinangan alvin, kami menikah tanpa persetujuan keluarganya, menikah secara islam dirumah nenekmu.. Saat itu mama merasa paling bahagia didunia ini..”
mama kembali berhenti karena menangis lagi. Aku ikut menangis bersama mama. Aku bisa membayangkan betapa menderitanya mama.
“dua bulan mama tinggal dirumah nenek bersama suami mama, alvin.. Sedikit sedikit ia mulai belajar mengaji dan sholat, walaupun dia belum menjadi muslim.. Itu membuat mama semakin mencintainya.. Tak lama kemudian mama hamil.. Mengandung kamu nak… Buah cinta mama dengan alvin papa kamu..”
suara mama semakin tersendat sendat. Aku menggenggam tangan mama semakin kuat. Mama tak tahu kalau aku telah mengenal om alvin, aku dekat dengan papa kandungku. Aku sudah bisa membayangkan kenapa mama bisa mencintainya. Om alvin yang sangat tampan, kharismatik, cerdas.. Sederetan kelebihan kelebihan yang ia miliki wajar saja mama sampai sebegitunya.
“saat keluarga papamu tau mengenai pernikahan kami, mereka mencari papa kamu, setelah berhari hari mereka berhasil menemukan kami, anehnya mereka tak marah, malah mereka menyuruh papa dan mama ikut mereka ke medan. Pertama mama bersama mereka keadaan baik baik saja, mereka baik dan perhatian sama mama, ditambah lagi mama lagi hamil, kemudian seminggu setelah itu, papa kamu ikut amangtuanya Ke sibolga, saat itulah topeng mereka terbuka, mama mereka siksa, tak ubahnya seperti pembantu, dalam keadaan hamil mereka menyuruh mama berkerja berat, mulai dari membereskan rumah, mencuci baju hingga memasak, semua mama sendiri yang mengerjakan. Kalau ada kesalahan sedikit saja mereka mencaci mama.. Bahkan tak segan memukul mama..”
mama sesungukkan menangis.
“shhhh… Mama sudahlah.. Jangan diteruskan kalau itu membuat mama sakit…”
aku menenangkan mama, namun ia menggeleng.
“tidak nak, kamu berhak mengetahui semuanya.. Agar dikemudian hari tak lagi terjadi kesalahpahaman.. Mama tak mau lagi memendam ini sendirian..”
mama masih bersikeras. Aku menggeleng gelengkan kepala penuh keprihatinan.
“dua minggu lebih papamu belum juga pulang, entah apa yang dia lakukan di sibolga.. Opung borumu mengatakan kalau papamu dipertemukan dengan paribannya disana.. Dan mereka akan menikah nantinya.. Saat itulah kesabaran mama habis, mama menampar mulut opung borumu, entah setan apa yang membisikkan mama untuk melakukannya, hingga terjadi keributan besar. Sejujurnya mama sudah tak tahan lagi, setiap hari dihina.. Kesabaran mama ada batasnya. Nantulangmu memukul mama begitu juga saudara saudara papamu yang lain, malamnya mama kabur diam diam, dengan menumpang mobil truk yang lewat mama ke palembang kemudian naik kapal kembali ke bangka…”
aku termenung mendengarkan cerita mama tanpa bersuara, aku menyimak dan membayangkan cerita yang mama alami, ternyata cerita emak dulu nyaris sama.. Betapa berat penderitaan mama.
“mama bertemu dengan emak angkat kamu.. Dia yang telah banyak membantu mama, sebetulnya mama banyak berhutang budi padanya.. Mama sangat menyesal pernah bersikap kasar kepadanya..”
mama berhenti menarik nafas lagi.
“setelah usia kamu beberapa bulan mama meninggalkanmu diam diam.. Mama percaya kalau kamu telah berada di tangan orang yang tepat… Mama pergi ke palembang dengan hati yang hancur karena harus meninggalkan kamu… Betapa mama menyayangi kamu.. Namun mama punya impian.. Mama ingin menjadi orang yang kaya, yang tak akan ditindas lagi oleh orang orang, mama ingin punya kedudukan serta kekuasaan.. Akhirnya mama terpaksa bekerja di tempat hiburan malam di palembang ini…”
jantungku terasa berhenti berdetak mendengar pengakuan mama. Ternyata mama sampai bertindak sedemikian jauhnya demi mendapatkan uang. Aku betul betul sedih, aku menangis seakan tak terima.
“maafkan mama nak.. Mama tak tau lagi harus melakukan apa waktu itu.. Mama sedang galau, hanya itu pekerjaan yang bisa mama lakukan sebagai penyambung hidup.. Mama juga terpaksa melakukannya.. Setiap kali mama melayani tamu, wajahmu selalu terbayang, setiap malam mama menangis setiap ingat kamu, wajahmu yang masih polos, mama berdosa dan dikejar kejar perasaan berdosa.. Tapi mama tak bisa berbuat banyak..mama ingin kembali menjemputmu bila mama telah berhasil…… Tak lama kemudian mama kenal dengan suharlan papa tiri kamu.. Ia sangat sopan dan baik sama mama.. Ia tak seperti kebanyakan pria yang datang kepada mama, ia memperlakukan mama seperti seorang wanita terhormat. Padahal mama tahu saat itu suharlan telah beristri dan punya dua orang putera. Mama bermain api dengannya.. Walaupun ia tak pernah berlaku tak senonoh, justeru hal itulah yang menimbulkan rasa simpati mama terhadapnya. Secara diam diam mama berpacaran dengannya.. Dan mama jadi mencintainya.. Ia adalah lelaki impian mama yang bisa mewujudkan keinginan mama, masih muda, sukses dan murah hati.. Ia memberikan mama hadiah yang mahal mahal, dari gaun, perhiasan hingga mobil, semuanya ia berikan pada mama. Lambat laun hubungan kami diketahui oleh laras, tante kamu.. Adik papa tirimu. Ia mengancam akan memberitahukan hubungan kami pada isteri papamu. Tapi papamu tak bergeming, ia sangat mencintai mama, ditambah lagi hubungan dengan isterinya tak harmonis lagi, percekcokan sering terjadi. Mama menikah dengan papamu dan menjadi isteri keduanya. Papamu membelikan mama sebuah rumah yang cukup mewah, ditambah lagi modal untuk membuka usaha.. Mama merintis usaha mama dengan giat hingga menjadi sukses seperti yang kamu lihat sekarang ini… Salon mama berkembang pesat, hingga mama bisa membuka cabang dibeberapa kabupaten..bertolak belakang dengan usaha papa kamu, entah kenapa usahanya semakin hari semakin merugi hingga nyaris bangkrut, papamu betul betul terpuruk, namun ia tak mau menerima bantuan dari mama.pada suatu hari saat mama lagi dirumah, seorang wanita datang, ia mengamuk, ternyata itu isteri papa tirimu. Heboh sekali kejadian itu. Ia membawa puteranya yaitu kakak tirimu si fairuz yang waktu itu masih kecil, ia menuduh mama macam macam, mama dibilang mengeruk harta suaminya, membawa sial dan lain sebagainya. bertepatan papamu datang keributan besar tak dapat lagi dihindari hingga berakhir dengan perceraian mereka, akhirnya mama berhasil memiliki papa tirimu seutuhnya. Fairuz dibawa oleh isteri pertama papamu, sedangkan faisal ikut mama. Menganggap dia sebagai pengganti kamu, mama sangat menyayangi faisal, mama sangat memanjakannya karena pada dia mama seolah menemukan dirimu… Sejak saat itu mama tak pernah lagi mendengar kabar mantan isteri papamu. Terakhir yang mama tahu mereka telah pindah ke jakarta. Ia menikah lagi dan menetap dijakarta. Mama berhasil mewujudkan cita cita mama.
tapi ambisi mama tak berhenti hingga disitu, berhubung usia mama masih muda baru 21 tahun, mama mendapat tawaran bekerja disebuah bank swasta, disitu karir mama berkembang pesat hingga mama bisa menjadi direktur utama di bank itu. Mama berhasil melampaui papa kamu sekalipun…”
mama terdiam sejenak. Aku menunggu mama melanjutkan. Aku tak dapat menerka apa yang sedang mama pikirkan, wajah mama sulit untuk dibaca, tak ada lagi airmata karena mama telah mengeringkannya dengan saputangan yang ia pegang. Wajar saja kak fairuz begitu membenci mama karena ia tahu yang terjadi, ia sudah cukup mengerti kejadian yang membuat papanya bercerai dengan mamanya. Mungkin rasa trauma yang ia alami berkembang jadi kebencian, wajar saja ia membenci mama, andaikan aku yang berada pada posisi kak fairuz, aku juga akan berbuat yang sama. Aku sedih, aku tak tahu harus marah, kecewa atau membenci semua ini, namun bagaimanapun semuanya sudah terlanjur terjadi, mungkin mama terpaksa melakukan semua itu karena telah merasakan kerasnya hidup.
“izinkan mama meneruskan cerita mama ini nak..semoga setelah kamu tau semuanya, kamu tak akan membenci mama…”
suara mama pelan dan terdengar parau. Aku menggeleng kaku, sakit rasanya leherku.
“butuh waktu beberapa tahun setelah itu untuk mama mengakui kepada papamu kalau mama punya kamu, yang mama tinggalkan di bangka.. Untungnya papamu tak marah, ia bisa mengerti dan memahami mama, ia mengizinkan mama untuk menjemput kamu. Dan disinilah sekarang kamu berada nak.. Bersama mama..”
mama mengakhiri ceritanya. Aku menunduk membayangkan semua yang baru saja diceritakan mama, rupanya ini kisah hidupku.
“ma.. Ada satu yang ingin rio tanyakan.. Apakah papa kandung rio pernah melihat rio.. Apakah dia tahu tentang rio?”
aku tak dapat menahan keingintahuanku.
Mama menggeleng.
“tidak sayang, papamu belum pernah sekalipun bertemu dan melihat kamu. Mama pernah bertemu sekali dengannya waktu mama pergi ke jambi, mama meminta surat cerai darinya.. Itu sebelum mama menikah dengan papa tirimu. Ia sempat menanyakan tentang kamu, namun mama berbohong, mama bilang telah menggugurkan kamu…”
jawab mama pasti. Ia menatap mataku dalam dalam, seperti ingin melihat ada kemarahan dalam sinar mataku, namun aku terlalu capek untuk marah, jiwaku terlalu lelah melakukan itu, marah terlalu mewah bagiku saat ini.
Aku berdiri meninggalkan mama, ia sepertinya hendak berbicara lagi namun ia urungkan. Aku keluar dari kamar mama dan menutup pintu.
Om sebastian sedang duduk di sofa depan televisi. Ia menoleh waktu melihat aku keluar dari kamar mama.
“mama kamu sudah tak apa apa lagi yo?”
tanya om sebastian sambil berdiri.
Aku menghampiri om sebastian lalu duduk disampingnya. Om sebastian kembali duduk.
“mama lagi istirahat dikamarnya om..”
jawabku apa adanya.
“fairuz lagi istirahat di kamar almarhum… Sepertinya ia bakalan lama disini.. Aku kuatir sama kamu dan mama kamu yo..”
om sebastian terdengar gelisah.
“aku juga om, tadi mama sudah bercerita, aku jadi takut om, kak fairuz betul betul membenci mama, bisa jadi ia akan membenci aku juga nantinya. Kalau sampai itu terjadi, aku tak tahu lagi harus bagaimana…”
aku mengeluh pada om sebastian.
“kalau ada apa apa kamu telpon om saja yo..”
om sebastian mencoba menawarkan jalan keluar.
“semoga tak ada apa apa om.. Aku akan berusaha mendekati kak fairuz, dulu kak faisal juga begitu, ia tak menerimaku, tapi lama lama ia bisa menganggap aku sebagai adiknya kan..”
aku tak mau membuat om sebastian terlalu kuatir.
“semoga saja begitu ya yo, om berharap kamu bisa merubah fairuz, tapi sepertinya berat, pastilah mamanya telah menanamkan dalam otaknya untuk membenci mama kamu yang ia anggap sebagai perusak rumah tangganya dengan papamu. Kita berdoa saja semoga ia bisa berubah…”
harap om sebastian.
Aku cuma bisa mengangguk dan berdoa dalam hati. Semoga apa yang diharapkan om sebastian bisa jadi kenyataan, semoga aku bisa mendekati kak fairuz, sebetulnya aku senang sekali dengan kehadiran kak fairuz, seolah olah mendapatkan kembali kak faisal, mereka berdua begitu mirip, aku betul betul berharap bisa dekat, aku ingin mempunyai seorang kakak. Agar aku tak lagi merasa kesepian dirumah ini.
********
.
Jam tujuh malam sekarang, bik tin sedang sibuk menyiapkan makan malam, om sebastian sempat pulang sebentar tadi sore, namun ia segera kembali lagi bersama tante sukma, aku meminta mereka berdua menginap disini. Tante sukma membantu bik tin memasak di dapur, tante sukma orangnya sangat ramah, dari tadi sore ia mengajak aku mengobrol agar aku bisa melupakan sejenak kesedihan karena kehilangan kak faisal, tante sukma juga ingin melihat sendiri fairuz yang selama ini ia tak tau. Tapi kak fairuz belum keluar dari kamarnya semenjak sore tadi. Aku tak tahu apakah ia masih tidur atau enggan untuk keluar kamar.
Saat makan malam telah siap, aku memanggil mama di kamarnya. Mama keluar dan bergabung di meja makan bersama om sebastian dan tante sukma.
“fairuz nggak makan malam ya?”
tanya tante sukma.
Mama memandang tante sukma lalu melihat om sebastian.
“tak apa apa kak, ada aku disini, rio tolong kamu panggil fairuz di kamar..”
perintah om sebastian. Aku yang baru saja mau duduk jadi urung. Aku ragu. Om sebastian mengangguk untuk meyakinkan agar aku tak takut. Akhirnya walaupun dengan perasaan ragu aku beranjak menuju kamar kak faisal.
Aku mengetuk pintunya dengan pelan.
“kak fairuz.. Makan malam kak..”
tak terdengar jawabn.
“kak.. Makan dulu, nanti kakak lapar..”
aku mencoba membujuknya, aku yakin kak fairuz pasti mendengarkan.
Tiba tiba pintu terbuka dengan disentak, kak fairuz berdiri dengan bertelanjang bulat sambil berkacak pinggang. Rambutnya acak acakan, matanya masih merah pertanda baru terbangun. Wajah kak fairuz seperti tak senang. Mendadak aku gemetaran. Mataku beralih ke bagian bawah pusarnya. Aku ternganga.
++++

“berisik banget sih, ada apa?”
tanya kak fairuz kesal sambil menggaruk garuk area terlarangnya dengan cuek. Aku menahan nafas, gila…! Kak fairuz tidur siang dalam keadaan telanjang bulat, dan dia juga berani masih dalam keadaan bugil membuka pintu, andai orang lain yang memanggilnya tadi tak bisa aku bayangkan bagaimana reaksi mereka.
“maaf kak, udah waktunya makan malam, kakak dipanggil mama untuk makan malam..”
setengah mati aku menahan agar jangan sampai mataku terus melirik ke bagian bawah tubuh kak fairuz.
“aku nggak lapar, makan aja kalian sana!…”
jawab kak fairuz kasar kemudian berbalik dan membanting pintu. Aku nyaris terlonjak kaget, hidungku cuma berjarak beberapa senti dari daun pintu yang mengeluarkan bunyi berdebam. Aku menyeret langkah kembali ke ruang makan. Mama, om sebastian dan tante sukma menoleh kearahku.
“mana fairuz?”
tanya om sebastian, aku mengangkat bahu.
“kalau fairuz ada disini, kemungkinan besar mamanya juga ada di palembang, tak mungkin ia tak menziarahi kuburan faisal..”
ujar mama masuk akal, om sebastian mengangguk setuju.
“iya kak, aku juga berpikiran demikian, belasan tahun sudah mereka menghilang tanpa kabar dan kembali sekarang, aku bingung mereka mendapat kabar kalau faisal meninggal entah dari siapa..”
gumam om sebastian. Tante sukma mengulurkan piring berisi nasi kepada om sebastian.
“kak mega, kalau saran saya sih mendingan kakak telpon bang harlan, suruh dia pulang secepatnya, mungkin dengan ada papanya disini, fairuz bisa lebih segan..”
saran tante sukma.
“aku sudah coba telpon bang harlan, tapi nggak aktif, telpon kerumah syahrul juga nggak ada yang angkat, mungkin mereka lagi pergi dek sukma..”
jawab mama lesu.
“aku akan coba menghubungi bang harlan nanti kak..”
timpal om sebastian.
“makasih dek, semoga bang harlan mau pulang karena tahu ada anaknya datang..”
harap mama.
PRAAAAANG.!!!

kami semua kaget mendengar suara entah apa yang pecah dari ruang tamu. Mama menoleh ke om sebastian lalu serempak kami berdiri dan berlari ke ruang tamu.
Guci keramik antik dari cina setinggi puncak kepala orang dewasa yang biasanya mama taruh di meja sudut antara pintu menuju ruang tengah teronggok diatas lantai menjadi kepingan tak berbentuk lagi. Sementara kak fairuz dengan cuek menyender di samping meja itu sambil merokok.
“fairuz apa apaan kamu!!”
teriak om sebastian marah.
“nggak sengaja, salah sendiri kenapa ditaruh disitu..!”
jawab kak fairuz tanpa berdosa.
“keterlaluan ka…”
“sudah dek, sudah.. Tak usah emosi.. Biarkan saja, lagian sudah pecah, tak akan bisa utuh lagi walaupun kamu marah marah..”
mama menenangkan om sebastian, aku tahu mama pasti sedih karena itu keramik antik yang ia favoritkan. Harganya jangan ditanya lagi, sudah ada kolektor yang berani menawar dengan harga sangat tinggi tapi mama tak mau melepaskannya.
“bik tin..!”
mama berteriak memanggil bik tin. Rupanya bik tin juga ada disini menyaksikan semua ini.
“iya bu..”
“tolong bersihkan pecahan keramik ini, jangan sampai bekasnya melukai kaki..”
ujar mama dengan getir.
Tanpa diperintah dua kali dengan cekatan bik tin membersihkan pecahan keramik itu.
Om sebastian menggeleng gelengkan kepala melihat kelakuan kak fairuz. Tante sukma memegang lengan om sebastian, sepertinya ia takut om sebastian kehilangan kontrol hingga memukul kak fairuz.
“ayo dek kita lanjutkan makan malam..”
mama mengajak kami kembali ke ruang makan.
“fairuz, ayo makan malam, bukannya kamu dari sore belum makan?”
mama berbaik hati menawari kak fairuz. Namun kak fairuz tak bergeming sedikitpun, ia memandang mama dengan bosan lalu beranjak meninggalkan kami tanpa berkata sepatah katapun.
“bukannya itu keramik dari dinasti ming yang harganya ratusan juta kak?”
tanya tante sukma merasa sayang. Mama mengangguk dan tersenyum pahit.
“sudahlah dek sukma, mungkin fairuz benar benar tak sengaja.. Lagian keramik itu sudah ada sebelum aku pindah kesini… Dulu harganya nggak segitu kok”
ujar mama seperti mau menghibur diri sendiri.
Kami kembali duduk di ruang makan, melanjutkan makan malam yang sempat terganggu karena insiden tadi.
Mama sepertinya sudah kehilangan selera makannya. Masih banyak nasi yang tersisa di piringnya namun mama sudah berhenti.
“loh kakak sudah selesai?”
tanya tante sukma heran.
“sudah kenyang dek, maaf ya kakak duluan.. Mau sholat..”
mama beralasan.
Tante sukma hanya bisa mengangguk. Mama beranjak dari meja makan lalu berjalan ke kamarnya. Aku kasihan sekali kepada mama, belum hilang kesedihannya karena ditinggalkan kak faisal, sekarang timbul masalah lain yang membuat pikiran mama kembali tersita. Kenapa kak fairuz tak bisa seperti kak faisal, padahal mereka saudara kandung, kak faisal sangat menyayangi mama seolah mama adalah ibu kandung baginya. Namun kak fairuz begitu membenci mama seolah musuh yang harus ia musnahkan. Andai ini terus berlarut aku kuatir mama bisa stress, om sebastian tak mungkin terus terusan menginap disini karena ia harus bekerja, lagian dia juga sudah punya rumah sendiri.
Aku menghabiskan makan malamku tanpa semangat, padahal masakan tante sukma sangat lezat tapi aku tak bisa menikmatinya karena terlalu banyak beban pikiran.
Aku kembali ke kamar setelah makan, aku ambil hp diatas bantal, ada beberapa sms yang masuk. Beberapa dari rian. Celaka.. Rian minta jemput di kampusnya. Sms ini sudah hampir satu jam yang lalu. Dengan panik aku berlari mengambil kunci mobil kak faisal. Baru saja aku mau mengeluarkan mobil dari dalam garasi, di depanku berdiri kak fairuz. Buru buru aku injak rem. Aku membuka pintu mobil dan turun menghampiri kak fairuz.
“kenapa kak?”
tanyaku heran. Kak fairuz tak menjawab cuma memandangku sinis sambil menadahkan tangan kanannya. Aku bingung apa maksud kak fairuz.
“sini kunci mobil itu…”
pinta kak fairuz padaku.
“kenapa kak?”
aku jadi bingung.
“kemarikan kuncinya.. Cepat..”
perintah kak fairuz dengan gaya seorang raja. Dengan ragu dan masih bingung aku membuka pintu mobil, mencabut kuncinya lalu menyerahkan pada kak fairuz.
Ia langsung mengambilnya dari tanganku kemudian mengantongi kunci itu lalu masuk ke dalam rumah dengan santai. Aku tercengang memandang kepergian kak fairuz. Aku betul betul bingung. Sambil menggaruk kepala aku masuk ke dalam rumah. Aku berpapasan dengan mama di pintu dapur.
“ada apa rio?”
tanya mama heran melihat tampangku yang keruh.
“itu ma, kunci mobil kak faisal yang mau aku pakai diambil kak fairuz..”
jawabku apa adanya tanpa ada niat untuk mengadu.
“apa..? Kenapa ia melakukan itu?”
pekik mama heran.
“entahlah ma, mungkin kak fairuz tak mengizinkan aku memakai mobil itu karena ia menganggap semua milik papanya tak boleh aku pakai..”
aku berasumsi.
Mama diam sejenak, menghela nafas.
“memangnya tadi rencana kamu mau kemana sayang?”
tanya mama sabar.
“mau jemput rian ma, dia sms minta tolong di jemput, aku sudah terlambat satu jam.. Bisa bisa ia marah..”
“ya sudahlah.. Kamu telpon dia, bilang saja tak sempat, mama yakin rian bisa mengerti..”
saran mama serba salah. Aku tahu mama bisa saja berkeras untuk menyuruh kak fairuz menyerahkan lagi kunci mobil itu kepadaku, namun mama tak mau melakukan itu karena tak mau menyulut pertengkaran dengan kak fairuz, cukup sudah tadi sore mama diseret kak fairuz, aku tak habis pikir bagaimana kak fairuz bisa tega mengusir mama. Apa kak fairuz tak tahu kalau mama adalah pemilik rumah ini sekarang dan mama yang berkuasa penuh.
“rio ke kamar dulu ma, mau telpon rian..”
“iya nak, yang sabar ya..”
mama tersenyum lembut sambil mengusap rambutku penuh kasih.
“iya ma..”
aku meninggalkan mama lalu ke kamar. Aku menelpon rian, sudah ku duga rian pasti marah. Ia tak terima karena aku telah membuat ia menunggu lama. Ia memutuskan percakapan. Aku mencoba menelponnya lagi namun tak ia angkat. Bertambah pusing kepalaku. Akhirnya aku menelpon koko. Aku minta jemput sama koko. Untunglah koko bilang ia akan datang setengah jam lagi, jadi aku duduk menonton tipi di kamar sambil menunggu koko. Aku jadi gemas teringat waktu kak fairuz meminta kunci mobil tadi dengan gaya sok berkuasanya itu. Seenaknya saja ia melarang aku memakai mobil itu, padahal selama ini, kak faisal tak pernah keberatan kalau aku meminjam mobilnya.
Pintu kamarku terbuka tanpa ada tanda sebelumnya. Kak fairuz masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu ia langsung nyelonong begitu saja dalam kamarku. Aku langsung berdiri dengan heran.
“ada apa kak?”
aku bertanya dengan sopan, walaupun kak fairuz telah bertindak tak sopan kepadaku, namun aku berusaha menjaga sikap terhadapnya.
“mulai hari ini aku yang pakai kamar ini!”
tandas kak fairuz ketus.
Aku tercengang, apakah aku tak salah dengar.
“maksud kakak?”
aku tak yakin.
“kamu sudah tuli, atau memang kuping kamu yang jelek itu tak pernah dibersihkan? Aku bilang mulai hari ini kamar ini milik aku, kamu pindahkan barang barang kamu, aku tak mau tau kamu mau pindah ke mana, pokoknya jam sembilan nanti, semua peralatan kamu tak ada lagi di kamar ini!”
perintah kak fairuz tegas. Aku mematung tak percaya. Aku tak tau harus mengatakan apa.
“ayo buruan.. Jangan kayak orang bego.. Jijik aku lihatnya!”
maki kak fairuz sambil menempeleng kepalaku tak kira kira
“aduh..!.. Apa apaan kak, sakit tau!”
aku mengusap keningku yang terasa panas akibat di tempeleng tadi.
“kenapa? Kamu nggak suka?”
kak fairuz menarik kerah bajuku.
“nggak..! Aku nggak suka!… Jangan kakak kira aku takut… Lepaskan kak jangan pancing emosiku!”
aku memperingatkannya, namun kak fairuz bukannya melepaskan malah ia semakin kuat mencekal kerah bajuku. Karena kesal aku tinju sekeras kerasnya perut kak fairuz.
“aduh!.. Sialan.!”
kak fairuz mengerang, terhuyung huyung sambil memegangi perutnya.
“keparat!!”
BUUK..
Satu tinjuan telak mengenai mataku, seolah bagai kilatan cahaya lampu kamera selama sedetik yang berubah jadi gelap dan samar pengelihatanku, sakit sekali rasanya. Tenaga kak fairuz betul betul kuat.
Setelah mengatasi terkejut, aku balik menyerang lagi. Aku terjang kak fairuz hingga tubuhnya terhempas ke dinding, tangannya menyenggol lampu tidur hingga terjatuh dan pecah menimbulkan suara ribut. Aku yang kalap tak mau menunggu hingga kak fairuz menyerang lagi, mumpung ia sedang lengah aku langsung menerjang lagi, ia kembali terjatuh. Bertubi tubi aku hantamkan pukulan ke wajahnya. Tiba tiba tanganku dicekal dari belakang. Aku menoleh ternyata om sebastian yang memegang aku. Sementara mama dan tante sukma berdiri tepat ditengah pintu kamarku terlihat ketakutan.
“sudah rio…sudah..!”
om sebastian membentakku.
“lepaskan om, dia yang mulai duluan..!”
aku tak menghiraukan om sebastian, aku berusaha melepaskan tanganku yang ia cekal.
“sudah om bilang!!”
dengan suara menggelegar om sebastian melarangku memukul kak fairuz.
Akhirnya aku mengalah, aku lemaskan tanganku dan mengangguk. Aku memandangi kak fairuz nyalang, jangan ia pikir aku takut padanya. Ia tak bisa selalu semena mena padaku. Kami sama sama pria, sama sama punya tangan dan emosi, jangan ia mengira diamku tadi karena aku takut padanya, aku tak mau kak fairuz mengira aku seorang pengecut yang hanya berani berlindung diketiak mama. Kak fairuz harus tau kalau aku juga bisa emosi dan melawan.
Om sebastian melepaskan tanganku setelah dia rasa cukup aman untuk melakukan itu. Aku beranjak meninggalkan kamarku. Mama yang hendak membantuku tak aku hiraukan. Saat melihat bik tin di dapur aku segera menghampirinya.
“bik, tolong baju dan peralatan yang ada dikamarku, pindahkan semua ke kamar almarhum kak faisal, kamarku mau di pakai kak fairuz..”
bik tin menatapku heran, ia membuka mulutnya hendak bertanya, namun aku menggeleng. Aku terlalu capek untuk menjelaskannya. Aku tinggalkan bik tin lalu aku masuk ke kamar kak faisal. Sebetulnya dirumah ini masih ada tiga kamar kosong termasuk kamar tamu, namun dua kamar yang lain ukurannya terlalu kecil, posisinya pun aku kurang suka, jadi aku lebih memilih kamar kak faisal. Selain kamar itu lebih luas, posisi jendelanya pun langsung menghadap ke kolam ikan dengan air terjun buatan yang ada di taman samping rumah. Posisinya lebih strategis daripada kamarku. Biarlah aku mengalah saja, kak fairuz mau kamarku, silahkan ambil, tapi jangan harap ia bisa mengambil lagi apa yang menjadi milikku seenaknya saja.
Pintu kamar kak faisal terbuka, mama masuk dan menghampiriku.
“mama tau kalau kamu sampai berbuat seperti tadi, pasti karena kamu betul betul emosi..”
tak ada kemarahan pada suara mama.
Aku mengangguk tak bersuara.
Mama duduk disampingku dan memegang bahuku.
“mama tau kamu pasti terganggu dengan kedatangan fairuz, mama bisa mengerti kalau kamu marah, fairuz memang keterlaluan…tapi mama pinta kamu lebih bersabar lagi, bagaimanapun juga kalian berdua itu saudara..”
nasehat mama, suara mama terdengar sedih. Aku mendongak memandang mama.
“tapi ma, ia tak bisa seenaknya pada rio, kalau ia terus terusan memancing emosi, rio tak akan bisa selalu diam.. Lagian dia juga cuma sekedar saudara tiri..”
aku masih keras kepala, aku belum bisa meredakan kemarahanku sepenuhnya.
“iya sayang… Mama tak tau kenapa bisa seperti ini jadinya.. Mama tak menyangka setelah begitu lama ia tak juga berubah, ia tak bisa menerima mama..”
mama berdiri kemudian berjalan menuju jendela, memperhatikan kolam yang mengeluarkan suara gemericik air mengalir.
“kenapa mama tak mengusirnya saja ma, kita kan sudah cukup mendapat banyak masalah, ia tak bisa begitu saja datang seolah olah berkuasa disini..”
ujarku geram.
Mama berpaling melihatku dan tersenyum.
“mama tak bisa begitu sayang, bagaimanapun juga dia anak tiri mama, kalau mama mengusirnya, apa yang harus mama katakan pada papa kamu?… Sudahlah, lama lama ia nanti pasti akan bisa menyesuaikan diri.. Pelan pelan kamu coba dekati dia, tawarkan persahabatan, mama yakin semua orang punya segumpal hati, dan hati itu berwarna merah, itu artinya manusia itu pada dasarnya sama. Tak ada yang beda, yang membuat beda hanyalah suasana serta pengalaman. Terkadang kerasnya hidup ikut mengeraskan hati, itulah yang terjadi pada kakakmu itu, andai kamu mau bersabar, kamu pahami dia, ajak dia memahami kamu, lama kelamaan kalian akan sehati… Anggap dia pengganti faisal, mama yakin… Hatinya tak sekeras yang ingin ia tunjukkan pada kita..”
nasehat mama panjang lebar. Aku diam mencerna semua kata kata mama dalam pikiranku. Aku tak yakin apakah aku bisa melunakkan hati kak fairuz. Ia terlanjur membenci mama, dan aku juga terkena imbas dari kebenciannya itu. Sampai berapa lama aku bisa bertahan, dan sampai berapa lama kak fairuz mampu bertahan dengan kemarahannya… Aku tak habis pikir apa yang membuat kak fairuz mau tinggal disini, kalau ia merasa benci dengan mama, seharusnya ia menjauh bukannya malah memilih tinggal disini. Aku saja belum bisa menghilangkan rasa kaget karena kemunculannya yang tiba tiba. Kalau saja kak faisal tidak meninggal mungkin aku tak akan tau mengenai kak fairuz, aku jadi penasaran apa kak faisal tau mengenai kak fairuz, ia tak pernah membicarakan mengenai itu.
“kamu pikirkan lagi ya sayang!, sekarang mama percaya kalau kamu sudah bisa berpikir dewasa, rio yang mama kenal adalah rio yang hebat, yang membuat mama bangga memiliki putera seperti rio.. Mama berterimakasih karena emak kamu dulu telah mendidik kamu menjadi begini, dulu mama begitu iri pada emak kamu, mempunyai kamu.. Tapi kini mama lebih tenang karena kamu masih anak mama.. Putera kesayangan mama..”
mama mencium pipiku lalu beranjak meninggalkanku sendirian di kamar.
Aku merenungi kata kata mama, tak terasa air mataku mengalir jatuh. Aku buru buru menghapus airmata karena bik tin masuk sambil membawa tumpukan bajuku yang telah terlipat rapi. Mulai hari ini aku pindah di kamar kak faisal, entah kenapa rasanya begitu sunyi di kamar ini, dulunya kamar ini selalu ramai dengan teman teman kak faisal yang berkumpul, kadang menonton, kadang ngeband, kadang minum diam diam, begitu banyak kenangan indah di kamar ini dan aku salah satu saksi hidup yang masih bisa merasakan kenangan yang tak pernah mati tentang kamar ini, tentang kakak yang sangat aku cintai, kak faisal yang meninggal di usianya yang begitu muda. Meninggalkan aku dan keluarga ini. Aku selalu berdoa dalam setiap sholat agar almarhum diampuni semua dosa dan kesalahan, agar dilapangkan jalannya nanti menuju surga yang indah, agar di tenangkan tidurnya di alam sana hingga hari akhir nanti. Aku selalu berdoa agar jasadnya selalu dipelihara. Aku menangis memandangi foto kak faisal yang tergantung di dinding kamarnya. Foto ia memakai baju kaus oblong, kak faisal memang tampan, di foto pada sudut manapun ia selalu terlihat tampan. Senyumnya tak kalah dengan senyum model, sayang kak faisal tak ada minat untuk jadi model. Di foto pun dia kurang suka. Aku sentuh foto itu dengan ujung jariku kemudian aku usap. Air mataku kembali jatuh. Aku kangen kak faisal, aku kangen sekali. Aku sedih tak bisa bersamanya lagi. Tubuhku bergetar mengingatnya. Aku betul betul rindukan saat bersamanya.
Andai waktu bisa di ulang lagi sungguh senang rasanya. Namun itu tak mungkin.
Aku membantu bik tin memasukkan baju bajuku ke dalam lemari kak faisal yang telah kosong. Setelah selesai memindahkan buku buku dan miniatur koleksiku. Bik tin pamit keluar.. Tak lupa aku berterima kasih padanya. Aku selipkan beberapa lembar uang pada bik tin. Ia berterima kasih dengan gayanya yang khas, ia selalu begitu setiap aku berikan uang.
Sudah hampir setengah sembilan baru koko datang.
“eh yo maaf ya, soalnya tadi mendadak mama minta antar ke rumah temannya, jadi aku agak telat..”
koko meminta maaf.
“nggak apa apa ko, yang penting kamu datang..”
“oh ya, kok kamu sekarang pindah ke kamar ini, aku sempat kaget tadi waktu aku mau masuk ke kamarmu yang dulu, di dalamnya ada seseorang…”
suara koko agak aneh.
“iya ko, dia kakak tiriku.. Baru datang dari jakarta..”
aku menjelaskan.
“loh emangnya ada berapa sih saudara kamu, kok selama ini nggak pernah kelihatan?”
koko jadi heran.
“aku juga baru tau, panjang ceritanya.. Yang jelas ada hal lain yang aku ingin tau dari kamu dan aku minta kamu tak perlu bohong atau menutup nutupi lagi, aku butuh kebenaran karena aku sudah tau semua..”
koko bengong, ia ternganga mendengar aku bicara seperti itu.
“maksud kamu apa yo?”
tanya koko heran.
“mengenai om alvin.. Dia kan papa kandungku?”
tembakku langsung ke intinya.
Wajah koko berubah pucat pasi, mungkin ia tak menduga kalau aku bakalan bertanya tentang ini.
“ka.. Kamu tau da.. Dari mana?”
koko terbata bata.
“aku sudah tau semua.. Jadi kamu tinggal ceritakan saja..”
aku tak mau bertele tele.
Koko sepertinya mengerti dari nada suara ku yang sengaja aku buat tegas.
“yah.. Lagian kamu juga udah tau..”
desah koko.
“ya udah cepetan!”
buruku tak sabar.
“sebetulnya om alvin menyuruh aku merahasiakan hal ini darimu yo, kamu tau waktu aku menyadari kalau sebetulnya kamu itu sepupuku, aku betul betul gembira, begitu juga mama..”
ujar koko berapi api, senyumnya tak lepas lepas dari tadi.
“awalnya aku curiga waktu almarhum faisal meminta aku menyelidiki om alvin..”
“itu aku udah tau, aku cuma mau tanya aja, gimana sih sebetulnya om alvin?”
aku memotong penjelasan koko.
“om alvin sangat menyayangi kamu yo, ia berharap sekali suatu hari ia bisa berkumpul dengan kamu, ia mendambakan anak lelaki, yang tak bisa diberikan tante sophie, oh ya yo.. Kamu tau.. Ada kabar baik loh..”
mata koko berbinar binar cerah. Seolah tak sabar lagi menyampaikan berita gembira.
“kabar gembira apa sih?”
aku jadi penasaran.
“akhirnya om alvin menjadi mualaf yo..”
“apaaa..!!?”
“iya yo sumpah… Sudah dua hari yang lalu yo, ia sudah memutuskannya dengan bulat, ia kan sudah cerai dari tante sophie, jadi sekarang ia sementara menenangkan diri di rumah mama.. Beberapa kali ia melihat kami beribadah ia jadi tertarik..”
koko menambahkan.
“lalu..?”
aku ikut gembira mendengar kabar ini, jadi papa kandungku sekarang telah seiman denganku.
“om alvin bilang sebetulnya ia sudah ingin melakukan itu dari dulu, sejak ia mengenal mama kamu yo… Tapi mama kamu keburu meninggalkan om alvin, ia betul betul kecewa waktu itu..”
jelas koko.
“om alvin yang cerita?”
aku ingin tau.
“iya yo, banyak yang ia ceritakan.. Kalau gitu kita kerumah ku saja sekarang, lagipula kamu kan sudah tau kalau om alvin itu papa kamu..”
ajak koko bersemangat. Aku menggeleng. Koko terdiam melihatku, senyumnya langsung lenyap.
“kenapa yo?”
“aku belum mau bertemu dia ko, terus terang aku belum siap..”
“kenapa memangnya.. Ketemu papa sendiri kok belum siap.. Aneh!..”
cetus koko.
“bukan begitu ko, terus terang sebetulnya aku kecewa, om alvin pengecut.. Aku belum bisa menerimanya lagi..”
jelasku keras hati.
“kok begitu..?”
koko makin heran.
“ya begitu.. Emangnya mau ngapain ayo? Pokoknya aku belum siap.. Satu lagi, kamu jangan bilang sama om alvin kalau aku tau ia papaku..”
“aneh!”
koko semakin keki.
“pokoknya aku minta kamu jangan pernah bilang.. Ayo sumpah.!”
aku memaksa koko.
“ngapain harus sumpah.. Udah ah.. Nggak perlu pake sumpah segala, emangnya aku ini nggak bisa di percaya..”
koko mengelak.
“bukan begitu, cuma dalam masalah ini aku cuma ingin betul betul yakin.. Kalau sampai kamu bilang, terus terang aku bersumpah tak akan menerima om alvin sampai aku mati, dan juga aku tak akan menganggap kamu sebagai siapapun lagi..!”
aku mengancam. Koko mendelik padaku. Mulutnya manyun.
“oke oke oke… Demi Allah aku janji tak cerita! Puassss?”
koko sebal.
“bangeeet!.”
aku tertawa dan merangkul koko erat, ia ikut tertawa dan memelukku.
“kita jalan yuk sepupu..”
ujar koko bercanda.
“oke boleh..”
aku berdiri dan mengajak koko keluar.
Koko menyalakan mesin mobilnya, bertepatan sebuah motor bebek memasuki pekarangan rumahku.
Ternyata rian yang datang. Mukanya masam, ia cemberut hingga bibirnya yang tipis hampir membentuk satu garis.
“mau kemana yo!?”
pertanyaan rian lebih mirip seperti ancaman.
+++

“eh rian, ini aku sama koko baru aja mau jalan..”
“tadi kamu bilang nggak sempat jemput aku, ternyata kamu lagi sibuk sama koko ya?”
tuduh rian.
“bukan gitu, aku lagi ada masalah..”
“emangnya masalah apa?”
“ceritanya panjang… Kalau gitu kita jalan sama sama aja, ada hal yang mau aku ceritakan padamu..”
“oke.. Aku pake motor atau ikut kalian?”
tanya rian ragu.
“motor kamu taruh aja di garasi, kita sama sama naik mobilnya koko”
“oke.. Tunggu sebentar..”
rian menggiring motornya ke dalam garasi, lalu ia masuk ke dalam mobil.
“mau kemana kita?”
tanya rian.
“kamu udah makan belum? Lebih baik kita cari makan, ke kafe aja lebih santai untuk mengobrol..”
“boleh, kebetulan aku memang belum makan..”
ujar rian.
“yo, ke kafe mana?”
tanya koko.
“terserah kamu aja lah, apa kita ke kafe tempat kita biasanya?”
aku mengusulkan.
“baiklah..”
jawab koko menekan gas, dan mobil meluncur keluar dari pagar menuju ke jalan raya.
“emangnya kamu ada masalah apa sih kok sampai nggak sempat lagi jemput aku?”
tanya rian sedikit kesal.
“maaf yan, aku tadi berantem..”
“hah? Berantem..! Emangnya sama siapa?”
tanya rian terkejut.
“sama kak fairuz..”
“kak fairuz, siapa dia?”
rian heran.
“itulah masalahnya yan, kak fairuz itu baru datang, ia anak kandung papa, kakaknya kak faisal.. Aku juga baru tau tentang dia..”
aku menjelaskan.
“lalu kenapa kalian berantem?”
rian ingin tau.
“dia marah, sebetulnya aku tak enak menceritakan hal ini, tapi aku juga nggak mau kamu salah paham, ia tak bisa menerima mama sebagai mama tirinya, maka dari itu ia ikut ibu kandungnya.. Dan itu juga berimbas ia jadi tak menyukaiku..”
“lalu ia mengajak kamu berantem?”
“sebetulnya nggak, tapi dia selalu mencari gara gara, ia selalu memancing emosiku..”
“memancing gimana?”
rian makin heran.
“pokoknya ia selalu membuat aku ingin marah, pertama ia mengambil kunci mobil almarhum kak faisal yang mau aku pakai, aku diam saja karena tak mau ribut, setelah itu ia mengusirku dari kamarku sendiri, aku coba sabar, namun ia makin ngelunjak.. Ia memukulku, aku tak terima dan balas menyerangnya..”
aku membeberkan kejadian tadi.
“keterlaluan banget sih kakakmu itu, lagian aneh juga sih setelah kematian faisal ia baru menampakkan lagi batang hidungnya.. Emangnya orangnya seperti apa sih?”
rian ikut kesal.
“mirip banget dengan kak faisal, lebih dewasa lagi, tapi sifatnya itu bikin muak..”
ujarku berapi api.
“ya sudahlah… Yang penting kamu jangan mau disemena menakan dia..”
saran rian.
“nggak boleh gitu dong yan, justru rio harus mencoba mendekati kakaknya itu, kalau ia memusuhinya, nggak bakalan selesai selesai masalah..”
timpal koko yang sedari tadi cuma diam.
“aku sih liat liat dulu ko, kalau emang kak fairuz bisa merubah sikapnya itu, mungkin aku bisa lebih manis, tapi andai ia masih seenaknya saja, aku tak akan tinggal diam!”
aku ngotot.
“betul itu yo, emangnya kamu itu babunya dia, seenaknya saja dia perlakukan kamu..”
rian mengompori.
“dasar kalian berdua..”
koko menggeleng gelengkan kepalanya.
“ko.. Stop.. Itu cafe nya udah lewat.. Huh gara gara keasyikan ngobrol sampai kelewatan deh..”
aku berteriak saat menyadari kami telah melewati kafe yang kami tuju.
“iya sih gara gara keasyikan ngobrol gini deh jadinya, tunggu sebentar aku mutar mobil dulu..”
koko memutar setir berbelok menuju ke jalan tadi, ramai sekali mobil yang lewat hingga kami harus menunggu sedikit sepi baru bisa berbalik. Setelah sedikit sepi tanpa membuang waktu lagi koko membelokkan mobil. Lalu berhenti tepat di depan kafe, seorang tukang parkir memberi komando agar kami memarkir mobil di tempat yang ia arahkan. Rupanya malam ini agak ramai yang berkunjung.
“ayo masuk langsung..”
koko mematikan mesin mobil lalu turun, aku dan rian ikut turun dan berjalan bersama koko memasuki kafe, suara musik langsung terdengar begitu kami menginjak lantai depan, suasananya sedikit temaram karena diberi penerangan yang seadanya namun tak menimbulkan kesan suram. Meja dan kursi ditata teratur berjarak lumayan renggang untuk privasi pengunjungnya. Ditiap tiap meja dihiasi bunga segar dan lilin yang mengeluarkan aroma terapi. Kami memilih meja yang ada disamping agak dekat dengan jendela jendela kaca, hingga pemandangan di jalanan bisa kami lihat sambil menikmati makan malam. Seorang pelayan memakai kemeja putih menghampiri kami memberikan buku menu dan kertas.
Aku mempelajari menu yang tertulis. Koko mencatat makanan yang ia ingin pesan.
“ko tolong sekalian tulis satu porsi spaghetti bolognese sama juice alpukat, juga soft drink.. Kentang goreng sama cumi tepung juga..”
aku menyebutkan makanan dan minuman yang aku pesan.
“aku risotto dan sunrise manhattan punch..”
rian menyebutkan makanan yang ia mau.
“kalian mau coba steak disini nggak, enak loh.. Aku biasanya pesan steak kalau makan disini..”
koko mengusulkan.
Rian agak ragu dan memandangku. Aku mengangguk padanya.
“boleh..”
jawab rian.
“tenderloin atau sirloin?”
tanya koko sebelum menulis.
“terserah kamu aja, aku nggak ngerti..”
ujar rian agak malu.
“yang sirloin aja yan..”
aku mengusulkan.
“iya.. Tentu saja.. Yang sirloin lebih enak..”
rian setuju mengangguk angguk dengan semangat.
“kamu pasti terganggu dengan kedatangan fairuz..”
kata koko dengan simpati.
“sebetulnya aku senang sih, cuma kenapa ia harus bersikap memusuhiku seperti itu, padahal aku ingin bisa dekat, bagaimanapun juga kehadirannya disaat kepergian kak faisal seolah mengobati kesedihanku ko..”
aku berterus terang.
“mungkin pendekatanmu yang belum tepat..”
sela rian.
Aku menghela nafas, lalu memperbaiki posisi duduk lebih santai.
“dia tak pernah memberi kesempatan aku untuk mengenalnya..”
“lalu kalau begitu terus apa kamu bisa tahan?”
“entahlah… Aku akan berusaha sabar, semoga kak fairuz bisa merubah sikapnya..”
“apakah dia bakalan lama?”
rian penasaran.
“semoga nggak..”
aku berharap.
Percakapan kami terhenti karena seorang pelayan datang mengantar minuman.
“terimakasih..”
aku tersenyum pada pelayan seorang gadis usia kisaran 22 tahun. Ia membalas tersenyum lalu meninggalkan kami.
“aku harap dia tak membuat masalah lagi..”
ujar rian gusar.
“semoga saja… Aku capek yan, aku tak suka berantem, apalagi saat ini suasananya tak tepat untuk itu, semoga kak fairuz bisa lebih peka, aku kasihan sama mama.”
ujarku kalut.
“sudahlah jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu jadi stress..”
koko menasehati.
“iya ko, aku juga berusaha agar tak terlalu memikirkan itu, banyak hal lebih penting harus dilakukan.”
“nanti malam aku menginap ditempat kamu, biar fairuz tak macam macam..”
rian memegang tanganku. Cepat cepat aku tarik sebelum terlihat oleh koko. Rian mendelik tak suka, namun aku langsung melemparkan tatapan meminta maaf dan meminta pengertian. Rian melengos ke samping, koko mengangkat alis menatapku.
“ada apa yo?”
“nggak ada apa apa ko…”
aku pura pura tak apa apa.
Pelayan kembali datang kali ini dua orang, membawa makanan lalu menyusun ke atas meja.
“aku yang spaghetti..”
ujarku saat pelayan itu mau meletakkan piring datar berisi spaghetti didepan meja rian.
“maaf…”
pelayan itu meletakkan spaghetti didepan mejaku.
Setelah pelayan itu pergi, kami langsung menyikat makanan tanpa menunggu lama.
“wah enak juga ya, dagingnya empuk..”
sela rian sambil mengunyah daging steak medium pesanannya tadi.
“udah aku bilang, pasti kamu suka..”
koko tersenyum senang.
“gimana nih, boleh kan aku menginap ditempat kamu..?”
rian mengulangi lagi pertanyaanya yang belum sempat aku jawab.
“tentu saja boleh yan…”
aku mencoba bersikap biasa didepan koko, sebetulnya aku senang sekali mendengarnya.
“oke kalau gitu…”
rian melanjutkan lagi makannya dengan lahap. Kasihan sekali aku melihatnya makan, sepertinya ia jarang makan seperti ini, wajarlah seorang anak kost pasti tak bisa terlalu sering makan di restoran.
Aku menggulung spaghetti di garpu lalu memakannya, lumayan enak, bumbunya yang kental dan pedas terasa tajam bercampur rasa asam mayonaise.
“aku kasihan memikirkan amalia…”
cetus koko tiba tiba. Aku nyaris tersedak buru buru meraih gelas berisi air putih dan meneguknya.
“kenapa emangnya ko?”
“pasti ia sedih, soalnya kan pernikahan mereka tinggal sehari, aku bisa membayangkan bagaimana perasaannya..”
“entahlah ko.. Mungkin itu sudah takdirnya, itu belum seberapa dari yang kami rasakan, kehilangan keluarga… Yang bertahun tahun tinggal satu rumah dan telah dekat, rasanya tak bisa aku lukiskan…”
kesedihan kembali mengisi rongga hatiku, bayangan wajah kak faisal yang sedang tersenyum melintas di pikiranku. Aku jadi kehilangan selera makan. Rian mengamatiku tajam. Diamati seperti itu aku jadi kikuk, aku langsung pura pura sibuk mengaduk spagheti dengan garpu seolah olah menikmati.
“kenapa yo?”
rian melepaskan garpu dan pisau yang ia pegang.
Aku diam memandangi kerlip lilin dalam gelas berwarna biru tua ditengah meja. Seolah ada bayangan wajah kak faisal disana.
“lebih baik jangan bicarakan terus mengenai faisal, kamu harus mengerti rio, ko!”
rian mengingatkan koko. merasa apa yang dikatakan oleh rian ada benarnya, koko mengangguk.
“maaf yo, aku tak bermaksud terus mengingatkan kamu pada faisal, seharusnya kita disini untuk membuatmu melupakan kesedihan, ini aku malah membuat kamu jadi tambah sedih..”
sesal koko tak enak hati.
“tak apa apa ko, mungkin karena masih baru aja aku sulit melupakan kak faisal..”
aku tersenyum agar koko tak merasa bersalah.
“kalau udah nggak selera jangan dipaksa..”
timpal rian. Aku mengangguk. Sesaat hanya keheningan yang menemani kami bertiga hingga tuntas rian dan koko menghabiskan makanan mereka.
Sampai perjalanan pulang kami bertiga diam.
Koko mengantar aku dan rian hingga ke pekarangan rumahku.
“sampai besok yo..”
ujar koko dari dalam mobil sambil membuka kaca.
“iya ko.. Makasih ya, hati hati di jalan..”
koko meninggalkan kami, aku mengajak rian masuk ke dalam rumah lewat pintu garasi.
“loh bukannya kamar kamu ada diruang tengah?”
tanya rian heran waktu aku membuka pintu kamar kak faisal.
“kan udah aku bilang kalau kak fairuz mengajak aku tukar kamar..”
rian menepuk keningnya.
“oh iya ya.. Hehehe sori..”
ia tersenyum malu.
“ya udah.. Masuk dulu..”
aku melebarkan pintu, rian masuk lalu aku menutup pintu kamar dan tak lupa menguncinya.
“cuci muka dulu sana…”
aku menyuruh rian.
“oke bos..!”
ujar rian sambil menirukan gaya orang memberikan hormat pada bendera. Aku cuma tertawa melihat tingkahnya.
Rian masuk ke dalam kamar mandi sementara aku membuka lemari mencari baju dan celana untuk rian pakai tidur.
“sikat gigi baru ada dalam laci belakang cermin..”
teriakku pada rian yang masih berada dalam kamar mandi.
“iya… Nggak usah.. Aku pake sikat gigimu saja..”
rian balas berteriak dari kamar mandi.
“hei.. Jorok amat, nggak boleh sikat gigi dipake satu kampung, ntar banyak bakteri..”
aku tertawa.
“biarin aja.. Lagian kita sering ciuman bibir, apa itu nggak mengandung bakteri?”
suara rian terdengar kurang jelas karena ia bicara sambil menyikat gigi.
“pelan pelan ngomongnya dodol! Emangnya kamu mau serumah tau kita pacaran?”
sungutku sebal.
“hahaha.. Sori… sori.. Lupa..”
kepala rian nongol dari pintu kamar mandi, mulutnya berlepotan busa pasta gigi.
“idih jorok amat.. Nggak manners banget!”
protesku pura pura jijik. Rian tertawa terbahak bahak lalu batuk batuk tersedak busa.
“rasain!”
aku merapikan tempat tidur dan menyusun bantal, baru saja aku berbalik, rian memelukku. Terasa ada sesuatu yang keras menekan pinggulku. Aku berbalik, rian cengengesan dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.
+++

Aku tersenyum lebar melihat rian yang polos.
“sudah lama aku nggak meluk kamu kayak gini sayang..”
bisik rian pelan di telingaku. Nafasnya terasa hangat membelai daun telingaku. Sedikit banyak aku jadi terangsang.
“iya yan, maaf akhir akhir ini aku memang sedikit sibuk dengan masalahku.”
rian mulai menjilati kupingku, lembut lidahnya menyapu belakang telingaku membuat bulu dibawah tengkukku berdiri.
“shhh… Yan.. Sabar.. Aku mau menyikat gigi dan cuci muka dulu..”
aku mendorong tubuh rian pelan namun ia semakin mempererat pelukannya.
“tak apa apa sayang…”
rian mulai menggigiti kupingku, aku menggelinjang kegelian.
“sudah.. Sudah rian, hentikan dulu… Tubuhku masih keringatan..”
rian tak perduli malahan semakin gencar menjilati bagian belakang kupingku, turun ke tengkuk, rasanya hangat lembut dan basah, tanpa terasa tanganku malah mendorong tubuh rian makin menempel ke tubuhku. Rian cengengesan.
“aku betul betul suka melakukan ini.. Rasanya tak ada yang bisa menguasaimu seperti aku..”
suara rian makin memburu. Aku sudah tak tahan lagi rasanya, langsung aku tangkap kejantanan rian yang sudah mengeras dari tadi, begitu kokoh berurat berwarna kecokelatan. Mengacung seolah hendak menerkam mangsa, begitu perkasa.
“ahhhh… “
rian mendesah, tubuhnya mengejang.
+++

Kejantanan rian berdenyut dalam genggamanku, terasa hangat dan keras. Rian mencengkeram bahuku dan menekan hingga aku berlutut tepat didepan kejantanannya. Tanpa menunggu lama aku langsung mencaplok kejantanannya dengan mulutku. Aroma kejantanan bercampur cologne maskulin menyeruak pembuluh hidung, membuat aku semakin bernafsu, tanpa jijik sedikitpun aku melumat batang keras itu dengan rakus. Rian mendesah sambil memejamkan matanya. Tangannya semakin erat meremas rambutku.
“lebih dalam lagi sayang… Ahhh… Iya begitu..”
lenguh rian setengah mendesis. Aku memaju mundurkan mukaku hingga kejantanan rian keluar masuk dalam mulutku seolah terpompa. Semakin keras dan hangat batang yang aku sukai ini.
Aku jilati dengan sepenuh hati seluruh permukaan batang berotot yang gempal hingga turun ke testisnya yang agak berkerut dan kasar ditumbuhi bulu bulu ikal keriting dan pendek. Lidahku menyapu hingga sela sela pangkal pahanya. Rian merenggangkan pahanya sedikit lebar agar aku bisa lebih mudah menjangkau bagian yang paling tersembunyi. Suara kecipak ludahku beradu dengan lidah dan kulit testis rian menambah semangat aku mengeksplorasi bagian terintim dari tubuh perkasa rian. Dengan refleks rian mengangkat tubuhku dengan tangannya di sela ketiakku. Rian merengkuh tubuhku hingga menempel di tubuhnya, lalu ia melumat bibirku dengan ganas. Aku menyambut lidah rian yang menelusup ke dalam mulutku, dengan gerakan halus, bibirku mengulum bibir rian, sementara tanganku mengusap usap punggungnya dengan gerakan erotis hingga ke tulang panggulnya. Rian menggigiti bibir bawahku pelan, lidahnya menyapu gigiku, aku membuka bibirku sedikit dengan pasrah, aku betul betul mabuk dengan cumbuan rian. Sesaat ia menghentikan kegiatannya, aku terdiam menanti apa yang ia akan lakukan. Rian tersenyum penuh arti.
“aku ingin malam ini kita bercinta sepuas puasnya, aku sudah tak bisa lagi menahan…”
bisik rian ditelingaku. Sesekali ia mengigit daun telingaku. Lidahnya menerobos ke dalam telingaku, membuat aku menggigil hingga berdiri seluruh bulu di tubuhku.
“aduh sayang, geli…. Aaaaaah… Teruskan… Aku suka..”
aku menelengkan leher ke samping.
“aku tau titik di tubuhmu yang paling kamu suka untuk disentuh..”
rian mencucup leherku, menyedot dan menggigit hingga aku ngos ngosan.
“sayang, jangan dibikin tanda, nanti orang dirumah ini curiga..”
aku mendorong kepala rian agar tak meneruskan gigitannya dibagian leherku yang terbuka. Rian menghentikan ciumannya, memandangiku dengan heran.
“kenapa sayang?”
aku menarik nafas dan tersenyum.
“bikin tandanya jangan di bagian itu… Ntar mama heran kalau lihat leherku merah merah..”
aku mengungkapkan kekuatiranku. Rian mengangguk mengerti. Lalu ia menunduk sedikit membuka dua kancing kemeja bagian atas yang aku pakai, kemudian ia mencium dadaku. Ia menggigit pelan pelan sambil menghisap. Hingga meninggalkan bekas memerah, rasanya sedikit sakit namun terkalahkan oleh nikmatnya. Semakin lama aku semakin terangsang, keringat mulai mengalir lewat pori poriku. Rian mengerti, ia buka seluruh kancing bajuku, lalu ia lepaskan kemeja yang aku pakai hingga aku bertelanjang dada, rian menggiring aku lebih dekat ke tempat tidur, lalu ia membaringkanku diatasnya. Rian menindih tubuhku, pahanya menekan lututku. Wajahnya sejajar dengan dadaku. Tanpa dikomando ia langsung menjilat putingku. Tubuhku langsung mengejang tak karuan.
“shhhh… Enak banget, teruskan sayang.. Ahhh.. Iya.. Begitu.. Ahhhh…”
aku menyeracau dengan tubuh kejang kejang. Rian semakin bersemangat, bukan hanya itu, tangannya juga memelintir putingku yang satunya seolah sedang memutar tuning radio. Lututku terasa lemas, rasa hangat menjalari ke sekujur tubuh. Lidah rian menjilat semakin turun ke bawah hingga ke perutku, rasanya betul betul geli, aku mencoba mendorong agar rian tak meneruskannya, namun kekuatan rian melebihi kekuatanku yang terasa seolah lenyap, ia semakin gencar mencium dan menjilat terkadang menggigit gemas. Dengan tak sabar rian membuka pengait celana jeansku dan menurunkan resletingnya. Lalu memerosotkan celanaku hingga sebatas lutut. Tak berhenti sampai disitu, ia juga menurunkan celana dalamku, hingga penisku langsung mencuat keluar. Tanpa aba aba ia langsung mencaplok kepala penisku yang berkilat karena mazi yang keluar. Tubuhku bergetar hebat, hangat mulut rian menyelubungi penisku. Rasanya lembut. Dengan menggerakan kepalanya turun naik ia membuat gerakan mengocok penisku dengan mulutnya. Tanganku liar mencengkeram rambut rian mendorong kepalanya agar penisku lebih dalam masuk ke rongga mulutnya. Rian tersentak, dengan megap megap ia mengeluarkan penisku dari mulutnya, ia cemberut.
“jangan gitu dong sayang, aku jadi mual, kepala penismu kena kerongkonganku, rasanya mau muntah..”
protesnya manja.
“iya sayang.. Maaf.. Hehehe..”
seringaiku menahan senyum.
“janji nggak di dorong lagi?”
rian meminta kepastian.
“iya janji..”
aku meyakinkannya. Lalu rian melanjutkan tugasnya yang tadi sempat terhenti. Ia menjulurkan lidahnya, menjilati batang penisku, mulai dari kepalanya yang mengkilat karena tegang sempurna, lalu turun ke ceruk tengah diantara belahan kepala penis di perbatasan leher bertemu batang.
“ahhhh… Sayang… Nikmat banget… Teruskan sayang… Iya begitu…”
aku menggelepar gelepar bak ikan terdampar di daratan. Dengan lihai lidah rian menari nari dipenisku, menyapu dan menjilat seluruh permukaan yang sensitif hingga saraf saraf yang ada di kulit penisku semakin terstimulasi, aku merasakan darahku mengalir lebih deras hingga mengelenyar ke otakku.
Rian menyedot, menjilat dan mengulum tak henti henti seolah tenaganya tak pernah akan habis. Tangannya yang kekar di tumbuhi bulu ikal mengusap dadaku sementara mulutnya tetap bermain dengan lincah di penisku. Aku menggenggam jemari rian yang ramping dan panjang, ia membalas meremas jemariku mesra. Saat ini aku betul betul tergila gila dengan permainan rian. Aku menggerakan panggulku turun naik untuk mengimbangi gerakan rian, sesuatu dalam perutku dibawah pusar seolah berdenyut denyut, memberikan sensasi yang sulit untuk aku gambarkan dengan kata kata. Lidah rian yang lembut turun semakin ke bawah, ia menjilati testisku sambil sesekali mencucupnya.
Aku melebarkan pahaku, membiarkan rian melakukan apapun yang ia sukai di area itu. Sambil menjilati testisku, jari tengahnya memainkan lubang anusku, ia membasahi jarinya dengan ludah, lalu dengan perlahan ia membelai seputaran bibir anusku. Ia membuat gerakan melingkar di sekeliling anusku. Lalu ia membasahi lagi jarinya dengan ludah. Perlahan lahan jarinya menerobos masuk ke dalam lubang anusku. Aku memejamkan mata, sedikit rasa sakit saat jari tengah rian sedikit demi sedikit menelusup masuk ke dalam saluran pembuanganku, aku merasakan anusku membuka, terganjal oleh jari rian. Ia memasukan jarinya semakin dalam hingga tertelan semua masuk dalam anusku. Aku mengejan hingga jari tengah rian seolah terjepit oleh cincin anusku. Ia semakin gencar menjilati penisku. Rian memasukkan penisku ke dalam mulutnya hingga ke pangkal, bulu bulu lebat disekitaran penisku menempel diwajah rian yang putih mulus, begitu kontras, aku bisa merasakan ujung penisku menyentuh amandelnya. Rian sangat mahir melakukan itu, sambil mengulum, lidahnya menari nari , menyapu penisku yang masih berada dalam mulutnya. Rasa sedikit sakit pada anusku tertutup oleh rasa nikmat yang tiada tara pada penisku. Melihat aku mulai rileks, rian memasukan lagi satu jarinya ke dalam lubang anusku, mungkin karena sudah terbuka karena jari satunya telah masuk, tanpa kesulitan berarti satu jarinya lagi menembus lubang anusku. Dua jari rian bersarang dalam lubang anusku. Ia mulai beraksi memaju mundurkan jemarinya hingga keluar masuk dalam lubang anusku. Aku mengernyit sedikit kesakitan saat rian memasukan lagi jari manisnya hingga sukses tiga jarinya masuk dalam anusku, cincin di bibir anusku membetot jari jari rian hingga ia ekstra hati hati menggerakan jarinya agar tak mencederai anusku.
Rian menegakan badannya, namun jarinya tak ia tarik dari anusku, aku diam menunggu dengan pasrah, rian bergerak mundur sedikit, dengan tangan kanannya ia membebaskan celana yang masih menempel di lututku, lalu ia lemparkan ke lantai dengan tak sabar. Rian mengangkat kedua kakiku, lalu mengambil bantal dan ia letakkan tepat di bawah pantatku. Kejantanan rian mengacung keras menempel di pahaku. Aku mencoba untuk serileks mungkin, ku tarik nafas dalam dalam, memang bukan yang pertama kali aku dianal rian, namun aku tetap harus santai agar rasa sakitnya tak begitu menyiksa. Terus terang walaupun bukan ukuran bule, namun batang kejantanan rian termasuk besar. Posisiku sekarang berbaring dengan pantat di sangga bantal serta kaki terangkat di bahu rian. Tubuh rian yang padat dan atletis, berkilat ditimpa cahaya lampu kamar yang terang benderang, aku memang tak mau memadamkan lampu agar aku bisa memandangi tubuh rian yang kekar sepuas puasnya. Aku ingin merekam setiap moment cinta kami berdua detik demi detik tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.
“kamu santai saja sayang… Aku akan berusaha pelan agar tak sakit..”
suara rian bergetar karena birahi. Aku cuma mengangguk dan tersenyum agar rian tak ragu. Rian meludahi telapak tangannya, lalu melumuri batang kejantanannya hingga basah. Aku memang tak suka memakai lotion karena terasa panas dan bikin perih. Aku lebih suka dengan ludah rian, soalnya lebih licin dan sensasinya lebih indah. Rian melebarkan pahaku hingga lubang anusku yang memerah disemaki bulu itu terlihat jelas olehnya. Lalu ia mengarahkan kejantanannya tepat di tengah tengah anusku. Aku tersenyum menatap mata rian. Ia balas tersenyum.
“aku cinta kamu rian…”
ucapku lirih.
“aku lebih mencintaimu dari siapapun..”
jawab rian senang. Ia menggenggam kejantanannya, lalu perlahan ia mendorong hingga kepalanya menempel di anusku. Sedikit demi sedikit ia menekan dengan menggerakan pinggulnya. Anusku mulai membuka, memberi celah agar kepala penis rian bisa masuk, saat itulah rasa sakit mulai datang, aku mengigit bibir, aku tak mau rian tau sakit yang aku rasakan. Mulutku tetap menyungging kan senyum. Rian menatapku lurus dengan nafsu. Aku suka sekali melihat wajah rian seperti ini, pandangan penuh nafsu dan cinta. Apapun akan aku lakukan agar wajah itu tetap seperti itu. Sedikit demi sedikit batang kejantanan rian masuk ke dalam anusku. Kepalanya yang sedikit runcing membuat sedikit cepat membuka. Aku meremas jemari rian dengan kuat. Menikmati penis rian yang masuk perlahan lahan hingga tenggelam seluruhnya ke dalam anusku. Rian melenguh sambil menengadah ke langit langit.
“tahan sayang jangan digoyang dulu..”
ujarku sambil menarik nafas, aku perlu beberapa saat untuk menyesuaikan diri, anusku terasa penuh terpejal oleh kejantanan rian. Bagian dalam perutku entah itu usus atau apa rasanya tersentuh kepala penis rian yang agak panjang.
“iya sayang… Gimana, masih sakit nggak?”
rian menatapku agak kuatir. Aku menggelengkan kepala, aku tak mau rian cemas.
“boleh aku goyang sekarang?”
rian memastikan.
Aku mengangguk sambil terus menatapnya lurus.
Rian menegakan badannya, lalu dengan gerakan lembut ia memompa, hingga kejantanannya bergerak maju mundur memasuki anusku. Panas sekali batang kejantanan rian, bergesek dengan dinding anusku. Sesaat kemudian aku mulai terbiasa, rasanya mulai nyaman.
“agak keras sayang..”
aku mengiba. Rian tersenyum lebar, tanpa dua kali disuruh ia langsung menghentakkan penisnya lebih keras. Aku membuka paha lebar lebar. Rian menjatuhkan badannya didadaku, lalu langsung melumat bibirku dengan rakus. Aku mengimbangi dengan mengoyang goyang pinggulku ke kiri ke kanan sementara rian sibuk memompa. Lidah rian masuk dalam mulutku, aku menyambutnya dengan menghisap lidah rian, bibirnya menghisap hisap bibirku, air ludah kami bercampur di dalam mulut, aku telan bagaikan kehausan. Aku memandangi tubuh bugil kami berdua lewat cermin lemari besar yang ada disamping, begitu erotis hingga aku bertambah terangsang.
“assshhh… Yaaa.. Oh… Yahhh… Teruskanhh… Riaaan… I love youhh sayanghh…”
mulutku tak henti hentinya berdesis dan menyeracau menyebutkan nama rian.
“iya sayang… I love you toooo… Shhhh… Ooooh… Enak banget sayang..”
nafas rian tersengal sengal seolah sedang mencangkul di kebun.
Tubuh rian bergerak naik turun diatasku, aku memeluk erat punggung rian, menarik agar lebih menempel erat di tubuhku. Keringat membasahi tubuh kami berdua hingga terasa licin, kejantanan rian yang keras keluar masuk dalam anusku, rasanya campur aduk antara sakit seperti ingin buang air besar, dan enak karena sesuatu bagian dalam perutku bergesek dengan daging panjang keras dan hangat milik rian, bahagia sekali rasanya saat tubuh kami menyatu dalam cinta seperti ini. Tak ingin cepat berakhir, rasanya ingin tetap seperti ini.
Rian menarik penisnya hingga keluar dari anusku. Aku menatap rian hendak protes, namun rian menggeleng, lalu ia menarik tubuhku. Rian merubah posisinya hingga duduk. Aku mengerti, rian ingin aku mendudukinya. Aku berdiri didepan rian. Masih sempat ia mencaplok penisku sebentar dan mengulumnya. setelah ia lepaskan, Aku langsung berjongkok tepat diatas kejantanan rian, lalu aku duduki pelan pelan hingga amblas semuanya tertelan oleh anusku. Dengan gaya seperti ini aku lebih bebas bergerak, aku bisa mengatur posisi mana yang paling enak. Rian memelukku. Kakinya ia luruskan sementara aku duduk diatas pinggulnya. Aku menggoyang goyangkan pantatku dengan cepat, naik turun, rian mendesis desis dengan tubuh gemetaran hebat, ia mencengkeram punggungku. Memegang pinggangku membantu mengangkat dan menurunkan tubuhku. Rian menjilati pentilku seolah bayi sedang menyusu, sesekali ia gigit dengan pelan. Rian memang perkasa, ia tak cepat keluar, hingga beberapa menit ia kembali merubah posisinya, kali ini ia menggendongku, membawaku dekat ke dinding, rian berdiri, sementara tanganku berpaut dibahunya. Aku mengangkang di gendong rian, kejantanannya tetap berada dalam anusku. Dengan posisi ini wajah kami berdua sejajar. Aku tempelkan hidungku ke pipinya, rian menahan punggungku agar tak merosot, lalu ia bergeser hingga punggungku menempel didinding, dengan begini ia tak terlalu keberatan mengangkat tubuhku karena terbantu dinding. Rian menghentak hentakkan kejantannya semakin kuat, aku sampai meringis berkali kali karena sodokan sodokannya sangat terasa, lubang anusku terasa makin panas, aku membuang pandangan ke samping, saat itulah mataku menangkap bayangan tak asing berdiri diluar jendela sedang mengintip melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Nafasku langsung berhenti saat itu juga. Meskipun gelap diluar aku bisa menebak siapa yang sedang mengintai kami dari luar. Dengan cepat aku dorong rian lalu aku tarik hingga penis rian keluar dari anusku.
“kenapa sayang?”
tanya rian heran.
“gawat rian… Gawat..”
aku panik, langsung memunguti pakaian dan celanaku yang tergeletak di lantai.
“pakai bajumu sekarang juga rian…”
aku melemparkan baju dan celana dalam rian, ia langsung menangkapnya dengan gesit, walaupun tak melihat cermin, aku tahu kalau wajahku pucat pasi. Masih dengan keheranan rian menuruti perintahku, ia memakai pakaiannya kembali. Aku merosot di lantai. Otakku buntu. Aku menoleh ke jendela, tak ada siapa siapa lagi disana. Hanya cahaya lampu taman yang memerangi kolam membias dari celah jendela. Aku tak mungkin salah lihat, tadi mataku dengan jelas bisa melihat dia berdiri tepat disitu sedang mengamati apa yang aku dan rian lakukan.
“kenapa sayang, katakan ada apa..?”
rian berlutut di depanku sambil memegang bahuku.
Aku menggeleng.
“tamat riwayatku… Kiamat rian..”
desisku lemas.
“rio kenapa sih, kamu aneh banget, emangnya ada apa?”
desak rian penasaran, aku tau dia juga menjadi panik terlihat dari roman wajahnya.
“ada yang melihat kita tadi, ada yang mengintip dari jendela, dia berdiri diluar, aku bisa melihatnya dengan jelas..”
jantungku berdetak kencang.
“mungkin kamu salah lihat..”
rian kurang yakin.
“nggak mungkin, aku lihat.. Kak fairuz, dia mengintip kita tadi, aku tak mungkin mengada ada… Gawat yan, gawat…!”
aku tak bisa menghilangkan kepanikan yang aku rasakan.
Rian bengong, mungkin ia tak mengira itu yang membuat aku jadi bersikap aneh.
“lalu kita harus bagaimana yo, aku bingung… Kalau memang betul apa yang kamu lihat tadi, aku juga tak bisa melakukan apa apa…”
“itulah yan, aku tak mungkin salah, tadi aku benar benar melihat kak fairuz mengintip lewat jendela itu..!”
aku menunjuk ke arah jendela dimana tadi kak fairuz aku lihat sedang berdiri di luar.
“ini sudah jam setengah satu yo… Ngapain juga si fairuz kesitu..”
tanya rian masih kurang yakin.
“entahlah yan, aku juga tak tau, mungkin tadi kak fairuz mendengar aku pulang, lalu ia sengaja mengintip ingin tau apa yang aku lakukan, ia membenciku yan, pasti ia akan membeberkan semua ini ke papa dan mama, habislah aku yan.. “
aku beringsut duduk di lantai dan menyender ditepi tempat tidur tepat disamping kaki rian yang menjulur.
“jangan terlalu kamu fikirkan yo, sudah terlanjur… Andaikan memang kak fairuz telah melihat perbuatan kita tadi, aku berjanji akan melindungi kamu kalau terjadi apa apa…”
ujar rian dengan mantap. Sedikit banyak aku menjadi agak terhibur mendengarnya. Aku tau rian tak main main, ia tak pernah berdusta padaku, ia selalu menepati janji, kejujuran adalah satu hal yang dapat aku andalkan dari rian. Ia mengelus rambutku, kemudian berdiri lalu berjongkok di depanku.
“lebih baik kita tidur dulu, kita lihat apa yang terjadi besok, andaikan memang timbul masalah, kita tanggung berdua, kamu akui saja dengan jujur, walaupun konsekuensi yang harus kamu tanggung sangat berat, namun aku akan selalu mendampingimu.. Aku berjanji.”
dengan tegas dan mantap rian mengucapkannya. Aku menatap dikedalaman mata rian, ada kesungguhan yang terpancar dari kedua bola matanya yang bening, senyumnya yang merekah seolah tak terjadi apa apa membuat aku sedikit terhibur, aku percaya rian dapat aku andalkan.
“baiklah yan.. Sekarang kita tidur dulu, kita tunggu saja apa yang terjadi besok. Semoga saja tak seperti yang aku bayangkan..”
ucapku penuh harap sambil berdiri, rian juga ikut berdiri. Bersama kami berdua naik ke tempat tidur dan berbaring, aku menarik selimut dan memeluk rian, hangat tubuhnya dan hembusan nafasnya yang teratur sedikit demi sedikit membuat aku lebih rileks hingga aku tertidur dalam pelukan rian.
Mungkin karena pikiranku yang agak tak tenang, aku bermimpi buruk, mimpiku aneh sekali dan agak menakutkan. Kak fairuz memberitahu mama saat kami sedang duduk dikursi makan untuk sarapan, ia menceritakan semua detil yang terjadi tadi malam kepada mama, aku terdiam dengan tubuh gemetaran tak terkendali, mama melemparkan piringnya ke aku hingga mengenai dadaku, nasi goreng tumpah memenuhi bajuku, namun aku tak mengatakan apa apa. Mama memaki aku dengan kata kata kasar, ia betul betul kecewa dengan apa yang aku lakukan. Tiba tiba rian keluar dari kamar, ia langsung mengambil pisau dan menikam kak fairuz tepat pada dadanya. Kak fairuz yang tak menyangka akan diserang seperti itu hanya bisa terbeliak saat menyadari sebuah pisau telah bersarang ditubuhnya. Mama menjerit histeris. Rian tertawa terbahak bahak sambil meludahi tubuh kak fairuz yang tersungkur di lantai. Darah bercecaran dilantai, mengalir deras dari luka tusukan pada perutnya, bagaikan ayam kena sembelih, kak fairuz menggelepar gelepar diatas lantai, matanya melotot. Tiba tiba papa datang, ia terpaku melihat semua kejadian ini. Bik tin yang mendengar suara ribut ribut langsung ke ruang makan, ia menjerit sejadi jadinya. Aku menatap rian dengan ketakutan, rian sangat tenang, tak sedikitpun terlihat menyesali perbuatannya. Tiba tiba tanpa aku duga ia langsung menghampiriku, ia memelukku, tak cukup sampai disitu ia juga menciumi bibirku dengan ganas di depan mama, papa dan bik tin yang cuma bisa bengong. Kak fairuz dengan mata melotot menunjuk aku dan rian dengan tangannya yang berlumuran darah.
“dasar gay.. Kalian terkutuk.. Homoseks.. Gay.. Kalian berdua laknat..”
mama, papa dan bik tin ikut meneriakan kata kata itu kepadaku dan rian. Mama meraih apa saja yang ada diatas meja untuk melempariku. Papa meraih kursi dan melemparkan kepadaku dan rian. Aku berlari sekencang mungkin, aku dan rian berlari sambil mengelak dari lemparan lemparan piring, gelas dan kursi. Mereka mengejar kami berdua sambil berteriak dan memaki.
“gay.. Pencinta sejenis, pembawa aib.. Matilah kamu.. Pergi ke neraka..”
tiba tiba sebuah wadah kaca tempat buah mengenai punggungku. Aku berteriak.
“Aaaaaah.. Tidaaaaak.. ampun…!”
“rio.. Rio.. Ada apa rio..”
tubuhku digoncang goncang.
“rio.. Bangun.. Kamu mimpi apa?”
suara rian menyadarkan aku, aku tersentak terbangun, keringat membasahi tubuhku. Aku langsung memeluk rian. Ia membelai aku lembut.
“rio. . Kamu mengigau, kamu mimpi buruk ya?”
tanya rian dengan cemas. Aku tak menjawab, hanya memandang seisi kamar yang gelap. Ternyata tadi hanyalah mimpi. Tubuhku masih gemetaran. Kenapa aku bisa bermimpi seburuk itu, aku jadi semakin ketakutan, andaikan kak fairuz menceritakan semua kepada mama dan papa, aku bakalan habis, aku tak tau harus melakukan apa, aku tak mungkin membela diri, mama pasti akan kecewa sekali, walaupun aku yakin reaksi mama tak akan seekstrim dalam mimpiku tadi, namun aku tak mau membuat mama kecewa. Ia pasti akan terluka. Apalagi emak di bangka ikut mengetahui tentang hal ini.
“tenang rio, sekarang kamu tidur lagi, tunggu sebentar aku ambilkan minum untuk kamu..”
rian bergeser lalu mengambil gelas berisi air putih diatas mahkas. Aku menyambut gelas ditangan rian, tanpa menunggu lagi aku meminum semua isinya hingga tandas.
“makasih yan..”
ujarku setelah sedikit tenang, rian mengambil gelas kosong ditanganku, lalu ia taruh lagi diatas naphkas. Rian kembali berbaring disampingku.
“tidurlah dulu sayang, jangan berpikiran tidak tidak, nanti kamu bermimpi buruk lagi..”
ujar rian sambil menarik selimut, aku menganggukan kepala lalu berbaring disamping rian. Sampai pagi aku tak dapat tidur, aku takut aku akan bermimpi buruk lagi.
Aku terus berbaring hingga matahari mulai terbit lagi, langit sudah terlihat terang. Cahaya matahari masuk melalui celah celah lubang angin dan jendela. Aku turun dari tempat tidur, tubuhku rasanya lemas sekali. Aku takut keluar kamar, aku takut bertemu kak fairuz, aku malu dan ketakutan, perasaan dalam hatiku berkecamuk. Aku hanya berdiri di jendela hingga pintu kamarku diketuk mama.
“Rio, bangun sayang.. Sudah siang, sarapan dulu nak..”
suara mama terdengar seiring bunyi ketukan pintu.
“iya ma, tunggu sebentar, rio udah bangun kok..”
jawabku bergetar. Aku melihat ke tempat tidur, ternyata rian sudah bangun, ia menatapku dengan alis terangkat. Aku menggeleng padanya. Rian menyibakkan selimutnya kau turun dari tempat tidur.
“kenapa yo?”
tanya rian sambil menghampiriku.
“nggak yan, cuma mama yang bangunin aku nyuruh sarapan..”
jelasku.
Rian mengangguk, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku menyusul rian masuk, lalu menggosok gigi.
Setelah itu aku mengajak rian keluar dari kamar. Kami pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Aku berpapasan dengan kak fairuz diruang tengah, ia memakai celana pendek dan bertelanjang dada, matanya agak meremehkan saat menatapku.
“pagi kak..”
aku menyapa kak fairuz dengan suara bergetar.
“pagi…”
cuma itu jawaban kak fairuz, ia langsung masuk kembali ke kamarnya dengan segelas kopi di tangannya tak sedikitpun ia melirik pada rian, seolah olah rian tak ada di sampingku.
Aku jadi bingung, sikap kak fairuz masih seperti biasanya, dingin dan kurang tertarik untuk ngobrol denganku. Apakah itu salah satu taktiknya untuk membuat aku tenang sebelum akhirnya ia menembakkan pelurunya padaku.
Sampai diruang makan cuma ada mama yang sedang duduk sendirian menungguku.
“eh ada nak rian… Ayo sarapan bareng..”
tawar mama dengan ramah begitu melihat aku bersama rian.
“makasih tante..”
rian tersenyum sopan pada mama lalu ia menarik kursi dan duduk disampingku.
“tante nggak tau kalau nak rian menginap disini, kirain tadi rio cuma sendirian..”
“iya tante, semalam kami jalan, trus rio minta ditemani, jadi aku menginap disini semalam..”
jelas rian.
Mama tersenyum dan mengangguk. Lalu mama mengulurkan sebuah piring pada rian, yang langsung diambil rian.
“terimakasih tante..”
“sama sama..”
aku mengambil piring satu.
“yang banyak makannya yan..”
ujarku sambil mengambil sendok.
“iya..”
rian mengangguk.
“tante nggak tau apa rasanya, soalnya tante masak sendiri nasi gorengnya tadi..”
ujar mama sambil melirik ke piring rian.
“nggak apa apa tante, tapi dari aromanya sih kayaknya enak..”
jawab rian apa adanya tanpa ada maksud sedikitpun menjilat mama.
Rian orangnya terbuka, kalau ia merasa itu enak, ia akan bilang enak, kalau ternyata itu nggak enak, ia akan terus terang mengatakannya tak perduli orang mau tersinggung atau tidak.
“papa kapan pulang ma?”
aku bertanya sambil mengisi piringku dengan nasi goreng.
“sepertinya sore ini, soalnya semalam waktu mama telpon, kata papa ia kangen sama rumah..”
jelas mama sambil memotong cumi dengan sendok.
“kasihan papa ya ma, pasti beliau terpukul.”
“aku turut bersimpati tante..”
timpal rian.
“iya nak, makasih..”
mama tersenyum pada rian.
“papa udah tau kalau ada kak fairuz?”
tanyaku penasaran.
“sudah, semalam mama sudah bilang, makanya papa kamu mau pulang secepatnya.”
“semoga papa bisa mengendalikan kak fairuz ya ma, semoga saja kak fairuz segan sama papa..”
aku berharap.
“semoga…”
mama berkata pelan sambil menggeleng seolah tak yakin.
“boleh aku bergabung…?”
serempak kami menoleh ke arah datangnya suara, ternyata kak fairuz.
“iya boleh.. Ayo sarapan sama sama..”
mama langsung berdiri, aku memandang kak fairuz dengan heran. Tumben tak biasanya kak fairuz mau makan bersama. Jantungku langsung berdegup hingga mau copot rasanya.
+++

“ini piringnya nak..”
mama memberikan piring kosong pada kak fairuz.
“maaf kamu bukan ibuku, jadi tolong jangan panggil aku nak, aku punya ibu dan dia menderita karena anda…!”
kak fairuz kurang ajar. Mama terdiam kaget namun mama tak menjawab karena percuma saja kalau mama membalas hanya akan menimbulkan pertengkaran lagi.
Kak fairuz mengambil piring dari tangan mama lalu mengisinya dengan nasi goreng, ya ampun banyak sekali kak fairuz makan, nasinya menggunung didalam piring, mungkin kucing juga nggak bisa lompat diatas nasinya itu. Aku meneruskan makan tanpa memperdulikan kak fairuz, sementara rian menunduk takut takut.
“darimana saja semalam?”
aku menoleh, kak fairuz bertanya, pastilah ia bertanya padaku. Jadi ragu aku harus menjawab apa.
“dari jalan jalan kak..”
“oh ya..?”
kak fairuz agak skeptis.
“jam berapa kamu pulang?”
sepertinya kak fairuz memancing, aku jadi semakin yakin kalau semalam kak fairuz telah mengintip apa yang aku lakukan dengan rian dalam kamar. Tanganku mendadak gemetaran hingga sendok yang aku pegang bergoyang keras.
Itu tak luput dari pandangan kak fairuz, seringainya melebar.
“jam duabelas kak..”
suaraku jadi tercekat.
“hmmmm… Sepertinya asyik ya, kapan kapan ajak aku dong…”
aku mencengkeram sendok kuat kuat hingga membekas ditelapak tanganku. Apakah kak fairuz menyindir atau memang ia ingin aku ajak aku juga tak tau.
“iya rio, kalau jalan ajaklah kakakmu, kasihan kalau dia ditinggal dirumah terus…”
timpal mama penuh perhatian meskipun fairuz tak ramah terhadapnya.
“iya ma..”
aku mengangguk lemah. Rian melirik aku, wajahnya sedikit pucat.
“semalam aku susah tidur, jadi aku keluar, duduk di taman, aku lihat lampu kamarmu masih nyala..”
suara kak fairuz terdengar wajar, namun sanggup membuat lututku menjadi lemas.
“oh.. Iya kak..”
jantungku bagai diaduk aduk dalam shaker. Rian terbatuk batuk hingga tersedak oleh nasi yang ia kunyah. Kak fairuz mencibir seperti menahan senyum.
“ada apa sih?”
tanya mama heran, namun mama tersenyum seperti senang karena kak fairuz sedikit berubah, ia sudah mau berkomunikasi denganku.
“nggak apa apa tante..”
jawab kak fairuz dengan ekspresi datar. Aku menyelesaikan sarapan dengan cepat, begitu juga dengan rian.
Kak fairuz makan dengan santai namun nasinya sudah tinggal seperempat dari awal. Aku menunggu sampai mama dan kak fairuz selesai lalu beranjak dari kursi dan ke kamar.
“nanti siang kalau kamu sempat kakak minta temani jalan..”
aku menghentikan langkah dan berbalik, aku pandangi kak fairuz dengan teliti. Namun aku tak dapat membaca apapun dari wajahnya yang tenang.
“iya kak..”
bisa juga suaraku keluar.
Didalam kamar aku langsung mondar mandir dengan panik hingga rian menjadi ikut gelisah.
“kenapa sih yo, apa nggak capek dari tadi muter muter nggak jelas gitu..?”
rian menarik lenganku hingga aku terduduk disampingnya.
“benar kan apa yang aku bilang, kak fairuz memergoki kita semalam, aku tak tahu ia sedang merencanakan apa, tapi yang pasti tak akan baik untuk kita yan..”
“tak diragukan lagi memang dia telah melihat kita, tapi dia kok tenang tenang saja, aku jadi kuatir yo..”
“makanya aku kuatir yan, aku takut kak fairuz menyiapkan bom dan menunggu saat yang tepat untuk menekan pemicunya.”
bisikku kalut. Rian memelukku dan menciumku lembut.
“kita hadapi apapun itu yo.. Kita tanggung bersama, aku sudah berjanji tak akan membiarkan kamu sendirian menanggungnya..”
rian menghiburku. Aku menatap wajah rian, ia tersenyum sambil mengangguk.
“makasih yan.. I love you..”
desisku lirih. Rian menempelkan telunjuknya di bibirku.
“i love you too…”
balasnya sambil mengusap pipiku dengan punggung jari telunjuknya.
“sekarang aku harus kembali ke kost, soalnya aku merendam baju dari kemarin, kalo tak dicuci sekarang warnanya bisa pudar..”
rian berdiri dan mengambil jaketnya di gantungan belakang pintu.
“iya yan, tunggu sebentar aku mau buang air dulu..”
aku masuk ke dalam kamar mandi. Setelah buang air aku mengantarkan rian pulang. Aku tak masuk, hanya mengantarkan ia ke depan halaman saja, setelah itu aku langsung pamit.
Aku memasukkan mobil ke garasi. Baru saja aku membuka pintu mobil, ibu amalia dan bapaknya datang dengan mengendarai motor, mereka berhenti tepat di depan teras. Ibu amalia berjalan cepat menuju teras bagaikan orang panik.
“bu harlan… Bu harlan… Bu..”
bagai orang gila ia menggedor pintu rumahku. Bergegas aku menghampirinya.
“ada apa bu?”
tanyaku kuatir.
“rio.. Gawat.. Gawat yo..”
“gawat apa bu, ada apa?”
tanyaku cepat.
“amalia… Amalia yo.. Dia.. Dia..”
ibu amalia terbata bata.
“amalia ditemukan pingsan diatas kubur faisal yo..”
bapaknya amalia yang menjawab.
“apaaaaaa….???”
aku terbelalak.
“ada apa ini?”
mama muncul dari dalam rumah dan menghampiri kami.
“oh bu rusmi, ada apa bu?”
wajah mama berubah kalut, setiap melihat kedatangan ibu amalia, pasti wajah mama seperti itu. Sepertinya mama betul betul tak menginginkan kedatangan mereka.
“anak saya bu.. Dia.. Dia seperti orang gila..”
“dimana dia sekarang?”
“ada dirumah, sedang istirahat… Tetangga yang jagain dia..”
jawab bapak amalia.
“memangnya kenapa?”
tanya mama heran.
“tadi dia ditemukan di kuburan faisal, ia terbaring pingsan diatasnya..”
“astaghfirullah kenapa bisa begitu?”
suara mama melengking membuat aku terkejut.
“jangan sok heran deh bu.. Saya rasa ibu tak usah pura pura kaget, itu semua gara gara almarhum anak ibu itu..!”
ujar ibu amalia sinis. Mama terdiam, raut muka mama langsung berubah cemberut karena tersinggung.
“kenapa ini… Kok ribut ribut..!”
kak fairuz keluar, mungkin ia terganggu mendengar ribut ribut di beranda rumah.
Lagi lagi ibu amalia terperangah melihat kak fairuz.
“kenapa ibu memandangi saya seperti itu?”
selidik kak fairuz merasa kurang nyaman ditatap seperti itu.
“kamu agak mirip faisal, apa kamu kakak kandungnya..?”
tanya ibu amalia heran.
“memangnya kenapa, apa urusannya dengan ibu?”
kak fairuz tak sopan.
“adik kamu itu sudah merusak masa depan anak saya!”
tikam ibu amalia langsung. Kak fairuz terperangah.
“apa maksud ibu, jangan menjelek jelekan adik saya, dia sudah tenang di alam sana..”
hardik kak fairuz tersinggung.
“dia menghamili anak gadis saya, apa itu tak brengsek hah? “
tuntut ibu amalia tanpa takut.
“anak ibu hamil karena adik saya?”
kak fairuz terperanjat.
“iya.. Kamu tak tau, memangnya kemana saja kamu selama ini?”
ibu amalia berkacak pinggang lehernya bergoyang goyang seolah ada per dipangkal kepalanya, terlihat judes sekali.
Kak fairuz menoleh ke mama.
“betul itu tante?”
tanya kak fairuz menegaskan.
“iya fai… Almarhum adik kamu telah menghamili amalia..”
jawab mama terlihat berat.
“apa buktinya?”
kak fairuz belum bisa percaya.
“mau tau buktinya? Tuh lihat sendiri anak saya dirumah, perutnya sudah mulai timbul, mau bukti lain lagi?”
tantang ibu amalia tak sabar.
“tak bisa main tuduh langsung gitu dong bu, faisal sudah meninggal, bisa saja kalian mau memeras kami, bukti itu anak faisal apa?”
kak fairuz masih tetap bandel.
“faisal sudah mengakui semuanya nak..”
ujar mama.
Kak fairuz memandang mama tak percaya.
“jadi betul?”
desisnya bagai orang tolol.
“iya kak, sehari sebelum mereka menikah, kak faisal meninggal.”
aku menimpali
“faisal masih sangat kecil waktu aku dan mama pergi….”
kak fairuz mendesah getir. Wajah kak fairuz berubah murung, sepertinya kak fairuz tak menduga begini.
“coba kalian pergi ke pemakaman, lihat saja kuburan faisal, kalian akan tau bagaimana tekanan batin yang di derita anak saya…”
suara ibu amalia terdenger sengau. Mama melirik aku, tak tau apa yang harus aku katakan aku cuma tertunduk sambil berfikir.
“kalau memang begitu, ibu pulang dulu, biarkan kami berfikir, saat ini kami sedang berkabung, saya berjanji tak akan membiarkan hal ini berlarut larut..”
ujar kak faisal membuat aku dan mama terkesiap nyaris tak percaya.
“apa kamu serius?”
ibu amalia kurang yakin. Namun kak fairuz tersenyum simpul dan mengangguk, itu cukup untuk membuat ibu amalia membungkam mulutnya.
“baiklah kalau begitu kami pamit dulu, kami tunggu tindak lanjut kalian, ingat jangan cuma janji janji saja..!”
ibu amalia menekan kalimatnya.
Kak fairuz tak menjawab, ia hanya mengangguk dengan bosan.
“begitu saja ribet..!”
tukas kak fairuz setelah orangtua amalia pergi.
“mama betul betul pusing memikirkan masalah ini, rasanya tak henti hentinya…”
mama mengeluh lesu.
“salah tante sendiri tak bisa mendidik faisal dengan baik, kalau bersama saya dan mama, tak akan begini jadinya..!”
tuduh kak fairuz tanpa perasaan. Mama terdiam tak berkutik.
“sudahlah kak, mama tak bersalah, memang mereka berdua sudah lama berpacaran, mungkin kak faisal khilaf, wajar saja itu terjadi..”
aku mencoba menengahi agar jangan sampai kak fairuz memperpanjang lagi pembicaraan yang membuat mama merasa bersalah ini.
“temani aku ke kuburnya faisal…”
ujar kak fairuz bukan seperti ajakan melainkan sebuah perintah, aku tak bisa menolak karena memang pada dasarnya aku ingin tau apa yang terjadi dengan kuburan kak faisal seperti yang tadi orangtua amalia katakan, tanpa menunggu lama aku mengikuti kak fairuz ke garasi. Kak fairuz melemparkan kunci mobil padaku. Aku tangkap dengan sigap.
Beberapa menit kemudian kami berdua sudah berada dijalan raya menuju ke tempat pemakaman bukit sekuning. Sampai di tempat pemakaman, aku memarkir mobil di pinggir jalan, lalu turun bersama kak fairuz berjalan melewati kubur kubur yang tersusun rapi berbaris, aku menuju ke kuburan almarhum kak faisal, aku teringat kenangan beberapa hari yang lalu saat tubuh kaku mendiang kak faisal dikuburkan. Kembali kesedihan aku rasakan disaat keheningan tanah pekuburan yang lapang ini menerpa. Aku menghampiri kuburan yang masih baru belum disemen, tanah kuning yang masih empuk dengan kelopak bunga layu yang mulai menghitam. Sepasang nisan kaku bertuliskan nama kak faisal sedikit berpasir terpercik air hujan. Ada untaian bunga yang di jalin seolah menjadi tali yang melingkar di sisi nisan menghubungkan dengan nisan dibagian bawah, indah sekali hingga membuat kontras dengan kuburan lain yang ada disekitar sini. Aku tertegun melihat di sekeliling kuburan dipenuhi bunga bunga plastik berwarna warni, tak terasa air mataku menetes tanpa dapat ku bendung. Betapa besar rasa cinta amalia pada kak faisal hingga membuatnya melakukan ini, aku bisa mengerti betapa menderitanya amalia kehilangan orang yang sangat ia cintai.
Kak fairuz berjongkok didepan nisan sambil mencabuti satu persatu bunga bunga itu.
“rio tolong kamu lepaskan untaian bunga ini..” perintah kak fairuz. Aku mengangguk dengan lunglai. Tanganku bergetar menyingkirkan bunga bunga itu. Batinku menjerit.
“kasihan amalia…”
desahku miris, kak fairuz menoleh padaku.
“jadi faisal meninggal sehari sebelum ia menikah, pantas saja tunangannya itu bisa stress begini…”
kak fairuz bergumam bagai bicara pada dirinya sendiri.
“mereka berpacaran semenjak masih smu kak..”
aku menambahkan, sementara tanganku masih bekerja membersihkan bunga bunga itu.
“pasti tunangannya itu cantik sekali ya?”
kak fairuz bertanya.
“iya kak, amalia cantik… Dia juga baik, amalia sangat menyayangi kak faisal, hingga ia mau melakukan apa saja yang bisa membuat kak faisal senang, sekarang ia lagi hamil kak…”
ujarku getir. Kak fairuz tercengang. Sejenak ia mematung tak percaya sambil menatap mataku, aku mengangguk pelan. Kak fairuz tertunduk lesu.
“kasihan gadis itu…”
“makanya orangtua amalia bingung kak, amalia bagai orang yang kehilangan kesadaran, semenjak kepergian kak faisal, ia menjadi stress, mama juga bingung tak tau harus melakukan apa…”
aku menambahkan.
Bunga bunga yang tadinya memenuhi kuburan kak faisal sudah bersih, tumpukan bunga itu aku kumpulkan di sisi kubur kak faisal.
Kak fairuz berdiri lalu berjalan menghampiri tempat penjaga kuburan, seorang bapak tua sedang duduk sambil merokok. Kak fairuz memberikan sejumlah uang agar bapak itu membersihkan kuburan kak faisal, setelah itu kak fairuz mengajakku pulang.
Sampai dirumah aku menceritakan semua pada mama, itu membuat mama menangis. Seolah makin menyesali betapa dulu ia begitu keras kepala.
“mama bingung rio, apa yang bisa mama lakukan, mama sadar sekarang betapa amalia mencintai almarhum kakakmu, tapi semua sudah terlambat, yang bisa mama lakukan saat ini hanya mengusahakan agar amalia jangan semakin terpuruk, mama akan mencarikan psikolog agar bisa menanganinya…”
mama menyusut airmatanya dengan ujung lengan daster yang ia pakai.
“sepertinya itu usul yang bagus, semoga amalia bisa ditangani dengan baik, kasihan kalau sampai ia gila ma..”
aku mengutarakan kekuatiranku.
Mama mengangguk.
“nanti sore kita kerumah amalia, mama akan mengutarakan usul mama ini, semoga saja ini bisa membantu…” ujar mama dengan mantap.
“semoga ma..” aku berharap.
Aku meninggalkan mama sendirian lalu ke kamarku.
Kak fairuz tadi langsung masuk ke kamarnya, mungkin ia tidur siang. Tak ada tanda tanda ia mau membicarakan tentang masalah semalam. Apakah kak fairuz menunggu waktu yang tepat sebelum ia menceritakan apa yang ia ketahui itu? Aku jadi kuatir, aku tak tau harus bagaimana, apakah aku harus diam saja menunggu hingga bom itu meledak, ataukah aku harus mencari tau bagaimana caranya agar bom itu tak meledak. Aku tak bisa menunggu dicekam gelisah seperti ini, cepat atau lambat jika memang kak fairuz mengetahui tentang aku, itu merupakan ancaman bagiku. Aku harus bertindak sebelum semuanya bertambah runyam. Aku berbaring gelisah, betul betul bingung harus bagaimana lagi. Akhirnya aku turun dari tempat tidur lalu keluar kamar. Aku menuju ke kamar kak fairuz. Aku harus membicarakan hal ini dengannya. Walaupun aku harus merendahkan diri padanya, aku akan melakukannya, aku yakin semalam itu memang kak fairuz telah melihat aku bercinta dengan rian.
Aku mengetuk pintu kamar kak fairuz dengan pelan.
“kak…”
aku memanggil kak fairuz. Tak lama pintu kamar kak fairuz terbuka, ia menatapku heran.
“ada apa?”
tanya kak fairuz heran.
“aku mau bicara….!”
aku tak mau bertele tele, aku ingin masalahku cepat selesai.
“mau bicara?… Bicara apa?”
kak fairuz seolah tak mengerti.
“boleh aku masuk?”
aku mengintip lewat bahu kak fairuz yang bidang, melihat ke dalam kamar kak fairuz yang beberapa waktu lalu adalah kamarku.
“silahkan!”
kak fairuz mundur memberi jalan agar aku bisa masuk.
Aku pandangi seisi kamar, sudah agak berubah, tercium bau rokok dan sedikit berantakan. Seprei acak acakan seolah habis dilanda angin topan. Selimut tergeletak diatas lantai. Jauh berbeda keadaanya dengan sewaktu aku tempati dulu, sepertinya kak fairuz tipe yang tak suka membereskan kamar. Tapi aku tak mau mempermasalahkan hal itu, aku tak mau menyinggungnya karena hanya akan memicu pertengkaran saja.
“katanya tadi mau bicara… Emangnya kamu mau ngomong apa?”
tanya kak fairuz tak sabar.
“langsung saja kak.. Yang semalam berdiri diluar jendela kamarku itu kakak bukan?”
tembakku langsung ke intinya.
“iya..!”
jawab kak fairuz mantap. Lututku langsung lemas mendengarnya.
“kakak melihat semua..?”
tanyaku dengan suara bergetar, menahan malu dan ketakutan.
“iya…”
ujarnya sinis.
Lidahku mendadak kelu, aku tak sanggup untuk bertanya lagi, tatapan mata kak fairuz menghujam ke mataku. Aku menunduk.
“sudah lama kalian melakukan itu?”
tanya kak fairuz datar. Aku diam, bingung harus menjawab apa.
“eh.. Kamu tuli ya, apa kalian sudah sering melakukan perbuatan mesum itu dirumah ini?”
kak fairuz mengulangi pertanyaannya dengan lebih keras. Aku tersentak ketakutan, aku menoleh ke pintu, masih tertutup rapat, aku tak mau sampai suara kak fairuz terdengar keluar kamar. Bisa gawat sampai mama mendengar semua ini.
“su.. Sudah beberapa lama kak.. Hampir dua tahun..”
jawabku lirih. Kak fairuz mendengus sinis.
“benar benar tak disangka, ternyata kamu itu bejat..!”
tuding kak fairuz. Aku diam tak menjawab, aku memang salah, jadi percuma saja aku membela diri.
“maaf kak… Aku.. Aku..”
rasanya aku telah kehilangan daya untuk berbicara.
“karena apa?”
tuntut kak fairuz. Ia melotot menunggu jawaban dariku. Susah payah aku menahan agar jangan sampai airmataku jatuh. Nasi sudah jadi bubur, aku hanya bisa jujur sekarang, aku harus mengambil resiko menjelaskan semuanya pada kak fairuz agar masalah ini tak menjadi besar.
“aku tak tau kak… Tapi aku mencintai rian..”
“kamu mencintai rian? Dia itu lelaki rio! Apa kamu sudah gila?”
suara kak fairuz tinggi.
“maaf kak..”
“tak perlu minta maaf, kamu tak bersalah padaku, tak kusangka kalau kamu itu penyuka sejenis.!!”
tikam kak fairuz.
“jadi apa yang harus aku lakukan kak?”
tanyaku memelas.
“tanya saja pada dirimu sendiri, kamu sudah dewasa, bisa berpikir, apa perbuatanmu itu bagus?”
kak fairuz semakin membuatku merasa kebingungan.
“aku minta tolong kak.. Rahasiakan hal ini, jangan sampai mama tau…”
aku memohon.
“kamu pikir aku bego sampai mau mengembar gemborkan hal ini, untung saja aku yang memergoki kamu, coba kalau bik tin atau mama! Kamu bakalan mendapat masalah..!”
timpal kak fairuz. Aku nyaris tak percaya mendengarnya.
“jadi kakak tak akan menceritakan masalah ini sama mama kak?”
tanyaku kurang yakin.
“tentu saja tidak.. Cuma kakak minta kamu jangan mengulangi lagi perbuatan kamu itu… Tinggalkan rian…!”
tukas kak fairuz tak dapat dibantah.
“tolong jangan paksa aku kak, aku menyayangi rian..”
airmataku nyaris jatuh. Kak fairuz memandangiku beberapa saat, bagaikan sedang meneliti sesuatu.
Aku menunduk dalam dalam.
“aku tak bisa mengecewakan rian lagi kak, ia sudah terlalu sering aku sakiti…”
jatuh juga air mataku, mengapa untuk meminta pengertian dari orang lain begitu sulitnya, apakah memang begini nasib orang yang melawan takdir, andai disuruh memilih, tentu saja aku mau menjadi orang normal yang bisa mencintai perempuan sebagaimana yang orang lain lakukan.
“kamu tau rio, kalau papa dan mamamu tau masalah ini, apa yang mereka pikirkan…”
tanya kak fairuz ketus.
“iya kak… Aku mengerti… Aku minta maaf..”
“sudah kubilang tak usah minta maaf padaku… Sudah berapa orang yang menjadi korbanmu itu?”
tanya kak fairuz tanpa kuduga.
“tidak kak.. Aku tak separah yang kakak bayangkan.. Aku tak pernah melakukan itu dengan siapa siapa kak.. Cuma rian.. Itupun karena aku mencintainya…”
aku membela diri, aku tak mau kak fairuz menganggap aku seperti gay lainnya yang kebanyakan suka berganti ganti pasangan dengan gampang. Aku juga tak mungkin menceritakan padanya mengenai hubunganku dengan om sebastian dulunya, demi menjaga jangan sampai om sebastian mendapat masalah.
“oke kakak mengerti… Tapi cobalah kamu berusaha menjauhi rian, ia tak baik untuk kamu… Kakak bisa merasakan itu..”
ujar kak fairuz, aku menatap kak fairuz sedikit heran.
“rio, kakak ini tinggal di kota besar, hal seperti itu bukan lagi sesuatu yang aneh.. Teman teman kakak banyak yang melakukan itu, dan kakak cukup mengerti.. Kamu tau, betapa kehidupan kakak bersama mama tak selalu mudah, jujur kakak pun melakukan itu, kakak sempat menjual diri kepada om om berduit agar bisa mencukupi kebutuhan kakak… Kamu tau betapa bencinya kakak mengingat mamamu bersenang senang diatas penderitaan aku dan mama..!”
aku terpaku bagai disambar petir mendengar pengakuan kak fairuz.
“kamu tau betapa aku membenci mamamu.. Aku sangat membencinya hingga tak mungkin rasanya untuk memaafkannya…”
kak fairuz menambahkan. Aku diam mendengarkan, tak ku duga ternyata kak fairuz bertindak sejauh itu.
“sementara mamamu hidup bergelimpangan harta, aku dan mamaku harus menderita, berat kehidupan yang kami berdua jalani, apa kamu pernah merasakan hidup susah, apa kamu tau bagaimana rasanya diabaikan papa sendiri, apa kamu mengerti apa yang aku rasakan bertahun tahun memikirkan papaku bersama wanita lain, dan wanita itu telah membuat mamaku menderita… Kalau aku menuruti emosi, bisa saja aku membunuh mamamu itu… Tapi aku sadar, itu hanya akan membuat mamaku sedih, ia tak ingin aku melakukan itu.. Mama sudah berusaha keras untuk menghilangkan kebenciannya pada mamamu..”
mata kak fairuz tergenang air, ia berusaha agar tak sampai mengalir jatuh.
“aku berusaha untuk membencimu rio… Aku berusaha membencimu sejak awal aku melihatmu dan tau kamu anak kandung tante mega…”
tambah kak fairuz. Aku menunduk, aku tak berani menatap mata kak fairuz.
“tapi aku tau… Kamu tak bersalah atas kesalahan mamamu… Kamu baik yo… Kamu tak seperti mamamu..”
kak fairuz memegang bahuku.
“iya kak… Aku minta maaf untuk mama.. Aku menyesal semua yang terjadi..”
hanya itu yang bisa aku ucapkan.
“kakak mulai mengenal teman teman yang nakal, hingga kakak mulai terpengaruh, dari mereka kakak mengenal minuman keras, bahkan cara mudah mendapatkan uang… Kakak ikut mereka nongkrong dilapangan banteng… Berjualan diri pada om om brengsek…”
aku terperangah mendengarnya, sejauh itu yang telah kak fairuz lakukan dan semuanya hanya karena hidup yang sulit.
“karena sudah terbiasa akhirnya itu mengubah kakak hingga awal awalnya kakak jijik tapi akhirnya kakak bisa menikmatinya.. Kakak mulai menjadi seorang biseks dan kakak berpacaran dengan teman kakak yang berprofesi sama, penghuni lapangan banteng juga.. Kami berdua sering bertengkar karena saling cemburu.. Hingga…”
kak fairuz menggantung ceritanya.
“hingga apa kak?”
tanyaku penasaran.
“hingga dua tahun yang lalu ia ditemukan terbunuh disebuah kamar penginapan…”
mataku terbelalak mendengar kelanjutan cerita kak fairuz.
“kenapa bisa begitu kak?”
“ia dibunuh oleh salah seorang pelanggannya yang dendam… Kakak akui, kami sering melakukan pemerasan terhadap orang yang memakai jasa kami, kalau kami tau orang itu bukan penduduk jakarta dan ia masih buta mengenai jakarta, kami akan mengatur siasat agar dapat memerasnya..”
kak fairuz melanjutkan ceritanya.
“dan dalam melakukan itu kami dibantu oleh bang toni yang juga merangkap sebagai germo, yah bisa dikatakan germo tak resmi lah.. Ia yang mengatur kami, setiap kali dapat pelanggan kami selalu membagi hasil dengannya… Dia orang palembang juga yo, tapi sudah lama menetap di jakarta. Nah.. Karena kejadian itu, orang itu dendam dan membunuh kekasihku..”
aku terdiam tak tau harus menanggapi bagaimana, aku masih kaget mendengarnya. Kak fairuz ternyata menyimpan kisah pahit hidupnya. Dan itu semua karena orangtuanya bercerai.
“aku sangat dendam dengan orang itu, tapi itu memang salah kami juga.. Sepandai pandai tupai meloncat, pasti sesekali jatuh.. Itulah yang kami alami..”
“lalu pembunuhnya bagaimana kak?”
“akhirnya ditangkap dek, dan dihukum 20 tahun penjara, tapi kakak tak mampu melupakan trauma itu… Semenjak itu kakak berhenti menjalani profesi itu, kakak bekerja di restoran demi membantu mama, dan setahun terakhir kakak sering ke palembang, bahkan beberapa bulan terakhir kakak juga sempat bertemu faisal, tapi kami tak bercerita banyak,… Sekitar tiga bulan setelah pertemuan terakhir kami, kakak mendengar dia telah meninggal, kakak segera pulang kesini, tapi kakak terlambat hingga tak sempat melihatnya walau untuk terakhir kali…”
kak fairuz menyudahi ceritanya. Aku menelan ludah yang terasa pahit. Aku berdiri didepan kak fairuz dan memegang bahunya.
“tinggalkan rian… Kakak minta kamu tinggalkan dia!”
tak kusangka sangka kak fairuz mengatakan itu.
“kenapa kak?..”
tanyaku ingin tau.
“kakak berusaha membencimu namun kakak justeru mencintaimu…”
+++

Nyaris pingsan aku mendengar pengakuan kak fairuz, aku terdiam, jantungku berdebar kencang.
“kenapa dek, kamu tak suka mendengarnya, kakak tau kalau kamu sudah punya rian, tapi tak ada salahnya kalau kakak jujur..”
ujar kak fairuz.
“kak… Aku bingung…”
jawabku apa adanya.
“kenapa bingung dek?”
desak kak fairuz.
“aku tak mau membuat kakak kecewa, tapi aku juga tak mungkin meninggalkan rian, aku sayang sekali dengan dia kak..”
aku berusaha jujur.
“jadi… Kamu tak bisa menerima kakak?”
tanya kak fairuz kurang yakin. Aku mengangguk tak enak hati.
“kak cobalah mengenal mama lebih lama, apa yang kakak pikir tentang mama tak sepenuhnya benar kak..”
aku mencoba mempengaruhi kak fairuz mumpung dia sedang jinak.
“maaf dek, soal mama kamu, sampai matipun kakak tak akan bisa menerimanya, maafkan kakak, dia telah menghancurkan keluarga kami, dan gara gara dia mama ku menderita..”
ujar kak fairuz berapi api. Aku terdiam, betapa besar dendam dalam hati kak fairuz hingga dia tak mau memaafkan mama, aku seperti berada dalam dilema, kak fairuz punya hak untuk membenci mama karena ia yang merasakan penderitaan itu. Namun aku juga tak mau jadi anak durhaka ikut ikutan membenci mama, mungkin itu dulu karena mama masih di penuhi oleh ambisinya. Hingga ia mengenyampingkan orang lain.
“kak, maaf aku capek, mau istirahat dulu ya kak..”
aku berdiri.
Kak fairuz seperti hendak mengatakan sesuatu namun urung.
“ada apa kak?”
“nggak dek, nggak kenapa kenapa.. Tidur lah dek.. Pertimbangkan permintaan kakak tadi, kakak yakin kita berdua bisa cocok…”
kak fairuz mengulang lagi permintaannya.
Aku tak menjawab hanya melempar senyum masam lalu meninggalkan kamar kak fairuz.
Kepalaku pusing sekali, tak kusangka akan begini, kenapa sih segala sesuatu terkadang tak bisa diduga, tak terlintas sedikitpun di benakku kalau kak faisal masih punya kakak kandung, padahal selama ini tak sekalipun ada yang menyinggung tentang fairuz, bagaikan dalam cerita sinetron ia tiba tiba muncul, dan kehadirannya itu walaupun banyak membawa rasa kurang enak namun aku tak bisa melarang karena ia punya hak yang sama denganku. Aku tak tau kenapa aku tak merasakan kedekatan seperti yang aku rasakan bersama kak faisal. Meskipun mereka kakak adik, terasa sekali perbedaan sifat antara mereka berdua. Walaupun kak fairuz tak kalah ganteng dengan kak faisal, tapi aku tak merasakan sedikitpun getaran terhadapnya.
Aku masuk ke dalam kamar dan berbaring. Mataku menerawang ke langit langit kamar, aku membayangkan jika aku meninggalkan rian, entah apa yang bakalan terjadi, aku tak bakalan tega menyakiti rian, semenjak beranjak remaja dulu, aku sudah mencintai rian, dia mengejar aku sejauh ini hanya untuk bisa dekat denganku, pantaskah kalau pengorbanannya itu aku balas dengan menghianatinya.
Aku tak akan pernah melakukan itu, cinta bukan untuk main main, ganti pacar tak bisa seperti ganti baju, aku yakin rian tak akan pernah menghianatiku. Jadi aku juga tak akan mencoba menghianatinya. Segala fikiran berkecamuk dalam benakku, namun tak satupun yang bisa membuatku lebih tenang. Akhirnya aku tertidur karena pikiranku terlalu lelah.
Terbangun sudah jam 5, aku langsung turun dari tempat tidur. Astaga..! Bukankah tadi aku sudah berjanji akan menemani mama ke rumah amalia, aku bergegas cuci muka lalu keluar kamar. Aku mencari mama ke kamarnya namun tak ada. Rupanya mama pergi. Apakah mama kerumah amalia? Aku pergi ke kamar kak fairuz, aku ketuk pintunya pelan. Tak ada jawaban, aku coba memutar handle, tak terkunci. Aku buka dan intip ke dalam, tak ada siapa siapa. Aku tutup lagi. Kemana kak fairuz, tak mungkin kalau ia pergi bersama mama, aku yakin hal terakhir yang akan dilakukan oleh kak fairuz adalah berjalan bersama mama.
Saat bik tin melintas diruang tamu aku langsung memanggilnya.
“bik, mama kemana?”
bik tin menghentikan langkah lalu mendekatiku.
“tadi kata ibu ia ada meeting dengan kliennya di restoran. Perginya juga terburu buru…”
bik tin menjelaskan.
“terus kak fairuz mana?”
“nggak tau bang, soalnya tadi ia langsung pergi begitu saja tanpa pamit sama ibu… Dia pake motor abang..”
ujar bik tin.
“oh gitu ya bik..”
aku manggut manggut..
“iya bang..”
“ya udah.. Makasih ya bik..”
“iya bang..”
bik tin mengangguk lalu pergi ke dapur.
Aku menghenyakkan pantatku di sofa, ku raih remote lalu menyalakan televisi.
Selama setengah jam aku menonton sinetron kembang setaman yang di perankan ida iasha dan ferry salim. Ceritanya lumayan bagus, tak seperti sinetron kebanyakan yang terlalu penuh bumbu dan intrik tak masuk akal. Jam beranjak ke pukul enam namun kak fairuz belum juga pulang, entah pergi kemana dia, dia datang dan pergi secara tak terduga, jujur sebenarnya aku senang ada kak fairuz, aku tak kesepian jadinya. Namun aku menyayangkan sikapnya yang terlalu egois, andaikan ia bisa bersikap seperti kak faisal dulu, pastinya akan sangat menyenangkan. Aku berharap suatu hari nanti ia akan merubah sikapnya itu. Tapi aku juga belum yakin apa ia akan tinggal lama disini. Soalnya ia sudah terbiasa bersama mamanya.
Hingga aku selesai mandi, makan malam dan menyelesaikan tugas kuliah, mama dan kak fairuz belum juga pulang. Jam delapan lewat sepuluh koko datang menjemputku.
Wajahnya berseri seri entah ingin menyampaikan kabar apa.
“jalan yuk!”
ajak koko.
“kemana?”
tanyaku penasaran.
“adaaa aja.!”
koko tersenyum penuh rahasia.
“apaan sih..?”
desakku tak sabar.
“aku punya kejutan..”
koko sengaja membuat aku semakin penasaran.
“kejutan apa?”
pancingku.
“kalau dikasih tau namanya bukan kejutan lagi dong.. Pokoknya jangan banyak tanya ikut saja denganku…”
paksa koko.
“nggak mau ah… Takutnya kejutan nggak asik.”
“idih…”
koko cemberut.
“makanya jangan pake rahasia gitu, aku kan harus menjamin keselamatanku, soalnya aku harus jelas mau dibawa kemana…”
ledekku sok jual mahal.
“pokoknya ini kejutan, nyesel kalo nggak mau ikut…, kalau besok kamu tau pasti kamu protes kenapa maksa kamu ikut…”
ujar koko dengan pedenya.
Aku pura pura cemberut. “ya udah.. Tunggu sebentar aku mau ngambil jaket dulu..”
“oke deh…”
koko menyeringai lebar karena puas.
Aku meninggalkan koko di teras lalu aku ke kamar dan mengambil jaket di gantungan setelah itu langsung kembali menemui koko.
“kita pergi sekarang?”
tanyaku.
“nggak taun depan aja…”
jawab koko sebal.
“nggak usah sinis gitu, kan cuma memastikan..”
sungutku sebal.
“hahahaha iya iya… Cuma bercanda kok.. Ayo cepetan!”
buru koko sambil berbalik dan berjalan cepat menuju ke mobilnya seolah olah mau mengambil gaji.
Aku naik ke mobil, duduk disamping koko.
“kamu udah makan?”
tanya koko sambil menstarter mobil.
“kebetulan belum..”
“sama..”
koko menekan gas sedikit dan mobil meluncur meninggalkan pekarangan rumahku.
Jalanan begitu ramai mobil hilir mudik, lampu lampu kuning keemasan menyorot menerangi jalanan beraspal. Ruko berderet di sepanjang tepian jalanan dengan bermacam jenis papan reklame yang memancarkan lampu berwarna warni membuat pemandangan malam di kota palembang begitu indah. Namun entah kenapa sehebat apapun kota palembang, sepesat apapun pembangunan disini sehingga bisa dikategorikan sebagai kota metropolitan, aku tetap saja kangen dengan kampung halaman. Aku kangen dengan emak. Terakhir surat emak mengatakan kalau yuk yanti sudah melahirkan bayi perempuan yang cantik. aku penasaran ingin melihat bagaimana rupa keponakanku itu. Dua tahun lagi kuliahku selesai, aku bisa kembali ke bangka berkumpul lagi dengan emak. Aku kangen dengan masakan emak. Ingin sekali melihat senyum emak yang selalu menghiasi wajahnya meskipun dililit kesusahan. Pasti banyak yang berubah dalam kurun waktu delapan tahun ini. Mungkin sekarang rambut emak sudah di tumbuhi uban. Yuk tina dan yuk yanti pun pasti banyak berubah.
“eh.. Kok malah bengong?”
koko membuyarkan lamunanku tentang kampung halaman.
“siapa juga yang bengong..”
aku tersipu dan menyangkal.
“mikirin ceweknya ya?”
canda koko.
“nggak, ngapain juga mikirin cewek, yang dipikir belum tentu juga mikirin aku..”
bantahku sedikit kesal.
“emangnya kamu punya cewek?”
olok koko lagi.
“iya iya.. Aku nggak punya, lagian kamu udah tau nanya! Mana ada cewek mau sama cowok kayak aku ini… Nggak seperti kamu yang dengan gampang mendapatkan cewek manapun yang kamu suka..”
aku membuka minuman kaleng yang ada di dalam mobil.
“dasar! Pura pura merendahkan diri untuk meninggikan mutu, bilang aja kamu mau aku mengatakan.. Rio siapa bilang kalo nggak ada cewek mau sama kamu, apa kamu buta kalau shinta anak rektor yang cantiknya minta ampun itu sampai tergila gila sama kamu…… Iya kan?… Dasar!!!… Basi tau…!”
seringai koko menyebalkan.
“kamu yang bilang bukan aku..”
jawabku acuh menanggapi candaan koko.
“kamu ganteng, pintar, lumayan tajir… Aku heran kenapa belum pernah sekalipun kamu pacaran..”
selidik koko ingin tau.
“eh bro… Kamu mau ngajak aku jalan untuk menginterogasiku ya? Kok nggak bawa tape recorder..?”
“sori bro… Kita wartawan profesional, nggak perlu tape recorder.. Cukup pake ini..”
koko tertawa sambil menujuk ke keningnya.
“dasar sombong..!”
gerutuku bercanda.
“motto hidupku biar miskin asal sombong!”
koko tertawa ngakak.
“dasar motto nggak mutu!”
ejekku ikut tertawa.
“eh kita udah sampai,…!”
seru koko mendadak sambil menginjak rem hingga tubuhku agak terbanting, untung saja nggak sampai kena Dashboard mobil.
“gila lo ko… Nyetir yang bener dong.. Makanya bikin sim yang resmi jangan asal nembak!”
gerutuku kesal. Koko tertawa terbahak bahak.
“sori yo.. Hahaha.. Soalnya keasyikan ngobrol, jadi nggak konsen ke jalan lagi..”
seringai koko menyesal.
Aku membuka pintu mobil dan turun.
Kami berhenti tepat eh depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi berukir batang anggur menjalar warna keemasan. Aku memandangi rumah itu dengan takjub. Nyata sekali penghuni rumah ini siapapun itu mempunyai selera yang berkelas. Bentuknya tidak minimalis cenderung banyak profil dimana mana. Atapnya model bersusun makin keatas makin mengecil, dibeberapa bagian atapnya terdapat semacam jendela kecil yang diberi penerangan lampu hingga seolah olah ada ruangan didalamnya. Pilar pilar tinggi motif ulir menopang lantai dua yang punya beranda bentuk lonjong dengan ujung berbentuk bagai tombak maharaja. Jendela jendela berukuran raksasa dilindungi teralis modern berukir berkilauan tertimpa sinar lampu taman yang jumlahnya puluhan. Tangga melingkar dari gerbang hingga berakhir eh depan teras rumah yang lagi lagi berbentuk oval lonjong bertingkat tingkat dari batu granit memberikan kesan sejuk rumah yang lebih pantas disebut istana ini.
Dikanan kiri tangga tumbuh rumput manila tebal terawat dengan diselingi tumbuhan hebras merah tua yang berbunga dari ujung ke ujung. Beberapa patung burung dan angsa serta bangau memberikan kesan seolah olah aku sedang berada di padang rumput liar alami. Bisa aku bayangkan berapa duit yang dihabiskan untuk membuat rumah ini.
“ko, ini rumah siapa?”
tanyaku penasaran.
“nanti kamu lihat saja yo, kamu nggak bakalan menyangka siapa yang memiliki rumah ini, ayo ikut aku..”
koko berjalan lebih cepat, aku mengimbangi langkah koko agar tak tertinggal.
Sampai didepan pintu kaca mozaik lukisan pemandangan firdaus yang tinggi hampir tiga kali tinggi pintu rumahku, koko memencet bell dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Mataku melotot tercengang melihat siapa yang berdiri didepan pintu tersenyum lebar padaku. Senyumku langsung lenyap, tanpa menunggu lagi aku berbalik dan berlari tanpa mengindahkan teriakan kaget koko yang memanggilku.
Ternyata kejutan dari koko sangat tidak asik
Aku berlari tanpa perduli teriakan koko memanggilku, ternyata ia mengajakku kerumah om alvin, seseorang yang saat ini paling tak mau aku temui. Sebetulnya aku sadar kalau aku tak perlu bersikap seperti ini, tapi entah kenapa aku langsung muak melihat wajahnya. Aku menyender di pintu mobil yang terkunci. Kunci masih di tangan koko jadi aku tak bisa masuk ke dalam.
“maafkan aku rio, aku tak menyangka kamu tak mau bertemu papa kamu sendiri..” koko terdengar menyesal. Rupanya ia langsung menyusulku.
“tak apa apa ko, mendingan sekarang kita pulang saja.. Aku capek..” aku mengusap wajahku dengan kedua belah telapak tangan. Tanpa menunggu lagi koko membuka pintu mobil, aku masuk dan duduk disamping koko.
“om alvin kelihatan sedih yo, padahal dia benar benar ingin meminta maaf sama kamu, sebetulnya sudah dari kemarin kemarin ia menyuruhku mengajakmu kerumahnya.”
“jangan sekarang ko, aku belum siap, entah apa yang mau om alvin katakan, aku tak perduli… Ia telah membuatku kecewa.” ujarku pelan, mataku menatap lurus ke arah jalan seolah terpaku pada satu titik.
“aku minta maaf.. Tak ada maksud membuatmu merasa tak nyaman seperti ini..”
“lupakan ko, mendingan kamu antar aku pulang sekarang, pikiranku lagi tak menentu..” koko tak menjawab, hanya menganggukan kepala. Selama beberapa menit kami berdua membisu, sibuk dengan pikiran masing masing, aku teringat bagaimana ekspresi om alvin tadi ketika melihatku pergi tanpa pamit.
Aku tersenyum puas, memang sudah seharusnya aku melakukan itu, aku puas telah membuatnya kecewa. Itu belum seberapa dengan kecewa yang aku rasakan terhadapnya.
Kami sudah tiba dirumahku, aku mengajak koko mampir tapi ia menolak dengan alasan sudah mengantuk. Aku turun dari mobil dan tak lupa berterimakasih. Setelah koko berlalu aku masuk ke dalam rumah. Sepi keadaan di dalam, kak fairuz tak terlihat, mungkin ia kerumah temannya. Aku tak tau dengan satupun teman kak fairuz disini. Dia datang dan pergi semaunya tanpa pernah pamit. Seisi rumah ini tak mau cari masalah dengannya Lebih baik menghindar.
“darimana sayang… Kok pulangnya cepet?” aku berbalik agak kaget, entah sejak kapan mama berdiri di samping lemari kaca pajangan keramik dan guci guci porselen. Mama berjalan pelan menghampiriku.
“belum tidur ma?” aku balik bertanya.
“belum, tadi wenny terbangun, dia agak rewel, badannya sedikit panas..” mama terdengar cemas.
“udah dibawa ke dokter ma?”
“udah tadi, kata dokter cuma demam biasa.. Tapi ya itu, dia jadi agak rewel.” ujar mama letih.
“kak fairuz mana ma?”
“entahlah, kamu tau sendiri kakakmu itu, mana pernah dia bilang mau kemana..” mama setengah mengeluh. Meskipun sikap kak fairuz terhadap mama tidak menyenangkan, namun mama seolah tak menghiraukannya, mama tetap memperhatikan kak fairuz seolah ia adalah pengganti kak faisal.
Sebetulnya aku kasihan sama mama, kak fairuz membenci mama bagaikan musuh besar yang harus ia lenyapkan. Apapun yang mama lakukan dianggap kak fairuz tak tulus, mama melakukan itu karena ada maunya. Memang kalau orang sudah benci, akan sulit untuk meyakinkannya sekeras apapun berusaha.
“mama tidur dulu ya, kamu jangan begadang, besok kita kerumah amalia..” mama mengingatkanku.
“loh.. Kenapa kerumah amalia ma, ada urusan apa?” tanyaku heran. Ini diluar dugaanku sama sekali, kenapa tiba tiba mama mengajak kerumah amalia.
“mama kasihan sama keluarga mereka, saat ini mereka kebingungan, kehamilan amalia tak mungkin bisa ditutup tutupi lagi lebih lama, mama harus membicarakan masa depan amalia, ini juga demi cucu mama yang ada di rahim perempuan itu..” desah mama terdengar sesak.
Aku termenung menatap lukisan di dinding, lukisan daun pisang dengan tiga burung betet berwarna cerah berbingkai keemasan. Aku tak bisa berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
“ya sudah.. Kamu tidur dulu sana.. Udah hampir larut sekarang..” mama mengulangi untuk kedua kalinya. Aku hanya mengangguk dan melihat mama berjalan gontai menuju ke kamarnya.
Aku merasa kesepian dalam ruangan besar ini, sofa busa panjang berwarna merah beralas kain beludru di depanku seolah mengingatkanku akan kak faisal, dulu ia sering tertidur disitu kalau kelelahan membaca komik tiger wong kegemarannya. Seolah kenangan itu baru terjadi kemarin.

Aku menggelengkan kepala karena pusing menerpa.
Ruangan ini terasa dingin, ruangan yang mama tata agar terasa hangat dan bikin betah tak mampu menghilangkan kalut yang aku rasakan. Aku berbaring diatas sofa sambil memandangi potret berbingkai berukuran sebesar pintu, dimana ada papa, mama, kak faisal dan aku.
Kami berempat tersenyum berpakaian rapi. Mama memakai kebaya hijau pupus, papa, kak faisal dan aku memakai jas hitam. Aku ingat foto itu diambil waktu kak faisal lulus smu, bagaimana waktu itu susahnya fotografer mengarahkan kak faisal bergaya di depan kamera, senyumnya yang kaku membuat kami harus berkali kali mengulang pengambilan gambar hingga bisa didapatkan gambar yang bagus.
Kak faisal kurang suka bergaya di depan kamera. Apalagi baju jas hitam yang katanya seolah membuat ia merasa seperti mau pergi ke pemakaman cina. Ia bilang tampangku mirip orang idiot.
Aku membalasnya dengan mengatakan kak faisal mirip vampir yang baru keluar dari lobang kakus. Ia menimpukku dengan tabung bekas gulungan roll film. Aku tersenyum sendiri mengenang kejadian lucu di masa lalu itu. Kak faisal pasti kesepian sekarang dibalik papan kuburannya di dalam tanah. Apakah kak faisal bisa merasakan kalau aku begitu kehilangannya, sosok kakak yang aku butuhkan, kenapa waktu begitu cepat berlalu hingga hanya meninggalkan kenangan kenangan indah yang tak mungkin terlupakan.
Terasa perbedaan dirumah ini sejak kak faisal tak ada lagi. Papa jadi jarang pulang, mama meskipun ada dirumah tapi sengaja menyibukan diri dengan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang, padahal dulu mama paling anti melakukan itu. Bagi mama rumah adalah tempat berkumpul keluarga dan untuk istirahat.
Kini semua telah berbeda. Kehadiran kak fairuz malah memperparah semuanya. Meskipun mereka sangat mirip namun kak fairuz bukan kak faisal dan tak akan pernah menjadi seperti kak faisal. Sifat mereka sangat bertolak belakang, meskipun akhir akhir ini kak fairuz sedikit melunak, tapi tetap saja sikapnya jauh dari menyenangkan. Kehadirannya dirumah ini bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan membuat masalah yang hingga saat ini aku dan mama kuatirkan akan terjadi.
Bunyi jam berbandul diruang tengah nyaris membuat aku terlonjak kaget. Dentangan sebanyak duabelas kali menandakan saat ini telah dinihari. Aku bangun dari sofa bermaksud mau ke kamar, tapi terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Aku mengintip dari balik gorden, ternyata kak fairuz, ia turun dari mobil lalu berjalan menuju teras.
Terdengar suara anak kunci dimasukan ke lobangnya. Aku duduk kembali sebelum kak fairuz masuk. Grendel pintu bergerak dan pintu terbuka. Kak fairuz agak kaget melihatku.
“kok belum tidur?” ia bertanya sambil mengunci pintu.
“iya kak.. Kepalaku sedikit pusing..” jawabku apa adanya.
“kalau pusing minum obat..!” jawab kak fairuz selintas lalu, ia melangkah menuju ke kamarnya. Aku tak banyak bertanya, karena biasanya kak fairuz kurang suka ada yang mencampuri urusannya. Aku kira kak fairuz langsung tidur, ternyata ia keluar lagi dan telah berganti baju.
“belum tidur kak?”
“belum ngantuk..” jawabnya singkat sambil mengambil remote dan menyalakan televisi.
“tadi kamu jalan sama rian ya?” tanya kak fairuz sambil duduk di sampingku.
“bukan kak, aku sama koko, cuma makan malam aja, trus jalan sebentar..” aku menggeser duduk agak memberi tempat pada kak fairuz.
“sudah lama kamu kenal dia?” suara kak fairuz terdengar penasaran.
“sejak kelas tiga smp.. Emangnya kenapa kak?” aku balik bertanya karena heran. Kak fairuz sepertinya begitu ingin tau tentang rian. Setelah kejadian beberapa hari lalu, aku jadi lebih berhati hati dan melarang rian untuk main kesini selama beberapa waktu sampai aku merasa keadaan agak aman.
“kamu percaya sama dia?” pertanyaan kak fairuz bagai teka teki, aku berpikir sejenak sebelum menjawab, aku tak mau jawabanku nantinya akan menjadi celah bagi kak fairuz untuk memanfaatkan kelemahanku dan rian.
“aku mengenal rian bukan sehari dua hari kak, tapi kami sudah dari masih kecil berteman, sedikit banyak aku mengenal dia, dan hingga kini aku yakin rian dapat aku percaya..” aku menjawab mantap. Kak fairuz menangguk angguk seolah mengerti, namun matanya agak menerawang keatas seolah ada menyimpan sesuatu yang akan ia katakan.
“selama kalian berhubungan, pernah ia menyakitimu?” tambah kak fairuz.
“menyakiti bagaimana maksud kakak?” aku semakin bingung.
“ya misalnya ia selingkuh.. Atau membohongi kamu?” suara kak fairuz sedikit mengejek meskipun tak kentara tapi aku menyadarinya.
“tidak pernah..” jawabku ragu. Aku terpaksa berbohong, rian memang tak pernah selingkuh, tapi ia kerap memukulku, tapi aku tak mau menceritakan itu pada kak fairuz, aku tak mau ia memandang rian jahat, walau harus kuakui kalau sikap rian terkadang membuatku kecewa dan aku beberapa kali ingin meninggalkannya.
Sepertinya kak fairuz ingin mengetahui lebih dalam mengenai hubungan aku dan rian. Aku menyesali keteledoranku hingga kak fairuz memergoki perbuatan kami. Pertanyaan kak fairuz makin membuat kepalaku jadi pusing, tapi aku tak berani menghindarinya karena takut kak fairuz marah hingga ia mengadukan hal ini ke mama atau papa, aku tak mau menambah beban pikiran mama.
“kamu punya cewek nggak?” pertanyaan kak fairuz kali ini membuat aku betul betul kaget.
“memangnya kenapa kak?”
“cuma mau tau aja.. Kamu kan cowok, wajar kakak bertanya seperti itu, atau kamu memang sudah tak ada keinginan untuk punya cewek?” pernyataan kak fairuz telak membuatku kehabisan kata kata. Apa yang harus aku jawab, karena memang hingga saat ini aku belum berpikir untuk berpacaran dengan cewek, itu yang aku takutkan, pada waktunya nanti keluargaku Akan bertanya mengenai itu, bagaimana aku harus menjawabnya.
Andai nanti mama tau mana mungkin mama bisa mengerti dengan keadaanku. Aku tak mau membuat keluargaku jadi malu karena itu. Apakah aku harus egois mengikuti keinginanku sendiri sementara aku tahu itu salah. Aku bisa saja menuruti ego tetap menjalani semua ini, tapi itu akan menyakiti semua yang menyayangiku. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah membiarkan semua mengalir.
“kakak mau tidur dulu, udah ngantuk… Kamu belum mau tidur?” pertanyaan kak fairuz membuyarkan lamunanku.

“kakak tidurlah dulu, sebentar lagi aku tidur..” aku tersenyum pada kak fairuz. Setelah kak fairuz pergi dan masuk ke kamarnya, aku matikan televisi lalu pergi ke kamarku.
Sambil berbaring, aku terkenang lagi bagaimana tadi wajah om alvin yang terkejut saat aku menatapnya dengan nyalang lalu pergi tanpa pamit dari rumahnya.
Sebenarnya dalam hati kecilku yang terdalam, aku sangat senang ternyata om alvin adalah ayah kandungku yang sebenarnya, namun aku kecewa om alvin tak mau mengakui hal itu padaku, kalau bukan karena almarhum kak faisal mungkin hingga detik ini aku takkan pernah mengetahui siapa ayah kandungku. Sudah sering aku dan om alvin bersama, begitu banyak kesempatan untuknya menceritakan tentang hal yang sebenarnya, kenapa selama ini aku tak pernah terpikir,om alvin begitu perhatian padaku, sering memberikan hadiah hadiah padaku, aku kira itu semua karena memang sifatnya yang pemurah, ternyata kebaikannya itu karena memang itu adalah kewajibannya.
Aku kangen dengan kehidupanku waktu masih di bangka dulu, meskipun selalu kekurangan tapi aku bahagia. Emak selalu mengajarkan kejujuran. Semua masalah selalu dibahas bersama agar bisa dicarikan jalan keluarnya. Sekarang aku lebih dari berkecukupan, apapun yang aku minta sama mama tak akan menunggu lama untuk ia penuhi selama itu masih dibatas kemampuannya, tapi aku merasa hampa. Seakan tak ada kedekatan serta kehangatan.
Hanya kak faisal yang membuat aku merasa betah disini. Tapi sekarang kak faisal sudah tiada. Hari hari jadi terasa lama dan membosankan. Aku mulai merasa tak betah lagi disini. Kalau tak memikirkan kuliahku, mungkin aku sudah pergi dari sini dan kembali ke bangka. Meninggalkan semua masalah disini agar aku bisa merasa tenang. Akhirnya kantuk pun datang mungkin karena terlalu banyak pikiran mataku pun dapat dipejamkan dan tertidur. Aku dibangunkan oleh mama karena sudah siang, saat melihat jam weker, aku langsung tersentak dan bergegas turun dari tempat tidur.
Mama menyuruhku bersiap siap karena sebentar lagi kami mau pergi ke rumah amalia. Aku mandi sekedarnya saja, yang penting sikat gigi bersih bersih. Setelah itu berpakaian. Aku memakai kemeja dan celana jeans biar terlihat rapi lagipula habis dari rumah amalia, aku langsung ke kampus jadi tak repot harus ganti pakaian lagi. Mama sudah siap, ia menungguku di mobil bersama wenny.
Aku masuk ke mobil duduk disamping mama. Baru saja mama mau menginjak gas, tiba tiba kak fairuz keluar dari rumah dan memanggilku sambil berlari menuju kearah kami. Mama urung menjalankan mobil. Aku membuka jendela.
“ada apa kak?” tanyaku heran. “aku mau ikut.. Kalian mau kerumah amalia kan?” kak fairuz menunduk ke jendela dan menatapku.

“iya kak..” jawabku singkat karena masih heran. Ada gerangan apa kak fairuz sampai mau ikut ke tempat amalia. Aku menoleh ke mama untuk meminta persetujuan. Selama beberapa saat mama diam dengan wajah yang tak dapat ditebak namun akhirnya mama mengangguk ragu. Kak fairuz tersenyum lalu membuka pintu belakang dan masuk ke dalam. Setelah kak fairuz menutup pintunya, mama menjalankan mobil, aku memandangi kak fairuz lewat spion di depan.
Ia nyengir melihatku. Aku memangku wenny yang agresif menunjuk nunjuk pada setiap mobil yang lewat. Sementara mama tak bicara sedikitpun, pura pura serius konsentrasi pada jalan padahal aku tau saat ini pikiran mama pasti sedang berkecamuk. Kenapa kak fairuz mau ikut kerumah amalia, bukannya ia tak mengenal amalia dan keluarganya.
Aku jadi makin heran dengan sikap kak fairuz yang tak dapat ditebak.
Tak beberapa lama kami tiba dirumah amalia. Ibunya sudah menunggu kami di depan rumah. Kami turun dari mobil dan langsung di suruh masuk ke dalam. Kak fairuz agak terpana saat melihat keadaan rumah amalia. Mulutnya terbuka tanpa sadar seolah tak menyangka kalau rumah amalia hanyalah sebuah gubuk yang sederhana.
“silahkan masuk bu harlan..” ibunya amalia mempersilahkan kami.
“terimakasih bu rusmi..” mama tersenyum lalu mengikuti ibu amalia masuk. Aku dan kak fairuz mengiringi dari belakang. Tak banyak yang berubah dari rumah amalia dengan saat pertama kali aku kesini. Kami duduk di kursi ruang tamu yang seadanya.
“sebentar saya ambilkan minum dulu ya..” ibu amalia berlalu ke dapur. Mama hanya mengangguk tak banyak bicara. Sementara kak fairuz seolah tak perduli hanya pandangannya mengitari sekeliling ruang tamu amalia. Tak beberapa lama ibu amalia kembali dengan membawa satu baki teh serta sepiring pisang goreng.
“silahkan di minum bu, rio.. Maaf satunya ini siapa, saya belum kenal..” tawar ibu amalia sambil meletakan cangkir ke atas meja masing masing satu di depan kami.
“ini fairuz bu, kakaknya faisal yang sulung..” mama memperkenalkan kak fairuz. Ibu amalia mengangguk. “pantas saja mukanya begitu mirip..” ujar ibu amalia. Kak fairuz yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
“amalia mana bu?” tanya mama.
“masih di kamarnya, ia jarang mau keluar kamar, sepertinya ia masih stress bu, itulah yang bikin kami bingung, bagaimana caranya biar masalah ini tak berlarut larut..” ibu amalia agak merenung.
“memang tak mudah bagi wanita hamil yang tak punya masa depan menghadapi masalah yang dialami seperti amalia alami bu, makanya kami juga tak bisa lepas tangan dari hal ini, cuma kami mau kerjasama dari bu rusmi, biar kita bisa mendapatkan jalan keluar yang paling baik..” mama menimpali omongan ibu amalia.
“terus terang saja bu, pikiran saya seolah sudah buntu, saya tak mampu lagi berpikir bagaimana mencari jalannya. Hal ini sangat mengejutkan bagi kami…” keluh ibu amalia.
“makanya bu, tidak mudah juga bagi kami… Bagaimanapun juga yang ada didalam rahim amalia itu anaknya almarhum, dan kami tak mau menyia nyiakannya. Ibu tau sendiri betapa saya menyayangi faisal..” mama menarik nafas dalam seolah beban berat sedang menekan diatas pundaknya. Aku diam sambil menunduk mendengar pembicaraan ini. Sementara kak fairuz sedikit terkejut dengan ucapan mama tadi.
“kira kira bagaimana ya bu.. Jalan apa yang harus kita tempuh biar semua bisa teratasi.. Saya takut lama lama amalia jadi makin stress, kandungannya makin membesar bu, saya tak sanggup membayangkan cemoohan yang akan kami dapatkan karena hal ini, tetangga disini kebanyakan suka ikut campur urusan orang..” ibu amalia menjelaskan. Mama mengetuk ngetuk gelas pelan seolah sedang mengatasi kekalutannya.
“di minum dulu bu..” ibu amalia menawarkan kembali. Mama mengangguk lalu mengangkat gelas dan meminum isinya sedikit.
“bagaimana kalau kita cari lelaki yang mau menikahi amalia..” mama mengusulkan. Ibu amalia menegakkan badannya kaku.
“maksud bu harlan?” tanya nya kurang yakin.
“saya rasa dengan mencarikan lelaki yang mau menikahinya, masalah akan teratasi, saya yakin tak sulit mencari lelaki yang mau, bukannya wajah amalia cantik, pasti banyak yang mau sama dia..” mama menjelaskan. Ibu amalia menatap mama lekat lekat seolah sedang meyakinkan dirinya kalau yang sedang bicara tadi itu memang mama.
“tapi bu, siapa..? Mana ada lelaki yang mau menikahi perempuan yang sudah tak terhormat, dan hamil…?” ibu amalia pesimis.
“saya yakin ada bu.. Siapa yang tak mau kalau dikasih uang?” jawab mama dengan mudahnya. Aku yang sedang meminum teh langsung tersedak. Mama mau membayar lelaki yang akan menikahi amalia. Lagi lagi mama selalu mencari jalan mudah dengan menggunakan uang. Aku yakin memang banyak lelaki mau dibayar untuk itu. Apalagi dalam keadaan sulit seperti ini, siapa yang tak mau diberikan perempuan cantik dan dapat uang.
“ibu mudah mengatakan itu, tapi saya juga harus menimbang rasa dengan perasaan amalia bu, menikah dengan lelaki yang tak ia kenal dan cintai akan semakin membuatnya bertambah menderita..” ibu amalia agak keberatan. Mama hanya tersenyum kaku seolah tak perduli.
“apakah dengan keadaan seperti ini amalia masih punya pilihan?” mama balik bertanya hingga membuat ibu amalia terdiam kehabisan kata.
“bu rusmi mau menyuruh amalia menjalin percintaan dengan siapa? Apa masih cukup waktu untuk mencari lelaki yang akan memuaskan romantika percintaan amalia sementara ia sedang hamil seperti ini?” mama melanjutkan.
“ibu berharap lelaki kampung, yang mau menerimanya apa adanya, lelaki kampung biasanya berpikiran kolot bu, perempuan itu harus perawan dan terhormat, oke lelaki itu mau, bagaimana dengan keluarganya… Atau.. Ibu mau lelaki berpendidikan yang lumayan bebas, yang mau menambal kuali bocor, tapi ibu pikir sendiri, mana ada lelaki yang berpendidikan yang mau bertanggung jawab menikah dengan.. Maaf.. Amalia gadis biasa yang sederhana.. Yang tidak mapan. Saya rasa orang pintar lebih realistis bu..” timpal mama cukup masuk akal.
Ibu amalia makin terpekur tak dapat menjawab. Terus terang aku mengakui kata kata mama ada benarnya. Siapa yang mau menikah dengan gadis hamil kalau tanpa jaminan. Aku menoleh ke kak fairuz, tak beda denganku iapun diam seolah sedang berpikir keras.
“lalu bagaimana kami dapat mencari lelaki itu dalam waktu singkat bu.?” ibu amalia mendesah seolah sadar tak ada pilihan lain selain menuruti saran mama tadi.
“kami akan membantu ibu mencarinya.. Saya akan keluarkan berapa saja agar lelaki itu mau menutupi aib ini.. Maaf bu, bukan bermaksud untuk berlaku kejam, tapi kita sudah kehabisan akal.. Saya rasa hanya inilah jalan terbaik yang dapat kita tempuh, andaikan nantinya mereka tak mau melanjutkan pernikahan mereka, biarlah mereka berpisah, yang penting anaknya amalia dan faisal tak lahir Sebagai anak haram..” mama menyelesaikan kata katanya.
“tapi saya juga harus membicarakan dulu sama amalia bu, saya harus meminta persetujuan darinya, bagaimanapun amalia lah yang paling berhak memutuskan karena yang menjalani semua ya amalia..” ibu amalia seperti menahan tangis. Mama membuka tas tangannya lalu mengambil amplop dan meletakkannya diatas meja.
“kami mohon diri dulu bu, itu ada sedikit uang untuk amalia, suruh ia beli susu biar kandungannya sehat. Ingat jaga pola makannya.. Saya rasa itu cukup..” mama berdiri dan memberi kode padaku agar ikut berdiri. Ibu amalia tak protes apapun. Walaupun aku tau ia ingin menyampaikan keberatannya pada mama. Mungkin ia tak mau banyak bertengkar lagi. Lagipula mama kalau sudah memutuskan sesuatu cenderung sulit untuk diubah. Mama selalu mencari jalan yang tak ribet
Tapi entah kenapa aku merasa lebih nyaman dengan acara ulangtahun amalia dulunya. Suasana yang begitu kontras. Disini makanan berlimpah limpah tak kalah dengan hajatan pernikahan. Memang orangtuanya rizal termasuk dari kalangan yang mampu hingga bisa mewujudkan sebuah pesta ulangtahun yang mewah untuk anaknya. Rizal nampak bangga sekali dengan adiknya. Memang ku akui intan cantik. Bahkan lebih cantik dari amalia. Atau mungkin setara entahlah yang jelas intan lebih up to date dandanannya. Ia lebih modis, wajar saja ia anak orang mampu. Bisa membeli baju yang bagus bagus dan perawatan kulit yang mahal. Setelah lagu ulang tahun selesai dinyanyikan. Aku ditarik rizal naik ke teras rumahnya. Aku mencoba bertahan namun rizal terus menarikku. Ditambah lagi teman temannya mendorong dorongku agar mau mengikuti rizal terpaksa aku mengikutinya.
Intan memotong kue ulang tahunnya. Lalu memberikan pada suapan pertama pada orangtuanya. Setelah itu rizal. Aku berdiri gemetar karena tau pasti intan akan memberikan suapan berikutnya untukku. Teman teman rizal bertepuk tangan dan bersorak sorak saat melihat intan menghampiriku dengan sendok teracung di tangannya. Tak bisa dikatakan betapa tebal rasanya muka ku saat ini. Intan berdiri di depanku dengan tersenyum seperti terpaksa. Kulihat mukanya bersemu merah. Aku bengong seolah bingung harus bagaimana. Rizal mencubitku diam diam. Ya ampun rizal mencubit tak kira kira, aku nyaris teriak karena rasanya seperti di sengat lebah. Aku melotot dengan kesal sementara rizal menahan tertawa hingga tubuhnya berguncang guncang.
Awas..! Akan ku balas nanti, dengan terpaksa aku membuka mulut lalu memakan kue yang disuap oleh intan. Tepuk tangan bergema diseluruh halaman rumah rizal. “terimakasih rio kamu mau datang…” bisik intan pelan sambil menarik sendok dari mulutku. Aku tak menjawab hanya mengangguk pelan. Tanpa menunggu lama aku menarik faisal turun dari teras rumahnya dan kembali bergabung dengan teman teman yang lain. Acara dilanjutkan dengan makan makan, karena bukan anak smu lagi maka tak ada acara permainan yang tak penting.
“makasih ya rio menjadikan pesta adikku jadi berkesan, aku tak tau bagaimana berterimakasih padamu. Belum pernah aku lihat adikku begitu bahagia seperti malam ini…” ucap rizal tulus membuat aku urung memarahinya karena telah mencubitku tadi.
“tak apa apa zal, menyenangkan orang kan baik..” aku duduk diatas pokok kayu tiruan dari batu yang sengaja dibikin sebagai penghias taman dirumah rizal.
“kalau gitu kita isi perut dulu gimana?” usul deni kelihatan sudah tak sabar.
“ayo.. Kita makan sekarang aja,..” timpal firdaus.
“makan yang banyak ya, soalnya habis pesta kalian bantu beres beres…” ujar rizal tenang.
“ya ampun rizal… Kamu bikin selera makan kami hilang saja!” maki deni kesal.
“bilang aja kamu pemalas, baru di mintain tolong sedikit aja udah segitunya..” sungut rizal kesal.
“hahaha… Sori bro cuma bercanda.!” deni terbahak bahak senang karena melihat rizal manyun.
“lagian tanpa kamu minta juga kita pasti bantu kok zal..” tambah firdaus.
“tapi kayaknya aku gak bisa deh zal.. Aku harus pulang jam sembilan, soalnya lagi ada urusan…” aku jadi tak enak hati.
“emangnya kamu mau kemana sih?” tanya rizal dengan nada agak kecewa.
“aku ada janji sama rian temanku..”
“apa tak bisa di tunda?” rizal berharap. Aku terdiam sejenak, agak bingung juga sih. Sebenarnya memang nggak penting penting banget, cuma aku agak risih kalau lama lama disini, aku tak mau memberikan harapan pada intan. Kalau sampai rian tau mengenai masalah ini pasti akan timbul kesalah pahaman yang tak perlu. Aku tak mau itu terjadi.
“maaf sekali lagi ya zal, kapan kapan lah aku kesini lagi…” aku makin tak enak hati.
“baiklah kalau begitu, main lah kesini rio, meskipun faisal sudah tak ada, tapi bagi kami teman tetaplah teman, dan kamu adalah teman kami…” rizal terdengar tulus mengatakannya. Membuat aku sedikit terharu.
“makasih zal..aku juga menganggap kalian teman kok, insya allah kalau ada waktu aku main kesini..” jawabku sambil menghabiskan nasi di piringku cepat cepat. Selesai makan aku taruh piring kotor dibawah kursi lalu berdiri.
“udah mau diantar sekarang?” tanya rizal ikut berdiri.
“kalau kamu tak keberatan zal..”
“ya sudah tunggu sebentar aku ngambil motor dulu..” rizal meninggalkanku dan teman teman yang lain. Aku pamit pada semua teman dan berjalan keluar pagar rumah rizal setelah sebelumnya aku menghampiri intan yang sedang bercanda dengan teman temannya.
Saat tau aku mau pulang kulihat intan agak kecewa. Namun ia tak berkata apa apa. Aku menunggu di pintu pagar. Rizal menghampiriku dengan motornya yang memancarkan lampu menyilaukan hingga aku menghalangi wajahku dengan tangan.
“ayo naik sobat..” perintah rizal. Tanpa menunggu lagi aku langsung naik keatas boncengan motornya.
Agak ngebut rizal mengantarku soalnya ia tak enak meninggalkan teman temannya menunggu dirumah. Setelah mengantarku hingga depan rumah, rizal langsung pulang. Aku memeriksa mobilku di garasi. Ternyata belum ada. Jadi kak fairuz juga belum pulang. Aku masuk ke dalam dan menemui mama untuk meminjam mobilnya.
Mama sepertinya tau kalau mobilku sedang di pakai kak fairuz jadi beliau langsung memberikan kunci mobilnya tanpa bertanya lagi. Segera aku meluncur kekost rian. Saat aku tiba ia sedang berbaring sambil mendengarkan musik lewat walkman. Ia tak menyadari aku yang berdiri melihatnya. Mulutnya komat kamit menirukan lagu yang ia dengar melalui earphone dengan mata terpejam. Pelan pelan aku raih bantal yang tergeletak disampingnya dan aku bekap mukanya dengan bantal.
Rian kaget dan meronta ronta. Aku lepaskan bantal, tertawa melihat rian yang cemberut.
“kok aku gak dengar kamu datang?” rian bersungut sungut.
“ya jelas lah gimana mau dengar, kamu aja asik dengerin walkman..” aku duduk diatas kasur rian dilantai.
“habis darimana kok rapi?” tanya rian curiga.
“dari ulangtahun adik rizal..” jawabku jujur. Rian mengerutkan keningnya.
“kok gak bilang bilang sama aku, siang tadi kan kamu kesini,..!” protes rian kurang senang.
“maaf… Bukan nggak ngasih tau dan ngajak kamu yan, soalnya aku juga perginya mendadak, tadi rizal menjemputku, aku juga baru tau acara ultah itu setelah sampai dirumah rizal..” aku menerangkan kejadian sebenarnya. Aku tak mau rian marah lagi. Soalnya kalau marah ia pasti akan uring uringan terus.
“adik rizal yang cewek namanya intan itu kan?” rian meyakinkan.
“iya yan, tapi habis makan aku langsung pulang..”
“kok pulangnya cepet gitu, emangnya acaranya gak asik ya?” rian penasaran. Aku tersenyum dan memegang bahu rian.
“gimana mau menikmati acaranya kalau yang aku pikirkan cuma kamu saja..” wajah rian yang keruh langsung berubah agak cerah.
“masa?” suaranya berubah riang. Aku menumpuk bantal lalu berbaring disampingnya.
“iya lah rian, entah kenapa aku tak bisa menikmati pesta kalau ingat kamu, memikirkan kamu sudah makan atau belum, sementara kamu sendirian disini tanpa kendaraan, kamu juga sih sudah aku bilang mendingan beli motor saja..” rian merangkulku lebih dekat kearahnya.
“aku tak mau merepotkanmu rio, kamu tau sendiri keadaan keluargaku saat ini di bangka, sepertinya tak bisa berharap terlalu banyak. Sakit ayahku belum juga sembuh..” rian menatap langit langit kamar. Aku berbaring menyamping memandangi rian.
“sampai kapanpun kamu tak pernah menyusahkanku rian, cuma kalau kamu tak mau menerima bantuanku itu yang membuat aku susah… Aku tak bisa tenang sementara kamu dililit kesusahan.. Kamu mengerti kan maksudku?” tanyaku lembut. Memang rian keras kepala dan sukar untuk dilunakan padahal aku sangat ingin membantunya. Aku menyayangi rian sejak dulu dan tetap bertahan hingga sekarang, apa salah kalau aku ingin berbagi dengannya.
Toh selama ini dia juga yang telah membuat aku merasa bahagia. Rian selalu perhatian padaku. Ia melindungiku dan menyayangiku. Aku ingin berbuat banyak untuknya. Bukan karena aku merasa sok mampu, entah kenapa rian selalu menolak setiap kali aku ingin menawarkan bantuan. Aku tak sedikitpun bermaksud untuk mengecilkan arti dia dimataku. Bagiku rian tetaplah yang terbaik.
“rio sebetulnya ada yang ingin aku katakan padamu..” rian memecah keheningan sesaat tadi. Aku tatap matanya dalam.
“mengatakan apa yan?” aku jadi penasaran.
“sebetulnya sudah dari kemarin kemarin aku mau bilang ini sama kamu…” rian menggantung kata katanya hingga membuat aku jadi gelisah.
“apakah ini ada hubungannya dengan aku yan?” tanyaku hati hati. Rian menggeleng pelan.
“tidak yo, ini kaitannya dengan keluargaku.. Sepertinya aku…” rian kembali menggantung kata katanya seolah hal yang ingin ia katakan begitu berat.
“kamu apa yan… Tolong katakan saja, jangan buat aku jadi cemas kayak gini…” jantungku jadi berdebar debar. Wajah rian yang murung membuat aku menebak kalau yang akan dikatakan rian adalah masalah yang besar, ia jarang murung seperti itu, rian adalah tipe yang ceria dan meledak ledak, kalau ia tertawa ia akan tertawa lepas, kalaupun ia marah ia juga tak akan menahannya. Sifatnya terbuka dan tak suka memendam perasaan, namun kali ini aku merasakan sesuatu yang lain pada sikapnya itu. Hal itulah yang membuat aku sedikit takut. Apakah aku siap mendengar apa yang mau ia katakan.
“maafkan aku ya rio..” rian mendesah.
“maaf untuk apa yan?” suara ku jadi bergetar.
“sepertinya kita akan berpisah sementara waktu ini…”
aku terdiam. Kupandangi wajah rian dan kutatap matanya mencari kejujuran disana. Namun rian tak mengalihkan pandangannya malah balas menatapku. Aku tau rian mengatakan yang sesungguhnya.
“tapi kenapa….” bisikku parau. Rian tiba tiba menangis. Ia berbalik menunggungiku. Aku bangun dan berdiri lalu menutup pintu.
“rian kenapa kamu mau berpisah denganku?” aku mengusap punggung rian lembut.
“aku bukan ingin meninggalkanmu rio, tapi aku sepertinya harus berhenti kuliah..” suara rian agak mengambang karena tertahan oleh isakannya. Rasanya bagai tersambar petir aku mendengar pengakuan rian tadi.
“kamu mau berhenti kuliah?” aku nyaris berteriak.
“iya…!” rian berbalik lagi dan menatap langit kamarnya.
“tapi kenapa…”
“orangtuaku tidak mampu lagi untuk membiayaiku rio.. Keperluan papa untuk berobat saja tidak cukup..”
“tapi kan tidak harus berhenti kuliah..” aku menyayangkan. Aku tak bisa membayangkan rian harus berhenti kuliah padahal dia baru semester empat. Sayang sekali kalau sampai itu benar terjadi. Bagaimana dengan cita citanya selama ini. Pasti ia bakalan kecewa.
“aku tak boleh egois rio, keluargaku jauh lebih penting.. Aku masih punya satu adik yang harus sekolah, sementara orangtuaku sendiri sudah cukup kelabakan saat ini..” jelas rian datar. Aku raih tangan rian dan ku genggam.
“kamu masih memiliki aku rian, dan aku tak akan tinggal diam, sekarang pikirkan masa depanmu, jangan kamu menuruti ego saja, aku bisa membantumu..”
“sudah ku bilang aku tak akan mau merepotkan kamu rio..” rian masih saja terus membantah. Rasanya gemas sekali melihat rian yang begitu keras kepala.
“rian aku tak mau melihatmu berhenti kuliah hanya karena masalah uang, aku sudah bilang aku bisa membantumu..” suara ku agak tinggi karena kesal.
“kuliah bisa kapan saja rio, aku akan balik lagi kemari kalau keadaan sudah lebih baik..” rian masih saja membantah.
“baiklah terserah kamu, tapi sampai kapan kamu akan berhenti kuliah, sampai kapan aku harus menunggu tak pasti disini..?” aku memberikan pertanyaan yang pastinya akan sulit bagi rian untuk menjawabnya. Betul saja, rian jadi terdiam dan berpikir keras. Aku merasa mendapat celah untuk memaksa rian menerima usulku kali ini.
“aku tak janji bisa menunggu kamu lagi yan, aku butuh kepastian..” rian terkejut langsung menoleh padaku.
“maksud kamu apa rio?” aku pura pura tak melihat rian. Aku mengambil kotak rokok dan korek yang ada di samping tempat tidur rian. Kemudian ku sulut sebatang rokok putih ku hembuskan asapnya lewat hidung dan mulutku. Rian langsung duduk dan menarik tanganku.
“apa maksud kata katamu tadi rio?” desak rian tak sabar. Aku meletakan rokok di sisi asbak dan menatap rian dalam dalam.
“kamu pulanglah ke bangka, tapi aku tak akan menunggumu lagi..” dengan tenang aku berdiri lalu meraih kunci mobil dan berjalan ke pintu.
“tunggu dulu, kamu mau kemana rio…?” rian menyusul ku dengan cepat dan menarik tanganku. aku terpaksa berhenti lalu menatap rian dengan sungguh sungguh.
“aku capek rian, aku mau pulang, kapan rencananya kamu mau pulang ke bangka?” tanyaku tegas.
“kamu ini aneh, kenapa sih rio, ada apa dengan kamu?” rian jadi panik. Aku nyaris tersenyum kalau saja tidak ingat aku sedang bersandiwara demi dia.
“silahkan kamu pulang, tapi kamu bukan hanya tidak kuliah lagi, tapi kamu juga tak akan pernah bertemu aku lagi..” ancamku melepaskan tangan rian dan menarik grendel pintu.
“tunggu dulu rio..!” rian mencekal tanganku.
“sudah lah rian.. Lebih baik kehilangan sekarang daripada nanti juga kita berpisah..” aku pura pura ngotot.
“apa sih mau kamu rio..” rian nampak bingung.
“sebeneranya kamu tak perlu pergi, tapi kamu terlalu pesimis yan..” aku mengeluh. Rian memalingkan muka menghindari pandanganku.
“rian, kalau kamu memang menyayangiku tolonglah kamu mau mendengarkan kata kataku sekali ini saja yan..” aku setengah memohon.
“aku cuma tak mau berhutang budi yo..” rian masih tetap pada pendiriannya.
“kalau hidup tak pernah berhutang bukan hidup namanya rian.. Siapapun pernah berhutang, semakin tinggi kedudukan seseorang biasanya semakin banyak hutang yang ia tanggung..” nasehatku menahan sabar.
“aku tau rio, tapi aku tak mau nanti teman teman tau masalah ini, dan mereka menuduh aku dekat denganmu hanya ingin memanfaatkan kebaikanmu saja..” suara rian seperti tercekik.
“memangnya apa urusannya orang lain harus tau, ini kan antara kita berdua..” jawabku hati hati. Menangani rian tidak mudah jadi aku jangan sampai salah menyampaikan maksud.
“tapi aku tak mau menyusahkanmu yo..”
“memangnya aku merasa susah, nggak lah rian.. Aku saat ini sedang mampu, belum tau bagaimana ke depannya, siapa tau malah aku yang butuh bantuanmu, bagaimana aku mau menerima bantuanmu nanti, kalau selama ini kamu tak pernah mau menerima bantuan dariku..” jelasku panjang hingga ke akar akarnya.
“hutangku dulu juga belum aku cicil yo..” rian masih saja ragu.
“tolong jangan kamu pikirkan dulu, bukan bermaksud membuat mu berkecil hati yan, tapi aku belum butuhkan uang itu..” aku tersenyum penuh sayang pada rian. Ingin rasanya aku memeluknya. Pada saat seperti ini rian terlihat lemah dan aku ingin melindunginya.
“tapi kamu janji tak akan meninggalkan aku kan rio..” rian agak kuatir.
“tentu saja tidak yan kalau kamu mau mendengarkan nasehatku..” jawabku senang.
“terserah kamu lah kalau begitu..” akhirnya rian menyerah juga.
“besok aku kasih uang yang kamu butuhkan itu, pokoknya kamu jangan pikirkan apa apa dulu, anggap saja itu pertolongan dari seorang sahabat terbaik yang pernah kau punya.” aku memeluk rian erat. Ia membalas pelukanku dan menyendarkan pipinya di bahuku.
“kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku punya..” desah rian pelan.
“kamu ingat dulu waktu kita baru kenal yan?” pikiranku menerawang di waktu aku masih smp dulu, aku jatuh saat berjualan dan rian lah yang menolong pada waktu itu.
“aku ingat semua kenangan kita yo, hari saat aku mengenalmu adalah hari paling beruntung yang aku alami..” rian mengusap punggungku dengan telapak tangannya. Aku tersenyum senang, ternyata rian tak pernah melupakan saat saat itu. Aku juga merasa hari saat aku mengenal rian adalah hari yang membahagiakan dalam hidupku. Aku dan rian kembali duduk dan membicarakan apa yang akan kami lakukan esok hari. Aku senang akhirnya rian mau mendengarkanku. Bagaimanapun juga masa depan rian tak boleh hancur, aku akan melakukan apa saja untuk menolong orang yang aku sayangi ini. Tak terasa karena keasyikan mengobrol jarum jam sudah hampir menyentuh angka duabelas.
“rian aku pulang dulu ya, besok lagi aku kemari, kamu istirahatlah jangan begadang..” pamitku ke rian.
“iya yo, hati hati dijalan ya, sudah larut sekarang, sampai dirumah langsung tidur juga ya..” rian berdiri dan mengantarku hingga ke depan beranda rumah kostnya.
“pokoknya kamu jangan terlalu banyak pikiran.. Aku janji akan membantumu yan..”
“iya yo, terimakasih..” rian mengangguk dan tersenyum. Aku masuk ke mobil membuka kacanya dan melambaikan tangan pada rian. Ia membalas lambaian tanganku hingga aku berbelok dan hilang dari pandangannya.
Aku langsung pulang kerumah. Jalanan masih lumayan ramai walaupun sudah larut. Lampu jalanan yang terang membuat jalanan terlihat jelas. Beberapa toko masih buka. Ada kerumunan anak muda bermain gitar sambil minum di sudut sudut jalan. Kalau jam segini di tempatku dulu sudah sepi, jalanan gelap dan kendaraan tak lagi melintas. Tapi tetap saja aku sangat merindukan tanah kelahiranku itu. Terasa lebih tenang dan aman. Meskipun hanya sebuah kota kecil. Tapi sekarang kotaku itu sudah jadi provinsi yang berdiri sendiri. Baru beberapa minggu. Perjuangan dari masyarakat bangka untuk menjadi provinsi yang mandiri tak lagi bergabung dengan sumatera selatan.
Semestinya pembangunan akan lebih cepat lagi setelah ini. Semoga. Aku juga berharap kehidupan keluargaku dulu sudah meningkat lebih baik.
Setelah sampai dirumah aku langsung ke kamar bersiap untuk tidur, rumah sudah sepi, mama dan papa sudah tidur, mungkin juga kak fairuz, dia telah pulang, tadi ku lihat mobilku sudah ada di garasi. Sebelum tidur aku ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Aku mencuci muka dengan sabun dan menggosok gigi hingga rasa mulutku lebih segar.
Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi. Aku langsung terlonjak kaget saat melihat kak fairuz sedang duduk diatas tempat tidurku, perasaan tadi aku tak mendengarkan apa apa.
“kak fairuz.. Kok nggak ngetuk pintu dulu.!” aku memprotes.
“sudah kok, cuma kamu aja yang gak dengar, jadi aku langsung masuk saja, aku sudah menunggumu dari tadi. Ujar kak fairuz tenang. Seolah tak merasa bersalah sedikitpun masuk ke kamar orang lain tanpa permisi.
“ada apa memangnya sampai kakak menungguku?” tanyaku agak heran.
“ada yang mau kakak bicarakan padamu.” ujar kak fairuz terlihat agak canggung. Ada apa sih dengan orang orang hari ini, tadi rian yang begitu. Sekarang malah kak fairuz. Apa sebenarnya yang ingin ia katakan.
“hal yang penting ya kak sampai harus malam malam begini, nggak bisa nunggu besok?” tanyaku sambil menahan kuap yang hampir keluar. Kak fairuz menggeleng.
“kakak mau bicara sekarang juga..”
“mengenai apa kak?” aku duduk disamping kak fairuz.
“amalia.” tembak kak fairuz langsung. Aku terperangah. Ada apa dengan amalia.
“memangnya kenapa amalia kak?” desakku tak sabar.
“mama kan bilang mau cari lelaki yang akan ia nikahkan dengan amalia.. Kakak bersedia yo..” kak fairuz menjelaskan.
Jantungku langsung berdebar tak karuan.
“maksud kakak mau menikah dengan amalia?” tanyaku kurang yakin.
“iya memangnya kenapa?” kak fairuz balik bertanya.
Aku menelan ludah yang terasa agak sekat.
“memangnya kakak mau sama amalia, bukannya sekarang ia lagi hamil kak..” aku masih ragu dengan keputusan kak fairuz.
“memangnya tak boleh ya menikah dengan perempuan hamil?” kak fairuz menatapku tajam.
“bukan begitu kak, cuma rasanya aku agak kaget, soalnya ini semua begitu mendadak.. Kakak kan baru mengenal amalia..” aku bingung harus senang atau tidak mendengar kata kata kak fairuz, soalnya aku belum terlalu mengenal kak fairuz jadi aku belum mengetahui bagaimana karakter kak fairuz yang sesungguhnya. Datang saja ia sudah mengejutkan ku, belum lagi kelakuannya selama ini yang selalu membuat aku dan mama merasa cemas. Apa mungkin kata katanya bisa dipercaya.
“kenapa diam?” tuntut kak fairuz.
“nggak kak, aku cuma tak mau kakak main main, ini masalah serius, jangan sampai kakak membuat masalah lagi, kasihan amalia..” aku mengemukakan perasaanku. Kak fairuz mendengus kesal.
“kamu pikir kakak main main, belum pernah kakak merasa serius seperti sekarang, pokoknya bagaimanapun juga kakak akan menikahi amalia..!” kak fairuz bersikeras. Sebenarnya aku senang kalau memang kak fairuz memutuskan seperti itu, tentu masalah yang selama ini telah menguras pikiran kami sekeluarga akan terselesaikan segera. Tapi sampai dimana kak fairuz bisa dijadikan pegangan itulah yang jadi masalahnya sekarang.
“kakak sudah bicarakan ini dengan mama?” tanyaku lagi. Kak fairuz menggeleng dengan cepat.
“belum yo, mama kamu belum tau, baru kamu lah yang kakak bilang mengenai keinginan kakak ini..”
“kalau begitu lebih baik besok kita bicarakan hal ini sama mama kak, beliau pasti setuju, kakak tau sendiri bagaimana pusingnya mama memikirkan masalah ini..” ujarku berapi api saking semangatnya.
“kakak melakukan ini bukan untuk membuat mama kamu senang yo, tapi karena kakak merasa bertanggung jawab sama almarhum, kakak tak mau calon anaknya nanti mendapat bapak yang hanya mau menerimanya karena iming iming uang dari mama kamu.” urai kak fairuz cukup masuk akal, sebetulnya sejak mama mencetuskan ide tentang membayar lelaki yang mau menikah dengan amalia saja aku sudah tak suka
Cinta tak dapat dibeli, kasihan amalia dan anaknya kalau punya suami dan bapak yang mata duitan.
“kalau memang keputusan kakak itu sudah bulat dan kakak memang serius, besok kita harus membicarakan sama mama kak, aku yakin mama pasti setuju, bukannya kakak adalah kakak kandung almarhum, yang paling masuk akal sebagai pengganti almarhum untuk menikahi calon isterinya..”
aku jadi semakin bersemangat.
“makanya kakak juga berpikir demikian, kalau begitu besok kita bicarakan lagi masalah ini.. Kamu istirahatlah dulu, sudah jam satu lewat, mendingan tidur.. Kakak tunggu besok ya..” kak fairuz berdiri dan menepuk bahuku. Aku mengangguk. Pikiranku masih saja berkecamuk memikirkan keinginan kak fairuz barusan. Setelah kak fairuz keluar dan menutup pintu kamar, aku langsung berbaring, butuh satu jam baru aku bisa tertidur karena aku memikirkan rian dan kak fairuz.
Aku bangun agak siang, saat melihat jam weker digital di sisi tempat tidurku ternyata sudah pukul setengah delapan. Aku bergegas bangun dan cuci muka lalu keluar kamar. Mama sedang duduk di depan televisi sambil memangku wenny.
“baru bangun yo?” mama menyapaku sementara tangannya menyuapi wenny makan.
“iya ma, susah tidur dari semalam..”
“memangnya apa yang kamu pikirkan, mau beli mobil lagi?” tanya mama. Aku langsung cemberut.
“mama ini, pasti kalo liat aku agak murung dikit dikiranya mau ganti mobil, ya nggak lah ma..” protesku sebal. Mama tersenyum lebar.
“terus kamu mikir apa? Mau kawin.. Jangan dulu kamu itu masih kuliah, lagipula umur kamu baru 22 belum kerja, mau kamu kasih makan apa anak isterimu nanti..” mama menggodaku. Aku jadi makin sebal.
“siapa juga mau kawin ma, nggak lah.. Tapi aku punya kabar buat mama yang pastinya mama akan senang mendengarnya Ma..” aku memeluk mama.
“hei.. Ada apa ini dengan anak mama, tumben peluk peluk mama segala..” mama tertawa senang.
“memangnya nggak boleh ya peluk mama…”
“tentu saja boleh sayang, sudah lama sekali mama ingin kamu peluk seperti ini..” ada keharuan pada suara mama. Aku terdiam, kata kata mama ada benarnya, selama ini belum pernah aku memeluk mama. Aku jadi merasa bersalah. Telah sekian tahun bersama mama namun pikiranku masih saja bercabang. Hingga saat ini rasanya ibu kandungku adalah emakku yang di bangka. Entah mama menyadari atau tidak.
“memangnya apa sih kabar yang katanya akan bikin mama senang itu?” mama kembali bertanya. Aku melepaskan pelukanku dan tersenyum pada mama.
“nanti mama akan tau sendiri…”
mama cemberut dan mencubit hidungku.
“anak mama sudah pakai rahasia rahasiaan segala sama mama sekarang ya..!”
“aduh mama, pelan pelan dong sakit nih..” aku meringis pura pura kesakitan. “makanya jangan bikin mama penasaran dong!” sungut mama kesal.
“rio mandi dulu ah…” aku meninggalkan mama sambil tertawa dan bernyanyi nyanyi sementara mama cuma menggelengkan kepala melihat tingkahku. Selesai mandi dan memakai baju, aku pergi ke kamar kak fairuz. Ku ketuk pintu pelan dan memanggil kak fairuz. Tak ada jawaban. Ku putar grendel dan membuka pintu sedikit lalu mengintip ke dalam. Gelap gulita gorden dan jendela belum di buka. Ternyata kak fairuz masih molor. Dasar kak fairuz sudah hampir jam sembilan masih belum bangun juga. Hmmm, otak usil ku mulai bekerja. Ku tutup lagi pintu kamar kak fairuz lalu pergi ke dapur. Aku mengitari pandangan ke seluruh dapur.
Yes.. Di bawah wastafel tersusun panci dari stenlis. Aku berjongkok mengambil tutup panci yang paling besar. Sambil menahan senyum aku kembali ke kamar kak fairuz. Ia masih lelap dengan bantal berserakan tak teratur. Mulutnya agak menganga. Langsung ku lemparkan tutup panci ke lantai kamarnya tepat di sisi kepala tempat tidurnya hingga menimbulkan suara berkelontangan yang sangat berisik. Secepat kilat aku tutup kembali pintu kamarnya dan berlari sembunyi di samping bufet fiber. Tak lama kemudian kamar kak fairuz terbuka. Kak fairuz keluar dengan rambut acak acakan. Ia melongok ke kanan kiri mencari aku.
Tutup panci yang aku lemparkan tadi sekarang ada di tangannya. Ia menggaruk kepalanya kesal. Lalu ia berjalan menuju kamarku. Ia membuka pintu mencariku. Setelah dilihatnya aku tak ada ia menutup lagi pintu kamarku. Aku menutup mulut dengan tanganku agar tertawa yang ku tahan sedari tadi tak menyembur keluar. Kak fairuz masuk lagi ke dalam kamarnya setelah meletakan tutup panci di meja pajang yang terletak di pertengahan pintu kamarnya dengan pintu ruang tengah. Setelah kak fairuz menutup pintu kamarnya, aku keluar dari persembunyian. Langsung kembali ke kamarku. Aku tertawa sepuas puasnya di dalam kamar.
Melihat kak fairuz yang kebingungan karena kaget tadi membuatku sangat senang. Kak fairuz terlalu serius selama ini. Semoga saja dia tak marah. Setelah mengambil handphone diatas meja belajar, aku keluar dari kamar bermaksud pergi ke dapur. Namun jantungku nyaris copot mendengar suara berkelontangan yang berisik langsung menyambutku tepat di depan pintu. Kak fairuz berdiri didepanku sambil nyengir. Sementara tutup panci tergeletak diatas lantai tepat dibawah kakiku.
“hahahaha… Rasain dasar pengganggu!” tawa kak fairuz pecah diiringi seringai puasnya. Aku terdiam menahan kesal karena kak fairuz langsung bisa membalas telak candaku tadi.
“emang enak dikagetin!” kak fairuz masih tetap mengolokku. Akhirnya aku tertawa juga. Kak fairuz mencolok pinggangku dengan tangannya. Aku yang tak tahan geli langsung berlari menghindar, kak fairuz mengejarku. Walhasil pagi itu aku dikejar kejar kak fairuz di seputaran ruangan. Bik tin cuma menggeleng gelengkan kepala dengan prihatin melihat kelakuan kami. Karena capek aku berhenti. “ampun kak.. Nyerah.. Capek kak!” ujarku dengan nafas yang tersengal sengal. Kak fairuz juga terlihat capek. Ia menghampiriku dan menopang tangannya di lutut kaki hingga membungkuk.
“capek, kamu itu kayak anak anak aja!” kak fairuz agak terengah engah. “kakak juga kayak anak anak!” aku tak mau kalah. “kamu yang mulai duluan!”
“habis jam sembilan masih aja molor!” “wajar aja rio, kakak baru bisa tidur jam lima subuh..” kak fairuz membela diri. Ia duduk di sofa panjang diruang keluarga. Aku ikut duduk disampingnya.
“hari ini kamu tolong bilang ke mama, kita kerumah amalia lagi..” tiba tiba kak fairuz mengalihkan topik. Sontak aku pandangi kak fairuz melihat kesungguhan di wajahnya. Ternyata kak fairuz tak main main.
“kakak yakin mau menikahi amalia?” tanyaku ragu.
“iya… Tak usah menunggu lama, kakak lah orang yang paling tepat untuk menikahinya…” kak fairuz mengatakannya dengan mantap.
“kalau begitu aku telpon mama sekarang, kita harus membicarakan dulu hal ini sama mama agar beliau tak kaget..” aku memberi saran. “terserah kamu..!” tanpa menunggu lama aku menelpon mama. Terdengar suara mama di telpon. “rio ma.!” jawabku. “ada apa rio?” tanya mama.
“bisa pulang agak cepat nggak ma?”
“kenapa memangnya?” tanya mama heran.
“ada hal penting ma yang harus kita bicarakan sekarang, tolong mama bilang sama papa juga agar pulang lebih cepat!” aku memburu mama.
“baik, sebentar lagi mama pulang..!” jawab mama dari seberang terdengar agak panik. Setelah menutup telpon aku kembali menghampiri kak fairuz.
” gimana rio?” tanya kak fairuz. “sebentar lagi mama pulang kak..!”
kak fairuz mengangguk.
“kalau gitu kakak mau mandi dulu.!” kak fairuz berdiri dan meninggalkanku. Aku termenung memikirkan semua kejadian ini yang seperti dalam mimpi saja. Kak fairuz selalu penuh dengan kejutan dan selalu membuat orang kaget dengan keputusannya. Dulu ia muncul membuat aku sangat terkejut. Kedatangannya bertepatan dengan kepergian kak faisal sudah cukup bikin heboh, belum lagi kebenciannya pada mama yang hingga saat ini belum juga sirna. Tapi sekarang malah memutuskan ingin menikahi amalia padahal ia belum mengenal amalia dengan baik. Aku bingung ada apa dengan semua ini. Terlalu membingungkan. Aku pandangi foto kak faisal yang dibingkai pigura keemasan. Wajah yang tersenyum itu seakan akan masih ada. Aku masih merasa kak faisal ada dirumah ini. Kalau ia masih hidup aku penasaran bagaimana reaksinya kalau bertemu dengan kak fairuz. Apakah mereka dulunya cukup dekat. Ataukah mereka sudah tak pernah lagi saling bertemu semenjak papa dan mamanya berpisah. Tepat jam sebelas mama pulang bersama papa. Aku langsung menemui mereka. “ada apa nak, apa yang mau kamu bicarakan?” cecar mama tak sabar. ” ini mengenai kak fairuz ma..” jawabku. Mama langsung duduk di kursi tamu demikian juga dengan papa. “ada apa dengan fairuz?” papa ingin tahu. “mendingan kita tunggu kak fairuz dulu ma, biar dia sendiri yang menjelaskan.” aku melirik ke arah ruang keluarga. Melihat kak fairuz siapa tahu sudah keluar dari kamarnya. “mana fairuz?” tanya mama. “di kamarnya ma, mungkin lagi berpakaian..tunggu saja sebentar lagi kak fairuz pasti keluar.” kataku dengan yakin. Benar saja, tak sampai setengah menit setelah aku mengatakannya, kak fairuz keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu menghampiri kami. “ada apa ruz? Tanya papa terdengar kuatir. Kak fairuz tak langsung menjawab. Ia duduk langsung bersama kami. Mama tak bicara apa apa, walaupun aku tau mama juga lagi penasaran. Namun mengingat bagaimana sikap kak fairuz selama ini aku yakin mama akan berpikir dua kali untuk bicara dengan kak fairuz. “fairuz mau menikah pa..” jawab kak fairuz langsung tanpa basa basi. Papa tercengang. Demikian juga mama. “loh kok mendadak sih?” tanya papa setelah berhasil mengatasi keterkejutannya sejenak. “iya pa..” jawab kak fairuz tenang. “memangnya siapa calon kamu, mau menikah di jakarta atau palembang?” tanya papa masuk akal. Papa memang selalu mengandalkan logika dalam berbicara. Kak fairuz tak langsung menjawab. Ia diam sejenak sambil memandangi papa kemudian mama. Tapi saat memandangi mama wajahnya agak sinis. Mama mengalihkan pandangannya dari kak fairuz dan langsung memandangku. Aku mengangguk pelan ke mama. “aku mau menikahi amalia..” suara kak fairuz datar. Tapi efeknya luar biasa. Papa yang tadi siap siap untuk bertanya lagi jadi terdiam. Sedangkan mama bagai tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan memandangi kak fairuz dengan mulut yang lupa ia tutup. “amel ma..” aku menambahkan. Mama memandangku dan menutup mulutnya. “maksud..mu.. Amalia.. Almarhum..?” kata kata mama berlepotan saking kagetnya. Aku tersenyum “iya ma, amel mana lagi..” “tapi.. Kenapa?” mama bukannya bertanya pada kak fairuz malah bertanya padaku. “tanya kak fairuz ma..” aku mengingatkan mama. Beliau langsung menoleh ke arah kak fairuz. “aku mau menikahi amalia demi almarhum adikku..” ujar kak fairuz tanpa ditanya. “tapi kamu belum mengenal amalia cukup dalam..” suara mama terdengar ragu, reaksi mama hampir sama dengan reaksiku saat pertama laki mendengar keinginan kak fairuz yang tak disangka sangka ini. “masih banyak waktu untuk mengenalnya setelah kami menikah nanti..” kak fairuz tak bergeming. Mama menegakan tubuhnya dan menarik nafas dalam. Sementara papa seperti sedang berpikir keras dahinya berkerut. Sesekali ia memandangi kak fairuz kemudian mama dan aku. “bagaimana pa, Apa papa setuju..?” suara kak fairuz terdengar seperti tak sabar. Papa tak langsung menjawab. Malah kembali menatap mama. Aku lihat mama mengangguk pelan. “kalau kamu memang serius, papa hanya bisa merestui..” keluar juga kata kata dari papa. “iya ruz, kalau memang keputusan kamu sudah bulat, kami akan mengurus semuanya..” mama menambahkan. “terserah tante, yang penting sekarang kita tanya pada amalia apa mau menerimaku..” kak fairuz malah terdengar agak ragu. “sepertinya amalia tak punya banyak pilihan kak, ia pasti menerima.. Bukannya tempo hari dia sempat bilang sama mama kalau dia akan menerima siapa saja yang dipilih oleh mama untuk menikahinya..” aku sok tau. Mama mengangguk tapi dari wajahnya aku tau mama masih belum “kapan kita akan membicarakan ini sama keluarga amalia?” tanya papa serius. “kalau bisa secepatnya, aku tak mau menunda nunda lagi..” jawab kak fairuz. Lagi lagi aku terkejut dengan jawaban kak fairuz itu. Apa yang ada di fikirannya saat ini. Kenapa ia bersikap seolah olah tak sabar seperti ini. “sore nanti kita sama sama ke rumah amalia, semoga saja mereka setuju kalau amalia menikah denganmu..” mama berharap. “semoga ma..” jawabku. “kalau begitu sekarang papa mau kembali lagi ke kantor, masih banyak pekerjaan disana, nanti papa usahakan pulang secepatnya..” kata papa sambil berdiri. ” iya pa, hati hati di jalan.” mama mengantar papa ke depan. Aku menarik tangan kak fairuz dan menyeretnya hingga ke depan pintu kamarku. “ada apa yo?” kak fairuz ingin tau. “aku harap kakak tak main main.. Kasihan amalia kak, dia baru saja bisa menerima keadaannya, kalau sampai kakak menyakitinya entah apa yang akan terjadi padanya..” aku mengutarakan kekuatiranku. “kamu kira kakak main main.. Kamu belum mengenal kakak yo.. Jangan takut, kakak juga tau.” kak fairuz tersenyum sinis dan meninggalkanku. Aku kembali ke ruang keluarga. Mama masih duduk sambil menelpon. Aku duduk disamping mama. Ternyata ia sedang menelpon tante laras. Mama menyuruh tante datang Dari yang aku dengarkan. Setelah mama menutup telpon aku langsung bertanya. “mama tak balik lagi ke kantor?” “nggak yo, mama harus menghubungi semua kerabat untuk datang..” suara mama terdengar agak riang, aku tau mama senang dengan keputusan kak fairuz. Satu masalah mama akan selesai. Aku menahan keinginan untuk bertanya tentang om alvin saat ini meskipun hatiku masih begitu penasaran. Cerita mama yang dulu itu belum lengkap. Tapi aku bisa menunggu. Setelah menelpon semua keluarga, mama pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian keluar lagi dengan memakai baju rumahan. Mama pergi ke dapur membantu bik tin memasak. Aku kembali ke kamar dan berdiri dekat jendela. Memandangi pemandangan di luar. Hari ini cerah, langit biru dengan awan yang tak begitu banyak ditambah lagi matahari tepat diatas kepala membuat aku agak menyipit karena sedikit silau. Dibawah ayunan baby sitter sedang memangku wenny dan menyuapinya makan. Sepertinya baby sitter itu sedikit kewalahan karena wenny melempar makanannya kemana mana. Aku tersenyum melihat adik tiriku itu. Aku tak menyangka bakal dapat adik lagi. Pintu kamarku di ketuk aku berbalik. Ternyata kak fairuz. “ada apa kak?” tanyaku menghampiri kak fairuz. “nggak kenapa napa.. Jalan yuk!” ajak kak fairuz. “tengah hari panas panas gini kak?” tanyaku seperti tak percaya. “iya, kan pake mobil..” ujar kak fairuz. “kemana?” aku ingin tahu. “ya keliling aja dek, sambil menunggu sore.”jawab kak fairuz sekenanya. Aku mengangguk lalu mengikuti kak fairuz. “mau kemana rio?” tanya mama yang sedang menyusun piring diatas meja makan. “jalan jalan sebentar ma..” jawabku sambil mencomot ayam goreng tepung. “jangan terlalu sore pulangnya ya!” mama mengingatkan. “nggak kok ma cuma muter muter aja..” jawabku. Sementara kak fairuz tak mengatakan apa apa seolah ia tak menyadari ada mama di dapur. Kami berkeliling menyusuri jalanan besar tanpa tau tujuan. Kak fairuz terlihat agak gelisah. Mungkin karena sebentar lagi kami akan kerumah amalia. Diam diam aku amati kak fairuz yang sedang menyetir. Sebetulnya wajah kak fairuz tak sangar sangar amat, cuma entah kenapa ia sering ketus. Padahal kalau ia sedang tersenyum, aku seakan melihat kak faisal. Meskipun tak identik namun mereka berdua lumayan mirip. Perbedaannya hanya dari jambang, cara bicara, potongan rambut, dan cara berpakaian. Berkali kali aku menyayangkan kenapa kak fairuz tak tinggal dirumah bersama papa dan kak faisal. “kak…” aku memanggil kak fairuz pelan. “apa?” kak fairuz menoleh sekilas. “apakah mama kakak sudah tau keinginan kakak untuk menikah?” tanyaku ingin tau. “sudah.!” lagi lagi jawaban singkat. “memangnya kapan kakak memberitahunya..” kak fairuz tak langsung menjawab. Pandangannya terpaku ke depan. “sebelum aku memberitahumu..” kak fairuz memperlambat laju mobil. “apa mama kak fairuz akan datang?” tanyaku lagi. “tentu saja rio, mama pasti datang, meskipun tak mungkin menginap dirumah papa, tapi mama berjanji akan datang..” kak fairuz tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya itu. Aku jadi penasaran bagaimana wajah mama kandung kak faisal dan kak fairuz. Pastinya mama mereka cantik, karena mempunyai anak yang tampan tampan. Padahal papa kan nggak begitu tampan malah cenderung agak gempal. “jadi haus nih.. Singgah ke resto cari es kirim yuk!” ujar kak fairuz. “boleh..” aku menyetujui soalnya aku juga merasa agak haus, sudah jam dua siang dan matahari masih terik. Akhirnya kami singgah ke palembang square. Sebuah mall yang besar. Kak fairuz mengajakku ke food court. Kami memesan dua gelas es krim. Saat itulah aku melihat om alvin sedang berjalan dengan mamanya koko. Aku tak sempat lagi menghindar karena mama koko telah melihatku. “eh rio.. Kebetulan sekali kita bertemu disini..” seru mama koko senang. “tante, lagi borong ya?” aku berbasa basi, sedapat mungkin aku menghindar melihat om alvin. Ia tersenyum juga padaku namun tak ku balas. “nggak, cuma lagi cari gaun aja nak, minggu ini ada pesta dirumahnya adik tante ini..” jawab mama koko. Ada pesta dirumah om alvin? Aku mengerutkan kening. Kok koko belum mengatakan hal itu padaku. Tapi aku tak perduli, mau ada pesta ataupun ada hantu sekalipun tak ada pengaruhnya bagiku. Meskipun diundang tak bakalan aku datang. “apa kabar rio.?” om alvin menyapaku. “baik..” jawabku singkat. “sama siapa rio?” tanya mama koko lagi. Aku menunjuk ke meja kami, tak jauh dari tempatku berdiri, kak fairuz sedang duduk menunggu es nya datang. “sama kakak saya tante..” mama koko melirik kearah yang aku tunjuk. “itu ya kakakmu yang baru datang itu, koko sudah menceritakan semuanya sama tante…” aku mengangguk. “kokonya mana tan, kok nggak ikut?” “ada dirumah, lagi ngetik didepan komputer, katanya banyak tugas yang harus ia kerjakan..” mama koko menjelaskan. “oh gitu ya, salam aja sama koko ya tante.. Maaf aku harus kesitu lagi, kakakku udah nunggu..” ujarku dengan rasa agak tak enak, aku mau menawari mama koko bergabung di meja kami, tapi karena ada om alvin aku jadi malas. “oh ya nggak apa apa, tante juga mau berkeliling lagi, ini cari jas untuk adik tante ini..oh ya jangan lupa ya minggu kamu datang kerumah om alvin ya…” mama koko mengundangku. ” insya allah tante..” “ya sudah kalau gitu kamu lanjutkan lagi, tante jalan dulu..” pamit mama koko. Aku lihat sebenarnya om alvin belum mau beranjak, namun ditarik mamanya koko. Pasti dia tahu kalau aku tak menyukai om alvin. Koko pasti sudah cerita sama mamanya, terlihat dari sikap mamanya yang tak mencoba untuk berlama lama mengajak aku bicara, padahal biasanya ada saja yang ia bicarakan agar aku betah berlama lama. “makasih ya tante..” aku mengangguk pada mama koko. “iya rio, jangan lupa main kerumah, tante udah kangen..” ujar mama koko sebelum pergi. ” iya tante..” aku kembali ke meja menghampiri kak fairuz. Ku lihat om alvin menoleh melihatku. Tapi tak kuacuhkan. “siapa itu yo?” tanya kak fairuz penasaran. “mamanya koko temanku itu kak..” “ohh.. Mamanya temanmu..” kak fairuz mengangguk angguk. ” iya.. ” aku mengaduk es krim dalam gelasku. “yang bersamanya itu siapa yo, kok kakak lihat agak mirip kamu ya!” untuk yang kesekian ratus mungkin ribu kali kata kata seperti itu aku dengar. “adiknya mama koko, itu bapak ku..” jawabku santai. Kak fairuz tersedak. “bapak kamu?” kak fairuz seolah tak percaya. “iya kak memangnya kenapa?” tantangku “kok kamu dingin dingin saja gitu melihatnya?” kak fairuz jadi tambah penasaran. “malas kak.. Punya bapak pengecut seperti itu…” aku acuh tak acuh. “bagaimana dengan mama kamu?” desak kak fairuz. “mama belum tau kak, aku tak mengatakan sama mama kalau aku sudah tau siapa bapakku yang sebenarnya.” “jadi kamu juga baru tau kalau itu bapak mu?” kak fairuz jadi semakin heran. “selama ini mama menutup nutupi semuanya, aku kan sejak bayi tinggal dibangka sama emak angkatku. Ya mana lah aku tau mengenai itu, sedangkan ibu kandungku pun aku tau pada saat aku kelas tiga smp dulu..” penjelasanku itu membuat mata kak fairuz terbelalak. “jadi selama ini kamu diberikan sama orang lain maksudmu?” kak fairuz kurang yakin. Aku mengangguk lemah. “mama kamu memang keterlaluan, kasihan kamu dapat ibu seperti itu… Hanya mementingkan diri sendiri, makanya kakak tak menyukainya dari awal, dulu dia yang jadi perusak kebahagiaan kami..” kak fairuz terdengar agak sedih. “mama perusak kebahagiaan kalian bagaiamana maksud kakak?” “sebelum mama mu datang, kami bahagia, memang kakak akui papa dan mama sering bertengkar, tapi tak pernah sampai bertengkar besar. Semua masalah bisa diatasi.” kak fairuz mulai bercerita. Aku mendengarkan dengan seksama. “sampai pada suatu hari waktu itu aku masih kelas satu sd dan almarhum faisal belum sekolah. Papa dan mama jadi semakin kerap bertengkar, terkadang mama tak pulang sampai berhari hari, Datanglah mama kamu, dia teman kerja papa. Kami semua mengenalnya sebagai tante yang baik. Yang perhatian. Entah kenapa faisal lebih dekat dengannya. Ia sering membawakan kami mainan dan hadiah yang bagus bagus..” kak fairuz melanjutkan. Aku tak bersuara sedikitpun. Aku ingin tau semuanya. “pada suatu malam papa bertengkar hebat sama mama karena menemukan dikamarnya ada tante mega bersama papa.. Mama pulang ke rumah bermaksud untuk menyelesaikan masalah sama papa. Tapi malah yang ia hadapi perbuatan mesum terjadi di kamarnya sendiri..!” kak fairuz berapi api. Entah mengapa tubuhku jadi gemetar mendengarnya. “terjadi pertengkaran hebat malam itu, mama mengamuk. Mungkin karena panik papa mencoba untuk menenangkan mama dengan cara menampar mama keras keras..” mata kak fairuz berkaca kaca. tanpa sadar aku meremas gelasku. “papa kalap, ia memukul mama bertubi tubi. Faisal menangis keras. Sementara aku mencoba melindungi mama, aku ikut terkena pukulan papa… Kamu tau apa yang mama kamu lakukan?”"memangnya apa yang mama lakukan kak?” aku jadi takut mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut kak fairuz. “mamamu membawa faisal keluar kamar dan tak perduli sedikitpun padaku dan mama yang saat itu terkena amukan papa!” kak fairuz melanjutkan dengan getir, aku tertunduk mendengarnya. Tak kusangka mama berbuat sejauh itu, wajar jika sekarang kak fairuz begitu membenci mama. Aku bisa merasakan apa yang kak fairuz rasakan. “setelah kejadian itu papa menceraikan mama, meskipun mama mati matian tak mau tapi papa tetap menceraikannya..” kak fairuz mengambil selembar tissue dan menyusut hidungnya. “aku ikut mama dan faisal ikut papa.. Belakangan aku baru tau kalau sebenarnya mama dan papa sudah lama bermasalah dengan pernikahan mereka jauh sebelum mama kamu masuk ke kehidupan kami…” kak fairuz mengangkat tangannya dan melirik arloji yang melingkar di pergelangannya. “sudah hampir jam tiga yo, lebih baik kita pulang sekarang..!” kak fairuz berdiri. Aku masih termenung memikirkan cerita barusan. Kepalaku terasa berdenyut denyut . “rio.. Ayo pulang!” ulang kak fairuz. Aku tersentak dan langsung berdiri. “iya kak..” jawabku lesu. Kami keluar dari food court dan kembali ke mobil. Kak fairuz menyetir dalam keheningan. Aku menatap jalanan dengan pikiran yang berkecamuk. Begitu banyak hal yang belum aku ketahui yang sedikit demi sedikit mulai terungkap. Aku bingung harus berbuat apa karena aku sendiri benar benar baru tahu mengenai itu semua. Tanpa ku sadari kami telah sampai. Kak fairuz keluar dari mobil. Aku mengikuti kak fairuz masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. “jangan terlalu di pikirkan cerita kakak tadi.. Kakak sekedar ingin kamu tau saja kenapa kakak sampai saat ini tak bisa menerima mama kamu!” ujar kak fairuz sambil menaiki undakan teras. Aku diam tak berkata apapun. Saat kami masuk ke ruang tamu, mama dan papa sudah menunggu di kursi tamu. “kalian dari mana.,?” tanya mama sambil meletakkan majalah yang ia pegang keatas meja. “jalan jalan cari angin ma..” jawabku dingin. “sudah hampir sore, bersiap siaplah sekarang… Kita mau ketempat amalia!” mama mengingatkan. “iya ma…” aku meninggalkan mama dan papa lalu ke kamarku. Kak fairuz tak berkata apa apa. Ia langsung ke kamarnya. Setelah mandi dan berpakaian, aku menemui mama dan papa. Kak fairuz duduk di beranda menungguku. Berempat kami pergi kerumah amalia. Ibu amalia sedang menyapu halaman rumahnya saat kami tiba. Ia langsung berhenti saat melihat mobil kami memasuki pekarangan rumahnya. “oh bapak dan ibunya faisal.. Silahkan masuk…” ibu amalia menyenderkan sapu lidi yang ia pegang di bangku papan depan rumahnya. Papa dan mama mengangguk. Kami berjalan mengikuti ibu amalia masuk ke rumahnya. “amalia ada?” tanya mama saat kami sudah duduk diruang tamu. “ada bu, sebentar saya panggil dulu..” ibu amalia masuk ke dalam. Kami menunggu dalam diam. Ku lihat kak fairuz nampak sedikit gelisah. Berkali kali ia menunduk dan meremas jemarinya. “ada apa tante?” serempak kami menoleh melihat amalia. “duduk dulu mel, ada yang ingin tante bicarakan sama kamu!” ujar mama tanpa basa basi lagi. Amalia duduk di sampingku. Aku bergeser sedikit memberi ruang untuk amalia. Ia memandang mama dengan penasaran. Mama menarik nafas sebentar sebelum ia melanjutkan kata katanya. Sama seperti kak fairuz, amalia terlihat jadi gelisah. “kamu bilang mau menikah dengan lelaki yang tante pilih bukan?” mama mengingatkan amalia. Aku mengerutkan kening menatap mama. Amalia mengangguk pelan. Kulihat kakinya agak gemetar. “tante sudah punya calon buat kamu!” mama langsung pada intinya. Sontak amalia tegak menatap mama. “tante sudah punya calonnya… Siapa tante..” amalia terbata bata. “masih saudara almarhum juga..” ujar mama. “maksud tante rio..?” amalia sembunyi sembunyi melirikku. “bukan!” mama menjawab tegas. Ibu amalia keluar dengan membawa sebaki minuman. Mama diam menunggu ibu amalia selesai menyajikan minuman untuk kami. ” silahkan diminum pak, bu, nak rio..” ibu amalia menawari kami lalu duduk bersama kami dan menaruh baki dibawah meja. “saya dengar ibu sudah punya calon.. Siapa bu?” tanya ibu amalia. “kakaknya almarhum faisal..” jawab mama tanpa melihat ibu amalia. “iya bu, anak saya fairuz katanya mau menikahi amalia..” kali ini papa yang angkat bicara. “apa..!!” ibu amalia kelihatan sangat kaget demikian juga dengan amalia. Namun mama tetap tenang seolah sudah bisa menebak reaksi mereka bakalan begitu. “iya.. Kalau amalia mau maka kita secepatnya akan mengadakan lamaran..” lanjut mama tanpa ekspresi. “tapi bu, apa fairuz mau?” ibu amalia masih belum bisa percaya. “masalahnya bukan hanya itu bu, apa amalia mau kalau menikah dengan kakaknya almarhum?” tanya papa dengan sabar. Semua langsung melihat amalia. Bukannya menjawab amalia malah menangis hingga kami semua kebingungan. “kenapa mel?” mama jadi panik. Mendengar pertanyaan mama amalia semakin terisak. “kamu tak mau menikah dengan fairuz?” tanya papa bingung. “mel jangan nangis dong… Kamu jawab aja, kalaupun kamu tak mau tante tak akan memaksa..” mama mencoba menenangkan amalia. Aku menatap amalia dengan kasihan. Ia hanya menunduk sambil menutup wajahnya. Bahunya berguncang karena isakan tangisnya. Sementara itu kulihat kak fairuz mulai tak tenang duduknya. Wajah kak fairuz pucat. Mungkin kak fairuz tak menyangka reaksi amalia akan begini. “saya.. Saya sudah katakan.. Apapun keputusan tante, akan saya terima…” ucapan amalia terpatah patah. Mama menarik nafas lega demikian pula semua yang ada disini. Wajah kak fairuz pun berubah lebih cerah. “kalau kamu terpaksa tante juga tak akan memaksakan kehendak..” ulang mama lagi. Amalia menggeleng. “tidak tante.. Saya tak terpaksa.. Kalau memang sudah jalan saya untuk menikah dengan kakaknya faisal, saya hanya bisa menerima saya ikhlas….” suara amalia sudah lebih tenang sekarang. Aku senang amalia bisa berpikir jernih, saat ini tak ada yang lebih baik untuk menggantikan kak faisal selain kak fairuz dan amalia pasti menyadari hal itu. Ternyata tuhan maha adil. Meskipun umatnya telah berbuat kesalahan namun kasih nya selalu ada. Aku bersukur atas semua ini. Akhirnya masalah ini akan segera selesai. Anak yang ada didalam rahim amalia akan lahir dengan adanya ayah. Ia tak perlu malu menanggung dosa yang dibuat orangtuanya. “kalau begitu secepatnya kami akan datang lagi kemari untuk melamar amalia..” papa memberitahu ibu amalia. “kami akan menunggu kedatangan keluarga bapak harlan..” sambut ibu amalia gembira. “kalau begitu kita rundingkan kapan waktu yang tepat untuk kami kemari..” mama menambahkan. “kalau menurut saya semakin cepat makin baik, kita tak perlu menunggu lama lama lagi, kondisi amalia tak memungkinkan untuk kita menunda..” jawab ibu amalia. “bagaimana kalau malam jumat depan kami datang untuk melamar?” usul mama. “bagus juga kalau begitu.. Kami akan siap siap..” ibu amalia menjawab cepat. “bagaimana mel?” mama memandang amalia yang dari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan ini sambil menunduk. Amalia mengangkat kepalanya dan memandang mama dengan ragu. “terserah tante saja.. Saya akan mempersiapkan diri kapanpun tante mau datang..” “kamu itu jadi perempuan punya prinsip dikit kek mel, dari tadi terserah.. Terserah.. Terserah..!” sela mama agak kesal. Amalia terdiam dan menunduk lagi. Papa mengerling pada mama memberi isyarat agar tak terlalu keras pada amalia. Mama diam meskipun kulihat wajah mama masih mengisyaratkan ketidakpuasan terhadap amalia. “kalau begitu kami semua mohon diri ya bu rusmi, jangan lupa jumat depan kami akan datang lagi untuk acara lamaran.” kata mama sambil berdiri. Aku papa dan kak fairuz ikut berdiri lalu kami semua menyalami amalia dan ibunya. Kami diantar hingga ke halaman rumahnya. Aku melambaikan tangan pada amalia saat mobil mulai berjalan. “mama bingung sama amalia, apa sih yang ada di pikirannya itu, kadang kadang tak habis pikir apa yang buat faisal begitu tergila gila sama dia..!” gerutu mama sambil menambah suhu dingin pada tombol ac di bawah dasbor mobil. “papa mengerti amalia bersikap gitu ma, dia masih terkejut.. Wajar saja dia tak banyak bicara..” jawab papa sabar. “iya ma, amalia kan banyak pikiran selama ini.. Dia tentu tak menyangka kalau kak fairuz lah yang bakal menikah dengan dia..” aku ikut nimbrung. “makanya dia tadi jadi gugup..” timpal papa. “tapi kita kan jadi nggak tau kalau dia itu senang atau tidak kita nikahkan sama fairuz..” mama masih belum reda kesalnya. “biarkan amalia begitu tante, aku akan jadi suaminya dan mulai sekarang aku akan berusaha lebih mengenal dia..!” kata kak fairuz tajam. Mama terdiam. “terima kasih ruz, almarhum adek kamu pasti bahagia kamu akan menikahi amalia..” suara papa agak bergetar. “iya pa.. Lagipula amalia cantik, ya aku gak rugi rugi amat..!” canda kak fairuz. Semua tertawa mendengarnya termasuk mama yang biasanya jaim menghadapi kak fairuz. Setelah sampai dirumah kami membahas lagi tentang acara lamaran yang akan datang. Beda dengan persiapan pernikahan kak faisal dulu, kali ini mama dengan antusias mulai merancang rancang sesuatu untuk pesta nanti. Padahal acara lamaran saja belum di mulai. Tapi aku mengerti kenapa mama begitu, pastilah mama ingin menebus kesalahannya dulu yang menyebabkan kak faisal bersedih hingga akhirnya meninggal dalam kecelakaan. Kalau saja tak mendengar adzan maghrib mungkin kami masih asik membahas tentang lamaran yang akan kami lakukan jumat depan. Aku bergegas ke kamar untuk mandi dan sholat. Hari hari berlalu hampir tak terasa. Sekarang sudah rabu, empat hari berlalu semenjak kami dari rumah amalia. Siang ini katanya om beno dan tante laras akan datang. Pasti odie juga ikut. Terakhir kali ia main kesini waktu kak faisal meninggal. Aku sudah kangen dengan sepupuku itu. Aku berjalan keluar teras sambil membawa novel sidney sheldon. Belum sampai sepuluh menit aku membaca. Sebuah mobil yang cukup aku kenal memasuki pekarangan rumahku. Dengan jantung berdebar aku berdiri. Om alvin keluar dari mobil tersenyum padaku. Ia berjalan menghampiriku.
MAMA DAN OM ALVIN

Rasanya aku tak bisa percaya om alvin berani datang kesini. Mulutku seolah terkunci tak bisa berkata apa apa. Om alvin mendekatiku.
“siang rio, lagi santai ya?” sapa om alvin santai seolah kedatangannya itu adalah hal biasa baginya.
“di mana mama kamu?” tanya om alvin lagi.
“buat apa om kemari..?” tanyaku ketus, aku berdiri hendak meninggalkan om alvin dan masuk ke rumah namun om alvin mencekal tanganku.
“kamu sekarang sudah dewasa rio, aku papa kamu…!” desah om alvin putus asa.
“iya kamu bapak kandungku, terus kenapa memangnya..?” aku menantang mata om alvin.
“jangan seperti ini pada papa, sudah lama sekali papa ingin bertemu denganmu, papa ingin kamu tau papa menyayangimu!” om alvin hampir meratap namun itu tak menyurutkan kemarahan ku terhadapnya.
“ada siapa rio, kok ribut sekali?”
aku terperangah mendengar suara dari belakangku. Darahku terasa surut dari kepala.
“ada tamu kok nggak disuruh masuk nak… Memangnya sia…” kata kata mama terhenti saat melihat tamu yang bersamaku ini.
“apa kabar mega?”, om alvin tersenyum pada mama seolah tak ada yang janggal.
“ka…kamu..”
wajah mama pucat pasi. Mama terdiam memandangku lalu gantian memandang om alvin.
“sudah lama kita tak bertemu.. Kamu tak banyak berubah..” om alvin mengulurkan tangannya pada mama.
Butuh beberapa detik untuk mama menyalami om alvin. Aku tak tau apa yang sedang mama pikirkan sekarang. Aku tak tahu apa motif om alvin mendatangi rumah ini. Aku juga tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Yang aku tau pasti kepalaku mendadak sakit. Aku benar benar terkejut.

“kalian sudah.. Lama.. Kenal?” tanya mama dengan suara bergetar. Aku terdiam tak tau harus menjawab apa.
“sudah hampir lima tahun…” ku dengar suara om alvin yang menjawab.
“apakah…” mama memutus kata katanya dan melihatku. Wajah mama semakin pucat.

“dari mana.. Kamu tau saya tinggal disini.. Bukannya kamu…”
mama begitu pucat seolah sedang melihat hantu.
“sebetulnya aku sudah lama tau kamu disini mega..” om alvin memutus kata kata mama. “maaf kalau kedatanganku disini membuat kamu tidak senang, tapi aku butuh ketemu dengan anak kita…”
om alvin terdengar begitu putus asa.
“buat apa kamu bertemu dengannya, aku bisa menjaganya sendiri..”
jawab mama ketus.
“tapi aku juga ingin bertemu dia, aku tak mau kalau sampai akhir hidupku nanti aku tak sempat menjadi papa baginya..”
om alvin meminta dengan memelas.
“tak usah sok perhatian begitu, toh selama ini aku juga yang menjaganya..”
mama melengos dengan angkuh.
“aku mengerti kemarahanmu belum reda, tapi tolong jangan pengaruhi rio untuk membenciku…” om alvin mendesah.
“kamu bilang apa, aku pengaruhi rio untuk membenci kamu?”
mama begitu terkejut dan marah.
“om mama tak ada sangkut pautnya dengan kemarahanku, jangan bicara sembarangan… Harusnya om bisa berpikir kalau punya otak!”
aku tak bisa menahan kemarahan hingga keluar kata kata kasar dari mulutku. Om alvin terkejut hingga wajahnya menjadi pucat.
“pergi dari sini vin, kamu membuatku pusing..” suara mama melunak, ia memandangku penuh terimakasih.
“satu lagi om, aku sudah bahagia bersama mama dan papaku, jadi kehadiran om tak aku butuhkan lagi… Terlepas om bapak kandungku, itu tak ada artinya sama sekali bagiku.. Seperti kata mama, kedatangan om hanya membuat kepala jadi pusing..!” tikam ku datar. Aku sengaja mengatakan itu biar om alvin segera pergi. Aku tak mau sampai papa tau masalah ini dan mendengarnya, itu akan menimbulkan masalah baru dirumah ini. Om alvin terdiam dan menunduk lesu. Mungkin ia tak menyangka aku akan mengatakan hal ini. Ia menggelengkan kepala pelan seolah masih ada yang mengganjal dihatinya.
“tapi aku papamu rio..” suara om alvin bergetar parau.
“iya saya tau…terimakasih sudah memberitahu saya.. Dan itu tak ada pengaruhnya sama sekali..” aku membatu.
Air mata bergulir dari sudut mata om alvin. Ia menangis. Mama membuang muka. Kulihat mata mama juga berkaca kaca.
“dulu kamu yang meninggalkan aku mega, kamu pergi tanpa memberitahuku.. Aku mencarimu kemana mana tapi tak pernah bertemu.. Sekarang kau menimpakan semuanya padaku..” desah om alvin pahit.
“kalau kamu menuruti kata kataku, ini tak akan terjadi vin, tapi kamu tak pernah percaya padaku, kamu bilang menyayangi aku tapi apa buktinya.. Semua kata kata ama kamu percayai.. Semua sudah terlambat, pulang lah.. Kita jalani kehidupan masing masing…” mama menyusut air matanya dengan telapak tangan.
“berikan aku waktu untuk menjernihkan semua ini mega..”
“semua terlanjur keruh, walaupun bisa jernih sudah tercemar.. Jadi percuma saja vin.. Lupakan masa lalu kita.. Kamu bukan yang dulu lagi begitupun juga aku…” suara mama semakin pelan,
aku tau mama menahan penderitaan yang ia rasakan saat ini. Aku bisa melihat kalau om alvin masih begitu menyayangi mama dari tatapan matanya ke mama. Kenapa aku harus berada pada posisi seperti ini, saat ini keluargaku yang punya hubungan darah denganku sedang berkumpul, mama dan om alvin. Tapi bukan seperti ini yang aku mau. Bukan ini hal yang aku impikan selama ini. Aku selalu berharap yang indah indah. Namun selalu saja keinginan jarang sekali seindah kenyataan. Aku berbalik meninggalkan mama dan om alvin di teras. Dengan langkah cepat aku berjalan ke kamar.
“ada apa rio?” tanya kak fairuz heran.
“nggak apa apa kak,..” aku tak memperdulikan kak fairuz. Sampai di kamar aku langsung mengunci pintu.
Kak fairuz mengetuk pintu dan memanggilku, namun tak aku indahkan. Hingga akhirnya dia capek sendiri dan pergi. Ada apa dengan semua ini, apa yang menggerakan om alvin hingga berani datang.
Aku berdiri di jendela melihat ke beranda. Om alvin masih bicara sama mama. Tak lama kemudian ku lihat mama masuk ke dalam sambil membanting pintu. Suaranya cukup keras hingga terdengar sampai kamarku. Om alvin bengong menatap pintu dengan tak percaya.
Bukannya langsung pergi, ia malah berdiri bagaikan orang bodoh didepan pintu. Tak lama pintu terbuka lagi. Kak fairuz keluar dan berbicara sama om alvin. Aku tak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tapi tak beberapa menit ku lihat kak fairuz berjalan sama om alvin menuju ke mobil om alvin dan mereka masuk ke dalam mobil.
Setelah itu mobil om alvin bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Jantungku masih saja berdebar debar. Aku berjalan menjauhi jendela lalu duduk di tepi tempat tidur. Terdengar pintu kamarku di ketuk.
“rio buka pintunya sayang..” terdengar suara mama memanggilku. Aku diam tak bergeming.
“mama tak kamu mendengarkan mama, tolong buka pintu sebentar nak.. Mama ingin bicara!”
suara mama terdengar makin memelas. Aku kasihan juga namun ego ku melarang aku membuka pintu. Aku masih pusing dan tak ingin bicara, apalagi membahas masalah ini. Semuanya sudah kacau.
Om alvin dan mama punya kehidupan masing masing. Entah kenapa aku bisa begini kacau. Punya masalah yang aneh. Begitu banyak orang orang masuk dalam kehidupanku dan semuanya berhubungan. Masa kecilku hanya mengenal emak, ayah dan ayuk ayuk ku, kemudian ayah meninggal dunia tinggal aku emak dan ayuk ayukku. Saat mulai remaja aku harus terpukul dengan kenyataan bahwa emak hanyalah ibu yang mengasuh dan membesarkanku. Emak bukan ibu kandungku. Aku harus di paksa untuk menyayangi ibu baru. Meninggalkan emak dan ayukku serta tanah kelahiran yang aku cintai. Sekarang apakah aku bisa menerima om alvin sedangkan selama ini gara gara dia lah aku jadi mengalami semua ini. Aku harus meninggalkan orang orang yang aku sayangi. Apakah ia sadar kalau ia telah membuatku tersiksa.
Jalan hidupku jadi penuh liku. Aku tak yakin apa di hatiku masih ada tempat untuk seorang ayah lagi. Sedangkan ayah itu tak sedikitpun memiliki kenangan indah yang aku lalui bersamanya. Aku lelah. Sudah cukup rasanya semua ini bagiku. Cukup bagiku tahu siapa ayah kandungku. Tapi takkan ada ruang lagi untuknya di hatiku. Sekarang mama sudah menata hidupnya lagi. Sudah punya suami dan anak lagi. Jadi tak ada alasan bagi om alvin untuk datang kembali dan membuat ketenangan keluarga ini terancam. “rio sayang kamu marah sama mama ya?” suara memelas mama di luar kamarku kembali membuat aku tersadar dari lamunanku. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Mama berdiri di tengah pintu. Air mata bercucuran di pipinya. Aku membuang muka karena tak sanggup melihat mama menangis. “maafkan mama nak..” mama terisak. Aku tak menjawab, aku bingung harus berbuat apa sementara hatiku masih tak menentu. “kalau kamu marah mama bisa mengerti,.. Mama bersalah..tapi kamu harus mengerti, mama juga tak menyangka kalau ia akan datang lagi…” mama terdengar pasrah. “ma, aku sudah tau semuanya.. Aku tak menyalahkan mama..” aku memeluk mama. Mama membalas pelukanku dengan heran. “kamu tak marah?” mama seperti tak percaya. “marah ma… Tapi bukan marah sama mama.. Aku marah sama om alvin!” ujarku berapi api. “sejak kapan kamu tau kalau dia ayahmu..” mama menghapus air mata dengan saputangan lalu melepaskan pelukannya. “almarhum kak faisal yang menceritakan lewat surat yang ia tulis sebelum ia meninggal..” aku menceritakan kejadian sebenarnya. Mama semakin terkejut. “jadi almarhum kakakmu juga sudah tau?” desis mama heran. “iya, almarhum tau karena curiga dengan kemiripanku yang sangat dengan om alvin..” ujarku berterus terang. “maafkan mama nak, bukan mama tak mau menunjukan siapa ayahmu sebenarnya. Tapi memang kami sudah lama sekali tak bertemu, selama ini mama begitu membencinya karena telah membuat mama menanggung sendiri penderitaan selama ini..” ungkap mama geram. “kalau memang begitu mama tak perlu lagi berhubungan dengan om alvin… Tutup semua tentang dia!” aku mendengus kesal. “tapi mama tak melarang kalau kamu mau dekat dengannya nak, bagaimanapun juga di adalah ayah kandungmu..” mama menyela. “entahlah ma, untuk saat ini aku belum mau dekat dekat dengan om alvin, dia tak memberikan kesan yang bagus dimataku..!” “terserah kamu kalau itu menurutmu yang terbaik…” mama menarik nafas lega. Aku tersenyum pada mama. “kalau begitu mama tinggal dulu,..!” mama hendak beranjak. Tiba tiba aku baru ingat, aku tahan mama “tunggu sebentar ma, tadi ku lihat kak fairuz pergi bersama om alvin, entah kemana mereka berdua!” “oh ya?” mama berbalik kembali dan terlihat sangat terkejut mendengar kata kataku tadi. “iya ma, tadi aku lihat sendiri… Kak fairuz keluar dan menemui om alvin, mereka bicara sebentar entah apa yang di katakannya tapi setelah itu mereka berdua pergi sama sama…” aku menjelaskan. Mama tak mengatakan apa apa. Ia meremas jemarinya, wajahnya kembali kalut. “aneh, bukannya mereka tak saling mengenal kan, kok bisa mereka jalan berdua?” tanya mama seperti kepada dirinya sendiri. “beberapa hari yang lalu aku dan kak fairuz sempat bertemu om alvin, aku sudah cerita sama kak fairuz kalau om alvin itu ayah ku ma..” entah kenapa aku baru menyesal telah menceritakan tentang om alvin pada kak fairuz sekarang. “terus bagaimana reaksi fairuz?” mama jadi gelisah. “reaksinya biasa aja ma..” “semoga dia tak macam macam, mama tak mau ada masalah lagi dirumah ini, saat ini mama lagi fokus sama persiapan untuk lamaran dan pernikahan fairuz dan amalia..” gerutu mama. “iya ma.. Jangan terlalu di pikirkan, aku yakin kak fairuz tak akan macam macam kok, mungkin ia tak enak saja karena melihat om alvin yang sendirian kita tinggalkan di teras..” aku berasumsi. “mungkin juga ya…” mama menyetujui. “eh ma itu ada suara mobil, mungkin kerabat kita sudah datang..” aku memasang kuping. Mama menoleh ke arah jendela. “itu mobil tante laras. Ayo kita sambut mereka dulu..!” ajak mama buru buru. “iya ma, pasti ada odie, dia menelpon katanya mau ikut mamanya kesini..” aku mengikuti mama menuju ke depan rumah. Mama berdiri di tengah pintu ruang tamu memandangi tante laras sekeluarga sedang turun dari mobil mereka. “assalamualaikum…” tante laras memberi salam. “waalaikum salam laras.. Silahkan masuk..” sambut mama senang. “hai rio..!” odie menjabat tangan ku. “apa kabar die, udah makan lom?” aku balas menjabat tangan odie erat erat. “udah tadi di jalan kami singgah di restoran..” “masuk dulu yuk.!” “apa kabar rio?” om beno menyapaku. “baik om… Alhamdulillah..” aku menyalami om beno dan mencium tangannya. “wah kalau rio sudah ketemu odie, bakalan nggak keluar keluar dari kamar tuh.!” canda tante laras. “tante bisa aja.. Si odie tuh kalau di kamar pasti suka mejeng depan tipi main game…” aku menyalami tante laras dan mencium tangannya. “kalian kan sama aja.. Kalau nggak ada alu mana lesung bisa berbunyi..” tante laras berperibahasa. “mama bisa aja…” odie bersungut sungut. “kalian pasti capek habis dari perjalanan jauh, lebih baik istirahat dulu dek..” mama mengajak tante laras ke kamar tamu. “istirahat bisa nanti, aku mau tau kak, kok mendadak gini si fairuz mau menikah sama amalia?” terlihat sekali kalau tante laras sudah tak sabar menanyakan masalah itu. “kakak juga sampai sekarang nggak habis fikir dek laras, tapi si fairuz itu memang sulit di tebak, kakak hanya bisa berharap ia tak main main..” ungkap mama sedikit kuatir. “kalau dia main main aku sendiri yang akan menghajarnya..” timpal tante laras tegas. “kamu tau sendiri gimana kelakuan fairuz..” tambah mama lagi. “sepertinya lina tak mendidiknya dengan baik.. Padahal dulu lina itu baik.. Tapi lama lama bikin kesal juga..” tante laras mengeluh. “sudahlah dek, yang penting sekarang semua sudah bisa diatasi.. Cuma kakak agak kuatir apa fairuz akan lama di sini..” “sepertinya kalau ia sampai memutuskan mau menikah dengan amalia pastinya ia mau lama disini kak mega..!” tante laras menggelengkan kepala seolah kata kata mama Tadi terlalu aneh dan tak perlu dikatakan. “kamu benar, cuma yang masih mengganjal di pikiranku saat ini, jika fairuz menikah, lina pasti akan datang, bukan kah dia mamanya fairuz…” mama agak mengeluh. “yang pastinya kak, lina nggak mungkin menginap disini kan, jadi sudahlah berpikir yang nggak nggak itu..!” timpal tante laras tak sabar. “semoga aja gitu dek…” harap mama agak tercenung. Aku dan odie diam mendengar pembicaraan mama dan tante laras. Kulihat odie memasang tampang prihatin. “die, ke depan yuk..!” aku menepuk bahu odie. “main basket?” tanya odie. “bukan die, ada yang mau aku tanyakan sama kamu!” ujarku sedikit berbisik. Odie mengangkat alisnya. “emangnya mau tanya apaan?” “aku nggak mau orang dirumah ini dengar, kita keluar dulu!” ujarku agak tak sabar, odie memang suka lelet. Odie mengikutiku ke beranda. Kami duduk agak jauh dari teras rumah, dekat pohon cemara hias tepat di samping air mancur buatan. “kamu mau ngomong apa sih?” tanya odie penasaran. “kamu tau kan sama om alvin..?” aku bertanya sama odie. “iya tau lah, aku belum amnesia. kan kamu pernah ngajak aku jalan bareng dia..!” odie terdengar gemas. “dia bapak kandungku die…” aku menatap air mancur yang mengalir di depanku. “apa…!!” sentak odie terkejut. “kamu dengar kan?” aku menatap odie. “tentu saja rio.. Katamu dia bapak kandungmu, apa betul yo?” odie sepertinya tak percaya. “itulah kenyataannya..!” “tentu saja rio.. Ha..ha.. Aku sudah curiga dari dulu.. Selamat ya rio..!” odie mengulurkan tangannya hendak menyalamiku. Aku cemberut melihat odie. “maksud kamu?” tanyaku sambil mendelik. “ya kamu itu beruntung loh, kan om alvin orangnya baik banget, dia juga perhatian sama kamu, kalian begitu mirip.. Pokoknya om alvin itu betul betul tipe ayah idaman deh!” ujar odie asal. Langsung ku ketok kepalanya dengan buku jariku. “aduu..h..!” odie meringis dan mengusap kepalanya. “sembarangan aja kalo bicara, aku itu kesal sama om alvin bego..!” ujarku gemas. “ya jangan asal main getok gitu dong yo, kan sakit..” odie meringis sambil terus mengusap usap kepalanya. “ya udah sori kalo gitu.. Tapi aku betulan kesal sama om alvin..” aku bersungut sungut. Odie melongo melihatku, bibirnya agak terbuka seperti orang idiot. “kok gitu..!” gumam odie. “om alvin sudah lama tau aku ini anaknya dan dia merahasiakan semuanya padaku, dia berpura pura baik padaku ternyata semua itu hanyalah sandiwaranya saja..” ujarku berapi api. “ya ambil positifnya aja rio, masa sih orang baik berpura pura, bukannya kamu bilang tadi dia bapakmu, masa sih dia berpura pura baik?” tanya odie heran. Aku mendengus sebal. “bukan begitu maksudku tuyul, ku kira selama ini om alvin orang yang benar benar baik, kamu bisa berpikir nggak sih die, sebetulnya kebaikannya itu adalah kewajibannya karena dia bapakku!..” aku hampir menjerit karena frustrasi dengan odie yang nggak nyambung. “benar juga ya… Dia baik karena kamu anaknya, buktinya waktu itu mana ada dia belikan aku baju walau selembar sedangkan kamu dibelinya lebih dari setengah lusin.. Aku sempat berpikir kamu beruntung banget waktu itu..” odie mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat aku diajak om alvin ke mall. “nah itu dia, kenapa aku sampai nggak kepikiran waktu itu ya!” ungkapku sebal. “kan kamu bilang om alvin baik sama kamu karena wajah kalian berdua mirip…” ujar odie sambil mengangguk angguk. “bodohnya aku sampai nggak kepikiran gitu ya, padahal aku kan mirip banget sama tengku rian tapi dia gak gitu gitu amat sama aku die…” aku mendesah. “mukamu.. Emangnya kamu siapa, tuh ngaca di kolam.!” odie menatapku dengan tatapan mengasihani. “biasa aja kali muka tuh!” aku menjewer kuping odie kesal. “aduh..tangan kamu tuh atraktif banget sih dari tadi..!” gerutu odie sambil menepiskan tanganku. “makanya jadi orang tu jangan bloon die, kasihan orangtua kamu udah menghabiskan banyak uang buat nyekolahin kamu!” balasku tak mau kalah. “soalnya yang bloon duluan itu kan kamu..” odie tertawa. “kembali ke topik.. Tadi om alvin datang kerumah…!” aku kembali serius. Mata odie langsung terbelalak. “dia datang kesini..?” “iya.. Bahkan tadi ia bertemu dengan mama..!” aku menambahkan. Odie jadi makin tercengang. “reaksi tante mega bagaimana yo?” odie jadi penasaran. “mama tak banyak bicara, langsung masuk ke dalam meninggalkan om alvin gitu aja!” aku menceritakan kronologis kejadiannya. “trus kamu gimana?” tanya odie lagi. “ya sebelum mama masuk aku udah duluan ninggalin om alvin..” “kenapa bisa gitu..?” odie jadi heran. “mulai lagi deh bloon nya.. Kan udah aku bilang kalau aku kesal sama om alvin , odieeeeeee…!” aku kembali sebal. “maksudku kok nggak kamu maki maki aja kalau sebal..?” odie mengerutkan alisnya. “nggak segitunya kalee.. Emangnya kalo sebal harus maki maki orang?” “kan mama ku gitu, kalo sebal habis orang dia maki..” odie memberi contoh. “sori ya aku bukan mama kamu, dan aku nggak judes kayak tante laras..” timpalku kesal. “tapi mama kalau marah pasti ada alasannya kok..” odie membela mamanya. “terserah.. Apalah.. Lupakan mama kamu, Yang penting saat ini aku belum bisa menerima om alvin, biarpun dia bapak kandungku, aku lebih senang dengan keadaan sekarang, dengan mama dan papa tiriku..” aku berdiri. “tak baik memendam kebencian yo, bagaimanapun juga dia harus kamu hormati karena dia bapakmu, ntar kualat loh..” odie sok menasehati. “nggak usah kamu bilang juga aku sudah tau die..” desahku pelan. “jadi sekarang lebih baik kamu tak usah memikirkan hal itu dulu, biarlah semua mengalir rio, aku yakin pada saatnya nanti kamu bisa menerima om alvin..” odie berdiri dan berjalan disampingku. “entahlah..” “aku yakin…” odie bersikeras. “mendingan kita ke dalam dulu. Aku punya film baru pasti kamu belum nonton..” aku mengalihkan pembicaraan. “wah film apa rio?” tanya odie antusias. “true lies.. Yang main arnold.. Pokoknya film nya bagus banget die!” promosiku dengan gencar. “ayo noton sekarang..!” ujar odie semakin bersemangat. Aku mengajak odie ke kamar. Kami nonton film hingga sore. Kalau saja mama tak mengingatkan untuk sholat, mungkin aku dan odie masih tenggelam di kamar dengan film film lainnya. Aku dan odie sholat berjamaah. Selesai sholat aku dan odie keruang makan. Kami makan bersama orangtua kami. “fairuz kemana ya?” tanya tante laras. “mungkin kerumah temannya,dia memang jarang makan sama sama, dek laras..” jawab mama. “kenapa sih anak itu sulit diatur, padahal dulunya dia nggak gitu..” keluh papa. “sekarang dia sudah dewasa bang, ya wajarlah dia berubah, lagipula dia kan nggak gede disini, mungkin saja dia belum bisa menyesuaikan diri..” tante laras berpendapat. “biarkan saja lah pa, kalau kita terlalu mengatur ngatur dia bisa bisa dia tidak betah..” ujar mama sabar. “tapi kedatangan dia sedikit mengobati kesepian dirumah ini semenjak kepergian faisal..” sela papa sedikit termenung. “iya pa, mama juga merasa begitu, meskipun hingga saat ini dia belum bisa menerima aku ini sebagai mama tirinya..” mama mengeluh. “sabar kak mega, nanti juga dia pasti bisa menyesuaikan diri, asalkan kakak memperlakukan dia sebagai anak dan menyayangi dia..” nasehat tante laras bersimpati. “aku kurang yakin dik laras, rio yang anak kandungku saja butuh waktu lama untuk bisa menganggap aku sebagai mamanya, bagaimana fairuz yang jelas jelas menganggap aku sebagai penyebab papa dan mamanya dulu berpisah..” ungkap mama kuatir. “nanti kalau dia tau kenyataan sebenarnya pasti dia bisa mengerti..” tante laras meyakinkan mama. Papa dan om beno diam tak menimpali omongan mama dan tante laras. Mama mengangguk dan tersenyum pada tante laras. Aku menghabiskan isi di piringku dengan cepat. Ku lihat odie telah selesai makan. Ia mengupas jeruk dan membuang serat putih yang menempel hingga betul betul bersih. Aku jadi tak sabar melihatnya. Odie begitu telaten hingga makan pun seperti diatur. Kalau aku tak mau repot repot, habis kupas ya langsung makan. Selesai makan tante laras dan mama membereskan meja. Aku mengajak odie duduk diruang keluarga. Bik tin mengantarkan kopi dan empek empek goreng untuk kami berdua. Aku memencet remote mencari cari siaran yang menayangkan film. Odie sibuk sendiri mengutak atik hp nya. “hp baru ya?” tanyaku sambil melirik hp nya yang bagus. “nggak kok udah sebulan dikasih papa..” jawab odie tanpa mengalihkan tatapannya pada layar hp. “itu namanya baru monyet!” ujarku sambil melirik hp nya lagi. “kameranya udah vga loh…” odie berpromosi. “masa sih..?” aku pura pura tak tertarik. Padahal aku penasaran sekali pengen melihatnya. “iya memorinya juga gede banget udah 256 megabyte..” odie menyombongkan kecanggihan hp nya itu. “masa.?” aku bergeser lebih dekat ke odie. “ini keluaran terbaru loh, bisa mp3 dan muter film..” tambah odie sambil memamerkan hp itu di depan mataku. “berapaan tuh?” aku sekilas melihat layarnya yang besar dan bening. “kamu pengen beli juga?” odie mengerutkan alisnya. “buat apa, aku nggak mau hp sama dengan kamu..” aku mencibir. “makanya melek teknologi dong.. Uang banyak tuh hp masih aja jadul..” odie mengejekku. “enak aja kalo ngomong, emangnya aku harus mengurusi hp aja tiap hari,.” aku membela diri. “katanya mirip tengku rian, tapi hpnya kalo dipake buat lempar anjing bisa peang kepala tu anjing..” odie menghinaku. Aku kesal sekali. “huh hp gitu aja bangga.. Biar besok aku beli sekalian selusin, buat ngeganjal kaki meja, buat nutupi lobang angin dan sisanya buat nyumpel mulut kamu itu!” ujarku kesal. Odie terbahak bahak mendengarnya. “nih ada sms dari dion, temanku di kampus..” odie kembali menekuri hp nya. “teman apa pacar kamu?” tembakku langsung. Muka odie langsung memerah. “temen kok.. Beneran..!” odie mengelak. “bilang aja pacar, gak usah jaim gitu lah sama aku die..” aku menggoda odie. “pelan pelan ngomongnya monyet, nanti kedengaran mama bisa mampus aku!” sungut odie sambil melirik ke dapur. “upsss.. Sori die..” aku ikut melirik ke dapur. Ku lihat mama lagi asik ngobrol sama tante laras. “gimana kabar rian?” tanya odie setengah berbisik. “sehat die, cuma dia lagi banyak masalah..” “emangnya dia ada masalah apa?” odie ingin tau. Aku menceritakan pada odie tentang masalah yang dihadapi rian, hanya sama odie lah aku bisa terbuka setelah kak faisal sudah tak ada lagi. Odie mendengarkan ceritaku dengan serius dan menanggapinya dengan simpati. Bahkan ia mengusulkan akan membantu jika memang aku membutuhkannya. Aku sangat berterimakasih pada odie. Sekitar jam delapan kak fairuz pulang. Papa langsung memanggilnya untuk membicarakan lagi tentang lamaran yang akan dilangsungkan dua hari lagi. Aku dan odie hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari ruang keluarga. Aku tak sabar lagi rasanya menunggu pesta pernikahan itu. Pasti rumah ini akan ramai nantinya. “rio jalan yuk…” odie kelihatan bosan. “jalan kemana die?” tanyaku heran, tak biasanya odie mengajak keluar. “terserahlah kemana saja, kerumah teman kamu juga boleh kok rio..” usul odie. “ya sudah kalau memang mau keluar, ayo.. Kita kerumah rizal temanku aja..!” aku mengajak odie ke garasi untuk mengambil mobil. Semoga saja rizal ada dirumah. Sebenarnya aku pengen banget kerumah koko, tapi aku tak mau kalau sampai bertemu om alvin disana nanti, jadi aku terpaksa menahan keinginan kerumahnya. Padahal kalau main kerumah koko aku lebih terbiasa, mereka baik padaku. Tak sampai limabelas menit aku dan odie telah sampai dirumah rizal. Aku memarkir mobil dekat pekarangan rumahnya. Nampak ibu dan bapak rizal sedang duduk di depan teras rumahnya. “assalamualaikum..rizalnya ada tante?” aku bertanya sama mamanya. “waalaikum salam.. Ada, tunggu sebentar tante panggil dia di dalam.” jawab mama rizal ramah. Ia beranjak dari kursi dan masuk ke dalam. “silahkan masuk dulu…” bapak rizal mempersilahkan kami. “iya om.. Nggak jalan ya om?” aku berbasa basi. “lagi mau dirumah aja, teman kuliahnya rizal ya?” bapaknya menanyaiku. “iya om kami satu kampus, tapi aku dua tingkat dibawah rizal om..” jawabku sopan. “hai rio… Tumben.. Sama siapa?” rizal yang baru keluar dari rumahnya langsung menghampiriku. Ia kelihatan senang sekali melihat aku datang. “sama odie sepupuku dari lubuk linggau bro.. Ganggu nggak?” tanyaku. “nggak lah, masa ganggu.. Ayo kita kesamping aja, lebih enak santai disitu sambil ngobrol..” ajak rizal sambil membawa aku dan odie lewat samping rumahnya. Dari balik kaca jendela aku melihat intan adik rizal sedang asik belajar di depan televisi. Jadi ingat kejadian beberapa malam yang lalu saat rizal menjemputku diacara ulang tahun adiknya itu. Rizal membawa kami dibagian belakang rumahnya. Ada teras juga namun lebih tertutup karena dipagari dengan beton tinggi. Cukup luas dan ditata apik dengan tumbuhan bunga serta buah yang tak terlalu rimbun. Lampu taman yang berdiri di beberapa sudut menambah artistik suasana kebun kecilnya itu. Aku langsung merasa betah duduk disini. “enak banget disini ya zal..” ujarku sambil duduk di kursi jati bersandaran empuk. “iya rio, papa kan hobi berkebun, kalau pulang kerja tiap sore dia mengurusi kebun ini, kadang kalau hari minggu kami bakar bakar ikan disini..” rizal menjelaskan. “iya kayaknya bikin acara bakar bakar dan nyate asik juga..” aku menyetujui. “oh ya teman kamu ini siapa namanya?” tanya rizal ramah. Aku tersentak, sampai lupa aku mengenalkan odie sama rizal. “kenalan dulu zal, odie..” tanpa disuruh lagi odie langsung mengulurkan tangannya, Rizal membalasnya. “tunggu sebentar aku mau ke dalam dulu bikinin kalian minuman.” ujar rizal. “nggak usah repot gitu zal kita cuma main aja kok..” aku menahan rizal. “nggak apa apa kok aku pengen ngopi.” rizal bersikeras. Sementara rizal masuk ke dalam rumahnya aku dan odie duduk menunggu sambil melihat lihat suasana kebun yang lebih tepat dibilang taman ini dengan antusias. “rio kayaknya aku pengen nyuruh papa bikin kayak ginian di rumahku..” kata odie kagum. “emangnya papa kamu doyan berkebun ya?” tanyaku ingin tau. “nggak juga sih, mana pernah papa berkebun, satu rumput aja nggak pernah papa cabut kalau tumbuh di halaman rumah.” jelas odie. Aku tersenyum mendengarnya. Mana mungkin om beno yang begitu sibuk masih bisa meluangkan waktu untuk mengurusi kebun seperti ini. “kan bisa bayar orang yang ngerjainnya..” aku memberikan usul. “iya juga sih, cuma halaman rumahku itu nggak seluas ini yo, mestinya cuma dapat taman kecil aja ya.. Pengen banget bisa pindah ke sini..” ungkap odie. “maksud kamu mau pindah kerumah rizal..?” aku jadi heran. “ya nggak lah yo, maksudku pindah ke palembang..!” odie sedikit sewot. Aku tertawa. “kirain mau ikut rizal, naksir ya sama rizal?” godaku. Odie makin cemberut. “bukan tipe ku yo..” “emangnya tipe kamu yang kayak gimana sih?” aku penasaran. “seperti almarhum..” jawab odie singkat. Saat mengatakan almarhum tadi suara odie jadi bergetar. “tapi kak faisal sudah tak ada lagi dan dia juga normal die..” aku mengingatkan odie. “aku tau yo, kalau ingat sama almarhum faisal, aku rasanya betul betul kehilangan.. Senyumnya, tawanya dan segala galanya tentang dia..!” odie menerawang kenangannya tentang kak faisal. “aku juga gitu die, kadang kalau ingat kak faisal, aku suka sedih sendiri..” mataku berkaca kaca. Sungguh aku tak bisa melupakan kebaikan kak faisal hingga saat ini. Perhatian dan kebaikannya padaku. Semua kenangan kenangan indah saat ia masih ada. Odie membisu, sepertinya ia juga sedang mengenang kak faisal. “kok jadi pada diam gitu?” rizal mengagetkan aku dan odie. “nggak zal tadi kami lagi membicarakan tentang almarhum..” aku berterus terang. “jangankan kalian yang saudaranya yo, kami saja yang temannya faisal aja begitu kehilangan. Sulit rasanya harus kehilangan teman dan sahabat sebaik beliau..” rizal ikut ikutan. “sekarang kita hanya bisa mendoakan kak faisal agar tenang disisinya. Segala kebaikannya hanyalah tinggal kenangan indah…” tutur odie bijaksana. “iya die kamu benar.” aku mengangguk menyetujui. “tuh di minum kopinya.” tawar rizal. “makasih zal..” aku mengangkat cangkir kopi dan meminum isinya sedikit. Rizal juga menyuguhkan sepiring kue. Kami mengobrol dengan asik. Ada ada saja yang dibahas mulai dari kampus hingga cewek cewek. Aku tau saat membahas tentang cewek, odie kurang antusias. Aku berdiri melihat koleksi tanaman anggrek milik mama rizal. Semuanya sedang berbunga. Ada yang berbau harum. Saat itulah tiba tiba intan muncul. “kak rizal bisa tolong bantu liat komputerku entah kenapa aplikasi wordnya nggak berjalan!” kata katanya terputus saat ia sadar ada aku disini. Wajahnya menyiratkan antara kaget dan senang. “apa kabar intan..?” aku menyapa adik rizal itu. “rio… Kapan datang
PERNIKAHAN DAN PERPISAHAN

“rio… Sudah lama nunggu disini?” tanya koko yang begitu kaget langsung menghampiriku.
Dengan serba salah aku mencoba bersikap biasa dan berusaha untuk tak melihat ke om alvin.
“kami dari rumah sakit jemput adik tante..!” ujar mama koko yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat melihatku.
“nggak kok tante, belum terlalu lama juga… Kalau begitu rio pulang dulu ya… Tante pasti sibuk.” aku mencoba mencari alasan namun tentu saja itu tak mempan.

mama koko malah menyuruhku masuk. Dengan berat hati aku terpaksa mengikuti mereka semua masuk ke dalam rumah.
Koko membantu om alvin duduk, sementara mamanya langsung pergi ke dapur, aku duga ia sedang mengambilkan minuman.
“duduk yo, kok bengong gitu?” kata koko begitu ia melihatku masih berdiri saja.
“makasih ko, aku ke kamarmu saja ya ko.. Kalau boleh.” tanyaku berharap koko tanggap.
“oh iya yo, silahkan kalau kamu mau ke kamar, nanti aku nyusul.. Pokoknya kalau mau nonton atau ngapain di kamar nggak masalah kok.” jawab koko pengertian.

Ia pasti tau alasan ku mau menunggu di kamar saja. Tanpa menunggu lama aku pergi ke kamar koko tanpa menegur om alvin atau bahkan mengacuhkan nya sama sekali.
Aku tak mau ia merasa senang dan mengira kalau ia bisa mengobrol dengan akrab bersamaku.
Aku mengambil tumpukan majalah punya koko yang ada di meja belajarnya.
Sambil menunggu koko aku membaca baca majalah.
Tak lama kemudian koko masuk ke dalam kamar.
“kok nggak sms dulu kalau mau kesini?” tanya koko sambil meletakkan gelas berisi sirup jeruk keatas meja belajarnya.
“iya ko.. Tadi aku jalan jalan.. Jadi kepikiran mau kesini, nggak taunya rumah kamu kosong..”
“iya yo.. Hari ini om alvin udah di perboleh kan pulang, jadi kami menjemput om alvin, karena mama takut kondisinya yang masih lemah. Mama putuskan menyuruh om alvin pulang kesini dulu. Soalnya kalau disini kan ada yang merawatnya..”
koko duduk diatas lantai yang dialasi karpet.

“ya sukurlah kalau sudah sembuh.” jawabku pura pura tak perduli, padahal sebenarnya dari awal aku tahu saat om alvin sakit jauh dari lubuk hatiku sebenarnya aku kuatir.
Meskipun aku kesal tapi bagaimana juga om alvin bapakku.
“kamu udah makan yo?” koko bertanya sambil menyalakan televisi.
“belum ko, makanya aku kesini tadi niatnya mau makan disini soalnya udah kangen sama masakan mama kamu.”
“gitu ya, sabar yo pasti mama lagi masak sekarang…” jelas koko.

Aku tersenyum senang membayangkan akan segera makan. Soalnya kalau mama koko masak pasti hasilnya enak sekali.
Sembari menunggu aku dan koko menonton film.
Belum selesai satu film kami tonton, mama koko sudah memanggil untuk mengajak kami makan siang bersama.
Makan siangku pertama bersama om alvin semenjak meninggalnya kak faisali.
Kami tak banyak bicara. Om alvin seolah sibuk dengan makanannya demikian juga aku berusaha sedapat mungkin menhindar jangan sampai melihat om alvin.
Mama koko memancing dengan cerita yang lucu dimasa dia muda dulu namun ku lihat om alvin seakan tak konsentrasi sama sepertiku.
Setelah selesai makan aku dan koko balik lagi ke kamarnya untuk melanjutkan nonton film yang tadi terputus. Agak sore aku mengajak koko cari angin.
***********************
“undangan untuk teman teman kamu jangan lupa dikasih yo..” mama mengingatkanku sambil memberikan setumpuk undangan pernikahan kak fairuz dengan amalia untuk hari minggu ini.
“wah ma banyak banget… Bisa seharian nih aku nganternya..” aku mengerutu.
“nanti kalo nggak di undang malah kamu protes, udahlah antar saja undangan itu. Mama banyak mengundang tamu..” jelas mama bangga.
Aku tak mau berkomentar lagi. Tak ingin merusak kesenangan mama.
“nanti rio kasih undangan ini ke teman teman. Rio mau jalan dulu ma..”
aku baru saja mau meninggalkan mama tepat saat kak fairuz memanggilku.
“rio..! Tunggu..!”
aku berbalik lagi. Kak fairuz menghampiriku tergesa gesa.
“ada apa kak?” tanyaku heran.
“temani kakak ke bandara sebentar..!”
“ngapain ke bandara kak?” aku jadi bingung.
“jemput mama..” jawab kak fairuz.
“mama kakak mau datang hari ini.. Kok mendadak sekali..”
“nanti lah kita bahas, sebentar lagi pesawatnya mendarat, kita ke bandara sekarang.” kak fairuz terdengar tak sabar.

Tanpa banyak bertanya lagi aku menemani kak fairuz menjemput mamanya di bandara. Untung saja aku tak harus menunggu berlama lama.
Seorang perempuan yang aku duga seumuran dengan emak namun tentu saja dengan penampilan yang jauh berbeda langsung menghampiri kak fairuz dengan tersenyum lebar.
“mama..” kak fairuz segera menyambut mamanya.
“sudah lama menunggu ruz?” tanya mama kak fairuz.
“belum kok ma paling baru limabelas menit saja.. Oh ya ma kenalkan ini adik tiri fairuz..”
kak fairuz menarik tanganku mendekat ke mama nya. Aku agak ragu untuk mengulurkan tangan pada mama kak fairuz namun ia dengan ramah memelukku seolah ia sudah lama mengenalku.
“oh ini rio yang selalu fairuz ceritakan sama mama.,” ucapan terakhir mama kak fairuz betul betul membuat aku kaget.
“ma..mama.. Maksud tante apa..?” aku masih belum percaya.
“iya panggil saja aku mama.. Bukan kah kamu dan fairuz kakak adik, ya walaupun kalian berdua tak ada sama sekali hubungan darah, namun bagi mama kamu sama dengan anak mama juga.. Anggap saja kamu sebagai pengganti faisal..”
jawab mama kak fairuz dengan tenang.
“tapi.. Kenapa waktu kak faisal meninggal tante tak datang?” tanyaku hati hati takut membuatnya tersinggung.
“siapa bilang mama tak datang, tapi apa harus membuat heboh disaat semuanya sedang kacau.. Tentu saja mama datang, saat mendengar kabar meninggalnya anak mama, saat itu juga mama bersama fairuz ke sini..”

mama kak fairuz tersenyum padaku.
Aku jadi merasa serba salah. Jadi ternyata waktu pemakaman kak faisal mamanya ada disini. Tapi kenapa sampai tak ada yang tahu.
“ma kita ke hotel sekarang aja ya..mama kan pasti capek butuh istirahat.” kak fairuz mengangkat tas mamanya.
“iya mama juga mau ganti pakaian dulu sebelum kita ke rumah calon mertua kamu, mama ingin kenalan dengan mereka.” mama kak fairuz menyetujui.
“ayo rio..” kak fairuz memberi kode agar aku mengikuti mereka.

Aku masih belum habis pikir dengan perkenalan kami yang aneh ini. Sepertinya mama kak fairuz orangnya sangat baik.
Ia juga ramah padaku padahal ia kan tau aku anak dari wanita yang telah membuat rumah tangganya hancur.
Aku bingung harus bersikap bagaimana.

Kami mengantar mama kak fairuz ke hotel carissima. Kak fairuz ternyata sudah memesan kamar yang cukup nyaman untuk mamanya.
Sebetulnya aku mau menunggu di lobi saja tapi kak fairuz dan mamanya memaksa aku untuk ikut mereka naik ke lantai atas dimana tempat mamanya akan menginap.
Kami mengobrol sebentar.
Dari situ aku tahu kalau waktu kak faisal meninggal mamanya datang ke pemakaman. Meskipun hanya bisa melihat dari jauh.
Sebetulnya mama kak fairuz tak mau lagi bertemu dengan papa dan mama tapi kali ini ia berusaha untuk melupakan semua.
Ia harus ada di hari pernikahan putera satu satunya.
Mataku jadi berkaca kaca mendengar semua ceritanya.
“tante tak perduli walaupun kamu anak dari perempuan yang tante tak sukai, kamu tak bersalah..” begitu kata mama kak fairuz.

Setelah itu kami kerumah amalia karena mamanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan calon menantunya.
Keluarga amalia ternyata sudah tahu kalau hari ini akan kedatangan mama fairuz. Mereka telah menyiapkan makanan.
Aku lihat rumah amalia juga sudah di cat ulang. Halamannya telah di bersihkan. Halaman rumah mereka cukup luas untuk menampung tamu pada pesta nanti.

Amalia memperkenalkan diri pada mama kak fairuz. Ia mencium tangannya. Mereka membicarakan tentang pernikahan antara amalia dan kak fairuz.
Aku hanya jadi pendengar yang baik saja. Lagipula aku bingung harus mengatakan apa.

Kami makan siang bersama. Ibu amalia memasak cukup banyak. Berbagai jenis lauk tersaji diatas tikar pandan.
Kami duduk lesehan diatas lantai. Entah kenapa aku merasa suasana jadi begini akrab Seolah olah antara keluarga amalia dan mamanya kak fairuz telah lama saling mengenal.
Tidak seperti mama kalau datang kemari. Suasana biasanya menjadi agak kaku. Seandainya mama bisa seperti mamanya kak fairuz yang bisa menerima keadaan keluarganya amalia tanpa memandang rendah sedikitpun.
Setelah kenyang aku mengajak kak fairuz ke teras. Kami merokok diluar sambil membahas keakraban keluarga amalia dengan mamanya.
Amalia bergabung dengan kami sambil membawa kopi serta kue kering.
“bagaimana perasaanmu mel menjelang pernikahan ini?” tanyaku sambil mengambil sepotong kue.
“entah lah yo, tapi yang pasti aku agak deg degan sih.. Semoga acaranya nanti berjalan lancar ya..” amalia berharap.
“ya semoga saja, tapi yang aku jadi terpikir nanti yang akan mendampingi kak fairuz tuh mamaku apa mamanya sih..?” aku mengutarakan kekuatiranku.

“mama sudah mengatakan sebelumnya kalau ia datang kesini cuma untuk memberikan doa restu pada kami, jadi ia tak keberatan kalau mama kamu yang duduk di kursi pendamping, bagi mama siapapun yang jadi pendampingnya tak masalah asalkan acaranya berjalan lancar.”
jawab kak fairuz dengan lugas.

“meskipun baru kenal beberapa jam sama mama kak fairuz, entah kenapa kak rasanya aku sudah begitu akrab.”
aku mengutarakan apa yang aku rasakan dengan jujur.

“mama memang begitu rio, kalau kamu mengenal mama kamu pasti akan menyukainya. Soalnya mama orang yang mudah akrab dengan siapa saja..”
kak fairuz menambahkan. Ia terdengar sangat bangga.
Aku jadi kepikiran kenapa dulu kak faisal lebih memilih ikut mama ketimbang mama kandungnya sendiri. Aku tak mau menanyakan hal itu sekarang. Masih banyak waktu untuk menanyakan itu lain kali.

Agak sore aku mengajak kak fairuz pulang karena aku masih ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan.
Kami berpamitan sama keluarga amalia. Aku dan kak fairuz mengantar mamanya ke hotel. Setelah itu aku pulang kerumah.
Sekarang baru jam empat, masih ada waktu untuk mengantar undangan.
Aku mau ke tempat rizal dulu. Setelah itu baru kerumah koko.
Semoga saja om alvin lagi tidur, kalau bisa aku tak mau bertemu dia sore ini.
Otakku masih terlalu mumet untuk memikirkan om alvin. Untung saja rizal ada dirumahya, Jadi aku langsung saja memberikan undangan itu sama rizal.

Tak kuduga rizal mau menemaniku mengantarkan undangan ke teman teman yang lain yang ia kenal.
Aku sangat berterimakasih sekali atas hal itu. Aku minta temani sama rizal ke rumah koko.
Aku turun dari mobil di depan rumah koko. Rizal mengikutiku.
Aku menekan bell. Tak lama kemudian mama koko membuka pintu.

“eh nak rio.. Mau jenguk om alvin lagi ya?”
mama koko menebak.
Aku menggeleng dan tersenyum.

“bukan kok tante, cuma mau mengantarkan undangan pernikahan kak fairuz aja tante.. Nih untuk tante sekeluarga. Datang ya tan..”
kataku berharap.
“insya allah rio, tante pasti usahakan untuk datang, om alvin diundang juga kan?” mama koko bertanya.
Aku bingung harus menjawab apa, soalnya tadi aku lupa bertanya sama mama apa aku juga perlu mengundang om alvin, kalau aku mengatakan sama mama koko untuk tak mengajak om alvin pasti terdengar kurang sopan.
,

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar